"Cita-cita?" Tanya Mom heran setelah aku menyampaikan permintaanku.
"Iya Mom, Mom ingat kan Ana pernah cerita saat SMP dulu waktu Mom tanya apa cita-cita Ana kalau udah tamat sekolah nanti?" Aku mengingatkan Mom.
"Iya Mom ingat, sebentar lagi Ana juga akan lulus sekolah, baiklah Mom izinkan.." aku tersenyum sumringah dan memeluk Mom erat sambil mencium pipi Mom.
"Thankyou so much Mommy!"
"Iya sayang, jadi dimana Ana mau kuliah? Biar Dad urus, nanti Mom bantu cari universitas terbaik disini," tanya Mom semangat.
"No Mom, Ana ngga mau disini, Ana mau mandiri kali ini," ucapku ragu takut Mom ngga mengizinkan kali ini.
"Dimana?"
"Emm itu di Su.. Sura.. baya Mom," jawabku takut-takut tidak berani menatap Mom.
"Hah?" Tuh kan Mom kaget, "Surabaya?" Tanya Mom lagi yang membuatku mengangguk ragu,
"Okelah," eh? Lho? Setuju?
"Mom setuju Ana tinggal jauh?" Tanyaku semakin ragu,
"Yah ngga sih sebenarnya, hanya Ana lupa di Surabaya kan ada adik Mom jadi bisa bantu jaga Ana disana, Mom ngga ragu walau Mom pasti kangen sama anak bungsu Mom ini." Mom mencubit pipiku gemas namun tersirat rasa sayang, aku terharu hehe
Ku peluk Mom semakin erat, yah keputusanku sudah bulat meski harus berpisah beberapa tahun nantinya dengan keluargaku ini.
"Kenapa ngga keluar negeri sayang?" Tanya Mom bercanda.
"Ngga ah ntar Mom malah nyusul kesana gara-gara kangen hehehe," kami pun terkekeh bersama. Ya aku beruntung memiliki mereka, Daddy, Mommy dan kak Alan, mereka sempurna bagiku.
Malamnya Mom menceritakan keinginanku pada Daddy dan Dad setuju, namun aku belum cerita ke kak Alan, tunggu waktu deh takutnya kak Alan ngga izinin hehe, lagipula masih ada 1 semester lagi aku di SMA.
Ahh iya aku belum cerita soal cita-citaku, sejak kecil aku ingin menjadi seorang dokter, tidak seperti beberapa anak kebanyakan yang bercita-cita namun ketika dewasa dengan mudah mengubah impian mereka, aku memiliki alasan kuat memilih cita-cita ini. Berawal ketika aku masih usia 8 tahun saat itu aku punya sahabat selain Dea, namanya Bianca biasa kami panggil Bia, agar sama 3 huruf seperti aku dan Dea, jadilah kami Ana, Dea dan Bia. Dea tahu alasan impianku ini, karena dia dan Bia lah orang pertama yang aku ceritakan.
Flashback..
"Bia, ngga main keluar?" Tanya Ana kecil saat mengunjungi rumah sahabatnya yang hanya duduk manis di tempat tidurnya.
Bia hanya menggeleng lemah pada sahabat baiknya ini, "ngga Ana, Bia disuruh bunda bobo," jawab polos Bia.
"Ini kan masih siang Bia masa bobo cii, biar Ana bilang sama bundanya Bia yah," dengan semangat Ana menghampiri bunda Bia yang sedang sibuk didapur.
"Bunda, Bianya boleh main yah," pinta Ana pada sosok Bunda dari sahabatnya, sudah terbiasa oleh mereka menganggap ibu sahabatnya sebagai ibu mereka sendiri, jadi tidak ada kata 'tante' seperti saat seseorang memanggil ibu temannya begitupun dengan ayah mereka.
"Sayang, Bia nya lagi sakit harus istirahat," mendengar itu Ana nampak lesu, ia langsung menghampiri Bia.
"Bia harus istirahat kata bunda, bentar yah Ana pergi dulu nanti balik lagi," Bia hanya mengangguk dan tersenyum.
Tak lama Ana kembali saat Bia baru menyelesaikan makan siangnya
"Biaaaaaaaaaaa..." teriak Ana nyaring yang membuat Bia tertawa mendengar sahabatnya ini, Ana datang bersama Dea, "Nah Ana sama Dea main disini aja biar Bia bisa sambil boboan," ucap Ana tulus, Bia tersenyum, ia senang sahabatnya slalu menemaninya walau ia memiliki kelemahan tubuhnya.
Bia divonis menderita leukimia, ya suatu pukulan tersendiri bagi orang tua Bia, dimana anak semata wayang mereka harus berjuang keras di usia yang masih kecil, ketika anak lain diusianya bisa bermain bebas, Bia harus bergelut dengan rasa sakit, obat dan rumah sakit. Namun Bia kecil terlihat dewasa dihadapan sahabatnya, bohong jika Bia tidak pernah menangis karena sakit namun tidak dihadapan teman-temannya, miris memang namun Bia ngga mau menghapus senyum kedua sahabatnya ketika mereka datang seperti saat ini.
"Kalian punya cita-cita ngga?" Tanya Ana saat tengah bermain di tempat tidur bia bersama Dea,
"Ada ada" seru Dea semangat "aku mau jadiiii... pembuat gaun yang bagus kayak di tivi sama majalah Ibu!" lanjutnya.
"Kalau aku pembuat rumah biar bisa buatin rumah bagus buat Bunda dan Ayah!" cerita Bia tak kalah semangat.
"Kalau ana?" Tanya Bia dan Dea bersamaan,
"Dokter," jawab Ana singkat.
"Kenapa?" Dea penasaran.
"Biar bisa nyembuhin Bia kalau lagi sakit, Dea juga, jadi kita bisa main sama-sama terus ngga ada yang sakit lagi hehe…" jawaban yang sederhana dari seorang Ana kecil, namun mampu membuat jatuh air mata Bunda Bia yang diam-diam memperhatikan mereka di luar kamar Bia, ia bersyukur disaat seperti ini Bia punya kekuatan dari sahabat-sahabatnya.
Bia memeluk haru sahabatnya, sejenak rasa sakitnya hilang diganti rasa bahagia karena dua sahabatnya ini.
Waktu terasa berjalan cepat, rasanya baru kemarin melihat senyum ceria di wajah pucat Bia, namun Tuhan berkata lain, sepertinya Tuhan terlalu sayang Bia sehingga Ia mengambil Bia terlebih dahulu. Duka menyelimuti orang tua Bia tak terkecuali dua gadis kecil sahabat terbaik Bia hingga detik terakhirnya. Namun semua berusaha merelakan kepergian Bia, karena inilah yang terbaik sehingga Bia bisa tersenyum bahagia tanpa rasa sakit di surga.
Kata-kata terakhir yang selalu diingat Dea dan Ana didetik terakhir Bia,
"Dea, Ana maaf ya Bia bohong, sebenarnya impian Bia bukan pembuat rumah yang bagus, impian Bia adalah melihat Dea dan Ana bahagia juga Ayah dan Bunda, seperti Bia yang akan bahagia disana nanti, berjanjilah kalian akan meraih impian kalian dan menjadi bahagia."
Ana dan Dea mengangguk bersamaan dan menautkan ketiga kelingking mereka,
pelukan perpisahan dan tangisan sedih mengantar nafas terakhir Bia ke dunia yang bahagia.
Ana semakin mantab dengan impiannya, agar nantinya ia bisa menyembuhkan Bia Bia yang lain apapun sakit mereka semampunya sesuai kehendak Tuhan tentunya.
Flashback off.
Air mataku tak dapat dibendung setiap mengingat Bia, sahabat terbaikku setelah Dea, demi Bia, aku akan meraih impian seperti janjiku pada Bia.
"Jadi lo mau ke Surabaya habis lulus nanti An?" Tanya Dea saat kami tengah menikmati jam istirahat kami di kantin.
"Yup, gue udah yakin, lagi pula disana ada om gue yang juga dokter bisa bantu-bantuin lah, gue juga baru tahu sih dari Mom soalnya kan terakhir ketemu kami masih kecil banget jadi ngga ingat," ucapku panjang.
"Wah pas banget kalau gitu, lumayan lah bisa nambah-nambah ilmu lo An," aku mengangguk setuju.
"Nah lo jadi ke Paris? Buat jadi designer," tanyaku.
"Iya, gue juga udah pasti kok, lo kenapa ngga kuliah diluar aja biar bisa bareng gue?" Dea bertanya balik.
"Pingin sih, tapi yah ribet De ntar, takutnya ntar malah diminta kerja disana, bisa ga diizinin ntar sama Mom."
"Ya sih, ya udah liburan aja kita jalan-jalan, gimana?" Tanya Dea semangat.
"Boleh kebetulan katanya liburan gue justru diajak ke beberapa rumah sakit buat nambah ilmu disana, ngga cuma di Surabaya tapi keluar juga, ntar bisa sekalian lah jalan kita," aku dan Dea terkekeh merencanakan rencana kami didepan nanti, masih ada satu semester memang namun kami sudah bersemangat menyusun semuanya. Kalau kak Alan, sudah pasti akan meneruskan usaha Daddy nantinya.
"Boleh bicara sebentar?" Tiba-tiba Geo datang saat aku dan Dea hendak beranjak ke kelas.
"Oke," aku memberikan kode agar Dea ke kelas duluan lalu aku mengikuti Geo ke lapangan basket di belakang sekolah.
"Mau ngapain ke sini? Latihan basket?" Ucapku datar.
"Kan tadi gue bilang mau bicara bukan main basket," Geo sedikit sewot.
"Iya slow aja pak," sabar Ana sabar, "yaudah buruan ngga bisa lama nih," aku ngga kalah sewot.
"Jadi lo udah setuju soal rencana para ibu-ibu?" Geo kembali ke mode kulkas alias dingin.
"Lo udah tau?" Dia hanya mengangguk. "Ya udah kalo udah tau," aku berbalik badan hendak meninggalkannya namun lenganku di tahan, "Apa lagi sih? Udah kan?" Gerutuku sebal.
"Kenapa lo setuju?" Tanyanya dengan nada intimidasi, astaga nih orang minta dijitak.
"Gue ngga setuju semudah itu jadi jangan pede dulu, gue lakuin buat Mom gue, lagi pula gue udah bilang kalau gue sebagai pihak kedua setuju asal pihak pertama juga setuju dan sekali lagi tetap demi Mom gue, paham? Udah kan? Ya udah gue mau ke kelas, BYE!" ucapku panjang lebar tanpa memberinya celah memotong lalu aku berlalu gitu aja dari hadapannya dan dia hanya diam ditempatnya.
Argh tuh orang bikin siang yang panas ini menjadi makin panas huh!
Geo POV
"Gue ngga setuju semudah itu jadi jangan pede dulu, gue lakuin buat Mom gue, lagi pula gue udah bilang kalau gue sebagai pihak kedua setuju asal pihak pertama juga setuju dan sekali lagi tetap demi Mom gue, paham? Udah kan? Ya udah gue mau ke kelas, BYE!"
Bisa dibilang itu kalimat terpanjang yang diucapkan Ana padaku saat kami berbicara selama ini, lucu, ya dia gadis yang lucu, matanya, hidungnya, wajahnya, ekspresinya, gerak geriknya juga bibirnya, argh kenapa jadi bayangin kejadian malam itu sih lo Geo! Aku mengacak acak rambutku frustasi.
Saat ini aku ada dikamarku sendirian jadi ngga ada yang akan lihat kelakuan anehku. Soal perjodohan itu memang aku juga setuju, sama seperti Ana, demi mama dan asal dia juga mau, namun sedikit terkejut saat tau dia mengajukan syarat pada Momnya untuk menempuh pendidikan kedokteran sebelum menikah denganku, ternyata dia bukan gadis manja seperti yang aku kira, cukup memiliki kemauan kuat, menarik. Mungkin nanti aku bisa mulai menyukainya, ya mungkin, karena selama ini aku hanya menganggapnya sebagai adik dari sahabatku.
Tapi kalau ngga salah dia mau ke Surabaya buat kuliah, lalu bagaimana biar bisa kenal dekat? Sedangkan selama ini kalau ketemu pasti ribut, sigh. Tapi ngga apa masih ada 1 semester buat tahu apa dia cocok sama tipeku.
Author POV
Ana sejak tadi gelisah mondar mandir dikamarnya seperti setrikaan panas. Dia sedang berpikir bagaimana memberitahukan kakaknya soalnya rencananya dan Mom mereka, tentunya yang berhubungan dengan Geo. Ana memang ngga suka rahasia-rahasiaan dengan kakaknya soal ini.
Ana tahu pasti kakaknya, Alan, sudah pulang sekolah dan sekarang sedang di kamarnya. Ana melangkah ragu ke arah kamar Alan yang hanya berjarak beberapa langkah dari kamarnya. Diberanikan dirinya untuk mengetuk pintu kamar kakaknya yang sudah tepat didepan wajahnya.
Tok tok tok
"Masuk..." sebuah suara yang ngga asing lagi baginya mengintruksikannya untuk masuk. dengan masih sedikit ragu Ana masuk ke kamar alan dan menutup kembali pintu kamar Alan.
Alan yang ternyata tengah sibuk dengan ipadnya sambil duduk di kasurnya menoleh ke arah Ana dan tersenyum begitu tahu adiknya yang masuk ke kamarnya.
"Eh sweety, sini sayang," Alan menepuk tempat disampingnya mengintruksikan Ana untuk duduk dengannya. Ana langsung mengambil tempat di samping Alan, dipeluknya pinggang kakaknya dan disandarkan kepalanya di pundak kakaknya.
Alan yang merasa ada sesuatu pada Ana, memeluk erat pundak adik kembarnya.
"Mau cerita?" Tanya Alan seolah menebak pikiran Ana. Ana hanya mengangguk.
Disimpan ipadnya di nakas samping kasurnya dan siap mendengar apa yang adiknya ingin katakan.
Ana menceritakan semua, dimulai dari pertemuan di restoran dengan keluarga Geo, permintaan Mom mereka, serta impian Ana, tentunya minus insiden di malam Ana emosi pada Geo yang akhirnya membuat Ana kehilangan first kissnya, hal itu tetap ia simpan.
Alan yang mendengar dengan setia setiap kata yang adiknya ucapkan tersenyum hangat, ia mengerti apa yang dirasakan Ana, mungkin memang ada benarnya ikatan perasaan atau batin saudara kembar.
"Apapun keputusan Ana, apapun jalan yang Ana pilih, selama itu membuat Ana bahagia kakak akan dukung dan support sweety selalu, karena bagi kakak kebahagiaan sweety segalanya."
Alan menatap dalam mata Ana dengan tatapan teduh, hati ana menghangat mendengar ucapan kakaknya 'you are my best twin' bisik Ana dalam hati. "Thankyou so my lovely twin,"
Dicium lembut pipi kiri Alan kemudian dieratkan kembali pelukannya, Alan hanya tersenyum melihat adik kesayangannya. Dikecup lembut puncak kepala Ana dan dipeluk kembali adiknya.
***