Demam, Geo demam.
Pantas saja seharian ini dia tak terlihat dimanapun kecuali pagi tadi ternyata dia sedang kurang sehat. Aku bingung, mungkin panik. Aku berusaha membangunkannya namun dia hanya bergumam tidak jelas.
Ku pegang keningnya 'ya Tuhan panasnya tinggi!'
Aku ngga mungkin memapahnya, pastinya berat, aku ngga sanggup. 'Ah iya kak Alan!' aku mengambil smartphoneku lalu mendial nomor kak Alan.
"Halo" terdengar suara kak Alan tak lama setelah nada sambung,
"Kakak cepetan ke kelas Geo yah," ucapku tanpa basa basi,
"Lho ada apa sweety?" Tanyanya bingung.
"Ntar aja kak, buruan ke sini!"
Ngga lama setelah memutus sambungan telpon, kak Alan sudah tiba di kelas Geo. Setelah menceritakan keadaan Geo pada kak Alan, kak Alan memapah Geo keluar kelas.
"Sweety, kakak antar Geo, sweety bawa mobil kakak yah, kita ke rumah Geo." kak Alan menyerahkan kunci mobilnya.
"Tapi kan Ana ngga tau rumah Geo kak."
Kak Alan sedikit terkekeh, aku bingung namun paham saat dijelaskan kak Alan, "Kan bisa ikutin kakak sayang," kak Alan kembali terkekeh lalu mencubit ujung hidungku.
Setelah kak Alan menjalankan mobil Geo, akupun mengikuti dari belakang dengan mobil milik kak Alan. Aku memang selama ini bisa menyetir mobil sendiri sejak kelas 1 SMA, yah Daddy yang mengajariku karena aku yang memaksa hehe (walau lebih sering bareng kak Alan karena kadang malas menyetir sendiri dan juga belum punya mobil sendiri). Sedikit rayuan akhirnya Daddy mau mengajariku, karena ku pikir akan berguna nantinya, ya buktinya sekarang ini kan?
Setelah setengah jam kami sampai disebuah rumah yang 'ehemm' lumayan besar, sedikit lebih besar dari rumahku, Ku parkirkan mobil kak Alan disamping mobil milik Geo, segera kuikuti kak Alan yang memapah Geo ke sebuah ruangan yang pastinya kamar Geo.
Kamarnya rapi, mungkin dia memang perfeksionis dalam hal kerapian. Bi Mia, salah satu asisten rumah tangga Geo bilang kalau orang tua Geo sedang keluar kota sampai besok, kasian Geo lagi sakit malah ditinggal.
"Sweety, kakak cari obat sama makan siang Geo dulu yah, kamu tunggu sini jagain." ucap kak Alan sedikit cepat, aku hanya mengangguk.
Geo masih tertidur, peluh dikeningnya cukup banyak, sepertinya ia sangat menahan sakitnya. Ku coba memegang kembali keningnya memastikan suhu tubuhnya yang ternyata tidak membaik dari sebelumnya. Astaga kak Alan kok lama banget sih, kasian anak orang nih sakit!
Ku berniat mencari kak Alan kedapur, namun sebuah tangan menahanku
Deg!
Tangan Geo..
"Jangan pergi…" rancaunya dengan mata masih terpejam 'Apa dia mengigau?' Batinku.
"Jangan pergi…" dia masih merancau, ya oke, kuputuskan duduk disamping Geo yang berbaring, tanganku masih digenggamnya dan sulit dilepas, hal ini berhasil membuat jantungku berjoget bak biduan di acara kondangan..
Oh Tuhan... tolong Ana..
Bi Mia masuk dengan membawa handuk kecil dan tampayan kecil berisi air es untuk mengompres Geo. Ku ambil alih karena bi Mia harus kembali ke dapur. Dengan satu tangan aku mengompres kening Geo, tadi sempat nanya bi Mia soal kak Alan ternyata kakakku itu tidak tau di mana, aneh.
Satu jam berikutnya ku biarkan handuk dingin di keningnya, suhu badannya sedikit lebih baik. Capek juga diposisi duduk begini lama-lama. Mataku juga mulai berat mengantuk. Ku simpan tempayan di lantai dekat tempat tidur Geo, kududukan diriku dilantai dengan punggung dan kepalaku bersandar di pinggir tempat tidurnya, satu tanganku masih digenggamnya. Tak lama aku pun terlelap.
Entah sudah berapa jam akhirnya aku terbangun, dan rasanya enak banget ngga pegal seperti habis tidur sambil duduk. Ku renggangkan ototku, mengerjapkan mata sesekali, dan 'astaga!' Kenapa aku bisa tidur di kasur??! Dan juga dimana Geo??
"Sudah bangun?" Sebuah suara sedikit mengagetkanku, ya suara Geo,
"Ah eh kok gue bisa tidur sini?" Tanyaku memastikan.
"Iya lo kan tadi tidur di lantai, ngga mungkin gue biarin bisa diamuk kembaran lo itu," jelasnya datar.
"Lalu dimana kak Alan?" Tanyaku lagi, Ia hanya menggidikan bahunya lalu duduk di sofa kamarnya yang tidak terlalu jauh dari samping kasurnya.
"By the way, thanks udah bantuin tadi," ucapnya membuka percakapan lagi setelah beberapa menit hening.
"Oh iya sama-sama," jawabku seadanya.
"Ayo gue antar pulang" ajaknya sambil berlalu ke luar kamar, huh nih orang kayak ngga niat nganterin, liat dulu kek waktu nawarin hufff! Ya udahlah aku juga lagi males debat sama orang sakit.
"Bukannya lo masih sakit?" Tanyaku ragu,
"Udh sehat." singkat banget ya.
Mobil pun dijalankan menuju ke rumahku, sepanjang jalan hanya ada sunyi sepi, ngga ada yang buka suara, beneran kaku deh.
"Maaf," tiba-tiba dia buka suara singkat.
"Soal?" Tanyaku ngga kalah singkat.
"Malam itu," ini lagi lomba irit kata kayaknya ya?
"Oh oke."
Kembali hening, benar-benar hening, bahkan kalau ada rambut jatoh bisa kedengaran bunyinya, mungkin.
Sampainya di rumahku, aku segera turun dari mobilnya, "Thanks yah om irit," ucapku asal, aduh bodoh sih kenapa malah ngomong gitu!
Ia hanya menaikan satu alisnya, "maksudnya?"
Ga ada maksud kok cuma jujur aja #eh? "Iya kan lo kalo ngomong super irit," ya elah nih mulut kenapa lepas gini, jujur amat!
"Oh," udah gitu doang? Elah ga asik amat nih makhluk, sigh. Aku pun turun tanpa melihat wajahnya lagi yang dijamin super datar kayak baju habis disetrika dengan panas maksimal.
***
Alan POV
Yah siap-siap deh diomelin Alana, sebenarnya tadi aku mau kembali ke rumah Geo, tapi tiba-tiba Mom telpon nanya dimana aku dan Ana setelah cerita semua termasuk soal Ana dirumah Geo hanya berdua (tiga dengan Bi Mia) tiba-tiba Mom minta aku langsung pulang jangan mampir ke rumah Geo dengan alasan nganterin Mom karena buru-buru ternyata cuma belanja bulanan.
Mom aneh, masa anak perempuannya lagi berdua sama cowok dibiarin, ya walau temen aku sendiri sih, tapi aneh aja, atau jangan-jangan.. ahh ngga ngga masa aku neting sama mom aku sendiri.
Terdengar suara mobil Geo didepan rumah, pasti mengantar Ana, mungkin dia udah agak sehat, ngga lama setelah Geo pergi Ana masuk ke rumah. Kakinya di hentak-hentak saat naik tangga menuju kamarnya, sepertinya dia ngambek.
"Hai sweety!" sapaku saat ia akan membuka pintu kamarnya.
Ana hanya melirik sekilas lalu masuk ke kamar dengan menutup pintu agak keras. Waduh ada sinyal bahaya kayaknya nih.
"Ana.."
tok tok tok
Aku mencoba memanggil Ana.
"JANGAN GANGGU ANA MAU MANDI!" buset dah teriakannya kalo marah keras juga. Okelah kutunggu aja agak malam.
***
Alana POV
Malam ini sengaja aku kerjai kak Alan, habisnya siapa suruh ninggalin berdua sama Geo doang disana huh!
Habis mandi aku berbaring sebentar di kasur, setelah itu turun ke ruang makan buat makan malam dan melancarkan aksi ngambek lagi ke kak Alan hehe.
Ya seperti yang kubilang, aku menikmati makan malamku tanpa memperhatikan kak Alan dengan tatapan menyesalnya padaku. Ku tebak habis ini kak Alan akan ke kamarku.
Seperti dugaanku, selesai makan aku ke kamar dan benar kan kak Alan ikut masuk dan duduk di kasurku, namun dia hanya diam seperti akan mengatakan sesuatu tapi ragu. Aku pura-pura aja sibuk mengecek buku-buku sekolah tanpa menghiraukannya dengan bertanya 'sedang apa kakak' no.. akan kutunggu sampai dia bicara hehe.
"Sweety..." akhirnya dia buka suara,
"Ya?" jawabku singkat.
"Kamu marah?" Melihat ekspresi menyesal kak Alan membuatku ingin tertawa namun ku tahan agar aktingku tidak gagal.
"Hmm."
"Beneran marah?"
"Hmm." aku hanya bergumam ngga jelas seolah ngga mau menggubrisnya sama sekali padahal aku ingin memeluk kakak kesayanganku ini dan bilang 'Ana ngga marah kok kak'.
"Ana maafin kakak... tadi itu...." kak Alan menceritakan kejadian tadi siang tanpa aba-aba dariku yang mengizinkannya cerita. Sedikit kaget saat tau Mom lah yang buat kak Alan meninggalkan aku di rumah Geo, apa Mom serius mau jodohin aku? No, aku ngga bisa sekalipun aku mulai menyukai Geo tapi aku ngga mau.
"Maaf ya sweety," kak Alan memohon sambil memelukku dari belakang saat aku sedang berdiri mematung membelakanginya mendengar penjelasannya. Aku berbalik dan memeluknya erat,
"Iya udah Ana maafin tapi janji lain kali jangan gitu lagi," aku mengerucutkan bibirku.
"Iya janji sayang," kak Alan mencium keningku dan memelukku lagi. Dan disinilah kami akhirnya berbaikan padahal aku hanya mengerjainya sedikit hehe, shhh jangan bilang-bilang yah hoho.
***
Setelah semalam kak Alan cerita semuanya , siang ini pulang sekolah aku menemui Mom di kamar untuk menanyakan alasan mom tentang kemarin.
"Mom serius mau jodohin Ana?" Tanyaku setelah memberitahukan maksudku menemui Mom,
"Iya sayang, Mom dan Mama Geo kan teman lama, dia pingin banget bisa jadi keluarga kita, Mom ngga mungkin nolak, lagipula Geo kan baik ganteng pula sayang," jelas mom panjang lebar.
"Tapi mom Ana kan masih sekolah, masih baru mau 18 tahun Mom."
"Iya mom paham tapi ngga ada salahnya kan kalian mengenal dulu? Berteman dekat atau pacaran gitu, Mom juga ngga mau anak-anak Mom menikah tanpa cinta, Mom tau, Ana mau kan mengabulkan permintaan Mom dan teman Mom yang satu ini?" Mom masih berusaha meyakiniku.
Yah skak buatku, memang benar kata-kata Mom ngga salah mencoba mengenal, tapi kenapa harus Geo coba? Anak yang super duper datar dan dingin, ngga super duper sih cuma cukup untuk membuatmu terkena darah tinggi, ups ralat maksudnya aku karena menurut penglihatanku kak Alan dan lainnya betah berteman dengannya, mungkin aku aja yang agak sensitif berasa pms tiap hari.
"Oke.. tapi--" aku menggantungkan sebentar kalimatku dan menatap mom,
"Tapi apa sayang?" Tanya mom penasaran,
"Ana mau mengabulkan permintaan Mom, tapi Ana ngga mau langsung menikah jika sudah mulai dekat nanti, Ana mau Geo juga setuju karena Ana ngga mau ini berjalan dengan terpaksa," Mom mulai tersenyum.
"Tenang sayang, Geo juga setuju asal Ana setuju karena dia juga ngga mau memaksa," jelas Mom dengan semangat.
"Tapi ada satu lagi mom," kini senyum mom berganti ekspresi bingung.
"Apa lagi sayang?"
"Sebelumnya izinkan Ana mewujudkan cita-cita Ana sejak kecil mom, Ana mohon.."
***