7 | Menunggu Kesempatan

1323 Words
Setelah sekian lama Gisa di dalam ruangan Angga. Akhirnya Angga kembali dengan senyum yang terlukis indah di wajah tampan nya. Sejak awal Gisa sudah mencari cara untuk kabur dari ruangan Angga, tapi tidak ada celah untuk kabur dari ruangan itu. Setelah Angga masuk, dia melihat Gisa sedang duduk di sofa sambil mantapnya dengan tatapan yang tajam. Bukannya takut, Angga malah tertawa kecil dan mendekat ke arah Gisa. Angga duduk di sebelah Gisa yang sekarang sudah tidak melihatnya. Karena sangat kesal dengan Angga, Gisa berdiri dan hendak menjauh. Angga hanya bisa tersenyum melihat tingkah lucu dari Gisa. Baginya Gisa terlihat sangat menggemaskan. Gisa memang terlihat berbeda dari gadis yang biasa ia temui. Sifat Gisa yang masih terlihat sedikit kekanak-kanakan membuatnya merasa sangat geram dan gemas. Ia tahu jika Gisa dulunya anak yang sangat manja. Tapi di sisi lain, Gisa juga anak yang mandiri dan sangat kuat. Ia perempuan kuat dan juga manja di satu sisi yang sama. Saat Angga ingin kembali mendekat. Tiba-tiba ada yang mengetok pintu ruangannya. Angga segera membuka pintu, dan betapa terkejut nya ia saat melihat kedatangan Chita tanpa sepengetahuannya. Dengan cepat Angga menarik Chita untuk menjauh dari ruangan nya agar Gisa tidak melihat keberadaan Chita. Karena merasa ini adalah kesempatan untuk kabur, dengan cepat Gisa berlari ke arah pintu. Dan beruntungnya pintu tidak dikunci. Tanpa membuang-buang kesempatan, Gisa langsung berlari ke luar. Tapi belum jauh, tiba-tiba jantungnya seakan ingin keluar dari tempatnya saat melihat keberadaan Angga. Gisa sangat terkejut, tapi ia merasa sangat beruntung saat tahu jika Angga tidak menyadari keberadaannya. Gisa mencoba bersembunyi di balik dinding agar Angga tidak mengetahuinya. Kali ini ia tidak bisa berbuat apa-apa karena jalan satu-satunya untuk turun ke lantai bawah adalah jalur itu. Tapi Angga malah berbicara di sana. Gisa tidak peduli apa yang sedang Angga bicarakan, yang dia inginkan saat ini hanyalah kabur darinya. Dan tak lama kemudian, Angga kembali ke ruangan nya, dan Chita juga ikut dengan Angga. Dengan cepat Gisa berlari ke sebuah ruangan dan bersembunyi di sana. Merasa sudah aman, Gisa langsung membuka pintu, betapa terkejut nya ia melihat keberadaan Angga yang sudah berdiri di depan pintu. Karena terkejut, Gisa kembali menutup pintu dengan cepat. Tapi Angga berhasil menahan pintu agar tidak tertutup sempurna. Dengan sekuat tenaga, Gisa mencoba menahan agar Angga tidak dapat menerobos masuk. Tapi semua yang dilakukannya hanya sia-sia. Sudah pasti jika tenaganya jauh berbeda dengan Angga. Karena pintu sudah terbuka, Gisa berjalan ke sebuah kursi dan duduk sambil melipatkan tangannya dan menatap Angga tajam. Angga yang merasa tertantang pun menghampirinya dan mencondongkan wajahnya ke depan dengan meletakkan tangannya di sudut kursi untuk menahan berat badannya. Gisa yang sudah terkunci oleh Angga, hanya bisa memberanikan dirinya untuk menatap Angga tajam. "Lepaskan saya sekarang juga!" tegas Gisa tanpa mengalihkan pandangannya. "Mmm ... Tidak akan." jawab Angga penuh penekanan di setiap katanya. "Sekarang tujuan bapak apa mengikat saya selalu berada di dekat bapak?" tanya Gisa mulai jengah dengan sikap semena-mena Angga. "Saya cuma mau kamu tinggal di rumah saya, jadi istri yang baik dan jadi asisten saya, dan jangan kabur ke mana-mana lagi." jawab Angga. Gisa membuang napasnya kasar dan menyetujui ucapan Angga dengan tujuan untuk menunggu kesempatan kabur tanpa sepengetahuan Angga.   *****   Setelah membersihkan tubuhnya, Gisa langsung memakai pakaiannya dan segera berbaring di atas kasur karena kelelahan. Saat baru saja memejamkan matanya, ia terbangun karena guncangan kasur yang berasal di sebelah tubuhnya. Dengan cepat Gisa langsung bangun dan duduk sambil menatap Angga yang sudah tidur di atas kasur yang juga sedang melihat ke arahnya. "Ada apa?" tanya Angga dengan suara lelah. "Bapak kenapa tidur di sini?" tanya Gisa tak ingin satu kasur dengan Angga. "Ini kamar saya, seharusnya saya yang tanya, kemu kenapa ada di sini?" tanya Angga. Seketika wajah Gisa memerah dan berniat untuk keluar dari kamar. Tapi Angga malah menarik pinggang Gisa dan membawanya ke dalam pelukannya. Gisa pun berusaha melepaskan diri. "Saya yang seharusnya tanya, bapak kenapa bawa saya ke sini?" gumam Gisa pelan. Namun Angga hanya diam dan mengelus kepala Gisa pelan.                 Karena terlalu lelah banyak berlarian sejak tadi, akhirnya Gisa hanya bisa pasrah di dalam pelukan Angga yang erat. Dan tak lama kemudian, Angga merasakan napas Gisa sudah teratur. Kemudian Angga mulai merenggangkan pelukan nya dan mencium puncak kepala Gisa sekilas, dan ia juga masuk ke alam mimpinya. Keesokan paginya, Angga terbangun karena mencium aroma yang sedap dari arah dapurnya. Dan saat melihat ke sebelahnya, Angga sudah tidak mendapati keberadaan Gisa. Dengan cepat Angga bangun dan mencuci wajahnya, kemudian langsung turun menuju meja makan. Benar perkiraannya, sumber aroma itu adalah dari masakan yang dimasak Gisa. Ia duduk di hadapan Gisa yang sedang mengolesi selai coklat di atas sebuah roti. "Silakan dimakan, saya cuma bisa masak ini saja." ujar Gisa. "Ini sudah lebih dari cukup." jawab Angga melihat nasi goreng, segelas kopi, buah buahan, roti, dan segelas s**u yang sudah tersedia di atas meja. Ini persis seperti apa yang diinginkannya selama ini. Angga sangat menginginkan seorang istri yang bisa memasak dan menyajikan dengan cara yang sederhana tapi sempurna. Selama makan berlangsung, Angga selalu saja menatap Gisa sambil menunjukkan senyuman di wajahnya. Gisa yang mengetahui hal itu merasa sedikit risih dan kesal. "Kenapa selalu memperhatikan saya? Apa ada sesuatu di wajah saya?" tanya Gisa. "Tidak. Seperti biasa, kamu selalu terlihat cantik." jawab Angga. Gisa menatap Angga dengan wajah datar karena menganggap jika Angga hanya ingin menggoda nya. Ya, itu lah sikap Angga di mata Gisa. Seorang pria m***m yang bermulut manis dan terkadang mengandung garam yang berlebihan. Sosok pria yang sangat menyebalkan. "Hari ini kamu ikut aku ke kantor, ya." ujar Angga. "Buat apa? Jadi asisten bapak?" tanya Gisa sudah tahu apa tujuan Angga. "Iya." jawab Angga. "Jangan deh pak. Saya di rumah saja." ujar Gisa enggan untuk ikut dengan Angga. Mengingat kejadian kemarin membuatnya merasa malu untuk datang kembali ke kantor Angga. Ia tidak ingin mendengarkan ocehan para karyawan Angga tentang dirinya. Ia tidak siap mendengarkan kata orang yang mengatakan jika ia menggoda Angga hanya untuk mendapatkan hartanya. Seperti halnya di film-film. "Aku tidak terima penolakan dalam jenis apa pun." tolak Angga. Lebih tepatnya itu sebuah paksaan. "Apa harus? Bapak kan sudah punya asisten." jawab Gisa kesal. Angga memang tipe orang pemaksa dan itu membuat Gisa merasa sangat kesal. "Dia asisten untuk pekerjaan kantor, tapi kamu asisten untuk pelepas lelah." jawab Angga anteng. Gisa ternganga mendengar ucapan dari Angga yang menurutnya sungguh tidak masuk akal. Apanya asisten pelepas lelah? "Jangan aneh-aneh deh pak, saya bukan tipekal orang yang bisa memijat, pak." ujar Gisa menolak permintaan tak masuk akal Angga. Jika ingin melepaskan lelah, kenapa tidak panggil tukang pijat saja? Atau pergi berlibur ke luar negeri dengan para wanita-wanitanya? Bukannya itu yang selalu dilakukan orang-orang kaya seperti Angga? "Siapa bilang untuk memijat? Aku cuma minta kamu untuk perlakukan aku dengan manis dan siap memberikan ciuman mu jika nanti aku lelah dengan pekerjaan yang sangat menumpuk. Kamu itu bagaikan obat pelepas lelah bagiku." jelas Angga. Gisa tak habis pikir jika Angga benar-benar memiliki pikiran yang sangat m***m. Dengan cepat Gisa mengalihkan pandangannya. "Jangan aneh-aneh, pak. Memang apa hak bapak menyuruh saya untuk melakukan hal bodoh seperti itu?" tanya Gisa kesal. "Ya jelas aku punya hak. Aku suami kamu, dan kamu harus melayani suamimu dengan baik." jawab Angga tanpa merasa bersalah. "Siapa bilang kalau saya mengakui bapak sebagai suami saya?" tanya Gisa. Angga pun membuang napasnya gusar dan mengusap rambutnya ke belakang menggunakan tangan kanannya. "Kurang bukti apa lagi sih, Gi?" tanya Angga. Seketika bulu kuduk Gisa berdiri saat mendengar Angga memanggilnya dengan panggilan "Gi". Ini pertama kalinya bagi Gisa. Biasanya orang memanggilnya dengan panggilan "Sa", bukan "Gi". Itu terdengar asing baginya. "Kalau bapak benar-benar suami saya, coba beri saya bukti yang bisa membuat saya percaya dengan semua ini." Ujar Gisa. "Sebenarnya ada apa sih dengan kamu? Kamu bertingkah sangat aneh belakang ini." ujar Angga merasa ada yang salah dengan sikap Gisa. Seakan-akan Gisa tidak mengingat apa pun tentang dirinya. Seakan-akan Gisa melupakan semua kenangan mereka. Padahal Gisa sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD