Karena paksaan dari Angga, akhirnya Gisa mengikuti keinginan Angga untuk ikut dengannya ke perusahaan. Gisa tidak ingin menjadi bahan pembicaraan lagi di kantor Angga. Selangkahpun, Ia tidak mau turun dari mobil. Rasanya benar benar sangat mengerikan saat mendengar ocehan para karyawan Angga. Walaupun mereka tidak membicarakan Gisa di hadapan Angga, tapi di belakang Angga pasti mereka akan tetap membicarakan tentang Gisa. Dan Gisa tidak suka jika ia menjadi sorotan banyak orang. Apalagi untuk hal yang tidak baik seperti itu.
"Kenapa?" tanya Angga yang sudah turun terlebih dahulu.
"Saya nggak mau masuk, pak! Saya tunggu di sini aja." jawab Gisa.
"Kamu harus masuk!" perintah Angga dan membukakan pintu mobil lebar-lebar. Seperti biasa, Gisa tidak akan mau menuruti perkataan dan keinginan Angga. Jangankan menurut, menatap Angga saja ia merasa sangat enggan. Ia memalingkan wajahnya dari Angga yang sudah berdiri tepat di depan pintu mobil sambil menunggu Gisa untuk turun.
"Ayo." ajak Angga lagi.
"Nggak." Gisa tetap mengatakan tidak sambil melipat kan tangan di depan d4danya.
"Kamu jalan sendiri atau aku gendong masuk ke dalam?" ancam Angga. Karena ancaman dari Angga, akhirnya Gisa keluar dari mobil dalam keadaan kesal. Ia tidak ingin jika kejadian sebelumnya akan terjadi lagi. Karena setiap ancaman Angga tidak bisa dianggap remeh.
Bukannya langsung masuk ke dalam perusahaan, mereka hanya berdiam diri di depan mobil. Gisa yang bingung pun menatap Angga dengan tatapan bingung.
"Kenapa nggak masuk, pak?" tanya Gisa bingung.
"Sini, kita barengan." ujar Angga sambil menarik tangan Gisa agar mendekat ke arah nya. Tapi sebelum itu terjadi, Gisa menepis tangan Angga dan mundur satu langkah dari Angga.
"Nggak usah dekat-dekat pak, saya bisa jalan sendiri. Bapak duluan saja, nanti saya susul dari belakang." jelas Gisa menjaga jarak aman. Jika bersama Angga, ia harus tetap waspada setiap pergerakan yang Angga lakukan. Pergerakan kecil saja bisa membuat dirinya dalam masalah.
"Bagaimana aku bisa percaya dengan kata-katamu?" ujar Angga tak percaya. Mengingat kejadian sebelumnya saat Gisa mencoba kabur darinya. Bagaimana mungkin Angga akan percaya dengan Gisa?
"Apa bapak pikir saya bisa kabur dari bapak?" tanya Gisa merasa kesal. Ia merasa kabur dari Angga sesuatu yang mudah, karena itu Gisa merasa Angga sedang meledeknya.
"Kamu gadis yang licik, jadi aku harus berhati-hati dengan setiap perbuatanmu." jawab Angga sambil tersenyum tipis.
"Saya nggak suka ya pak kalau saya dibilang licik." ujar Gisa tak suka dengan ucapan Angga. Itu terdengar seperti Gisa adalah Gadis yang jahat.
"Lalu apa? Gadis pintar?" tanya Angga.
"Itu lebih baik." jawab Gisa.
"Tapi kamu tidak terlihat pintar saat memilih seorang pria." ujar Angga melenceng dari pembicaraan. Gisa hanya bisa terdiam tak ingin mengubris dan memilih mengalihkan pembicaraan.
"Kalau bapak tidak mau duluan, biar saya yang duluan. Bapak tolong jaga jarak dari saya." ujar Gisa dan berjalan cepat untuk menjauh dari Angga. Tapi Angga juga mempercepat jalannya untuk menyusul Gisa. Karena merasa Angga semakin dekat dengannya, Gisa mempercepat langkah kakinya, bahkan ia mulai berlari-lari kecil untuk menjauh dari Angga. Angga pun ikut berlari kecil sambil tersenyum tipis melihat Gisa yang berada di depannya.
Karena Angga juga ikut berlari, Gisa pun mempercepat larinya dan kemudian berhenti tepat di depan pintu ruangan Angga. Ia berdiri menunggu Angga dengan napas tersenggal-senggal karena lelah berlari. Tak lama kemudian Angga pun datang sambil tersenyum lebar melihat Gisa yang begitu lucu di matanya.
"Capek?" tanya Angga yang sudah berada tepat di hadapannya. Gisa menegakkan tubuhnya dan merapikan rambutnya tanpa mempedulikan pertanyaan Angga. Karena diabaikan, Angga mengacak-acak rambut Gisa dengan geram.
"Apa yang bapak lakukan?" ujar Gisa sambil menepis tangan Angga dan kembali merapikan rambutnya yang sudah acak-acakan sambil cemberut kesal. Angga yang melihat tingkah Gisa hanya tersenyum kemudian menarik tangan Gisa untuk masuk ke dalam ruangan nya. Merasa ada yang kurang, Gisa melihat sekeliling ruangan Angga dengan bingung.
"Sekretaris bapak mana?" tanya Gisa tidak melihat sekretaris Angga sejak tadi. Seharusnya Gisa sudah melihat sekretaris Angga sejak memasuki perusahaan, baik itu di luar maupun di dalam. Namun sejak memasuki perusahaan, Gisa tidak melihat gelagak seorang sekretaris menyambut kedatangan Angga.
"Ada. Hanya saja ada sesuatu yang harus dia urus." jawab Angga sembari melepas jas nya kemudian duduk di atas kursi kebanggaan nya. Sedangkan Gisa duduk di sofa sambil menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Angga. Merasa bosan karena hanya duduk tanpa melakukan apa-apa, Gisa mengeluarkan ponselnya. Tapi, belum sempat membuka ponsel, Angga memanggil namanya, sontak saja Gisa langsung melirik ke arah sumber suara.
"Gisa." panggil Angga.
"Ya?" jawab Gisa sambil menatap Angga yang sedang sibuk menatap ke arah layar laptopnya.
"Ke sini sebentar." panggil Angga tanpa melihat ke arah Gisa.
"Ada apa?" tanya Gisa bingung.
"Sini." ujar Angga. Tapi kali ini ia menatap Gisa yang masih tetap berada di tempatnya.
Dengan berat hati, Gisa pun berjalan mendekat. Sesampainya di sebelah meja Angga, Angga langsung menarik Gisa untuk semakin mendekat ke arah nya. Karena tarikan Angga lebih kuat darinya, Gisa tidak bisa menolak dan tertarik ke arah Angga.
"Kenapa si, pak?" tanya Gisa mulai kesal.
"Duduk di sini." ujar Angga sambil menepuk-nepuk tempat duduk di antara kedua pahanya. Mengerti maksud dan tujuan Angga, Gisa tercengang tak percaya. Ia tak percaya jika Angga meminta sesuatu yang memalukan seperti itu. Tentu saja ia takkan mau melakukannya.
"Apa bapak pikir saya mau?" tanya Gisa kesal.
"Siapa yang tau kalau aku tidak coba tanya dulu?" jawab Angga tanpa rasa bersalah. Ia berbicara sekan hal itu sesuatu yang biasa.
"Lagian bapak mau ngapain? Jangan aneh-aneh, Pak." tanya Gisa jengah dengan sikap Angga. Bukannya menjawab pertanyaan Gisa, Angga memutar kursinya dan menarik Gisa untuk duduk di antara kedua pahanya.
Seperti biasa, Gisa pasti memberontak dan berusaha untuk melepaskan diri. Tapi karena kekuatan Angga lebih besar darinya, Gisa hanya bisa berusaha sekuat mungkin agar Angga kasihan dan melepaskannya. Tapi tak seperti yang diinginkan, Angga semakin mengeratkan pelukan nya dan membenamkan wajahnya di tengkuk Gisa sembari menciumi leher Gisa sesekali.
"Sebentar saja." bisik Angga tepat di telinga Gisa.
"Jangan begini pak, saya ..."
"Sebenar saja Gi, aku capek." pinta Angga dengan suara yang teduh. Karena tidak tega, Gisa pun membiarkan Angga memeluknya hanya untuk sementara.
"2 menit." ujar Gisa.
"10 menit." tawar Angga.
"1 mentit.” ujar Gisa lagi.
Karena kesal Gisa tidak menuruti ucapannya, Angga mencium dan sesekali menggigit leher Gisa. Karena tidak bisa apa-apa lagi, Gisa pun menyetujui ucapan Angga. Setelah 10 menit kemudian, Gisa semakin tidak tega untuk membangunkan karena Angga terlihat tidur begitu lelap di tengkuknya. Dengan menahan rasa pegal, Gisa mencoba untuk merebahkan Angga ke sandaran tempat duduknya. Tapi tiba-tiba Angga mengeratkan pelukan nya dan tambah membenamkan wajahnya ke tengkuk Gisa, seakan-akan Gisa adalah sebuah bantal guling pribadinya. Karena merasa geli dengan tiupan napas Angga, entah kenapa jantung Gisa berdegup kencang dan wajahnya menjadi memerah bak kepiting rebus. Karena sudah merasa sangat pegal, Gisa mencoba untuk membangunkan Angga.
"Pak ... pak bangun. Badan saya sudah pegal 10 menit seperti ini." ujar Gisa sambil menepuk-nepuk pipi Angga yang masih berada di tengkuknya. Bukannya melepaskan pelukan nya, Angga malah merebahkan tubuhnya ke belakang sembari membawa tubuh Gisa yang berada di dalam pelukan nya untuk bersandar pada tubuhnya.
"Ini sudah lewat 10 menit, pak." peringat Gisa tak terima.
"Sebentar lagi." ujar Angga enggan untuk melepaskan pelukan nya.
"Saya cepek, pak." ujar Gisa yang merasakan pegal di tubuhnya. Terutama bagian pinggang dan bahunya.
"Kalau begitu pindah posisi, duduk di pangkuanku sambil menghadap ke arah ku. Kamu bisa merebahkan tubuhmu sembari memeluk tubuhku." ujar Angga. Seketika wajah Gisa langsung memerah saat sekilas ia sempat membayangkan apa yang diucapkan oleh Angga.
"Tidak tidak tidak ... Lepas, pak." ujar Gisaberusaha melepaskan pelukan Angga.
Tiba-tiba ada yang datang mengetuk pintu. Dengan keadaan panik, Gisa berusaha melepaskan pelukan Angga. Tapi Angga malah semakin mengeratkan pelukan nya dan membiarkan sang pengetuk pintu untuk masuk. Karena merasa malu dan tidak ingin orang melihat wajahnya. Gisa memutar tubuhnya dan menyembunyikan wajahnya di d4da Angga. Seketika Angga langsung tersenyum dan tambah mengerat kan pelukan nya. Saat sang pengetuk pintu itu masuk, dia terkejut melihat apa yang sedang dilakukan direktur nya. Dengan rasa tidak enak, dia menundukkan wajahnya dan berencana untuk keluar dari ruangan Angga. Takut jika kedatangannya mengganggu waktu kebersamaan Angga dengan wanitanya.
"Tidak usah, ada urusan apa?" tanya Angga.
"Mi ... minta tanda tangan dan persetujuan bapak." ujarnya gelagapan.
Setelah membaca dan menandatangani berkas yang diajukan, karyawan itu pun keluar dengan terburu-buru. Dan setelah keluar, Angga tersenyum menatap Gisa dan menciumi puncak kepala Gisa dengan lembut.