9 | Dress Pesta

1401 Words
Setelah karyawan itu keluar, Gisa dengan cepat berdiri dan menjauh dari Angga. Angga hanya bisa tersenyum puas dengan apa yang sudah terjadi. Karena malu dengan apa yang baru saja terjadi, Gisa membalikkan badannya dan enggan untuk melihat Angga. Melihat tingkah Gisa yang lucu, Angga pun tak henti-henti tersenyum dan memperhatikan Gisa yang sedang berusaha untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah sangat memerah. Setelah itu Angga langsung memakai jas nya dan menarik pergelangan tangan Gisa untuk mengikuti langkahnya. Tapi baru sampai keluar dari pintu, Gisa menahan tangan Angga untuk berhenti menariknya. "Lepaskan tangan saya, pak. Bukannya saya sudah bilang saya nggak mau kalau or ..." "Memang nya kenapa?" tanya Angga tanpa melepaskan genggamannya di pergelangan tangan Gisa. "Saya nggak suka jadi buah bibir orang pak, apalagi dibicarakan dengan bapak." jawab Gisa jujur. "Apa ruginya jika dibicarakan dengan pria setampan dan sekaya seperti aku?" tanya Angga penuh percaya diri tinggi. "Banyak omong." ujar Gisa yang merasa kesal dengan sikap percaya diri Angga. "Ayo." ujar Angga kembali menarik tangan Gisa tanpa permisi. Karena tidak bisa apa-apa, Gisa pun menundukkan kepalanya dan menutupi wajahnya dengan rambut panjangnya. Angga pun tersenyum melihat tingkah Gisa yang sangat berbeda dengan wanita lain. Jika wanita lain, pasti sangat bangga jika berjalan bersebelahan dengan Angga yang notabenya adalah direktur perusahaan besar. Sesampainya di mobil, Gisa hanya diam pasrah mau dibawa ke mana. Selama menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Angga berhenti di sebuah butik yang terlihat sangat mewah. Gisa pun menatap Angga dengan tatapan kebingungan. Bukannya menjawab tatapan bingung Gisa, Angga malah masuk sambil menarik tangan Gisa. Sesampainya di dalam, semua karyawan menundukkan kepala pertanda jika mereka sangat menghormati kedatangan Angga. Setelah itu Angga menunjuk beberapa dress dan menyuruh Gisa untuk mencobanya. "Buat apa saya mencoba semua dress ini?" tanya Gisa merasa keberatan untuk mencoba dress yang disodorkan oleh beberapa Karyawan. "Coba saja dulu." ujar Angga. "Jawab dulu buat apa? Kalau nggak saya nggak akan mau coba." ancam Gisa merasa curiga dengan tujuan Angga. Bagaimana tidak curiga, Angga memintanya mencoba berbagai dress yang bahkan tidak bisa ia gunakan di rumah. Tentu saja prasangka buruk keluar dari pikirannya. "Kalau kamu nggak mau coba, biar aku yang memakaikannya." Angga malah balik mengancam Gisa sambil menarik tangannya untuk masuk menuju ruang ganti. Tapi sebelum sampai tujuan, Gisa menahan tangan Angga. "Oke oke.. Biar saya yang pakai sendiri." ujar Gisa dan mengambil dress yang berada di tangan karyawan dan masuk ke dalam ruangan ganti tanpa memperbolehkan karyawan yang lainnya untuk masuk dan membantunya. Hal itu terlalu memalukan baginya. Selama ini Gisa tidak suka jika seseorang membantunya dalam mengenakan pakaian atau mengurus peralatan mandi nya seperti halnya yang sering dilakukan nona-nona kaya lainnya. Pertama Gisa memakai dress berwarna pink, tapi Angga tidak menyukai nya. Dan setelah itu Gisa memakai dress berwarna coklat, tapi Angga juga tidak menyukai nya. Dan saat mencoba gaun berwarna hitam pun Angga masih tidak menyukai nya. "Mau bapak yang seperti apa? Saya cepek gonta-ganti dress terus, pak." protes Gisa merasa kelelahan gonta-ganti dress yang sudah menumpuk begitu banyak. "Aku mau dress yang bisa membuat kamu terlihat elegan tapi terlihat natural." jawab Angga tak puas melihat berbagai dress yang selesai Gisa kenakan. "Memang nya yang sebelumnya bagaimana?" tanya Gisa kesal dengan sikap Angga. Padahal menurut Gisa dress sebelumnya sudah terlihat bagus di tubuhnya. Tapi Angga malah tidak menyukai nya. Dan ia malah harus mengikuti keinginan Angga yang begitu merepotkan. "Dress sebelumnya membuat kamu terlihat terlalu seksi, dan aku tidak suka jika harus berbagi pemandangan tubuhmu dengan pria lain." jawab Angga yang masih sibuk melihat gaun yang harus Gisa coba lagi. "Tapi saya cepek harus gonta-ganti dress terus, pak." ujar Gisa lelah. Angga pun hanya diam, kemudian dia mengambil satu dress berwarna putih, dan menarik tangan Gisa untuk masuk ke dalam ruang ganti. Seperti biasa, Gisa pasti selalu menolak. Dan seperti biasa, Gisa pasti selalu kalah jika mengenai pemaksaan dan tenaga dengan Angga. Sekarang Gisa dan Angga sudah berada di dalam ruang ganti. Tanpa aba-aba, Angga membalikkan tubuh Gisa dan langsung membuka resleting dress yang dipakai Gisa. Reflek Gisa membalikkan tubuhnya menghadap Angga dan menahan dressnya agar tidak terjatuh. "Apa yang mau bapak lakukan?" tanya Gisa sambil menahan dressnya. "Membantumu mengganti dress. Bukannya kamu capek gonta ganti dress? Ini aku berinisiatif untuk membantumu." jawab Angga tanpa rasa bersalah. Gisa pun tercengang mendengar ucapan Angga. "Nggak usah pak, terima kasih. Saya bisa sendiri. Lebih baik bapak keluar sekarang." ujar Gisa sambil mendorong tubuh Angga untuk keluar dari ruang ganti. "Iya, iya. Tapi jangan lama. Kalau perlu bantuan panggil aku saja." ujar Angga dan keluar dari sana. Gisa pun segera mengganti dress nya. Tapi Gisa tidak dapat menarik resletingnya karena terlalu keras. Ia berusaha begitu keras, namun usahanya tak membuahkan hasil. Ingin meminta bantuan, tapi ia telalu malu untuk melakukannya. Namun, setelah bersusah payah, tiba-tiba ada sebuah tangan menariknya ke atas. Reflek Gisa memutar tubuhnya, sehingga tubuhnya malah menabrak tubuh Angga yang berada tepat di belakangnya. Gisa terkejut melihat kehadiran Angga, sedangkan Angga hanya tersenyum manis. "Cantik." ujar Angga. Seketika wajah Gisa langsung memerah mendapatkan pujian. Gisa yang awalnya akan protes, akhirnya tidak jadi karena sudah merasa malu terlebih dahulu. Semua kata-kata makian yang sebelumnya akan keluar, seketika menghilang begitu saja. Ini rasanya sama seperti akan menyetor hafalan saat masih SMA. "Ma ... makasih." ujar Gisa salah tingkah. "Oke, kita ambil yang ini." ujar Angga dan menyuruh karyawan untuk mengurusnya. Bahkan mereka juga sudah membeli high heel dan tas yang warnanya senada dengan dress yang Angga pilihkan. Sesampainya mereka di mansion, mereka langsung masuk ke dalam. Gisa masih bingung untuk apa Angga membelikan nya sebuah dress. Padahal ia masih berpikir untuk kabur darinya.   *****   Seperti yang sudah dibayangkan Gisa, ternyata Angga benar membawanya ke sebuah pesta perusahaan. Saat mengetahuinya, Gisa enggan untuk turun dari mobil. Seperti biasa, Angga pasti membujuk Gisa terlebih dahulu. "Ayo turun." Ajak Angga sambil mengulurkan tangannya pada Gisa yang masih tetap duduk di dalam mobil. "Kenapa bapak bawa saya ke acara seperti ini?" tanya Gisa kesal. Gisa tidak suka jika dirinya terlalu dipublikasikan kepada publik. Apalagi akan diperkenalkan sebagai istri Angga. Gisa tidak ingin itu terjadi. Bahkan Gisa tidak mengakui jika Angga adalah suaminya. "Kita sudah sampai di sini, nggak ada alasan untuk balik lagi, Gi." ujar Angga berusaha membujuk Gisa. "Saya nggak mau, pak. Saya nggak suka." ujar Gisa kekeh pada keinginannya. "Sebentar saja ya, setelah itu kita pulang." Bujuk Angga penuh harap. "Saya bilang saya nggak suka, pak. Memang kenapa bapak harus mengajak saya? Padahal bapak bisa mengajak wanita lain. Terus bapak mau bilang apa ke orang-orang tentang saya?" tanya Gisa kesal. "Kenapa aku mengajak kamu? Pertama, kamu adalah istriku. Ke-dua, tidak ada alasan untuk mengajak wanita lain sedangkan aku punya seorang istri. Dan aku akan memperkenalkan kamu sebagai istriku." jawab Angga dengan sangat mantap. Bahkan Gisa tidak menyangka jika Angga akan menjawab seperti itu. Gisa menjadi sangat bimbang dengan perasaannya. Dia bingung apakah Angga benar suaminya atau tidak? Ia takut jika Angga memang bukan suaminya, dan hanya tipu daya semata. Gisa sangat bersyukur jika ia bisa meninggalkan Angga secepatnya. Tapi bagaimana jika Angga memang suaminya? Karena itu ia takut menjadi istri durhaka kepada suaminya. Dan Gisa juga takut jika menyakiti hati sang suami dikala dulu mereka saling mencintai. "Saya keberatan jika bapak memperkenalkan saya sebagai istri bapak." ujar Gisa setelah memikirkan banyak hal dalam beberapa detik. "Kenapa?" tanya Angga bingung. "Karena saya sendiri masih tidak percaya jika bapak adalah suami saya." jawab Gisa bimbang. "Harus bagaimana lagi agar kamu percaya sama aku?" tanya Angga merasa jengah. Angga tidak tahu harus bagaimana lagi untuk membuktikannya kepada Gisa jika ia benar suaminya. "Beri saya bukti yang kuat." jawab Gisa. "Contohnya apa?" tanya Angga. "Buku nikah? Orangtua kamu? Teman kamu? Atau apa? Semuanya sudah terbukti Gi, butuh bukti kuat yang bagaimana lagi?" tanya Angga jengah dengan sikap Gisa yang menurutnya sangat aneh. "Selama saya datang ke rumah bapak, saya tidak pernah melihat foto pernikahan kita." ujar Gisa mengingat jika selama ini ia memang tidak pernah melihat foto pernikahan mereka. Mendengar perkataan Gisa, Angga terdiam sejenak. Ia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto pernikahan mereka. Di foto, mereka tersenyum begitu bahagia. Melihat foto itu, Gisa terlihat tak percaya. Ia terdiam tak berkutik sama sekali. "Ba ... bagaimana bisa? Sa ... saya ..." Sekarang kamu percayakan? Kamu butuh bukti apa lagi?" tanya Angga.Seketika Gisa tidak bisa menjawabnya. Angga benar, semuanya sudah menjadi bukti yang kuat. Hanya dirinya lah yang tidak bisa menerima dan tidak percaya terhadap Angga, sang suami. Gisa takut jika dia dibohongi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD