10 | Mandi Bersama

1450 Words
Sekian lama berdebat dengan pikirannya, akhirnya Gisa memutuskan untuk melanjutkan hidupnya bersama dengan Angga. Gisa ingin percaya pada Angga. Tapi ia tidak bisa percaya sepenuhnya, ia hanya ingin mencari tahu kebenarannya. Cepat lambat, semuanya pasti akan terbongkar juga. Gisa pun keluar dari mobil dan menerima uluran tangan Angga. Angga pun tersenyum dan menggenggam tangan Gisa dengan erat. Baru saja menuju pintu hotel, mereka berdua sudah menjadi sorotan publik dan menjadi buah bibir para tamu undangan. Gisa yang tidak biasa dengan suasana itu pun langsung berkeringat dingin. Merasakan hal itu, Angga menggenggam tangan Gisa dengan erat dan sesekali mengelus nya untuk menenangkan nya. Sesampainya di tempat tujuan, Gisa memberhentikan langkahnya. "Kenapa?" tanya Angga bingung karena mereka belum sepenuhnya masuk ke tempat tujuan. "Bisa kah bapak jangan perkenalkan saya sebagai istri bapak?" pinta Gisa masih mengkhawatirkan beberapa hal yang menurutnya masih sangat menjanggal. "Terus sebagai siapa?" tanya Angga bingung. "Mmm … Teman?" ujar Gisa. Karena mengerti dengan perasaan Gisa, Angga pun menyetujuinya. Mereka berjalan beriringan sambil tangan Angga selalu menggenggam tangan Gisa. Mereka berjalan menuju ke sebuah meja yang sudah ditempati oleh beberapa orang yang tidak Gisa kenal sama sekali. "Bintang utamanya sudah datang nih." Ujar Axel, teman Angga. "Siapa ini?" tanya Bian melihat ke arah Gisa yang berdiri tepat di sebelah Angga. "Perkenalkan dengan ku dong." ujar Zen merasa tertarik kepada Gisa. "Halo, perkenalkan aku Gisa, tem..." "Pacarku." Sanggah Angga cepat. Gisa pun tercengang mendengar ucapan Angga. Ini berbeda dengan apa yang mereka bicarakan tadi. "Serius pacar kamu, Ga?" tanya Bian tak percaya. Mengingat sifat Angga yang tidak begitu tertarik menjalin sebuah hubungan. "Ya. Memang kenapa? Ada masalah?" tanya Angga. "Bukan begitu, Ga. Kamu bisa memahaminya sendiri, Bian." ujar Zen mengingatkan Bian akan suatu hal. "Kamu tahu, bukan?" tanya Abe berusaha membuat Bian mengingat akan suatu hal. "Ahh ... Aku paham sekarang." ujar Bian mengingat sesuatu yang sekilas ia lupakan. Angga pun tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya dan mulai duduk. Sedangkan Gisa bingung dengan pembicaraan mereka. Tanpa ambil pusing, Gisa pun ikutan duduk di sebelah Angga. Angga pun mulai merangkul kan tangannya di pinggang Gisa karena ia sadar jika banyak mata laki laki lain memperhatikan wanitanya. Karena tidak suka, Angga pun mulai memperlihatkan kepemilikannya. Bahkan Angga terang terangan menatap tajam ke arah sang penglihat.Tak lama kemudian, ada dua orang perempuan datang dan ikutan duduk di meja yang sama dengan mereka. Bahkan salah satu dari mereka duduk di sebelah Angga. "Malam, Ga." sapa nya dengan sangat ramah. Angga pun tersenyum kemudian menyibukkan dirinya dengan Gisa kembali. Merasa diabaikan, Reika pun merasa kesal dan cemburu terhadap Gisa. "Pak, ayo pulang." bisik Gisa mulai merasa tidak nyaman. "Ya sudah, ayo." jawab Angga tanpa ada penolakan. "Aku pulang duluan, ya. Gisa tidak bisa pulang terlalu malam." ujar Angga sambil melihat Gisa yang berdiri di sebelah nya. "Iya, hati-hati." jawab teman-temannya tidak ingin menahan Angga terlalu lama. Mereka paham jika Gisa tidak nyaman berada di dekat mereka. Saat melewati kolam renang, Reika pura-pura tersandung dan mendorong tubuh Gisa sehingga masuk ke dalam kolam renang. Angga pun dengan sigap langsung ikutan masuk ke dalam untuk menolongnya. Dengan sigap, Angga langsung menggendong tubuh Gisa, karena dalam kolam hanya sebatas dagu Angga. Sedangkan Gisa sudah terbenam karena ia hanya setinggi bahu Angga. "Apa yang bapak lakukan?" tanya Gisa sambil menautkan tangannya di pundak Angga. "Tentu saja menolong kamu. Jika bukan menolongmu, buat apa aku terjun masuk ke kolam renang di tengah-tengah pesta begini?" ujar Angga kesal. Bukannya mengucapkan terima kasih, Gisa malah bertanya Apa yang sedang Angga lakukan. "Saya bisa berenang, pak." ujar Gisa sambil menahan tawa nya. Ia tidak menyangka jika Angga ikutan masuk karena dirinya tercebur ke dalam kolam. "Hah?" Angga pun tercengang dan merasa malu. "Saya bisa berenang." jelas Gisa lagi. Angga pun langsung menurunkan Gisa hingga seluruh tubuhnya kembali masuk ke dalam air. Karena kakinya tidak sampai ke dasar, Gisa memegang pundak Angga sebagai pegangannya. "Kenapa nggak bilang dari awal?" ujar Angga kesal. "Bapak nggak ada tanya. Lagi pula, masa iya bapak tidak tahu jika istri sendiri bisa berenang? Katanya bapak suami saya." ujar Gisa mulai merasa agak curiga. "Sebelumnya kamu ngga pernah berenang." ujar Angga dan mulai berenang ke tepian. Gisa pun juga ikutan berenang ke tepian dan dibantu naik oleh Angga. Angga pun membuka Jas nya dan memakaikan nya di pundak Gisa. "Nggak usah pak, bapak pasti juga kedinginan." tolak Gisa merasa tidak enak. "Aku pernah bilang kan, aku nggak suka jika pria lain melihat tubuhmu juga." ujar Angga sambil merapatkan jas nya pada tubuh Gisa. Gisa pun melihat ke dress nya yang tembus pandang karena air. Dengan cepat Gisa kembali merapatkan jas Angga yang dilekatkan di pundaknya. "Terima kasih." ujar Gisa merasa malu. Ia tidak menyangka jika dressnya tembus pandang jika terkena air. Jika ia tahu, ia tidak akan keluar air sebelum Angga cepat memberikan jas nya. Selang beberapa detik, entah berapa orang yang sudah melihat tubuhnya. Walaupun tidak terlihat dengan jelas, tapi itu masih memalukan baginya. "Ya sudah, sekarang kita balik." ajak Angga sambil merangkul pundak Gisa. Saat melewati Reika, Angga menatapnya dengan tatapan tajam penuh kebencian. Reika terkejut saat melihat tatapan Angga padanya, dia hanya bisa menundukkan wajahnya. Itu pertama kalinya ia mendapatkan tatapan tajam dari Angga. Walaupun ia sudah sering melihat tatapan tajam Angga, tapi rasanya sangat berbeda jika tatapan itu ditujukan untuknya. Bukannya langsung pulang, Angga malah memesan satu kamar hotel. Saat Gisa ingin memesan satu kamar lagi, Angga sudah lebih dulu menarik tangan Gisa untuk ikut dengannya. Ingin memberontak, tapi apalah daya Gisa di hadapan Angga. Sesampainya di dalam kamar, bukannya menyuruh Gisa atau Angga yang mandi duluan, Angga malah menarik Gisa sampai ke dalam kamar mandi. "Bapak mandi duluan saja, saya tunggu di luar." ujar Gisa dan berniat untuk keluar dari kamar mandi. Tapi Angga menahan tangan Gisa dan mengunci pintu kamar mandi. "Kita mandi bersama. Kalau tidak langsung mandi, nanti masuk angin." ujar Angga sambil menghidupkan shower yang siap membasahi tubuh mereka berdua. Gisa berjalan mundur untuk menjauh dari Angga, tapi Angga kembali menarik tangannya untuk semakin mendekat. "Jangan jauh-jauh." bisik Angga tepat di sebelah telinga Gisa. "Tapi pak, saya ... Kyaaa ... Bapak mau ngapain?" Sebelum Gisa menyelesaikan ucapannya, Angga malah membuka bajunya tanpa permisi. Gisa langsung membalikkan tubuhnya dan menutup matanya. Angga pun tertawa melihat reaksi Gisa yang begitu menggemaskan. Angga berjalan mendekat ke arah Gisa, dan memeluk tubuh Gisa dari belakang. Gisa yang dipeluk secara tiba-tiba pun langsung membeku. Jantungnya berdetak dengan cepat. Saking dekatnya, Gisa bisa merasakan napas Angga menyapu tengkuknya. "Kamu kenapa, hmm?" tanya Angga menggoda Gisa sambil membuka resleting dress Gisa sampai bawah secara perlahan. Mengetahui hal itu, Gisa langsung mencoba melepaskan diri dari Angga. Tapi seperti biasa, kekuatan Angga lebih besar darinya. Saat reseetingnya sudah terbuka sampai bawah, Angga mulai menurunkan dress Gisa dari bahunya. Tapi sebelum semua itu terjadi, Gisa menahan dressnya agar tidak terjatuh. "Jangan, pak!" ujar Gisa menahan dressnya agar tidak terjatuh. "Kenapa? Kamu malu?" tanya Angga menanyakan pertanyaan yang seharusnya sudah ia ketahui. "Ini bukannya sudah keterlaluan, pak? Kita seharusnya ti ..." "Keterlaluan di mananya? Ini hal yang wajar kan untuk suami istri?" Sanggah Angga memotong pembicaraan Gisa sebelum selesai. "Siapa bilang kalau kita suami istri?" tanya Gisa tak terima. "Kamu masih belum percaya? Coba kamu bilang mau bukti yang bagaimana lagi?" tanya Angga. Gisa hanya terdiam, dan hal itu menjadi kesempatan besar untuk Angga menarik dress Gisa dengan cepat. Akhirnya dress nya lolos dari tubuh Gisa. Gisa yang terkejut langsung berteriak dan berniat untuk berjongkok menyembunyikan tubuhnya dari pandangan Angga.Tapi Angga malah menggendong tubuh Gisa dan memasukkan nya ke dalam bathtub yang sudah terisi penuh. Angga ikutan masuk dan duduk di belakang Gisa. Gisa hanya bisa diam dan menahan rasa malu nya. Jika Gisa keluar dari Bathtub, ia pastikan jika Angga bisa melihat tubuhnya. Tapi jika dia tetap di dalam bathtub, Gisa takut jika tangan Angga pergi ke mana-mana mengingat sifat Angga yang m3sum. "Bapak jangan macam-macam ya!" Tegas Gisa memperingati Angga. "Kenapa tidak?" tanya Angga berniat menggoda Gisa. "Kalau bapak macam-macam, saya tendang pusaka bapak." ancam Gisa. "Ihh ... Takutnya." jawab Angga berpura-pura takut dengan ancaman Gisa. Melihat reaksi Angga yang seperti itu, itu membuat Gisa kesal dan memajukan tubuhnya ke depan agar menjauh dari Angga. Tapi Angga menarik pinggang Gisa untuk kembali mendekat ke arah nya. "Boleh aku menjadi pria yang m3sum?" tanya Angga tepat di telinga Gisa. Seketika wajah Gisa langsung memerah, jantungnya berdetak dengan cepat. "Bapak bertanya untuk hal itu? Tentu saja  tidak!" jawab Gisa cepat. Bagaimana bisa Angga bertanya tentang hal itu, jawabannya sudah pasti "TIDAK". Gisa bukanlah orang yang m3sum seperti Angga. Tentu saja ia akan menolaknya mentah-mentah. “Iya iya." Ujar Angga dan memeluk tubuh Gisa dari belakang. Gisa berusaha untuk melepaskannya, dan karena Angga hanya diam, Gisa juga diam karena Angga tidak macam-macam terhadap dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD