Gisa menyisir rambutnya di depan cermin dalam keadaan masih kesal dengan Angga. Bahkan Ia enggan untuk menatap Angga yang sedang duduk di atas kasur menatap ke arah nya. Karena rambutnya terlalu panjang, Angga turun dari kasur dan mengambil alih sisir yang sebelumnya berada di tangan Gisa. Tidak mau berdebat, Gisa membiarkan Angga melakukan tugasnya menyisir rambut. Tiba-tiba Angga menyisihkan rambut Gisa ke samping dan mencium tengkuk Gisa pelan dan lembut. Merasakan benda kenyal itu melekat di tengkuknya, Gisa reflek memajukan tubuhnya menjauh dari Angga. "Ba ... bapak ngapain?" tanya Gisa terkejut. Pipinya memerah, jantungnya berdetak dengan cepat. "Ngapain lagi? Kita akan melakukannya malam ini." jawab Angga mendekatkan wajahnya ke arah Gisa. Menyadari hal itu, Gisa mendorong tubuh A

