2. Apa Syaratnya?

1001 Words
"A-apa?!" teriak Sandy terkejut. Bagaimana bisa dia menikah dengan Genma, pamannya sendiri? Bagaimana bisa paman dan keponakan menikah? Lalu, apa kata dunia kalau hal itu sampai terjadi? "Ya. Kau harus menikah dengan Gen," ulang Krisna. Mahkota putri semata wayangnya sudah terenggut. Kalau sampai Sandy hamil dan perutnya mulai membesar bagaimana? Krisna tidak bisa menunda waktu untuk menikahkan putrinya dengan Genma. Kalau seandainya tidak hamil, adakah pria yang mau menikahi Sandy? Di luaran sana, tidak ada yang akan menerima wanita tanpa mahkota. Jadi, menikahkan putrinya dengan Genma adalah pilihan terbaik. "Gen bukan adik kandung mama. Jadi, kalian bisa menikah secepatnya," kata Lona menimpali. Genma merupakan anak dari sahabat mendiang nenek Sandy. Dia diangkat sebagai anak karena tidak memiliki sanak saudara setelah kedua orang tuanya meninggal. "Tidak bisa. Sandy tidak mencintai Om Gen dan Sandy sudah memiliki kekasih," tolak Sandy tegas. Tidak peduli mau Genma adik kandung ibunya atau bukan, Sandy tetap tidak ingin menikah jika bukan dengan orang yang dicintainya. Lagi pula, usianya masih muda dan statusnya masih seorang mahasiswi semester enam. Jadi, tidak pernah terpikirkan untuk menikah karena masih banyak tujuan yang harus dicapai. "Kau tidak berhak untuk menolak, Sandy. Keputusan hanya ada di tangan papa dan mau tidak mau kau tetap harus menerimanya," kata Krisna dingin. Sandy mendengus kesal. Raut wajahnya semakin kacau mengetahui bahwa dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Kemudian, tatapan matanya beralih pada Genma. Berharap sang paman akan membantunya. "Om? Kenapa Om Gen diam saja? Ayo dong, Om, bantu Sandy bujuk Papa dan Mama," tanya Sandy dengan raut memohon. Selain dirinya, Genma juga berhak untuk menolak. Entah karena alasan kecelakaan atau tidak cinta. Barangkali saja penolakan sang paman bisa mengubah keputusan ayahnya. "Maaf, Sandy. Ini semua memang kesalahanku dan aku harus bertanggung jawab," sahut Genma lesu. Sebagai lelaki, sudah sepantasnya dia bertanggung jawab atas apa yang dilakukan. Mendengar jawaban sang paman, Sandy seolah disambar petir di pagi hari. Hal itu membuatnya menganga tidak percaya. Bagaimana bisa Genma bersikap seperti ini? Mudah sekali baginya untuk menerima pernikahan konyol itu, sementara tidak ada rasa cinta di antara keduanya. "Tapi aku tidak memiliki perasaan apa pun sama Om Gen." Sandy masih berusaha keras untuk menolak. "Aku tahu, tapi aku tetap harus mempertanggung jawabkan perbuatanku," sanggah Genma bersikeras. Rasa-rasanya hidup Sandy sudah hancur. Tubuhnya merosot seolah tulangnya sudah hancur lebur. Sebelumnya dunia begitu baik padanya. Tidak peduli apa pun yang dia inginkan selalu tercapai, tapi sekarang ... hidupnya hancur hanya karena kesalahan yang pamannya buat. "Ma, Pa, Sandy mohon jangan nikahkan Sandy dengan Om Gen," mohon Sandy berlinang air mata. Wanita itu terlihat sangat putus asa. Wajahnya berderai air mata kesedihan yang mendalam. Akankah dia berhasil merubah keputusan ayah dan ibunya? Tentu saja, tidak. Sangat tidak mungkin Krisna mengubah keputusannya setelah apa yang menimpa putri tercinta. "Pokoknya kalian harus menikah. Kalian harus mempertanggungjawabkan perbuatan kalian!" Ucapan Krisna terdengar sangat tegas. Dia lekas bangkit dan pergi sebelum emosinya kembali meledak. "Lebih baik kalian menikah sebelum ada janin yang tumbuh di rahim Sandy. Hal itu akan membuat keluarga kita malu," kata Lona sebelum akhirnya pergi menghampiri sang suami. Bulir demi bulir, tetes demi tetes merembes di pelupuk matanya. Tanpa suara, tanpa kata, hanya menyisakan rasa kecewa di d**a. "Apa Om Gen puas? Apa susahnya menolak? Memangnya Om Gen tidak mau menikah dengan wanita yang Om cintai?" tanya Sandy nyalang. Sandy menengadahkan kepala menoleh ke arah Genma. Dia terlihat begitu kecewa atas sikap sang paman yang enggan menolak rencana pernikahan itu. Genma menggeleng pelan tidak tahu harus menjawab apa. Saat ini, dia hanya bisa diam. Ketika sudah menikah nanti, dia berjanji akan membahagiakan Sandy dan menjadi suami yang baik. "Baiklah, ayo kita menikah," kata Sandy memutuskan. Dia menghapus air matanya kasar. Aura dingin terpancar di wajah cantiknya. Ucapan Sandy berhasil membuat Genma tersentak. Baru beberapa detik yang lalu wanita itu memohon dan menolak. Kini, tiba-tiba dia mengajaknya menikah. "Apa kau serius dengan ucapanmu?" tanya Genma memastikan. "Iya, aku serius. Aku mau menikah dengan Om Gen, tapi dengan syarat," sahut Sandy bertekad. Bukankah tidak ada gunanya lagi jika menolak? Sekeras apa pun dia menolak, tetap saja sang ayah tidak akan mau mendengarkannya. Jadi, dia memikirkan cara yang terbaik untuk dirinya sendiri meski tetap menikah. "Syarat? Apa syaratnya?" tanya Genma dengan dahi berkerut. "Ayo, ikut aku!" Sandy menarik tangan Genma menaiki anak tangga menuju kamar. Dia duduk di tepi ranjang dan Genma hanya berdiri sambil melipat kedua tangannya di d**a. Menatap keponakannya dengan penasaran mengenai syarat yang diminta. "Sekarang bari tahu aku, apa syaratnya?" Wanita berambut panjang kecoklatan itu mulai menjelaskan. Setelah menikah, dia ingin tinggal di apartemen Genma. Tentunya dengan kamar yang terpisah. Tidak ingin ada orang lain yang tahu tentang pernikahan mereka kecuali keluarga. Tidak mencampuri urusan pribadi satu sama lain. "Syarat yang pertama aku bisa penuhi. Tapi, syarat yang kedua dan ketiga rasanya sangat sulit," ujar Genma dengan suara beratnya. Pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Genma ingin melakukannya satu kali seumur hidup. Meski pernikahannya bukan didasari dengan cinta, tetapi dia sudah bertekad untuk bertanggung jawab dan membahagiakan Sandy. "Om Gen." Sandy menggertakkan gigi sambil memelototi pamannya. "Kita menikah bukan main-main, Sandy," kata Genma dingin. "Kalau tahu begitu, kenapa Om Gen tidak menolak? Aku baik-baik saja meski sudah tidak perawan yang penting bukan menikah dengan Om Gen," tanya Sandy heran. Ucapan Sandy berhasil membuat Genma marah. Tidak masalah jika Sandy tidak cinta, tetapi ada apa dengan cara bicaranya? Kenapa Genma seolah tidak pantas untuk dijadikan suami? "Cukup, Sandy! Aku tidak ingin mendengar apa pun lagi darimu." Genma membentak dengan napas yang bergerak naik-turun, "Tidak peduli kau meminta syarat apa. Aku akan melakukan apa saja yang menurutku benar," imbuhnya menggebu. Bentakan Genma membuat Sandy terkejut. Seumur-umur, dia tidak pernah melihat pamannya marah bahkan sampai membentaknya. Pria itu selalu bersikap lembut dan menuruti semua keinginannya. "Kenapa Om Gen jadi begini, sih? Bisa tidak, turuti kemauan Sandy sekali lagi? Setelah itu, Sandy janji tidak akan pernah meminta apa pun lagi dari Om Gen," pinta Sandy sendu. "Tidak bisa. Apa pun, Sandy, apa pun. Jika permintaanmu sama seperti sebelumnya, aku tidak akan keberatan untuk memberikannya padamu," tolak Genma tegas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD