Bagian 7 – Kedatangan Tania
❀✿•♥•✿❀
Setibanya di rumah, Raka langsung membawa Anita masuk ke dalam kamarnya. Diurungkan niatnya itu untuk menjenguk anaknya Khansa di rumah sakit. Sepanjang perjalanan dari supermarket ke rumah, Anita terus memohon kepadanya untuk membawa Tania bersamanya. Ingin rasanya Raka membentak Anita, dia sudah mengatakan kepada istrinya itu berkali-kali, jika dia dan Tania sudah bercerai. Tetapi tetap saja wanita itu tidak mau mengerti. Untung saja Raka bisa mengontrol dirinya untuk tidak membentak istrinya itu.
Anita hanya terdiam memandangi Raka, napasnya tercekat ketika Raka menggendongnya dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang mereka. Anita bisa melihat rahang Raka bergemertak, wajahnya penuh kemarahan di sana. Sungguh Anita tidak mengerti kenapa suaminya itu tidak membawa Tania kembali ke rumah ini, bukankah suaminya itu mencintai Tania?
“Mas…” panggil Anita ketika Raka ingin pergi dari hadapannya.
Raka menghentikan langkahnya tanpa berbalik, napasnya berhembus kencang. Anita hanya memandangi punggung Raka dengan mata mengembang.
“Beristirahatlah Anita, aku pergi dulu dan jangan menunggu ku…” ujarnya dan pergi dari hadapan Anita dengan langkah cepat. Anita hanya terdiam tanpa bisa mencegah kepergian suaminya itu.
❀✿•♥•✿❀
Club xvx…
Sudah hampir satu jam Raka berada di club ini, dia memandangi gelas berisi wine. Di terus memandangi gelas itu tanpa meminumnya. Kedatangan dia ke club ini ingin menyegarkan pikirannya, tetapi setelah datang ke tempat ini dia sama sekali tidak meminum wine. Ini bukanlah dirinya, jika ada sesuatu masalah besar yang sedang dia alami, dia tidak pernah melampiaskannya ke minuman keras. Pertama kali dia mencoba minuman keras ketika Anita pergi dari hidupnya waktu itu.
Permasalahan ini sangat berat untuknya, setelah dia menikahi Anita banyak sekali cobaan yang diberikan Tuhan untuknya. Raka sangat tahu Anita sudah tidak lagi mencintainya karena hatinya sudah terpenuhi oleh Benny, tetapi Benny sudah tidak ada, dia sudah meninggal. Tidak bisakah Anita berpaling dari Benny dan melihatnya?
Selain itu, kini anak kandungnya sudah mengetahui semua rahasia yang telah lama dia rahasiakan. Hatinya sangat hancur ketika Khansa membencinya, ayah kandungnya sendiri.
Belum selesai permasalahan yang satu, kini datang permasalahan yang lain. Bertemu dengan Tania membuat luka lama di hatinya tergores kembali, dia sangat membenci wanita itu. Wanita itu telah membuat hidupnya hancur berantakan. Karena Tania dia harus kehilangan Anita, anaknya dan juga adiknya.
Raka langsung membanting gelas itu ke sembarang arah membuat seisi club memandanginya dengan kening berkerut. Kaca gelas itu bertebaran di lantai, lalu Raka bangkit dari duduknya setelah membayar lebih kepada pelayan. Lalu dia keluar dari club ini dengan hati terluka.
❀✿•♥•✿❀
Dua minggu kemudian…
Raka baru saja tiba di kantor, bibirnya tersenyum ketika karyawannya menyambut kedatangannya. Sudah beberapa hari ini Raka tidak datang ke kantor, pikirannya sangat kacau belakangan ini. Selain itu dia juga sulit tidur beberapa hari ini. Raka kembali mengelola perusahaan milik ayahnya, sepeninggalnya Benny perusahaan milik ayahnya terlantar begitu saja.
Khansa dia semakin membaik walaupun belum bisa pulang dari rumah sakit. Setiap Raka mengunjungi Khansa, dia selalu mengusirnya, anaknya itu tidak ingin bertemu dengan Raka. Raka sangat sakit mendengar penolakan Khansa yang tidak ingin bertemu dengannya.
Sedangkan Anita, dia selalu meminta Raka untuk membawa pulang Tania dan menikahinya kembali, Raka benar-benar pusing dibuatnya. Karena permintaanya itu, Raka sering menghindari Anita dan jarang pulang kerumah mereka.
"Pagi Pak..." sapa sekretarisnya membuat Raka mengangguk. "Pak maaf, di dalam ruangan bapak, ada yang menunggu Bapak..." lanjutnya ketika Raka ingin membuka pintu ruanganya.
"Siapa?" tanya Raka dengan alis bertautan. Wajah sekretaris itu tampak gugup sambil menggigit bibirnya, "Siapa Erika?" tanya Raka kembali.
"Mantan istri Bapak..." jawab Erika pelan.
Raka langsung masuk kedalam ruangannya dengan wajah penuh amarah. Dilihatnya Tania yang sedang duduk di sofa tamu dengan senyuman mengembang. Kemudian Raka mengkunci pintu ruangannya dan berjalan menuju meja kerjanya tanpa melihat Tania, dia tidak sudi menatap wajah Tania yang telah menghancurkan hidupnya.
"Ada apa datang kesini?!" tanyanya sinis sambil menggeser kursi kerjanya.
Tania menghela nafas, "Raka, aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu..." ucapnya, Raka menatapnya sesaat, "Anita sudah menikah dengan Benny, lalu kenapa waktu itu kamu bersamanya? Dan apa yang terjadi dengan Anita kenapa dia bisa lumpuh.?" Tanya Tania penuh tanda tanya.
Raka menopang dagunya dengan tangan kanannya, "Buat apa kamu tahu itu semua? Dengar kamu tidak ada urusan lagi dengan keluargaku!" ucap Raka membuat Tania tertawa pelan.
"Kamu itu sangat lucu Raka, aku tidak mengerti apa yang dipikiranmu saat ini." Ujar Tania sambil memainkan kukunya. "kamu masih ingat ketika kamu mengirim aku kerumah sakit jiwa?" tanya Tania membuat Raka kembali memandanginya, "Kamu tahu perasaanku hancur Raka!" serunya, kemudian Tania tersenyum kecut, "Tapi sudahlah itu cerita yang lalu. Aku tidak tahu apa yang terjadi tentang keluargamu saat ini, tapi aku akan mencari tahu semuanya. Jika aku tahu hal yang sebenarnya, aku akan membuat hidupmu menderita Raka seperti yang kamu lakukan kepadaku." Ancam Tania.
Raka menggeleng pelan, lalu berjalan mendekati Tania. "Aku pikir setelah aku kirim kamu ke rumah sakit jiwa hati dan pikiranmu bisa berubah, tapi sama saja bahkan kamu lebih jahat dari sebelumnya!" hinanya dengan senyuman remeh.
Tania yang mendengar perkataan Raka langsung mendekatkan wajahnya kepada pria itu, "Yah aku memang jahat, aku memang wanita jalang yang jahat!" seru Tania membuat Raka tertawa pelan mendengar perkataannya, "Dengar Raka jika kamu menyakiti Anita, kamu berurusan denganku!" ancam Tania kembali.
Raka menaikan satu alisnya, "Bukannya kamu yang sering menyakitinya? Bahkan disaat aku mulai mencintainya kamu malah mengusirnya dan membuat dia menceraikan aku! Seharusnya aku sudah hidup bahagia dengannya, jika kamu tidak menganggu Tania!" maki Raka dengan penuh penekanan.
"Kamu bilang aku yang sering menyakitinya? Raka bercerminlah, kamu yang jauh lebih menyakitinya dibandingkan aku. Dia sangat mencintaimu, bahkan dia rela menghabiskan waktunya untukmu. Namun, apa yang kamu berikan ke dia? Kamu hanya memberi dia dengan rasa sakit!" seru Tania menatap tajam Raka sambil mendorong bahu pria itu berkali-kali.
Raka tersenyum kecut, "Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu bersikap seperti malaikat? Apa kamu ingin seperti Anita?! Kamu tidak bisa sepertinya kamu berbeda dengannya." ucap Raka dengan nada mengejek.
Tania yang mendengar penghinaan Raka tidak bisa menahan airmatanya, "iya aku ingin seperti Anita, Kamu mau tahu kenapa?! Karena Anita terus berada disisiku ketika semua orang menjauhiku. Hanya dia yang selalu bersamaku!" seru Tania membuat Raka tertegun, "Dengar Raka, aku akan mencari tahu semuanya. Jika aku tahu hal yang sebenarnya aku akan membuatmu menderita!" Ucap Tania dan pergi dari hadapan Raka dengan hati terluka.
Raka hanya terdiam ketika Tania pergi dari ruangannya. Tangannya mengepal keras, rahangnya bergemertak dan wajahnya menahan amarah. Raka langsung melempar vas bunga kearah tembok sehingga vas bunga itu pecah berhamburan.
"Sialan!" umpat Raka sambil menjabak rambutnya frustasi, “Tania sialan!!”
❀✿•♥•✿❀
Pov’s Raka...
Aku memandangi langit malam di balik jendela kamarku, pertemuanku dengan Tania tadi membuat kepalaku sakit. Kenapa aku harus bertemu dengannya kembali Tuhan? Aku sangat membenci wanita itu karena dia sudah membuat hidupku berantakan.
"Mas..." panggil Anita tiba-tiba.
Aku kontan menoleh dan berusaha tersenyum dihadapan Anita. Aku akan merahasiakan pertemuanku dengan Tania dari Anita, aku tidak ingin Anita semakin menyuruhku untuk menikahi Tania kembali. Aku tidak akan pernah menikahi wanita jalang itu, lebih baik aku mati daripada menikahi wanita itu kembali.
Kemudian Anita mendorong kursi rodanya menghampiriku, aku berlutut ketika Anita dihadapanku, "Kamu kenapa mas?" tanya Anita menatap wajahku dengan kening berkerut, aku menggeleng pelan.
"Kamu ingin tidur?" tanyaku lembut, Anita hanya mengangguk.
Kemudian aku langsung menggendong tubuh mungil Anita dan merebahkannya di ranjang. Aku menghusap pipinya lembut sesaat. Ketika aku ingin melangkah Anita, menarik tanganku sehingga pandangan kami bertemu. Anita bangun dari tidurnya dan terduduk di ranjang.
"Mas terima kasih..." ucapnya membuatku bingung.
"Untuk?"
Anita tersenyum, "untuk semuanya, kamu mau merawatku saat kondisiku seperti ini." Ucapnya membuatku tersenyum.
Lalu aku duduk di sampingnya, kemudian meletakan kakinya di pangkuanku dan memijit kakinya pelan, "Itu sudah menjadi kewajibanku Anita sebagai seorang suami." Kataku, Anita hanya mengangguk tersenyum.
Aku terus memandangi wajahnya yang tersinari cahaya bulan, tanganku memainkan ujung rambutnya yang hitam. Anita hanya terdiam ketika jemariku memainkan rambutnya yang halus. Lalu aku aku mendekatkan wajahku kepada Anita, mataku terpejam ketika dahiku dan dahinya bersentuhan. Napas hangat Anita sangat terasa menerpa wajahku, napasnya sangat wangi. Dengan gerakan perlahan aku mencium bibir indahnya, aku melumat bibirnya saat mulutnya terbuka. Aku terus mencium bibirnya ketika tidak ada penolakan darinya.
Kemudian tangan kananku merengkuh leher jenjangnya dan mengecupnya disana, tidak lama Anita menahan tubuhku ketika ciumanku semakin turun.
“Mas tolong jangan lakukan ini.” Pintanya.
Aku tidak memperdulikan permintaanya dan terus mencium lehernya. Kedua tangannya semakin menahan tubuhku, tetapi aku langsung mencekal kedua tangannya. Kemudian aku mendekap Anita dan kembali mencium bibirnya sambil merebahkan tubuhnya, Anita berontak ketika aku menciumnya. Lalu aku menghentikan ciumannya dan menatapnya dalam.
“Anita, aku suamimu. Aku punya hak atas dirimu…” bisikku di telinganya, Anita hanya menatapku tanpa mengatakan apapun.
Tanpa persetujuan darinya aku membawa Anita ke surga indah, untuk pertama kalinya aku menyatukan tubuhku dengan Anita, rasanya sangat sulit untuk diartikan. Tidak aku pedulikan tangisannya. Jantungku berdetak kencang ketika tubuhku menyatu dengannya.
Maafkan aku Anita, jika aku melakukan ini kepadamu. Aku ingin membuatmu melupakan Benny dan menjadi milikku sepenuhnya. Aku sangat mencintaimu Anita, jadi ku mohon maafkan aku...
❀✿•♥•✿❀
Pov’s Anita...
Sepanjang malam aku tidak bisa tidur, aku terus menangis sepanjang malam. Mas Raka telah memperkosaku, ingin rasanya aku membenci Mas Raka ketika dia melakukan itu kepadaku tapi aku tidak bisa membencinya. Bagaimanapun dia adalah suamiku. Setelah memaksaku untuk tidur dengannya, dia tidur begitu saja tanpa memikirkan kondisiku yang sakit lahir dan batin karena perbuatannya.
Lalu aku memandangi wajah mas Raka kembali yang sedang terlelap di sampingku, ingin sekali aku rusak wajah tampannya itu. Suamiku telah menghancurkan hidupku untuk kesekian kalinya.
"Benny, kembalilah... aku mohon...." Pintaku dengan tangisan tertahan.
Ketika mas Raka melakukan itu kepadaku, aku teringat Benny, aku merasa bersalah kepadanya karena tidak bisa menjaga semua itu untuknya.
Maafkan aku Benny...
❀✿•♥•✿❀