Bagian 6 – Sakit Hati (2)

1787 Words
Bagian 6 – Sakit Hati (2) ❀✿•♥•✿❀   Pov’s Raka...   Aku berlari menuju pintu rumah sakit menggendong tubuh Khansa. Peluh mengalir deras dikeningku dan tubuhku bergetar hebat. Tidak butuh waktu lama para suster membawa sebuah brankar rumah sakit, aku langsung merebahkan tubuh Khansa di brankar itu. Aku dan para suster berjalan cepat menuju ruang UGD. Kening Khansa terluka parah dan darahnya pun tidak berhenti mengalir, aku berusaha menekan darah yang keluar dari keningnya dengan saputangan milikku.   Hatiku terus berdoa kepada Tuhan, aku tidak ingin sesuatu terjadi kepada anakku.   Setalah berada di ruang UGD, suster langsung masuk ke dalam ruangan itu bersama Khansa. Aku hanya bisa menunggunya diluar. Aku terduduk lemah di kursi tunggu sambil mengusap wajahku gusar. Aku sangat takut terjadi sesuatu kepada Khansa, aku tidak ingin kehilangannya. Sungguh aku tidak ingin aku kehilangan anakku.   Ketika Anita meneleponku dan memberitahuku bahwa Khansa di kamar Tania membuat jantungku seakan berhenti berdetak. Anita juga bilang, dia mendengar Khansa membanting barang-barang dan pintu kamar terkunci dari dalam. Aku yang mendengar kabar buruk itu langsung bergegas pulang dan meninggalkan semua pekerjaanku.   Hatiku langsung lemas begitu melihat Khansa yang sudah terbujur lemah di lantai kamar yang pernah aku tempati dulu bersama Tania. Keningnya terluka parah dengan darah berceceran di tembok dan lantai.   Sungguh hatiku sangat takut, takut sekali, aku takut Khansa akan tahu yang sebenarnya. Aku melihat tangannya memegang akte kelahirannya.   Ya  Tuhan bagaimana ini? Aku masih belum siap jika dia tahu yang sebenarnya. Aku tidak ingin anakku membenciku Tuhan. ❀✿•♥•✿❀   Beberapa jam kemudian...   Aku baru saja keluar dari ruang Dokter yang menangani Khansa, aku sangat lega ketika Dokter memberitahu tidak ada luka serius. Dokter hanya sedikit menjahit kening Khansa yang robek. Dengan langkah cepat aku langsung bergegas menuju kamar inap Khansa, aku ingin bertemu dengannya dan melihat kondisinya. Setelah berada di depan kamar inap Khansa dirawat, aku membuka pintunya pelan. Disana aku melihat Khansa yang sedang menangis, kemudian aku menutup pintu pelan dan berjalan menghampirinya.   "Untuk apa Om kesini?" tanyanya tanpa menoleh.   "Bagaimana keadaanmu?" tanyaku tanpa menjawab pertanyaanya dengan senyuman tipis.   "Buat apa om tanya kabarku?!" Serunya melirikku tajam dengan mata memerah.   Aku menghela napas. "Om tidak ingin terjadi sesuatu kepadamu..." kataku menghusap bahunya lembut, Khansa langsung menepis kasar tanganku.   Khansa memandangiku dengan airmata menetes, "Kenapa om khawatir kepadaku?! Seharusnya om membiarkan aku mati!" serunya penuh amarah.   "Kamu bicara apa Khansa?!" tanyaku kesal saat dia bicara seperti itu.   "Om, jawab aku dengan jujur. Apa aku anak Om?!" tanyanya menatapku tajam. Aku hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaanya, inilah yang aku takutkan, "Om, jawab! Apa aku anak Om?!" tanyanya kembali dengan suara setengah berteriak.   Aku hanya mengangguk pelan membuat Khansa semakin menangis, kedua tanganya langsung menutupi wajahnya. Tubuhnya bergetar hebat dalam tangisannya.  Aku terpaksa mengakuinya, karena aku tidak ingin kehilangannya dan membuatnya semakin membenciku.   "Maafkan ayah Nak..." kataku mengusap kepala Khansa lembut dan mencoba memeluknya. Namun, Khansa kembali menepis tanganku dan mendorong tubuhku. Aku hanya menatapnya terperangah.   "Sampai kapanpun kamu bukan ayahku! Kamu orang terjahat yang pernah aku temui!" makinya menatapku, "kenapa kamu membuangku?! Kenapa?! Apa salahku?!" tanyanya dengan suara parau.   "Kamu tidak salah apa-apa, tapi ayah yang salah kepadamu Khansa... ayah tidak pernah membuangmu, waktu itu ayah hanya bingung. Maafkan ayah Khansa..." Kataku berusaha menenangkannya.   "Aku tidak akan pernah bisa memaafkanmu. Tolong jangan panggil dirimu dengan sebutan ‘ayah’, karena sebutan itu tidak pantas untukmu!" Ujarnya membuat hatiku terluka, kini Khansa telah membenciku. Kemudian Khansa tertawa pelan, "aku baru tau Om benar-benar jahat kepadaku dan mamaku! Om menduakan mamaku dan sekarang disaat mama tidak mengingat apapun, om mengambil kesempatan untuk menikahi mama. Om ingin menyakiti hati mama lagi kan?! Iya kan?!" tanya Khansa seakan menuduhku.   Aku menggeleng, "Ayah tidak ingin menyakti hati siapapun Khansa, kamu dan mama kamu adalah orang yang terpenting bagi hidup ayah, mana mungkin ayah akan menyakiti kalian lagi." Kataku berusaha menyentuh wajahnya.   "kalau kami memang orang penting bagi om, kenapa om dulu menyakiti mama dan memberikan aku kepada mama?!” tanyanya berteriak, aku hanya terdiam mendengar pertanyaannya, “Lalu dimana keberadaan ibuku sebenarnya?!" tanyanya kembali dengan suara parau di sela tangisannya.   Aku hanya memandangi wajah Khansa, Ya Tuhan apa yang harus ku katakan padanya? Dia masih terlalu kecil untuk tahu semuanya. Aku tidak ingin menyakiti hatinya jika dia tahu hal yang sebenarnya.   "Ibumu menjadi gila!" seru seseorang tiba-tiba membuat kami menoleh.   Entah sejak kapan Ibu Anita berada disini. Ibu Anita tersenyum memandangiku lalu tatapanya beralih kepada Khansa.   "Kamu harus tahu hal yang sebanarnya Khansa..." kata Ibu Anita, aku langsung menggeleng pelan memandangi Ibu Anita.   "Bu, saya mohon jangan katakan apapun. Khansa masih terlalu kecil untuk tahu semuanya." Pintaku memohon, aku tidak ingin dia membongkar semua rahasia menyakitkan ini kepada anakku.   Ibu Anita menatapku tajam, "Diam kamu! Anakmu ini harus tau siapa ayahnya ini!" makinya, "Dengar Khansa, dulu anakku menikah dengan ayahmu ini. Tapi dia menyakiti anakku padahal anakku sudah sangat mencintai ayahmu, tapi ayahmu ini malah menikah dengan wanita Jalang yaitu ibumu!" serunya dengan nada tinggi.   "Ibu sudah!" Teriakku kesal, Khansa yang mendengar itu menatapku tidak percaya.   "Lalu anakku sering disakiti oleh ayahmu dan ibumu itu. Padahal anakku sudah memberikan segalanya kepadanya. Kamu tahu Khansa siapa yang mengurusimu sejak kamu lahir itu anakku, Anita!!" kata Ibu Anita menangis dengan wajah marah.   Khansa yang mendengar itu semua hanya bisa menangis, sedangkan aku hanya bisa mengepalkan kedua tanganku keras dengan rahang bergemertak.   "Akhirnya anakku bisa bercerai dengan ayahmu yang b******k ini, tapi dia malah memberikanmu kepada anakku untuk merawatmu! Karena ibu kandungmu tidak mau merawatmu!" serunya sambil menunjukku. Khansa menatapku dengan terluka, "tidak lama akhirnya anakku menikah dengan adik ayahmu yang sering kamu panggil Papa, dan sekarang Benny dan cucuku malah meninggalkanku untuk selamanya. Ini semua gara-gara kalian!" teriaknya sambil mendorong tubuhku dan menampar wajahku berkali-kali.   Aku hanya terdiam menerima pukulan ibu Anita di wajahku, aku pantas menerima semua itu.   "Nek sudah Nek..." cegah Khansa sambil menarik tubuh Ibu Anita agar menghentikan pukulannya diwajahku. Ibu Anita langsung memeluk Khansa dan menangis.   “Ini semua salah ayahmu Khansa, salah ayahmu!!” teriaknya penuh amarah, “ini semua juga salahmu Khansa, salah kalian berdua!” makinya kembali.   "Maafkan Khansa Nek," ujar Khansa menangis sambil memeluk Ibu Anita dan berusaha menenangkannya.   Aku yang melihat itu hanya terdiam. Semua ini menjadi rumit karena ulahku, aku langsung keluar dari ruangan Khansa dan menyembunyikan tangisanku dari mereka. Khansa anakku sekarang telah benar-benar membenciku.   ❀✿•♥•✿❀   Pov’s Anita…   Aku mencoba menghubungi ponsel Mas Raka berkali-kali. Namun, dia tidak mengangkatnya. Aku begitu khawatir dengan keadaan Khansa. Entah apa yang terjadi dengan Khansa, dia berteriak dan memecahkan barang-barang milik Tania dan Mas Raka di kamar mereka. Yang lebih membuatku miris, aku melihat Khansa terbaring di lantai dengan darah di kepalanya.   Tuhan selamatkan Khansa... doaku untuknya.   Tidak lama aku mendengar suara pintu rumah terbuka, aku melihat Mas Raka masuk ke dalam rumah dengan wajah frustasi. Kemudian Mas Raka duduk di sofa sambil memijit keningnya. Aku langsung menghampirinya dengan mendorong kursi rodaku.   "Mas..." panggilku membuatnya menatapku. Ketika aku berada dihadapanya dia memelukku dengan tubuh bergetar hebat. Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi dengannya.   "Maafkan aku Anita...." Katanya dengan suara serak.   Ingin rasanya aku menghusap bahunya. Namun, aku urungkan niat itu. Walaupun aku sudah tidak mencintainya tapi kenapa hatiku selalu berpihak lagi kepadanya, apalagi jika melihatnya seperti ini.   "Mas kamu kenapa?" tanyaku heran, Mas Raka langsung melepaskan pelukannya dan menyerka airmatanya. Dia menggeleng pelan dan tersenyum, wajahnya terlihat banyak beban. "bagaimana keadaan Khansa?" tanyaku khawatir dan cemas.   "Dia baik..."   Aku tersenyum lega mendengarnya, "Syukurlah... Mas aku ingin menjenguknya. Boleh?" tanyaku, Mas Raka mengangguk.   "Aku mandi dulu yah..." ucapnya tersenyum dan pergi dari hadapanku.   Aku hanya memandangi punggungnya yang semakin menjauh dariku. Melihat Mas Raka aku seperti melihat sosok Benny, aku sangat merindukan Pria itu. Dimana dia sekarang? Kenapa dia tidak pernah datang kerumah ini? Aku ingin sekali bertemu dengannya.   Ya Tuhan, aku tidak pantas merindukan pria lain selain suamiku. Maafkan aku Mas Raka… batinku lirih.   ❀✿•♥•✿❀   Sorenya…   Raka dan Anita baru saja tiba di supermarket salah satu Mall di Jakarta, Anita ingin membeli buah segar untuk Khansa. Raka mendorong kursi roda Anita perlahan, mulutnya tidak pernah berhenti bercerita, dia ingin membuat Anita tersenyum dengan ceritanya. Raka bukanlah pria humoris, tapi dia berusaha membuat Anita tertawa. Tapi sepertinya usahanya sia-sia, Anita tidak merespon dengan semua ceritanya, Raka yang menyadari itu hanya tersenyum miris, sepertinya dia tidak akan bisa membuat Anita tersenyum.   Pikiran Anita saat ini sedang memikirkan kondisi Khansa dan juga memikirkan Benny.   "Bagaimana kalau kita beli buah Jeruk Sunkist?" tanya Raka sambil menunjukan buah itu kepada Anita, Anita hanya mengangguk, "kamu tunggu disini yah..." Ucap Raka, lalu dia langsung mengambil plastik buah yang berada di sudut supermarket ini.   Anita hanya mengangguk sambil melihat kuku-kukunya dan kemudian dia mengigitnya, entah sejak kapan dia mulai menyukai mengigit kukunya itu.   "Anita?" panggil seseorang membuatnya menoleh.   Anita sangat terkejut ketika melihat seseorang yang memanggilnya. Orang itu langsung menghampirinya dengan pandangan heran memandangi Anita.   "Tania?!" pekik Anita tidak percaya saat melihat sosok Tania.   "Anita kamu kenapa?" tanya Tania bingung melihat keadaan Anita saat ini.   "Kamu kemana saja Tania? Kamu kenapa pergi. Pulang Tania, aku mohon." Ucap Anita memohon dengan arimata menetes, Tania hanya memandanginya tidak mengerti.   "Maksud kamu apa Nit?" Tanya Tania bingung. "Apa yang terjadi denganmu?" tanya Tania kembali dengan nada khawatir.   "Tania, pulanglah ku mohon..."  pintanya  menarik tangan Tania.   Tania berlutut memandangi Anita yang sudah ingin menangis. Tania tersenyum memandangi Anita dan kemudian memeluknya. Anita hanya terdiam ketika Tania memeluknya. Tidak lama Tania melepaskan pelukannya dan tersenyum, wanita itu tidak percaya bisa bertemu dengan Anita kembali.   "Tania, aku mohon kembalilah dengan Mas Raka." Ucap Anita membuat Tania semakin bingung.   "Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu Anita. Kenapa kamu bisa menjadi seperti ini Anita?" tanya Anita melihat Anita yang terduduk di kursi roda.   "Anita..." panggil Raka membuat Anita dan Tania menoleh bersamaan, Raka sangat terkejut ketika melihat Tania dihadapannya dengan perut buncit, "Ayo kita harus pergi!" seru Raka dengan sorotan tajam memandangi Tania.   "Tapi mas, itu Tania! kamu tidak membawanya pulang?" seru Anita memandangi Tania yang masih terdiam.   "Sudahlah Anita, aku dan Tania sudah bercerai! Lalu untuk apa aku membawanya!" balas Raka jengah.   "Tapi mas aku sudah memintanya untuk kembali padamu!" kata Anita masih terus memandangi Tania. Anita mengerutkan keningnya ketika melihat Tania di dekati oleh seorang pria, lalu pria itu memandanginya. Anita sangat mengenal pria itu, pria itu adalah teman lamanya. Bagaimana Tania dan temannya itu bisa saling mengenal?   "Tolong Anita jangan membuatku marah disini." Desis Raka dan dia membawa Anita keluar dari supermarket ini dengan perasaan sulit diartikan.   Permasalahannya dengan anaknya belum terselesaikan, kini Raka harus bertemu dengan Tania. Wanita yang telah menghancurkan hidupnya.   ❀✿•♥•✿❀
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD