Bagian 5 – Sakit Hati (1)

2140 Words
Bagian 5 – Sakit Hati (1) ❀✿•♥•✿❀ Keesokannya… Pov’s Raka... Sudah lama aku mengetuk pintu rumah kediaman orangtua Anita, tetapi tidak ada jawaban dari dalam sana. Aku terus mengetuk pintunya dengan gusar. Banyak pertanyaan dikepalaku, mengapa tega sekali ibu Anita mengusir anakku dari rumahnya? Apa pantas dia mengusir anakku? Khansa hanya gadis kecil yang belum mengerti apa-apa? Tidak lama pintu terbuka, aku langsung menahan pintu rumah ini ketika Ibu Anita ingin menutup pintunya kembali. Dia menatapku dengan pandangan sangat terkejut. "Saya ingin bicara ..." kataku berusaha menahan pintu. "Saya tidak ingin bicara dengan orang sepertimu!" sahutnya kasar. "Tolong..." mohonku sambil mencoba mendorong pintu perlahan. Napasnya terdengar berat saat aku berhasil mendorong pintu rumahnya, sehingga pintu rumah itu terbuka lebar, "Ingin bicara apa?!" ucapnya dengan sorotan tajam. “Bu, saya tahu ibu belum bisa memaafkan saya karena kesalahan saya dulu. Kedatangan saya, saya ingin ingin minta maaf, jika saya pernah menyakiti hati ibu dan juga Anita…” kataku menghela napas, “Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada ibu, karena ibu sudah memberi kesempatan pada saya untuk memperbaiki kesalahan saya terhadap Anita." Kataku mencoba merendahkan suaraku. Dia menatapku dengan penuh kebencian. “Sudahlah Raka tidak perlu berbasa-basi, apa tujanmu datang kerumahku?!” tanya ibu Anita melipat kedua tangannya. "Bu, kenapa ibu mengusir Khansa dari rumah ini? Apa salah dia bu?" kataku akhirnya. Ibu Anita tersenyum kecut, "Kau mau tahu apa kesalahnya? Karena dia anakmu!" ucapnya membuatku semakin tidak mengerti, "selama bertahun-tahun saya sudah cukup sabar menampung anakmu! Kau tahu hatiku sebagai ibu sangat teriris melihat perlakuanmu kepada anakku! Kau sudah menginjak harga diri anakku! Sudah bercerai sekalipun kau terus membebaninya dengan merawat anakmu! Dimana hatimu dulu Raka!" rutuknya sambil menusuk dadaku dengan jemari telunjuknya berkali-kali, "sekarang kau bertanya kenapa saya mengusirnya? Karena saya sangat benci melihat wajahnya, wajahnya mengingatkan saya denganmu dan ibu anak itu!" lanjutnya dengan suara parau. "Maafkan saya bu..." kataku lirih. "Maaf mu tidak akan pernah mengembalikan semuanya seperti dulu. Apa yang telah kau lakukan dulu harus dibayar oleh anakmu Khansa." Balasnya dengan mata mengembang, aku tahu dia sangat sakit hati dengan semua perlakuanku dulu kepada Anita. "Tolong bu jangan bawa Khansa dalam masalah ini. Dia tidak mengerti apa-apa, dia masih kecil Bu." Kataku memohon. "Ini semua salahmu Raka, ini semua yang harus kau bayar atas kesalahan dirimu. Kau tahu Benny adikmu itu dia sangat menyayangi anakmu, walaupun dia sangat membencimu. Kau tidak pernah tahu rasanya hidup dengan penuh kebohongan, mereka terus menutupi semua ini dari anakmu. Hingga akhirnya anakmu sendiri yang membuat semua ini terjadi, Benny dan cucuku meninggal karena anakmu! Anakku lumpuh dan melupakan ingatannya karena ulah anakmu! Dan sekarang kau muncul dengan mudahnya menikahi anakku! Pergi dari sini Raka! Saya sudah muak melihat wajahmu!" usir Ibu Anita mendorong tubuhku dan menutup pintu rumahnya dengan kencang. Aku hanya mengepalkan kedua tanganku, ya ini memang semua salahku. Semua yang dikatakan oleh ibu Anita benar, ini semua memang kesalahanku, tetapi dia tidak pantas menyalahkan Khansa atas kesalahanku selama ini. Anakku masih terlalu kecil menerima semua ini. Ku rasakan airmataku menetes, aku langsung menyekanya. Ini semua adalah hukuman Tuhan untukku. Aku tidak ingin Khansa tahu siapa aku sebenarnya, aku tidak ingin dia membenciku. Aku tidak ingin anakku membenciku ayah kandungnya. Biarlah kebohongan ini terus berjalan, lebih baik seperti ini. Maafkan ayahmu Khansa yang sudah membuat hidupmu seperti ini.   ❀✿•♥•✿❀   Setibanya dirumah, aku langsung melesat ke kamar Khansa. Mataku terus memandangi wajah Khansa yang sedang terlelap nyenyak. Tanganku mengusap keningnya lembut. Bibirku tersenyum melihat wajahnya, wajah anakku sangat mirip dengan Anita. Tidak ada Tania di wajah Khansa. Aku menggengam lembut tangannya dan mencium tangan mungilnya. Aku sangat bersalah kepadanya, tidak seharusnya aku meninggalkan dia disini. Jika saja aku tahu akan seperti ini, aku tidak akan pernah meninggalkanya dan aku akan membawanya ikut bersamaku. "Maafkan ayah nak..." bisikku lirih dan mencium keningnya lembut. Aku langsung keluar kamarnya setelah menyelimutinya. Aku menutup pintu kamarnya pelan dan berjalan ke kamarku dengan hati sesak. Saat aku membuka pintu kamarku, aku melihat Anita sedang memandangi langit malam dengan wajah sendu. Aku berjalan mendekatinya dan menghusap bahu Anita lembut. Anita menoleh dan tersenyum samar kepadaku. "kamu belum tidur?" tanyaku, dia hanya menggeleng. Aku berlutut dihadapannya dan memandangi wajahnya. Aku tersenyum ketika sepasang mata kami bertemu. "Mas..." panggilnya pelan, “Iyah sayang…” sahutku menggengam tangannya. "Aku merasa aneh dengan kehidupanku sekarang ini... aku merasa hampa..." ucapnya menatap langit malam. Aku mengecup pucuk tangannya, "Anita, aku ada bersamamu..." Anita tersenyum, "Mas, aku tidak tahu apa yang membuatmu berubah. Aku senang melihat perubahanmu sekarang kepadaku. Tapi entah kenapa aku merasa aku tidak nyaman dengan perubahanmu..." ucapnya membuatku tertegun memandanginya. Aku tidak tahu harus berkata apalagi kepada Anita, aku sudah menyatakan seluruh perasaanku kepadanya. Tapi hingga kini dia masih ragu denganku. Seandainya saja dia tahu delapan tahun ini aku tidak menikah lagi, aku tidak berniat mencari penggantinya karena aku sangat mencintainya dan tidak akan ada cinta lain lagi selain dirinya. Hatiku sudah dipenuhi olehnya. "Anita tolong beri aku kesempatan, aku akan membuktikan semuanya kepadamu. Aku berjanji akan menjadi suami terbaik untukmu" Kataku bersungguh-sungguh. Anita hanya memandangiku, lalu aku mengusap pipinya lembut. "Aku tidak ingin kehilanganmu lagi Anita, aku sangat mencintaimu." Kataku memandangi wajahnya yang masih menatapku. Aku semakin mendekatkan wajahku, lalu mencium bibir Anita lembut dan melumatnya pelan. Tidak ada penolakan dari Anita ketika aku mencium bibirnya, ini pertama kalinya aku menyentuhnya. Jantungku berdebar kencang saat menciumnya. Tiba-tiba Anita mendorong tubuhku dengan sangat kencang, sehingga ciuman yang ku berikan terlepas. Wajah Anita terlihat terkejut dengan mata mengembang, dia terus memandangiku dengan pandangan sulit diartikan. Kemudian Anita pergi dari hadapanku, aku hanya memandanginya tanpa mencegah kepergiannya. Seperti ini kah rasanya jika cinta diabaikan, Tuhan? ❀✿•♥•✿❀ Keesokannya…   Senyum Raka mengembang tipis ketika melihat Anita dan Khansa sedang berbincang di halaman rumahnya. Wajah mereka berdua terlihat bahagia disana. Kedua tangan Khansa memijit kaki Anita, gadis itu selalu memberi semangat kepada Anita. Gadis itu mengatakan jika Anita akan kembali berjalan seperti sebelumnya. Kemudian Raka mengambil setangkai bunga mawar di atas meja pajangan, bunga itu baru saja dia beli pagi tadi. Dia akan memberikan bunga mawar itu untuk Anita atas permintaan maafnya karena telah menciumnya tadi malam. Lalu dia melangkahkan kakinya menghampiri Anita dan Khansa di sana. Khansa yang melihat kehadiran Raka tersenyum hangat kepadanya. Lalu pandangan Khansa beralih kepada setangkai bunga mawar yang dipegang oleh Raka. Entah apa yang terjadi dengan diri Khansa, dia merasa tidak suka jika Raka mencoba mendekati ibunya. Walaupun pamannya itu sudah menikahi ibunya, hatinya belum menerima jika ibunya menikah dengan Raka pamannya sendiri. Jika papanya masih hidup, Khansa yakin papanya akan sakit hati melihat ibunya menikah dengan kakak kandungnya sendiri. “Tante, om, aku permisi dulu yah. Aku ingin belajar…” pamit Khansa berbohong ketika Raka ada dihadapannya. Raka hanya mengangguk dengan senyuman, sedangkan Anita menatap Khansa menggeleng seakan dia ingin Khansa tetap berada di dekatnya. Anita tidak ingin berdua dengan Raka, berdua dengan suaminya itu membuat hatinya sakit. Tidak lama Khansa pergi dari hadapan mereka berdua setelah mengecup kening Anita. Setelah kepergian Khansa, tidak ada pembicaraan diantara Raka dan juga Anita. Raka terus memandangi wajah Anita yang sedang sibuk mengalihkan pandangannya. Raka sangat tahu jika Anita tidak ingin bertemu dengannya, tetapi Raka tidak peduli dia berusaha mendekati Anita walaupun wanita itu mencoba menjauhinya. Anita adalah istrinya sekarang dan dia punya hak atas diri Anita. Kemudian Raka mengulurkan setangkai bunga mawar dihadapan Anita membuat wanita itu menatapnya dengan pandangan tidak mengerti. Dengan ragu Anita menerima pemberian bunga dari Raka. “Anita, aku sangat mencintaimu… tolong pahamilah hatiku…” ucap Raka dengan suara parau. Anita hanya memandanginya dengan mata mengembang, pengakuan Raka dengan cintanya membuatnya bingung setengah mati. Bagaimana aku bisa memahami hatimu, jika aku sudah tidak lagi mencintaimu… batin Anita lirih. Melihat Anita terdiam, Raka berlutut dihadapannya dan merebahkan kepalanya di bahu Anita, hati Raka sangat lelah dan dia sangat membutuhkan dekapan dari istrinya Anita. Anita langsung menjauhkan bahunya dari suaminya itu, dia tidak ingin berdekatan dengan suaminya. Dia tidak ingin Raka menciumnya lagi. Lalu Anita pergi dari hadapan Raka dengan kursi rodanya, Raka hanya menatapnya dengan mata mengembang. ❀✿•♥•✿❀ Dua Minggu kemudian... Pov’s Khansa...   Sudah hampir satu minggu lebih aku berada di rumah om Raka, jujur saja aku merasa tidak enak kepadanya karena sudah mengizinkan aku untuk tinggal disini. Sepulang sekolah aku selalu membantu mama untuk membuat makan malam. Mama masih belum mengingat siapa aku, entah kapan mama akan pulih dan ingat bahwa aku adalah anaknya. Sungguh aku tidak tega melihat kondisinya sekarang, jika mama pulih sekalipun bagaimana perasaannya jika tahu Papa dan Deva sudah meninggalkan kami. Selain itu aku tidak bisa membayangkan jika mama tahu bahwa dirinya sudah menikah dengan pamanku. "Hai... kok kamu melamun?" ucap mama mengusap tanganku membuatku terbangun dari lamunanku. Aku hanya tersenyum dan meneruskan memotong wortel. Aku jadi merindukan masa-masa seperti ini membantu mama memasak bersama Deva yang terus menggangu kami, jika kami sedang memasak. Aku sangat merindukan adikku Deva, aku rindu dengan tawa usilnya. Aku juga merindukan papa. Tuhan tolong kembalikan papa dan Deva… batinku lirih. "Nama kamu mirip sekali dengan malaikat kecil yang pernah tante kenal." Ucap mama sambil membuka lemari pendingin. "Siapa Tante?" tanyaku, aku sangat terpaksa memanggil mama dengan sebutan Tante. Rasanya sangat berat sekali aku memanggil mama dengan sebutan tante. "Dia anak pamanmu, namanya juga Khansa..." ucap Mama membuatku terkejut, "Tapi Tante tidak tahu dimana dia sekarang, dia dibawa pergi oleh ibunya." Lanjutnya lirih dengan wajah tertunduk. "Tante, om Raka sudah punya anak?" tanyaku penasaran. Mama hanya mengangguk, "Lalu kalau om Raka sudah punya anak dan menikah kenapa dia menikahi Tante?" tanyaku semakin penasaran. Mama mengerutkan keningnya dan tersenyum, "Tante adalah istri pertama om Raka, om Raka menikah lagi dengan kekasihnya, setelah itu mereka mempunyai anak yang diberi nama Khansa." Ucapnya dengan senyuman ketir, "aduh maaf tante jadi cerita hal seperti ini ke kamu." Ucapnya menangis pelan, lalu menyeka airmatanya. Aku hanya menatap mama dengan pandangan tidak mengerti. Jika mama lupa ingatan kenapa mama bisa bicara seperti itu? Kenapa mama menangis saat menceritakan hal itu? Apa yang disembunyikan om Raka dari mama dan dariku? Aku harus segera mencari tahu. "Tante aku ke toilet sebentar yah..." pamitku, mama hanya mengangguk. Aku pergi ke kamar mama dan om Raka secara diam-diam. Aku masuk ke dalam kamar mereka, sepasang mataku memutari isi kamar ini. Jantungku seakan berhenti ketika melihat foto pernikahan mama dan om Raka yang terpajang di dinding kamarnya. Pernikahan mereka terjadi beberapa tahun yang lalu itu terlihat dari tanggal di cetakan foto itu. Mama dan om Raka dulu pernah menikah? Ini tidak mungkin. Aku membuka lemari mereka dan mencoba mencari sesuatu tapi aku tidak menemukan apapun selain pakaian. Aku langsung keluar kamar mama dan berjalan ke kamar yang ku tempati. Kemudian Aku membuka lemari di samping tempat tidur dan mengacak-acak surat-surat yang berada di kamar yang aku tempati, sedetik kemudian aku sangat terkejut ketika menemukan foto papa di dalam sebuah dokumen. Kemudian aku keluar dari kamarku sambil membawa foto papa untuk aku perlihatkan pada Mama, aku sudah tidak peduli dengan kesehatan mama, aku harus meminta penjelasan dari mama tentang semua ini. Sungguh aku penasaran, rahasia apa yang di sembunyikan oleh om Raka kepada aku dan mama? Langkahku langsung terhenti ketika melewati kamar yang tidak pernah dibuka, aku membuka pintu kamar itu pelan. Aku langsung masuk ke dalam kamar itu dan mengkunci pintu itu dari dalam. Saat aku berbalik napasku seakan berhenti ketika melihat foto pernikahan om raka dengan seorang wanita selain mama, didinding kamar ini banyak sekali foto mereka. Aku berjalan mendekati salah foto itu ketika menyadari satu hal. Aku mengambil foto itu dengan tangan gemetar dan langsung menangis ketika aku sadar di dalam foto itu adalah fotoku sewaktu balita. Aku langsung membanting foto itu sehingga kaca bingkai foto itu pecah berantakan. Lalu Aku membuka lemari pakaian dan mengacak-acak semua pakaian yang berada di dalam lemari dan disana kembali aku menemukan foto Papa bersama wanita yang dinikahi om Raka. Apa maksud dari semua ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa wanita ini? Tiba-tiba mataku menemukan dokumen hijau, aku langsung mengambilnya dan membukanya. Aku menangis ketika membacanya. "Aaaaggghhh!!!" teriakku meremas dokumen ini. Hatiku begitu hancur ketika tahu kenyataan yang sebenarnya, kenyataan bahwa aku anak om Raka dan wanita yang bernama Tania. Aku langsung menangis sejadi-jadinya dan melempar semua foto pernikahan om Raka dengan wanita ini. Aku meremas rambutku frustasi dan membenturkan kepalaku di tembok berkali-kali. "Khansa kamu di dalam? Ada apa? Buka pintunya...." Seru mama sambil mengetuk pintu ketika mendengar teriakanku. "Khansa buka pintunya!" serunya kembali. Aku tidak memperdulikan panggilannya. Aku semakin menangis ketika mengingat semua perlakuan kedua nenekku kepadaku, jadi karena ini yang membuat mereka membenciku dan selalu memperlakukan aku dengan kasar karena aku bukan anak mama dan papa. Tuhan ingin rasanya aku mati saja.   ❀✿•♥•✿❀
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD