Juan Alfarisy
Kerjain yang bener! Tepat waktu! Dan jaga rahasia!!
Kalo lo bisa melakukan itu semua, gue nanti kasih reawerd.
Oh iya, tulis semua jawaban dibuku khusus, nanti gue salin di sekolah.
Semangat Babu!!??
Aku memandangi layar ponsel, tertera pesan w******p dari bocah si*la*n itu. Yah sebenarnya memang aku akui, PR Juan tidak sulit-sulit banget. Bahkan banyak pembahasan yang aku bahas di Kampus, jadi aku tidak terlalu lupa tentang cara pengerjaannya. Hingga keempat bukunya sudah beres aku kerjakan.
"Sar masih ngapain di kamar? Ayo keruang tengah! Nyonya udah manggilin." Titah Fitri diambang Pintu.
"Iya Fit" jawabku.
Kemudian akupun keluar kamar, masuk keruang tengah. Disana sudah ada Bu Monica lengkap dengan jas Dokternya dan Marsya dengan seragam SD, nampaknya bu Monica sedang berbicara serius pada anaknya. Akupun mendekati mereka berdua.
"Marsya! Mulai hari ini kamu sama mbak Sari ya, Mama harus ke Rumah Sakit. Kalo Mama terus nganter Marsya ke sekolah, Mama gak kerja-kerja." Ucap Bu Monica.
Marsya tidak menjawab, dia hanya diam sambil menatap kelantai. Tiba-tiba saja aku jadi teringat perkataan Juan tadi malam, Marsya itu tidak gampang didekati. Bahkan sama Fitri aja gak mau, padahal notabenenya Fitri itu sudah bekerja bertahun-tahun disini. Nah apa kabar sama aku yang baru masuk kemarin?
"Sari, ini kartu ATM Marsya. Kamu yang pegang ya kalo Marsya butuh apa-apa. Nanti setelah saya Pulang dari Rumah Sakit, kamu boleh kembali kerja lagi sama Fitri."
"Baik nyonya" jawabku.
"Yaudah Masrya, Mama berangkat dulu ya! Dan Sari, nanti kalian diantar Mang Ujang, karena SD jaraknya tidak jauh dari sini" ucap Bu Monica sambil beranjak dari duduknya, kemudian pergi.
Akupun mendekati Marsya yang hanya terdiam sambil melamun. Entah ada apa dengan Marsya, anak itu seperti ada masalah. Namun aku tak mau pusing, aku hanya perlu akrab dengannya. Suatu hari juga dia pasti cerita padaku.
"Babu!" Teriak Juan yang sekarang turun dari tangganya yang melingkar, tampak begitu megah.
Aku memutar bola mata malas bertemu dengan anak itu. Dia berjalan menghampiriku, lalu berbisik ditelinga.
"Mana PR Matematika gue?"
Akupun langsung beranjak dari sofa. Menuju kamar untuk mengambil empat buku catatan Juan beserta satu buku jawaban PRnya. Lalu setelah sampai di ruang tengah kembali, aku menyerahkannya pada Juan.
"Nih" aku menyodorkan lima buku Juan.
Dia menerimanya, lalu membuka buku isi Jawabannya. Wajahnya langsung berbinar ketika melihat.
"Waaaaaw lo Pinter juga ternyata, semua tugas udah lo kerjain. Serius gue puas banget sama kerja lo."
Juan membolak balikan bukunya. Setelah selesai dia memasukan dua buku Jawaban dan buku Matematika kedalam tasnya. Lalu tiga bukunya dia serahkan kembali padaku.
"Nanti sisa bukunya simpen aja di kamar gue, yang matematika sama jawabannya gue bawa. biasanya gue gak suka kalo ada orang masuk kamar. Tapi khusus buat lo, lo boleh masuk kamar gue" ucap Juan sambil memberikan kunci kamarnya.
"Oh iya, gue juga gak suka ada orang yang bersihin kamar tanpa ijin. Tapi khusus lo Babu, lo boleh bersihin kamar gue" dengan sangat pedenya dia berujar. Memangnya aku bangga bisa membersihkan kamarnya, aku rasa ini adalah kutukan bukan kebanggan.
"Kalo gue gak mau?"
Juan sedikit berdecak sebal, "ya lo harus mau!"
"Jaminannya apa?"
Juan sedikit berpikir, dia kembali menatapku setelah mendapatkan jawaban dari pikirannya.
"Nanti gue kasih reward."
"Ya rewardnya apa?"
"Ya bukan reward kalo gue kasih tau b**o!"
Aku berdecak sebal. "Iya iya gue menantikan reward dari lo Juan, awas kalo lo bohong"
"Cowok sejati tidak ingkar janji" ucapnya sambil mendekatkan wajahnya padaku.
"Tapi lo bukan cowok sejati wleee.." jawabku tak kalah sengit. Sambil me-meletkan lidah.
"Loo..." Juan menahan amarahnya sambil menunjukan telunjuk kearah wajahku.
"Neng Sari!" Teriak mang Ujang dari ambang Pintu.
Aku dan Juan sontak saja menoleh, menghentikan pertarungan kami yang sengit.
"Iya mang ujang kenapa?" Tanyaku.
"Non Marsya sebentar lagi masuk kelas, ayo neng! Takut telat." Ucap mang ujang dengan wajah khawatirnya.
"Astaga mang Ujang, Saya lupa. Yaudah bentar! Saya mau simpen ini dulu" ucapku yang langsung berlari ke kamar Juan untuk menaruh buku.
***
Akhirnya Aku sudah sampai di Sekolah Marsya. Dia baru mengenyam pendidikan kelas 4 SD, dengan Fasilitas yang begitu lengkap disekolahnya. Sejenak aku merasa iri, Marsya kelas 4 SD sudah diberi Ponsel dan ATM oleh bu Monica. Lah sedangkan aku? Boro-boro ATM, ponsel aja baru punya waktu aku SMP kelas 3.
Terus Marsya juga diberi pengasuh untuk mengawasinya, diantar oleh mobil Bagus kesekolah. Serta Sekolahnya yang begitu Mewah, membuat aku semakin Iri karena masa kecilku kurang bahagia. Namun satu yang aku bikin iri, Marsya begitu cantik meski umurnya masih sangat muda. Kulitnya putih bersih, dengan wajah kebule-bulean. Namun ini yang membuat aku semakin iri, Marsya mempunyai Bola mata berwarna hijau seperti Juan. Begitu indah dilihat.
Anak ini begitu beruntung dengan segudang kebaikan yang dia punya. Namun Marsya hanya bisa diam, dia tidak berbicara sepatah katapun padaku. Membuat aku semakin khawatir.
"Nanti mang Ujang jemput lagi jam 12 siang neng" ucap mang Ujang, setelah sampai mengantarkan aku dan Marsya.
"Iya mang, hati-hati di jalan!!"
Kemudian mobil Honda Brio merah itu pergi meninggalkan aku dan Marsya. Akupun berjalan memasuki Sekolahnya yang besar dan Megah, berbeda dari SD biasanya. Sekolah itu dipenuhi oleh banyak Siswa dari kalangan atas.
Bel berbunyi, menandakan sekolah akan Masuk. Namun Marsya hanya berjalan biasa tanpa mempedulikan bel sekolah.
"Marsya gak mau lari masuk ke kelas? Anak yang lain pada lari tuh" ucapku, namun Marsya tidak menjawabnya.
Aku jadi kelimpungan sendiri menunggu Marsya yang berjalan sangat lama. Dari pada aku kena masalah, sebaiknya aku membawa Marsya dengan Paksa. Lalu aku menggendong Marsya dipunggungku, membuat anak itu meronta-ronta tanpa berujar minta dilepaskan karena aku benar-benar menggendong Marsya sambil berlari.
Setelah itu akhirnya Marsya masuk tepat waktu. Aku menghembuskan napas lega, karena tidak telat.
Aku mengerutkan kening Teman-teman Marsya tidak ada yang diantar oleh pengasuh. Kecuali anak kelas 1 SD yang tampak beberapa pengasuh berjejer didepan kelas.
Ah sudahlah, aku gak mau mikir macem-macem. Toh aku hanya menjalankan tugas, tidak mau ikut campur masalah pribadi Marsya.
Aku hanya duduk didepan kelasnya sambil memainkan ponsel, menunggu bel istirahat tiba.
???
Adzan Dzuhur sudah terdengar, aku dan Marsya sudah kembali ke Rumah. Ternyata pekerjaanku tidak sulit, bahkan sangat ringan dibanding dengan Fitri yang cape mengurusi Rumah.
Marsya sudah masuk kedalam kamarnya. Aku membantu Marsya membuka seragamnya dan meletakan tasnya ke lemari khusus barang Marsya.
"Mbak Sari, Marysa mau tidur siang" ucapnya untuk pertama kalinya padaku.
Aku sedikit tertegun karena dia mau berbicara padaku. Akupun tersenyum sambil menyamakan tinggiku dengannya. Kemudian aku mengelus pucuk kepala Marsya dengan sayang.
"Yasudah Marsya tidur aja, nanti kalo bangun. Marsya boleh minta bantuan Mbak buat ngerjain PR."
Anak itu mengangguk, lalu naik keatas kasur miliknya.
"Mbak didapur, nanti kalo ada apa-apa Marsya tinggal telpon aja mbak. Sudah ada kan nomornya di ponsel Marsya?"
Dia mengangguk. Aku kembali mengelus pucuk kepalanya. Lalu beranjak meninggalkan Marsya dari kamarnya yang terletak di lantai dua tak jauh dari kamar milik Juan.
Setelah keluar dari kamar Marsya, aku hendak melewati kamar Juan. Namun aku jadi teringat perkataan Juan tadi pagi, untuk membersihkan kamarnya. Akupun membuka kamar miliknya menggunakan kunci yang tadi pagi dia kasih.
Akupun memasuki kamar itu untuk kedua kalinya. Kamarnya terus membuat aku kagum dengan koleksi robot-tobotannya yang berjejer rapi di lemari kaca tembus pandang yang terletak tak jauh dari ranjang.
Tuk tuk tuk
Suara ketukan pintu menyadarkanku. Akupun menoleh pada Fitri yang sudah ada di ambang pintu.
"Sar jangan masuk kamar Den Juan! Kamu bisa abis di amuk dia kalo ketahuan" ucap Fitri.
Akupun berjalan menuju ambang pintu untuk menemui Fitri.
"Memangnya kenapa Fit, aku cuma mau bersihin kamarnya aja ko"
"Dia tuh tertutup banget, bahkan lebih tertutup dari Marsya. Di gak suka kalo ada orang yang megang barang miliknya, apalagi masuk kedalam kamarnya. Aku aja dari dulu belum pernah masuk kamar den Juan."
"Serius Fit?" Tanyaku dengan membesarkan mata kaget. "Terus yang bersihin kamarnya siapa?"
"Ya den Juan sendiri, bahkan orang tuanya aja udah jarang banget masuk kamar den Juan"
Aku menutup mulutku yang menganga. Jadi Juan memang tidak main-main. Aku memang orang terpilih yang boleh memasuki kamarnya.
"Sudah ayo Sari kita keluar" ucap Fitri, sambil mengambil kunci kamar Juan yang ada di Pintu.
Padahal kan itu kunci, Juan kasih ke aku. Tapi yasudahlah biar aku gak cape-cape bersihin kamarnya.
Aku memandang kasur Juan yang agak berantakan, karena sepertinya Juan sengaja tidak membereskannya untuk aku beresi. Namun Fitri sudah keburu menutup pintu itu. Menguncinya, lalu mengambil kunci untuk langsung dimasukan kedalam saku celananya. Aku hanya bisa menghembuskan napas pasrah.
***
Juan Alvarisy
Eh babu, gue ada di depan kamar lo nih
Aku membaca pesan dengan mata terkantuk-kantuk. Fitri sudah tidur, akupun kebangun karena ada pesan masuk. Waktu sudah menunjukan pukul 11:45 malam. Untuk apa bocah sableng itu ada didepan kamarku, kalo ketahuan Fitri dia bisa curiga.
Dengan berat hati aku bangun dari kasur, lalu berjalan keluar kamar. Ternyata Juan benar-benar sudah ada didepan kamarku lengkap dengan seragam sekolahnya dengan Jas almamater yang ditaruh dipunggungnya. Dia baru pulang sekolah jam segini.
"Kenapa lo kesini?" Bisiku sambil celingak-celinguk takut ada yang melihat. Untung saja kamarku sudah ditutup jadi Fitri kalo terbangunpun tidak akan melihat.
"Kalo kita ketahuan bisa berabe" lanjutku.
"Mana kunci kamar gue" tanyanya dengan sama berbisik pula.
Astaga! Aku menepuk jidat, tadi kunci kamar Juan kan di ambil Fitri. Aduh gimana nih. Akupun meringis didepan Juan.
"Kuncinya ada di Fitri" jawabku sambil menunduk dengan wajah meringis menyesal.
Bersambung
semoga suka ya, total 1500 kata. panjang banget, jari gue dah keriting gengs.