Komen dong, di bayangan kalian si Juan visualnya siapa?
Kalo gue Manurios.
oh iya, gue Rekomen si Bright Vachirawit, cocok banget tuh jadi si Juan. Muka-muka Badung nya ngena banget sama muka si Bright.
Kalo gak tau, Google sono si Bright. Ntar komen kalo kita samaan Visualnya ok!!
Happy Reading BesTAI
Tampan. Satu kata yang mewakili bocah sableng yang ada didepanku. Juan Alfarisy nama lengkap dari remaja begajulan ini saat aku baca nama yang tertera dibuku Matematikanya. Dia kini duduk disebelahku, lebih tepatnya ditepi ranjang sambil menyerahkan beberapa buku padaku.
Aku memandang wajahnya yang begitu putih bersih dengan wajah kebule-buleannya.
dengan Ekspresi tidak mengerti aku bertanya. "Maksudnya apa ini ngasih buku ke Saya?"
"Gue ngasih pekerjaan tambahan sama lo!" Terang bocah sableng itu.
"Pekerjaan saya masih banyak, kamu gak usah repot-repot ngasih kerjaan lagi." Terangku hendak beranjak dari ranjangnya yang begitu empuk.
"Eh-eh-eh mau kemana lo?"
"Mau kedapur lah, mau kemana lagi?"
Juan melihat jam dipergelangan tangannya. "Ini udah mau jam 9, mbak Fitri jam segini pasti udah selesai ngerjain tugas di dapur."
Aku berpikir sejenak, tadi sewaktu aku ke kamar inipun pekerjaan Dapur memang sudah beres. Namun aku tetap mencari cara buat bisa kabur dari kamarnya.
"Marsya pasti butuh saya tidurin, jadi saya mau nemenin Marsya dulu ya?" Ucapku lagi hendak beranjak dari kasur.
Namun segera Juan cegah dengan menarik tanganku kembali. "Marsya gak akan mau deket sama orang asing, bahkan sama mbak Fitri aja Marsya suka nolak. Apalagi sama lo." Ucap Juan dengan tatapan mengejeknya.
Aku menggeretakan gigi saking kesalnya. "Yaudah kamu mau ngasih tugas apa sama saya?" Pasrahku.
Juan akhirnya tertawa geli karena melihat aku yang sudah pasrah. Lalu dia membuka buku matematika yang sekarang aku genggam.
"Ini sekarang lo kerjain matematika dulu buat besok! Ditambah sama pelajaran SBK, PPKN, sama IPS Ekonomi yang minggu depan bakalan gue kumpulin. Buat jaga-jaga lo kerjain aja sekarang biar gue tenang dan lo juga tenang karena gak akan gue tagih." Juan berkata sambil memperlihatkan buku catatannya padaku.
Aku berdecis, ternyata bocah tengil ini sedang memanfaatkanku. Bukannya aku tidak mau, atau aku tidak bisa mengerjakan. Tapi ini tindakan salah, Juan pasti keenakan PR-nya aku kerjakan.
"Eh Babu! Kenapa lo diem?" Tanyanya dengan begitu tidak sopan.
Aku mengepalkan tangan karena sebal, ingin sekali sekarang aku berkata kasar. Bocah itu benar-benar tidak bisa menjaga mulutnya.
"Nama gue Sari Arianti Lestari bukan 'BABU'!!." Ucapku penuh penekanan dikata Babu. Dengan embel-embel 'gue' karena sudah saking kesalnya.
"Iya iya SARI bukan Babu" ralat Juan dengan penuh tekanan dikata Sari.
"Kalo gue gak mau gimana?" Tanyaku dengan tatapan menantang.
"Gue gak akan makan malam ini" jawabnya dengan begitu pede. Padahal masa bodo dia mau makan atau tidak, yang penting aku sudah melakukan tugasku sebagai pelayan.
"Bodo amat, lo mau makan. Lo mau puasa, atau lo mau berhenti makan sampe mati juga gue gak peduli" ucapku sambil memutar bola mata malas.
Dia tampak kesal, terlihat dari sorot matanya yang begitu tajam. Bola mata hijaunya begitu indah saat aku bersitatap dengan matanya. Sungguh anak ini memang keturunan Bule, dilihat dari Mamanya Bu Monica yang memang asli Bule. Tapi wajah Juan agak sedikit kecampur turunan Indonesia karena Pak Pram juga terlihat Indonesia asli.
Wajah putih Juan mendekat ke wajahku. Namun mataku justru malah salah Fokus melihat bibir belahnya yang begitu Sexy. Serta gigi gingsul yang telihat karena dia kini sedang menggeretakan giginya saking kesal padaku.
"Gue kasih uang setiap lo kerjain PR gimana?" Ucapnya.
"Sorry! Gue gak mau membodohi calon penerus bangsa" jawabku dengan sorot mata tak kalah tajamnya.
"Lima puluh ribu tiap satu pelajaran gimana?" Tawarnya.
Aku berpikir sejenak. Sepertinya lumayan juga, dia ngasih empat buku padaku. Itu artinya aku bakalan dapet 200 ribu cuma dengan mengerjakan soal SMA. Apalagi sepertinya Juan anak IPS dan kebetulan aku juga dulu anak IPS. Sudah pasti pelajaran yang Juan pelajari pasti aku pahami. Tapi tetap saja, kalo diginiin Juan pasti gak bakalan berubah. Dia bakalan berakhir sepertiku yang bermasa depan suram.
"Gue tetep gak mau" jawabku tegas, membuat Juan melotot.
Tapi nampaknya dia benar-benar niat untuk membayarku. Lalu dia merogoh saku celananya, memberikan uang 400 ribu padaku.
"Gue bayar lo 100 ribu dari setiap pelajaran. Dan bayaran kali ini, gue bayar dimuka. Gimana? Kalo lo masih tetep nolak, yaudah. Gue bakalan nyari jasa pengerjaan PR di Internet."
Aku melotot. Memangnya ada Jasa pengerjaan PR di internet? Namun menyadari hal itu, Juan langsung menjelaskannya.
"Lo gak tau ya? Sekarang tuh jaman udah canggih, orang-orang buka Jasa di internet gak cuman Grafic atau jualan online doang. Sekarang tuh udah ada Jasa Pengerjaan PR, mulai dari soal-soal, PPT, Makalah, bahkan sampe sekripsi juga ada. Jadi nanti pas gue kuliah, gue udah tenang karena udah ada Jasa kayak gitu. Tapi kenapa gue nawarin ini ke lo? Karena gue bisa marah sama orangnya langsung kalo hasilnya jelek, biar gue juga bisa langganan." Jelas Juan panjang lebar.
Aku berpikir keras, memangnya ada ya yang buka layanan jasa pengerjaan tugas? Kok aku baru tau? Seharusnya layanan itu harus segera dilaporkan pada polisi biar pelakunya di tangkap. Soalnya ini benar-benar membahayakan remaja jaman sekarang.
"Lo beneran gak mau?" Tanya lagi Juan.
Aduuuuh gimana nih? Terima gak ya. Sayang banget loh ini. 400 ribu cuma ngerjain PR doang. Namun tiba-tiba pikiranku melayang pada keluarga dirumah. Aku disini untuk bekerja, kalo aku disini tidak mendapatkan uang banyak. Mereka bakalan curiga.
Yasudahlah dengan berat hati aku menerima tawarannya.
"Yaudah deh, gue terima tawaran lo Juan" jawabku akhirnya.
Juan begitu senang mendengarnya, dia langsung menampilkan tampang bahagianya padaku. Lau benar-benar menyelipkan uang 400 ribu itu ditanganku.
"Thanks Sar, semoga PR yang akan lo kerjain hasilnya memuaskan. Kalo sampe bagus, gue bakalan naikin lagi Tarifnya." Ucap Juan sambil memberikan pulpen beserta pensil dan penghapus padaku.
"Selamat bekerja keras Babu!! Pembantu baru gue" ucap Juan yang langsung beranjak lalu mengambil gitarnya kembali.
"Sebelum gue ngerjain PR, gue mau liat lo makan Juan!"
"Siap Bu Boss, gue makan" ucapnya, lalu menaruh gitarnya kembali. Dia mengambil makanan yang ada di atas nakas tempat tidurnya kemudian memakannya.
"Awww stttt" Juan merasa perih dibagian sudut bibirnya saat memasukan makanan kedalam mulut.
"Tunggu! Gue mau ngambil kotak obat dulu" perintahku, lalu keluar dari dalam kamarnya.
Kakiku berjalan kekamar untuk mencari Fitri, agar aku dapat menanyakan Kotak obat ditaruh dimana. Dia sedang bermain ponsel diatas tempat tidur saat aku tiba di kamar pembantu.
"Fit kotak obat dimana?"
"Kenapa Sar? Kamu sakit?" Tanya Fitri sambil hendak terduduk.
"Nggak Fit, mau ngobatin luka Juan" jawabku.
"Oh, tuh ada di Bufet ruang keluarga" terang Fitri.
"Ok Thanks Fit"
Kemudian aku mengambil kotak obat yang telah diberitahu oleh Fitri. Kemudian aku kembali ke kamar Juan untuk mengobati lukanya. Dia sedang memainkan ponselnya di atas kasur.
"Eh Juan sini! Bibir lo gue obatin dulu!" Tawarku sambil duduk di tepi ranjang.
Juan menegakan duduknya. Dia mendekatkan wajahnya kearahku. Mempersilahkan aku untuk mengobatinya.
Kotak obat sudah aku buka, aku juga mengoleskan betadine, lalu mengoleskannya ke bibir Juan. Anak itu sedikit merintih karena perih lukanya bergesekan dengan cotton bud.
"Sorry kalo perih" ucapku sambil meniupi bibirnya dengan jarak bibir kami yang begitu dekat.
Wajahku seketika memerah saat mata ini memandang bibir tebal Juan yang terbelah dibibir bawahnya. Bahkan hidung Juan yang mancung, telah menempel dengan hidungku yang pesek. Membuat aku menjadi dek-dekan sendiri.
"Ini Rahasia kita!"
Seketika perkataan itu meluncur dari bibirnya, membuat bibir sexy-nya bergerak begitu indah di pandanganku. Mataku sedikit terpaku, hingga menghentikan pekerjaanku yang mengolesi obat. Hingga Juan nampaknya menyadari itu.
"Eh Babu?" Katanya sambil menaik turunkan tangannya didepan wajahku.
Aku mengalihkan pandangan menuju matanya. "Nama gue Sari!" Tekanku padanya.
"Gue gak mau rahasia kita bocor ke Papa atau Mama gue. Sekarang mana nomer Handphone lo?"
Aku menuliskan nomorku di ponselnya. Lalu Juan mengambilnya kembali, "thanks Babu" ucap dia, yang membuatku semakin kesal.
Juan kembali tertawa, hingga membuat gigi gingsulnya terlihat.
Bersambung