Chap 19

1038 Words
Damarion dan Morgan menghela nafas lelah. Mereka dari tadi memperhatikan Adriana yang meringkuk seperti bayi di atas kasur Reynald.  "Adriana. " Morgan mendekat dan memegang bahu Adriana.  Adriana lengsung menepis tangan Morgan dengan kasar. "Lepas! Sebenarnya kalian ini siapa? Apa mau kalian? Kenapa kalian menculikku? Kenapa kalian menyerang istana Dean? Lalu apa yang kalian lakukan pada Deanku? Kalau kalian memanfaatkanku lebih baik bunuh saja aku! " Adriana memekik histeris.  "Adriana tenanglah. Apa kau tidak mengingat kami? " Damarion bertanya dan Adriana hanya menggeleng.  "Pergi kalian semua aku ingin sendiri! Pergi!" Adriana hampir saja berteriak. "Morgan kita pergi. " Damarion bangkit dari duduknya dan menyeret Morgan keluar.  Setelah dua pangeran iblis itu pergi Adriana turun dari kasur dan pergi ke balkon berniat untuk kabur. Saat melihat ke bawah kepalanya menjadi pusing. Kenapa mereka menempatkannya di sini! Tempat ini tinggi sekali. Kepala cantiknya terus memikirkan cara untuk kabur.  Kriet...  Pintu terbuka menampilkan Valerie. Dia tersenyum tapi matanya memandang Adriana datar. Dirinya dengan susah payah keluar dari barier yang diciptakan Damarion.  "Siapa kau?" Adriana bertanya. Keningnya mengerut. "Siapa aku tidak penting! Sekarang apa kau ingin pergi dari sini? " Adriana awalnya ragu tapi ia mengangguk.  "Tapi kenapa kau mau membantuku?" Adriana mendekati Valerie. "Aku hanya kasihan saja kepadamu harus di kurung di sini! " Valerie memasang wajah kasihan. "Kau tunggu apa lagi ayo cepat! " Adriana mengangguk dan mengekor Valerie.  Saat sampai di pintu belakang dua penjaga menghadang mereka. "Maaf Putri Anda tidak boleh membawa nona Adriana pergi. " "Ck kalian menggangu. " Dua penjaga tersebut langsung pingsan karena mantra Valerie.  "Ayo cepat. " Valerie berhenti di dekat sebuah hutan. Ia tidak bisa pergi lebih jauh. "Kau bisa keluar dari sini. Kau tinggal masuk ke hutan itu dan kau akan sampai di istana Dean." Valerie menunjuk hutan di depan mereka Adriana memperhatikan hutan di depannya hutan tersebut sangat gelap dan menakutkan membuat nyali Adriana ciut seketika.  Hari masih sore tapi hutan tersebut terlihat sangat menyeramkan. Tapi demi bertemu dengan Dean ia harus masuk ke dalam hutan.  "Emm... Terimakasih atas buntuannya. Selamat tinggal, aku harap kita bisa bertemu lagi. " Adriana berlari menuju hutan meninggal Valerie yang tersenyum sinis.  "Kita tidak akan bertemu lagi Adriana. Kau tidak tahu bahaya apa yang menunggumu di dalam sana. Aku harap kau cepat mati hahahaha...." Valerie tertawa jahat lalu berbalik masuk ke istana utama.  ***** Duak... Duas...  Brak...  Krak...  Bledar...  Trang...  Sret...  Duar...  Reynald dan Dean bertempur habis-habisan para warga di kerajaan Mamon lari ke sana sini menyelamatkan diri.  Kerajaan Mamon sudah rata dengan tanah. Rumah-rumah para penduduk hancur dan terbakar. Hutan yang mengelilingi istana sudah gundul terbakar api.  Bahkan gunung-gunung terkikis, ada yang tinggal setengah, ada yang sudah habis. ada yang terbelah dua dan menghasilkan aliran lava.  Dua pangeran tersebut tidak memperdulikan keadaan sekitar yang sudah mereka bumi hanguskan. Bahkan para warga yang menjerit-jerit minta tolong tidak membuat mereka berhenti.  "Cepatlah mati pangeran bodoh. Kau sudah membuat kekacauan di daerahku. Akan aku buat kau mati dengan sangat menyakitkan. " Dean menyerang sambil mengumpat.  "Cih, tutup mulutmu. Akan aku selesaikan dengan satu serangan." Pertarungan mereka tidak bisa di ikuti oleh mata orang biasa. Yang terdengar hanya suara pedang dan serangan yang saling beradu.  "Kita lihat siapa yang akan menang. " Mendengar jawaban Dean yang begitu sombong membuat Reynald menyaring.  Duak...  Tap...  Mereka saling menjauh dan mendarat di atas tanah. Masing masing dari mereka mengumpulkan kekuatannya. Mulut mereka komat-kamit membaca mantra.  Dean mengeluarkan aura merah yang menyeramkan. Terlihat gambar burung yang terukir, tapi bukan burung phoenix.  Sedangkan aura Reynald hitam pekat seperti kegelapan yang sangat gelap. Aura tersebut membuat beberapa warga yang masih di sana merinding takut. Nafas mereka tercekat merasakan kegelapan yang sangat gelap.  Terbentuk sebuah naga hitam dengan gigi tajam dan mata merah menusuk. Naga tersebut berputar-putar sebentar lalu terbang di belakang Reynald.  "Hancurkan semua! " Satu kalimat itu membuat naga tersebut melesat cepat.  Begitupun dengan burung milik Dean, burung itu terbang dengan cepat.  Bledar...  Sing...  Bum...  Seluruh wilayah kerajaan mamon benar-benar rata dengan tanah. Reynald berdiri tegak dan menatap datar ledakan di depannya sedangkan Dean menciptakan barier agar dia selamat.  Krak...  Retakan kecil tercipta di barier Dean. Setelah semua tenang dan asap hilang terlihat Dean bertumpu pada lututnya keringat bercucuran dari keningnya. "Sayang sekali kau kalah. " Reynald mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. "Matilah! " Jleb...  Mata Dean melebar. Darah hitam mengotori muka keduanya. Tetesan darah jatuh dari pedang milik Reynald. Reynald hanya menatap orang di depannya datar. Ia mendengus sebal karena kesenangannya terganggu. Sudahlah, ia tidak mau memikirkannya.  Pemuda itu mencabut pedangnya dan mencengkramnya sedikit lebih kuat detik berikutnya pedang tersebut berubah menjadi abu. Reynald tidak mau menyimpan pedang itu lagi. "A...ayah. " Suara Dean bergetar. Ia tidak menyangka bahwa ayahnya ada di depannya. Seharunya sekarang ayahnya sedang pergi mengurus suatu keperluan penting. "Kau harus pergi nak. Selamatkan dirimu. "  Sebuat portal tercipta di belakang tubuh Dean. Lord Georgie mendorong putranya hingga masuk ke portal.  "Ck. " Reynald berdecak sebal. Tanganya membuat gerakan menebas dan kepala sang raja menggelinding.Reynald menjentikkan jarinya dan keluar api hitam neraka. Bibirnya membentuk seringai mematikan.  "Sampai jumpa di neraka! " Api tersebut membakar tubuh Lord Georgie.  Sebelum pergi dia melihat melalui ekor matanya lalu tertawa pelan. Siapapun yang mendengar tawa tersebut akan merinding karena mengandung kekejaman yang tidak terlukisakan. Tangannya terangkat dan sayap mirik Reynald muncul membawanya terbang. "Sekarang wilayah ini milik Lucifer." Matanya menatap kerajaan yang sudah hancur di bawahnya. Sekali lagi api hitam muncul dengan sekala besar. Reynald memutar tubuhnya dan api di tangannya membentuk lingkaran membakar keluruh wilayah kerajaan. Jeritan, ratapan, lolongan, permohonan bergema di seluruh tempat. Para warga, prajurit, dan semua orang di sana terbakar di dalam lautan api sementara sang pangeran hanya tertawa di atas langit. Secepat tawa tersebut datang secepat tawa itu menghilang. Reynald langsung melesat pergi dari sana dan menuju kerajaanya. Masalah di sana harus di selesaikan secepatnya.  ***** Adriana celingak-celinguk ke sana-sini. Sekrang hari sudah gelap dan Adriana sangat ketakutan. Auman singa menambah suarana mencekam di sana.  Srek...  Adriana menoleh ke samping. "Siapa di sana? " Tubuh Adriana sudah bergetar hebat.  "Sedang apa seorang gadis manusia ada di sini? " Suara tersebut menyapa pendengaran Adriana.  "Apa maksudmu? Aku tidak mengerti. Manusia apa? " Adriana mulai menangis.  Tap...  Tap...  Tap...  Ia berjalan mendekati Adriana yang sedang ketakutan. Mata merah darahnya menatap tajam Adriana. "Ck ck ck. Kenapa kau berani sekali masuk ke sini? Hanya satu orang saja yang berani masuk ke hutan ini. " "Me...memangnya siapa yang berani masuk ke sini selain aku?" "Apa kau tidak tahu? " Adriana menggeleng polos. "Tentu saja hanya pangeran kegelapan yang berani masuk ke sini. " "Sebagai hadiah karena kau sudah masuk ke sini aku akan menjadikanmu makananku. " Ia berjalan mendekati Adriana. Semakin lama semakin mendekat membuat kaki Adriana serasa seperti jeli. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD