Reynald baru saja sampi di istana Lucifer. Ia langsung berjalan menuju kamarnya. Saat pintu di buka tidak ada siapa-siapa di dalam sana.
Rahang Reynald mulai mengeras, bagaimana bisa Adriana pergi dari kamar ini? Bukankah Damarion menjaga kamar ini?
"RIOOOON...." Reynald berteriak sangat keras hingga istana sedikit berguncang.
Damarion dan Morgan langsung datang di hadapan Reynlad. Teriakan tersebut membuat mereka berdua terkejut karena kakak mereka hampir tidak pernah berteriak.
"Kenapa kau berteriak? " Morgan bertanya. Ia tidak melihat jika Reynald sedang marah.
"Dimana Adriana? " Damarion langsung mengerti kenapa kakaknya berteriak.
"Bukannya dia ada di sana? " Morgan menunjuk kasur tanpa melihatnya.
"DI SANA DI MANA HAH? KAU TIDAK LIHAT ANA TIDAK ADA DI SINI?"
Morgan celingak-celinguk ke sana-sini. "Kenapa tidak ada? Bukannya tadi ada? "
Damarion sudah kesal dengan adik tololnya itu. Ia menarik kerah baju Morgan lalu melemparnya keluar lewat jendela. Reynald akan bertambah murka jika mendengar ucapan morgan.
"Sebaiknya kita panggil Ernest. Dia bisa mengetahui siapa saja yang masuk ke sini. " Damarion mengirim link kedapa Ernest.
Beberapa menit kemudian Ernest datang. "Ada apa? Kenapa kau memanggilku ke sini? Kalian tahu aku sedang menjaga ibu. Kondisi ibu ku-"
"Intinya aku ingin kau mencari tahu siapa yang masuk ke sini setelah aku dan Morgan pergi. " Damarion memotong ucapan Ernest.
Bocah tersebut mendengus lalu memejamkan matanya. Beberapa menit berlalu, Ernest sama sekali belum membuka matanya.
"La-" Ucapan Reynald terpotong.
"Valerie masuk ke sini lalu membawa nona cantik pergi ke hutan kegelapan. "
Bledar...
Ucapan terakhir Ernest membuat Reynald dan Damarion seperti tersambar petir. Mereka berdua cepet-cepet berlari ke hutan kegelapan. Ernest juga menyusul Reynald dan Damarion ke hutan kegelapan.
"Jangan masuk! " Damarion dan Ernest mengangguk mengerti dengan ucapan Reynald.
Mereka diam menatap hutan ke gelapan tersebut. Tidak pernah ada yang masuk ke sana kecuali Reynald. Walaupun mereka adalah pangeran kegelapan tapi aura kegelapan di hutan itu membuat mereka merinding.
*****
Valerie sekarang sedang santai-santai di aula. Ia mengelus-elus lembut perutnya yang sedikit membuncit. Makhluk Immortal memang lebih cepat pertumbuhannya dari manusia biasa.
"Ya, sebentar lagi kita akan tinggal di sini sayang. " Ia berbicara dengan bayi dalam perutnya.
"Kita hanya harus bersabar sebentar lagi sayang. Ibu yakin kau pasti akan menikahi pangeran Reynald." Valerie mendongak menatap ibunya.
"Ya, ibu benar. Aku baru saja membawa Adriana ke hutan kegelapan. " Queen Angela mentap putrinya bangga.
"Itu Bagus sekali, tapi kita harus menyiapkan rencana cadangan sayang." Queen Angela mengelus-elus perut Valerie. "Apa bayinya baik-baik saja? "
"Tentu, dia baik-baik saja ibu." Setelah itu hening beberapa menit.
"Mawar perak. Kita harus mencari Mawar perak. " Queen Angela tiba-tiba berseru.
"Untuk apa ibu? Aku tahu itu Mawar ajaib. Tapi aku tidak tahu apa fungsinya. "
"Kau akan tahu itu nanti, tapi sekarang ibu akan memerintahkan seseorang untuk mencari Mawar perak." Queen Angela tersenyum licik.
*****
Tubuh Adriana penuh dengan luka, paling parah adalah sayatan melintang di punggungnya yang berbentuk seperti cakar. Luka sayatan itu cukup dalam dan sangat perih.
Ia sudah kehilangan banyak darah, kepalanya juga pusing, pandangannya mulai berkunang-kunang. Ia pikir ini adalah akhir hidupnya.
Gaun yang di kenakannya juga sudah koyak, bagian bawah gaunnya hanya tinggal setengah pahanya saja. Adriana terus lari lebih dalam lagi ke dalam hutan.
Hingga beberapa saat terlihat sebuah jurang yang di bawahnya terdapat laut yang membentang luas. Monster di belakangnya terus mengejar, Adriana tidak tahu makhluk apa itu tapi monster itu terus mengejarnya.
Sret...
Monster itu mengayunkan cakarnya dan setelah itu dunia hilang dari pandang Adriana.
*****
Reynald terus mencari Adriana ke seluruh hutan kegelapan. Ia mencium bau darah yang menyengat, Reynald sangat tahu jika itu adalah darah milik Adriana.
Reynald mengikuti bau darah Adriana dan berakhir di sebuah jurang. Di situ terdapat darah Adriana yang menggenang.
Lutut Reynald terasa seperti jeli dan ia tidak mampu berdiri lagi. "Tidak, ini tidak mungkin kan? Ana masih hidup, dia masih hidup! "
Ini tidak mungkin terjadi kan? Ananya masih hidup kan? Adriananya pasti masih hidup bukan? Reynald sangat kacau. Ia sedih, kesal, marah, kecewa semuanya menjadi satu.
"Maafkan aku, kelalaianku membuatmu terluka dan menderita. Seharusnya aku tidak membiarkanmu berada di dekat ku." Reynald berlutut, hatinya hancur.
Reynald mengeluarkan tiga sayap hitam legam miliknya lalu terbang keluar dari hutan kegelapan.
Damarion dan Ernest menunggu dengan cemas. Ernest sedari tadi mondar-mandir gak jelas seperti setrika. "Bagai mana ini? Apa nona cantik baik-baik saja? Bagai mana jika terjadi sesuatu dengan nona cantik? Apa yang kakak lakukan? Kenapa lama sekali? Bau darah ini sembuatku khawatir. Sebenarnya apa yang terjadi di dalam? Apa kakak sedang mengamuk? Astaga ini membuatku gila! " Mulut Ernest terus berkomat-kamit seperti dukun.
Bayangan hitam melesat di atas mereka membuat dua pangeran itu mendongak. "Apa yang terjadi? Kenapa kakak seperti itu?"
"Ayo kita susul Ernest sebelum sesuatu terjadi. " Damarion menarik lengan Ernest lalu terbang mengikuti Reynald.
*****
Brak...
Valerie dan juga ibunya tersentak kaget dan cepat-cepat berdiri. Valerie memasang senyum manisnya. "Ada apa anda kemari pangeran? "
Sret....
"Akh..." Tanpa banyak bicara Reynald langsung melesat dan mencekik Valerie.
"Pangeran apa yang anda lakukan? " Queen Angela memekik dia dan suaminya bergegas untuk melepaskan cengkraman Reynald.
Reynald sama sekali tidak menggubris. "Kubunuh kau. " Ia mengeratkan cekikkannya.
"Tunggu pangeran apa yang terjadi? " Queen Angela mencoba melepaskan cekikan Rey.
"Queen Angela Ramirez Avila. Kau tahu apa yang putrimu perbuat? " Sorot mata Reynald berubah merah.
"Memangnya apa yang sudah ia perbuat? Kenapa anda begitu marah pangeran? "
"Dia telah membuat Adrianaku terluka! Luka di bayar dengan luka dan nyawa di banyar dengan nyawa. Bukan begitu Queen Angela yang terhormat?" Rey memandang dengan sinis. Tidak akan ada belas kasih untuknya. Dia telah membuat Adriananya terluka, ia akan membuat Valerie lebih menderita dari yang di rasakan Adriana.
Sementara Damarion dan Ernest yang baru sampai hanya diam di ambang pintu. Mereka tahu kakak mereka sedang marah besar jadi sebaiknya merela hanya diam dan menonton.
"Tidak enak jika nonton drama tanpa cemilan. " Damarion menjentikkan jarinya dan buah anggur ada di genggamannya.
Ia duduk bersila sambil memakan anggur dan menyaksikan adegan selanjutnya dari drama di depan matanya tersebut. Ernest mengikuti Damarion dan memetik sebiji buah anggur. Sepertinya adegan penyiksaan ini akan seru.