Part 3

2696 Words
“LEPAS! LEPASKAN! SAYA BILANG LEPASKAN!”   Laura memberontak ketika dua orang bertubuh besar tiba-tiba menyelinap masuk lalu menyeretnya keluar dari rumah Dafi.   “Tidak bisa Nona, kami harus membawa anda kembali ke rumah dan itu perintah dari Tuan Besar.”   “Tidak! Saya tidak akan pernah sudi buat kembali pulang ke neraka! Lepas!” Laura kembali berseru dengan sangat kencang, suaranya bahkan memekik nyaring ketika kedua tangannya mulai di seret, dipaksa keluar tanpa rasa manusiawi.   Ingin sekali rasanya ia menangis, meraung dengan kencang meminta pertolongan semua orang. Tapi nihil, di rumah ini hanya ada ia dan Andini, Ibu Dafi. Ia tak mungkin meminta tolong pada Andini dan membahayakan perempuan itu.   “Nak Ara ... lepaskan! Jangan memperlakukan perempuan dengan kasar! ah!”   “Bunda!!!” seru Laura saat melihat Andini terjatuh karena salah satu dari dua orang yang menyeretnya mendorong perempuan itu. “Bunda ... .”   “Bunda gapapa, lepaskan nak Ara! Dia gak mau pulang! jangan memaksanya!”   “Jangan ikut campur!”   “Bunda! Jangan mendorong Bunda!” Seru Laura dengan sangat kencang ketika satu orang lain menjauhkannya dari perempuan itu. “Oke! Aku ikut kalian tapi jangan sakiti Bunda!”   “Nak Ara ... .”   Laura tersenyum lirih dengan air mata yang mulai mengalir di kedua pipinya. “Bunda ... maafin Ara ... Bunda bisa tenang. Ara akan baik-baik saja Bunda ... .”   “Tapi Nak ... .”   “Maafkan Ara Bunda.”   Tubuh Laura di seret kedua orang itu lagi tanpa perasaan. Tubuhnya benar-benar diperlakukan layaknya karung beras, layaknya barang tak bernyawa.   “Lepaskan dia!”   Laura terjengit mendengar seruan itu. ia menoleh ke arah pagar rumah itu. “Dafi ... .”   “Lepaskan dia!”   “Jangan macam-macam atau ... .”   “Jangan sentuh Bunda!!!” Seru Laura lagi lalu menatap Dafi. “Dafi ... gapapa gue pulang aja. Gue gak mau bahayain kalian semua. Terutama Bunda.”   “Lo sendiri gimana?”   Laura kembali menitikan air matanya, memperlihatkan kelemahan yang selama ini selalu ia sembunyikan dalam-dalam. Tapi kali ini sungguh ... ia tak bisa menyembunyikannya lagi. ia lemah, ia memang butuh perlindungan.   “Lepaskan Laura. Saya akan mengantarnya sendiri.”   Mata Laura membesar. “Dafi ... .”   “Ayo.”   “Tapi Daf ... .”   Dafi tidak memberinya kesempatan untuk berbicara. Dafi segera memasangkannya sebuah helm sebelum naik ke atas motor sport itu lalu memaksanya naik juga.   “Daf ... .”   “Jangan pikirin apapun. Gue udah janji ... gue akan lindungin lo Ra dan gue ... akan memastikan menepati janji itu.”   Laura terharu, hatinya melembut, menghangat, merasa buncahan kebahagiaan ditengah kesulitan hidup yang ia hadapi. Tanpa berpikir panjang ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Dafi, memeluknya seraya menyandarkan kepala di bahu lebar lelaki itu.   . . .   Dafi melangkah tanpa rasa ragu dengan tangan kanan yang merangkul bahu Laura, berusaha meindungi perempuan itu agar tidak menghilang dari sisinya. Begitu mencamapi ruang tengah kediaman utama keluarga Laura ia dihadapkan dengan satu pasangan paruh baya yang ia tahu adalah Darma dan Priyanti, orangtua Laura.   “Akhirnya pulang juga.”   “Jika tak ada paksaan aku tak akan pernah sudi kembali ke rumah ini!” balas Laura setengah mendesis. “Tak akan ada anak yang sudi tinggal bersama orangtua tak berperasaan seperti kalian.”   “Jaga mulutmu Laura! Tanpa kami ... kamu tidak akan pernah hidup seperti sekarang. Jika kamu lahir di keluarga lain kamu belum tentu bisa bergelimangan harta seperti sekarang!”   “Apa peduliku?! Apa untungnya bergelimang harta tapi aku tidak di manusiakan?!”   “Ra ... cukup.” Dafi mengelus punggung Laura, menenangkan Laura agar tidak berkata semakin kasar lagi pada kedua orangtuanya.   Laura mendengus, ia memalingkan wajah, menghindari tatapan orangtuanya, berusaha meredakan emosi yang bergejolak di dadanya.   Damar dan Priyanti secara bersamaan menoleh ke arah Dafi. Menatap Dafi dengan kening mengerut. “Siapa kamu? Jangan ikut campur dalam urusan keluarga kami.” Tegas Priyanti.   “Dia kekasihku! Dia alasan mengapa aku tidak pernah sudi di jodohkan.” Jawab Laura memotong ucapan Dafi ketika Dafi baru saja membuka mulut.   Darma terkekeh kecil dengan iris mata yang memindai penampilan Dafi. Menatap dan menilai Dafi dari ujung rambut hingga kaki. “Dia kekasihmu? Jangan bercanda Laura. Kau pasti hanya sedang mempermainkan kami karena tak ingin kami jodohkan.”   Laura tersenyum masam seraya menatap kedua orangtuanya kembali. “Inilah alasanku mengapa aku tidak pernah mau menceritakannya pada kalian. Karena kalian pasti akan menentang hubungan kami. Karena aku juga tahu ... Papa hanya akan memandang semua orang dari kekayaannya saja.” Laura menarik nafas panjang kemudian di hembuskannya lagi. “Tapi sekarang ... kalian terlanjur mengetahuinya. Maka aku akan mengatakan semanya dengan jelas. Dafi ... dia kekasihku! Jika memang Papa dan Mama ingin aku segera menikah, restui aku dengan Dafi. Sebab aku tidak akan menikah dengan lelaki lain selain Dafi.”   “Laura!’   “Restui aku menikah dengan Dafi atau aku akan keluar dari rumah ini.”   “Oh! Kepalaku.” Priyanti memegang kepalanya dramatis sampai perempuan itu jatuh di atas tempat duduk.   Tapi Laura bergeming, tidak tertarik sedikitpun untuk menolong sang ibu. “Jangan terlalu banyak drama, Mama tidak perlu berakting seperti itu karena sampai kapanpun aku tidak akan berubah pikiran.”   Laura mengatupkan rahang, seraya mengepalkan kedua tangannya. “Pikirkanlah baik-baik keinginanku jika memang kalian masih menganggapku anak atau ... sampai kapanpun kalian tak akan pernah melihatku menikah.” Ujar Laura kemudian beranjak seraya meraih lengan Dafi, membawa lelaki itu keluar.   “Minggir! Jangan halangi jalanku!” seru Laura saat dua orang yang menjemputnya paksa beberapa saat lalu menghalangi jalan.   Kedua orang itu menyingkir membiarkannya melangkah ke arah motor sport milik Dafi. Dafi kemudian memberinya sebuah helm sebelum menghidupkan motor tersebut.   Laura termenung. Memikirkan perbuatan impulsif-nya. Apa yang baru saja ia katakan? Bagaimana bisa ia mengaku-ngakui Dafi sebagai kekasihnya di depan kedua orangtuanya? Dafi pasti marah. Dafi pasti akan menganggapnya tak tahu diri, di kasih hati minta jantung.   “Tunggu apa lagi? Naik.”   Laura terjengit sesaat kemudian ketika Dafi memberinya kode, tanpa berpikir dua kali ia naik ke atas motor tersebut lalu memeluk pinggang Dafi lagi dengan erat seraya menyandarkan kepalanya pada punggung bidang lelaki itu. Rasanya lelah sekali ... dan bersandar adalah satu-satunya cara yang ia rasa paling tepat.   Sepanjang perjalanan mereka tak membuka suara sama sekali. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing yang begitu dalam. Laura benar-benar risau, pikirannya berkecamuk, bercampur bagaikan benang kusut yang sulit di urai kembali.   Sungguh, saat ini ia benar-benar takut menunggu reaksi Dafi. Ia takut Dafi benar-benar marah. Ia takut Dafi menjauhinya kembali, seperti dulu ... saat sepertinya lelaki itu menyadari ia memiliki perasaan lebih. Ia takut ... sungguh. Karena saat ini ia tidak memiliki siapapun di sisinya, kecuali Dafi.   “Maaf ... maafin gue Daf. Gue gak maksud bawa-bawa lo dalam masalah gue. Sorry banget ... .” ujar Laura dengan cukup kencang.   Dafi tak menjawab sama sekali. Lelaki itu hanya terus berkendara tanpa menghiraukan perkataannya. Laura menghela nafas lagi. rasanya percuma saja. Dafi mungkin tidak mendengar perkataannya atau mungkin berpura-pura tidak mendengarkan perkataannya karena terlanjur marah? Sebab Dafi benar-benar tak memberikan respon sama sekali.   Sampai ... tanpa di duga Dafi kemudian menghentikan kendaraannya didepan sebuah pedagang kaki lima. Ia kemudian turun, begitu pula dengan Dafi yang kemudian membuka helm lalu membantunya membuka helm juga.   “Gue tau gue ganteng. Gak usah liatin terus.”   Laura mengerjapkan mata seiring dengan wajahnya yang mulai memanas.   “Ayo. Duduk.” Ajak Dafi. “Mas batagor kuah dua.”   Laura duduk canggung di samping Dafi, memainkan jemarinya yang tampak pucat, berkeringat dingin, karena gugup yang ia rasakan.   “Hallo Bunda?”   Laura menoleh, menatap ke arah Dafi yang sedang melakukan panggilan.   “Gapapa Bun, Laura di sini.”   Tiba-tiba Dafi menoleh, menatap ke arahnya dengan tangan kanan yang terulur memberikan ponsel. “Bunda mau ngomong.”   Laura mengerjapkan mata lagi sebelum menerima ponsel tersebut.   “Hallo ... Bunda?”   “Nak ... kamu baik-baik sajakan? Apakah ada yang terluka?”   Dada Laura menghangat, desiran halus penuh kenyamanan perlahan merambat masuk, memenuhi relung dalam hatinya. Menyebar penuh haru hingga membuatnya tersenyum dengan mata yang mulai berkaca-kaca.   “Ara baik-baik saja Bunda ... terimakasih Bunda sudah mengkhawatirkan Ara.”   “Kenapa berkata begitu? Nak Ara ... anak Bunda. Tentu saja Bunda akan mengkhawatirkan kamu Nak. Jangan bersedih ... sekarang pulang ya?”   “Hng? Pulang?”   “Maksudnya pulang ke sini. Ke rumah Bunda.”   Laura lagi-lagi tersenyum penuh haru. “Ke rumah Bunda?”   “Hm ... ke sini. Ke rumah Bunda. Bunda tunggu di rumah ya? Kita masak bersama untuk makan malam.”   Rasanya ingin sekali Laura menangis. Bagaimana bisa ia merasa sangat di spesialkan justru oleh orang lain? Mengapa justru ia merasa begitu di hargai oleh orang lain? Ibu dari sahabatnya sendiri. Sungguh ... miris. Jika dibandingkan dengan Ibunya sendiri yang bahkan tak pernah memikirkan perasaannya.   “Nak Ara?”   “Iya Bunda ... Iya ... Nanti Ara pulang ke sana. Terimakasih Bunda ... .”   “Udah Bunda bilang kamu tidak perlu berterimakasih. Cukup datang ... kita makan bersama. Ya?”   Laura mengangguk dua kali. “Iya Bunda ... Iya ... .”   “Yasudah hati-hati di jalannya sayang ... .”   “Iya Bunda ... sampai nanti.” ujar Laura kemudian memberikan kembali ponsel tersebut ke tangan Dafi.   Bertepatan di waktu yang sama makanan pesanan mereka tersaji, membuat suasana semakin hening, bahkan saat menyantap makananpun Laura sangat berhati-hati, tanpa mengeluarkan bunyi sama sekali. Sesekali Laura menghembuskan nafas, sesekali lagi mencuri pandang ke arah Dafi yang tengah menikmati makanan dalam diam. Membuatnya semakin merasa canggung dan serba salah.   “Daf sorry.”   “Buat?”   Laura menunduk. Menghindari tatapan Dafi. “Tadi.”   “Maksud lo?”   Laura semakin menundukkan kepalanya. Takut dengan respon Dafi yang begitu datar. Ia menggigit bibirnya sesaat sebelum menghembuskan nafas, lalu menjawab dengan suara kecil. “Tentang di rumah.”   “Oh. Gak usah di bahas. Gue tau kok lo cuma berusaha keluar dari masalah lo. Gue cukup ngerti.”   Suasana menjadi hening kembali. Tak ada percakapan lain sampai makanan yang mereka santap tandas tak bersisa.   Dafi kemudian bangkit dari tempat duduknya, menghampiri si penjual mengambil minum lagi untuk mereka. Sementara Laura masih mematung, diam di tempat dengan kepala yang terus berpikir. Keluar dari masalahnya tanpa menimbulkan masalah. Kepalanya terus berputar hingga pada akhirnya ia merasa pikirannya buntu. Tak bisa berpikir jernih lagi karena sebenarnya ia tahu orangtuanya tak akan menyerah membuatnya menikah tahun ini. Mereka pasti akan melakukan segala cara, memaksanya sampai ia mengikuti keinginan mereka.   Akan tetapi ... demi apapun! Ia tak ingin menikah dengan Deon. Ia tak ingin menikah dengan lelaki problematik itu!   “Minum Ra. Jangan ngelamun terus.”   Laura mendongak menatap Dafi yang tengah meneguk minumannya dengan lamat. Beberapa saat kemudian matanya mengerjap, bergulir, bergerak dengan cepat, panik ketika sebuah pikiran gila melintas dalam benaknya.   Jadikan Dafi benar-benar menjadi suamimu Laura. Kau pasti akan keluar dari masalahmu.   Jangan berpikir gila Laura! Jangan! Bagaimana jika Dafi justru membencimu? Ingat masa lalu!   Jangan terpengaruh. Jangan menyerah sebelum berperang. Setidaknya kau harus mencoba agar tahu hasil yang akan kau dapatkan Laura.   Laura menghembuskan nafasnya, ia mengalihkan pandangannya sesaat sebelum menatap ke arah Dafi lagi.   “Dafi.”   “Hm. Kenapa?”   Laura menatap Dafi seraya mengeratkan genggaman pada gelas teh hangat di tangannya. mengumpulkan kekuatan dan keberanian untuk membuka suara. “Lo masih butuh modal buat ngembangin bengkel lo gak Daf?”   Dafi terkekeh kecil. “Bukan butuh lagi, masih banyak. Kalo lo ada kerjaan part time boleh juga.”   Bibir Laura mendadak terasa kering, ia membasahinya sesaat sebelum meneguk ludah kasar. “Ada. Gue ada kerjaan yang cocok buat lo. Gampang dengan hasil yang banyak.”   “Apa?”   “Jadi suami gue.”   Dafi menatapnya dengan cepat kemudian terkekeh perlahan. “Ngide banget lo Ra. Jangan bercanda. Gak lucu. Gue butuh kerjaan beneran. Lo tahu sendiri keadaan gue kan?”   “Gue gak bercanda Daf. Gue serius.” Laura menatap iris mata Dafi begitu dalam. “Gue janji kasih lo duit berapapun sebagai gaji pokok yang penting lo jadi suami gue.”   Laura menatap Dafi yang masih menatapnya dengan datar, tanpa memberikan reaksi apapun. Seolah yang ia katakan tak ada artinya. Tapi Laura tak menyerah. Sampai kemudian ia membuka suara lagi.   “Sebagai tambahan kalo lo jadi suami yang baik buat gue, gue akan kasih komisi. Apapun dan berapapun yang lo mau.”   ***   Kerisauan kembali melanda hati Laura, tak hanya itu. Gugup dan takut pun bercampur menjadi satu menyisakan rasa tak menentu dalam benaknya. Setelah ia mengatakan semua yang akan ia berikan, Dafi belum memberinya tanggapan positif sama sekali. Lelaki itu bahkan tak membuka mulut. Dia tak memberinya respons sama sekali. Dia hanya mengajaknya pulang, lalu melakukan perjalanan tanpa ada suara. Tak hanya itu, setelah mengantarnya dan memastikannya masuk ke dalam rumah, Dafi pergi kembali, dan tak juga pulang hingga larut malam tiba. Ia pikir Dafi akan pulang saat makan malam, tapi nyatanya sampai detik ini lelaki itu belum juga menampakkan batang hidungnya.   Laura meremat gaun malamnya, lalu menatap gusar ke arah jam dinding. Sudah jam sebelas malam tapi Dafi belum juga menampakkan tanda-tanda akan datang. Pikirannya mulai berkecamuk. Takut jika Dafi akan meninggalkannya lagi seperti dulu. Apakah mungkin Dafi marah padanya? Mungkinkah Dafi berpikir ia terlalu merendahkannya?   Padahal sungguh. Sedikitpun, ia tak pernah berpikir seperti itu. Ia hanya terlalu kalut, dan bingung. Ia tak tahu cara yang benar untuk mengajak Dafi berbicara masalah seserius itu.   Laura kembali melihat ke arah pintu, berharap Dafi yang ia tunggu segera datang.   . . .   Sementara itu Dafi masih berada di bengkel bersama dua orang karyawan yang sedang merapihkan peralatan. Sebelas dua belas dengan Laura, Dafi pun sedang berpikir keras. Lelaki itu sejak datang ke bengkel hanya duduk di bangku, mengamati montirnya bekerja dengan tatapan kosong dan pikiran melanglang buana.   Sejujurnya, Dafi terkejut. Ia tak pernah menduga Laura akan mengajaknya penikah dengan cara seperti itu. Ia pikir semuanya akan cukup dengan mengakuinya saja sebagai kekasih. Tapi sepertinya ... Laura belum merasa cukup hingga perempuan itu mengeluarkan sebuah ide gila.   “Bos gak pulang?”   Dafi menoleh ke arah karyawannya itu lalu menggeleng kecil. “Kalian duluan saja. Saya akan pulang nanti.”   “Baiklah. Bos kami pulang lebih dulu.”   Dafi bergumam kecil menanggapi keduanya.   Sepeninggal dua karyawannya itu, ia kembali termenung, dengan kedua sikut yang bertumpu di atas lutut, juga tangan yang menyangga kening, menunduk, berpikir begitu keras. Bagaimana pun ia sudah berjanji pada Laura, ia akan menjaga perempuan itu dengan baik. Tapi dengan cara menikahinya? Apakah jalan terbaik?   Dafi memejamkan mata, semakin menyelami isi kepala terdalamnya. Menggali setiap sudut pikirannya, mencari jalan keluar terbaik. Detik demi detik berlalu, menit demi menitpun berlalu tanpa terasa. Hingga beberapa saat setelah itu barulah Dafi mengangkat kepala, bangkit dari duduknya kemudian tanpa berpikir dua kali ia beranjak, berlalu meninggalkan tempat itu dengan motor kesayangannya.   . . .   Derap langkah kaki terdengar menggema, memecah keheningan malam yang menemani Laura. Ia menegakkan posisi duduknya, segera menoleh menatap ke arah pemilik langkah kaki itu. Dafi ... yang baru saja sampai.   “Dafi ... .”   “Ra kok lo belum tidur?” Dafi memelankan langkah, berbelok, berjalan ke arahnya.   “Gue ... .” Laura meneguk ludahnya kasar. “Gue ... Daf ... gue ... .”   Dafi menghembuskan nafas kemudian menyentuh kedua bahunya, “Duduk Ra. Kita harus bicara.”   Laura semakin tegang, ia meneguk ludah kasar saat mendengar suara Dafi yang terasa begitu mengintimidasinya. "Dafi. Tentang tadi siang, gue—.”   “Oke. Gue setuju.”   “Hah?”   “Dengan satu syarat.”   Laura menatap Dafi yang menatapnya dengan tatapan dingin. “Apa?”   “Lo bilang akan kasih gue komisi, apapun kan?”   Laura mengangguk dengan hati-hati. Jantungnya mulai berdebar kencang, ketika gugup yang berada dalam hatinya mulai menginvasi. Terlebih saat tatapannya bertemu dengan tatapan datar Dafi yang terasa begitu dingin. Hingga ia tak dapat membaca isi hati lelaki itu. Apa yang dia inginkan? Kenapa menatapnya hingga seperti ini?s   “Gue mau anak dari lo sebagai komisi yang gue dapetin.”   Mata Laura terbelalak. “Apa? Anak?”   Dafi mengangguk kecil. “Anak, gue cuma mau itu sebagai komisi. Sekarang semuanya kembali lagi ke lo. Pikirkan baik-baik, gue tunggu jawaban dari lo secepatnya.”      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD