Part 20

1736 Words

“Aku baik-baik saja Dafi sungguh ... aku tidak merasakan apapun. Wajahku pucat mungkin karena tadi belum memakai riasan saja dan terlalu banyak bergadang. Itu saja.”   Dafi bergeming, lelaki itu masih diam dengan iris mata yang memindai wajahnya dengan tatapan dingin. Tanpa ada ekspresi yang berarti, bahkan tidak tampak ada kekhawatiran dalam iris tajam itu. Tapi kedua tangan lelaki itu masih merengkuh bahunya dengan erat, seolah tidak mengijinkannya untuk beranjak pergi.   “Daf ... .”   “Fine. Kamu bisa kerja, biar aku antar.”   Mata Laura mengerjap, kemudian mengerutkan kening. “Yakin kamu antar? Bukannya kamu bilang hari ini kamu sangat sibuk? Aku bisa nyetir sendiri atau panggil supir kalau kamu khawatir.”   Dafi tidak memberi tanggapan selama beberapa saat, tapi kemudian lel

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD