'Tunggu aku uncle, nanti jangan lewatkan sesuatu yang manis dan panas tentunya❤' begitulah pesan singkat yang di kirimkan Valen pada paman kesayangannya.
"Gadis gila."
Devan melonggarkan setelan dasinya yang bertengger di leher tegasnya karena merasa panas, ia sudah bersyukur dengan dipindahkannya Valen ke London namun kini ia harus berusaha mati matian untuk menahan segala sesuatu yang ia rasakan jika sudah bertemu dengan gadis nakal itu.
Simpan saja omong kosongmu itu Carl.
Belum genap satu menit gadis itu sudah menjawab pesan dari Paman kesayangannya itu.
'Uh kau semakin menantang uncle, aku suka. Tunggu aku di jam istirahat okey ma love'
Devan mengacak rambutnya kasar, harus dengan cara apa agar ia mampu membuat gadis itu diam tak berkutik di hadapannya? Gadis itu tak hanya liar ia tidak takut akan sesuatu bahkan ia menyukai segala sesuatu yang lebih menantang.
"Arghh.... Kau akan membuatku benar benar gila Carl."
Devan mengumpat dalam hati, menahan segala gejolak yang ditimbulkan setiap kali ia bertemu dengan gadis nakal itu.
❄❄❄❄
"Kau sedang memperhatikan apa nona Valen? Semenarik itukah yang ada di bawah sana sampai kau tidak memperhatikan pelajaran yang sedang saya terangkan."
Valen mendongak menatap arah suara wanita yang sudah di yakininya sebagai sosok guru menyebalkan itu, Valen mengangkat kedua alisnya.
"Oh tentu saja, untuk apa memperhatikan pelajaran yang membosankan huh? Tanpa belajar kupastikan aku akan terus naik kelas camkan itu."
Balas Valen datar.
"Keluar dari....
" terimakasih aku sangat senang menerima perintah and miss."
Valen bangkit dari tempat duduknya untuk melangkah pergi meninggalkan kelas yang membosankan itu.
"Ada yang ingin seperti dia lagi."
Bentak guru itu pada siswa yang lain.
"Tidak miss."
Valen yang kini sudah berada di luar kelas merasa semakin bebas berkeliaran, otaknya memutar untuk menentukan arah tujuan yang akan ia datangi sekarang dan.....
"Oh my uncle pasti sudah menunggu."
Ucapnya dengan seringai nakal andalannya.
Kaki mulus itu mulai menapak satu demi satu anak tangga, mengarahkan kaki jenjangnya ke ruangan yang bertuliskan Kepala Sekolah yang tentunya privat room.
"Good Morning my hubby."
Ucap gadis itu saat membuka pintu ruangan Devan.
Mata Devan membulat sempurna saat melihat gadis nakal itu sudah ada di ambang pintu ruangannya, Devan meneguk salivanya beberapa kali saat melihat baju seragam Valen yang sengaja ia ikat sebatas pinggang sebelum ia masuk.
"Ah uncle aku rindu padamu, kau tau padahal kita baru saja bertemu tadi pagi."
Oceh Valen sambil melangkah ke arah Devan yang tengah santai di sofanya.
"Carl kau membolos, aku akan melaporkan ini kepada ayahmu."
Ancam Devan.
"Uhh aku takut."
Valen tertawa hambar mendengar ancaman paman tersayangnya itu, bukan merasa takut sungguhan gadis itu malah langsung mendudukan dirinya di pangkuan Devan.
"Carl hentikan."
Desis Devan marah.
"Kenapa hm? Aku bahkan hanya duduk tidak sedang menggoyangnya sedikitpun."
Goda Valen lagi, hal itu sukses membuat Devan makin sulit menahan gairahnya pada keponakannya sendiri meskipun bukan keponakan kandungnya.
"Jangan bermain main Carl, kalau aku sudah bertindak kau akan tau akibatnya."
Balas Devan sambil menyeringai tajam, mata Valen berbinar.
"Ah aku bahkan sudah menunggu hal itu uncle."
Ujarnya dengan mengeratkan pelukannya di leher Devan.
"Ayo lakukan."
Bisik Valen tepat di telinga Devan membuat sang empunya menegang.
"Carl stop it."
Devan masih mencoba menahan gejolak aneh yang selalu ia rasakan jika berada di dekat Valen dengan sisa sisa tenaganya.
"Ah baiklah aku paham uncle tidak akan mau melakukan itu disini bukan? Tapi kuharap yang ini bisa."
Valen mulai menempelkan bibir sexynya ke bibir Devan, melumatnya dengan lembut dan sesekali menuntut. Devan menolak ciuman Valen namun lama kelamaan sisi liarnya bangkit dan menambah panas ciuman itu. Devan menarik tengkuk Valen, ia memperdalam ciumannya Valen yang melihat reaksi Devan hanya tersenyum kecil di dalam ciuman mereka.
Valen menarik nafasnya dalam ketika ciuman mereka berakhir, ia tersenyum penuh kemenangan memandang Devan yang kini tengah mengeras di bawah sana.
"Ups apa aku membangunkannya?."
Devan menggeram kesal mendengar penuturan Valen yang membuatnya turn on.
"Carl jangan sampai aku membuatmu melepas seragam disini."
Ucap Devan mengancam lagi, Valen terkekeh hambar.
"Haha aku menyukai cara bicaramu yang frontal itu uncle, you are so cute now."
Devan mendesis, semua kata katanya selalu mendapat jawaban dari bibir gadis nakalnya itu.
"Kembali ke kelasmu Carl."
Perintah Devan padanya, Valen menggeleng.
"Aku tidak mau, aku ingin tidur disini."
Pernyataan Valen sukses membuat Devan tercengang.
"Tapi uncle jangan sampai meniduriku disini, nanti saja ya dirumah kan sepi."
Valen menggoda Devan lagi tangannya terulur menyentuh rahang tegas milik Devan.
"Terserah apa katamu anak nakal."
❄❄❄❄