Valen menggeliat meregangkan otot otot di tubuh sexynya itu, dengan tampang wajah wajah bantal ia merapikan seragamnya yang sedikit berantakan. Ia melihat ruangan ini dengan seksama namun tidak menemukan Devan sama sekali, Valen langsung pergi meninggalkan ruangan Devan. Ketika ia membuka pintu ruangan, semua guru melihatnya dengan tanda tanya besar. Bagaimana tidak merek melihat Valen dengan seragamnya yang berserakan, wajah khas orang bangun tidur dan yang sudah pasti mengapa ia keluar dari ruangan kepala sekolah?
Valen menatap datar guru guru itu, ia tidak ingin mengambil pusing dengan meladeni mereka terlebih lagi ia melihat mata Sintha hampir copot ketika melihatnya dalam keadaan begitu.
"Apa?! Ada yang aneh ha?! Jangan menatapku seperti itu."
Bentak Valen tegas, semua guru yang ada disana hanya memasang wajah tidak percaya bagaimana ada siswa yang berani membentak gurunya sendiri.
"Jaga ucapanmu Valen! Kau itu murid baru disini."
Desis Sintha dengan sinis.
Valen menyuguhkan senyum miringnya, bahkan ia mentap Sintha dengan tatapan meremehkan.
"Well siapa peduli, jangan mengurusiku miss urusi saja dandananmu itu."
Valen langsung pergi meninggalkan ruangan yang dipenuhi orang orang pintar atau lebih tepatnya sok pintar itu.
Dengan jalannya yang angkuh Valen memasuki kantin yang tengah di padati oleh siswa siswi seantero sekolah, dengan tampilan yang mencolok Valen menjadi pusat perhatian siswa lain apalagi bagi para siswa yang sudah dipastikan jenisnya laki laki.
Valen tidak mau meladeni mereka yang sesekali bersiul ria menggodanya, menurutnya tidak ada yang semenggoda Devannya. Bahkan bagi Valen sebelum Devan bergerak pun ia sudah bisa merasa godaan yang datang dari pria itu, pria yang ia sebut uncle.
"Valen!."
Valen menoleh ketika ia mendengar suara yang sudah tak asing lagi baginya, sesaat kemudian bibirnya mencetak senyum tipis senyuman yang menunjukkan kerinduan pada teman lama.
"Hallo badgirl."
Sapa Valen dengan ciri khasnya.
"Ah apa patut seorang badgirl berteriak badgirl?."
Gadis itu terkikik melihat ekspresi temannya yang kelewat datar namun mampu menggoda siapapun yang melihatnya.
"Oke oke aku memang buruk Zee, lalu kenapa aku baru melihatmu?."
Valen meneguk jus mangganya sambil sesekali melirik anak anak lain yang sedang menatapnya dengan Zeesya.
"Aku ada sedikit urusan dengan kakak kelasku tadi."
Ungkap Zee sambil terkekeh, Valen tau maksud dari gadis di sampingnya itu apalagi kalau bukan mencari suasana panas di tengah kelas yang panas.
"Kebiasaan huh?."
Tanya Valen.
"Ayolah kulihat tadi Devan terlihat sedikit frustasi, apa itu ulahmu."
Valen tersenyum tipis mengingat kejadian panas tadi.
"Tidak, bahkan aku hanya memainkan lidahku saja kau tau."
Jawab Valen jujur.
"Yaya aku paham kau memang selalu bisa membuat pria manapun merasa frustasi bahkan hanya dengan memandang tubuhmu saja."
Aku Zeesya jujur, Valen terkekeh pelan menanggapi omongan sahabatnya itu.
"Kurasa bicaramu terlalu berlebihan Zee."
Timpal Valen merendah.
"Oh ayolah aku sudah mengenalmu lebih dari kata cukup lama Valen."
Benar, Zeesya dan Valen sudah saling mengenal cukup lama dari mulai mereka masih menempati bangku sekolah dasar. Valen dan Zeesya dulu juga satu sekolah di London namun Zeesya memutuskan untuk kembali ke Indonesia satu tahun lebih cepat dibandingkan Valen, karena ada masalah yang memang harus mereka selesaikan.
"Omong omong tentang dia, apa sudah ada perkembangan?."
Tanya Valen pada Zeesya yang tampak sibuk mengedipkan mata pada para siswa pria di sekelilingnya.
"Ah tepat, aku sudah menduga kau akan menanyakannya. Kita akan membahas ini nanti di tempat biasa oke."
Jelas Zeesya lagi.
"Baiklah, kembali ke kelas."
Zeesya mengangguk lalu mereka mulai pergi meninggalkan kantin yang masih ramai di jajahi oleh segerombolan anak anak yang lain
❄❄❄❄
"Dev."
Devan memandang pintu ruangannya yang terbuka dan menampilkan wanita cantik seumurannya itu, Devan hanya tersenyum tipis menanggapi wanita itu.
"Ada apa Tha?."
Tanya Devan to the point.
Sintha tersenyum manis lalu berjalan ke arah Devan yang sedang meregangkan ototnya.
"Siapa gadis itu."
Devan mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan Sintha padanya.
"Maksudmu Valen?."
Sintha mengangguk mantap.
"Dia keponakanku."
Balas Devan jujur.
"Oh ayolah Dev, aku bukan wanita bodoh. Bagaimana mungkin seorang keponakan bisa bersikap layaknya w*************a pada pamannya."
Cibir Sintha, Devan memandang Sintha dengan tajam.
"Jangan menyebutnya seperti itu Tha, dia keponakanku dan kau tau dia adalah anak manja jadi wajar jika dia selalu dekat denganku."
Jelas Devan tegas, Sintha tertawa hambar ia tau bagaimana gelagat gadis itu.
"Dave aku tidak buta, kau sampai mengabaikanku bukan?."
Devan mendengus, ia tidak percaya Sintha sampai berfikir sejauh itu.
"Dengar, kita bahkan tidak punya hubungan apapun jadi jangan bicara seolah olah aku dan dirimu memiliki hubungan special."
Cecar Devan tepat di depan wanita itu.
Sintha mendesis, mendengar jawaban Devan yang sangat menyakiti hatinya.
"Aku akan membuat kita memiliki hal itu."
Ucap Sintha mantap.
"Tidak, aku tidak akan pernah bisa."
Jawab Devan, bagaimana pun caranya meski ia sudah mencoba untuk membuka hati tetap saja di pikirannya hanya ada gadis nakalnya. Meskipun ia berkilah tidak menyukai Valen, namun dalam hatinya berbeda jauh. Devan tidak ingin merusak Valen untuk saat ini, ia akan menunggu waktu yang pas untuk memulai sebuah hubungan special dengan gadis nakalnya itu.
"Karena dia?."
Tuduh Sintha lagi.
"Kau seharusnya tidak perlu bicara jika kau sudah tau."
Balas Devan tajam.
❄❄❄❄