Saat ini Valen sedang menikmati sentuhan nyaman dari ranjang kesayangannya, mengistirahatkan tubuhnya yang sudah sangat lelah.
Setelah dirasa cukup gadis itu bangkit dari kasurnya menuju kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya yang sudah mulai lengket.
20 menit di dalam kamar mandi, Valen keluar dengan handuk yang melilit tubuh indahnya itu. Valen melangkah menuju walk in closet, untuk mencari pakaian rumahannya.
Tok tok tok
"Carl buka pintunya, ada kiriman untukmu."
Valen mengangkat satu alisnya, kiriman?
"Oh astaga benda itu."
Valen segera lari untuk membuka pintu kamarnya, bahkan ia sampai tak sadar saat ini ia hanya mengenakan handuk untuk menutupi bagian tubuhnya.
"Kemarikan."
Ucap Valen sambil mengambil paket yang ada di tangan seseorang dan....
Damn, apa ini suatu kebetulan batin Valen sambil menyeringai nakal.
Valen dengan sengaja keluar dari dalam pintu kamarnya sedikit lebih mendekat ke arah seseorang tadi, siapa lagi orang itu kalau bukan Devan.
"Kenakan bajumu gadis nakal."
Devan memalingkan wajahnya dari hadapan tubuh Valen, sedangkan Valen tersenyum tipis.
"Ups, aku lupa aku baru selesai mandi uncle, dan karena paket ini aku jadi bersemangat sampai lupa kalau aku masih memakai handuk."
Kilah Valen dengan tenang, Devan kini tengah mati matian menahan dirinya ketika melihat tubuh Valen yang terekspos.
"Hm, kembalilah ke kamarmu."
Balas Devan datar, dalam hati dia mengumpat kesal, bagaimana mungkin dia akan bertahan jika keponakannya selalu saja berperangai seperti itu.
"Ah sayang sekali tubuhku yang indah ini tidak mendapat tatapan dari hot uncleku."
Goda Valen sambil memilin ujung handuknya.
"Aduh handukku hampir jatuh."
Devan mendesis kesal melihat kelakuan keponakannya yang semakin hari semakin jadi.
"Stop it Carl, kau harus ingat aku ini masih normal."
Ujar Devan dengan penekanan.
"Ya mungkin aku bisa mengatakan begitu, tapi nyatanya uncle bahkan tidak tertarik denganku."
Ingin sekali Devan menggigit bibir sexy Valen saat ini juga, kata kata Valen sangat membuat harga dirinya sebagai seorang pria anjlok.
"Karena kau keponakanku." ucap Devan beralasan.
"Well, siapa peduli dengan itu."
Jawab Valen santai.
"Pakai bajumu atau aku akan memakaikannya."
Ancam Devan tegas, bukannya ketakutan gadis itu malah semakin terlihat kesenangan.
"Ah benarkah uncle bersedia?."
"Arghh... Masuk Carl masuk."
Devan mendorong tubuh Valen kedalam kamarnya dan segera menutupnya dari luar, Valen tertawa lepas ketika melihat ekspresi Devan yang sangat menahan gairahnya.
"Uncle kuharap kau jangan sungkan sungkan jika kau ingin memintaku menolongmu saat bermain sabun."
Teriak Valen dari kamarnya, Devan mendesis kesal merutuki tubuh Valen yang begitu indah.
❄❄❄❄
"Selamat datang nona."
Gadis yang disapa nona itu hanya menganggukkan kepala tanpa ingin mengeluarkan suara untuk membalas sapaan anak buahnya.
Gadis itu memasuki sebuah mansion mewah miliknya, yang dijadikannya sebagai tempat berkumpulnya para anggota gangsternya.
"Wow kau terlambat 10menit Queen."
Valen menatap datar seseorang yang baru saja mengomentari kedatangannya.
"Apa aku perlu mengingatkanmu Chase siapa aku disini?."
Tanyanya dengan tenang namun mengandung penekanan disana, pria itu langsung menunjukkan deretan gigi putihnya memang Valen sangat sulit di ajak bercanda.
"Oh ayolah Queen, aku hanya bercanda kenapa kau terlalu serius."
Imbuh Chase lagi.
"Aku tidak suka bercanda, hal itu hanya akan membuang buang waktu berhargaku."
Jawab gadis itu singkat, lalu ia segera duduk di kursi kebesarannya.
"Ah Valen.... Sudah datang ternyata."
Ya gadis yang mendapat julukan Queen itu adalah Valen, Valen tersenyum tipis ke arah Zeesya.
"Langsung saja Zee."
Titah Valen tidak sabar, dari awal dia memang seseorang yang tidak suka berbasa basi.
"Kau sangat bersemangat ternyata Queen."
Kekeh Zeesya sambil duduk di sofa, Zeesya mulai membuka pembicaraan.
"Aku sudah mengirim tim Marvel, hasilnya cukup memuaskan."
Jelas Zeesya sambil memainkan jari jari lentiknya, Valen menyeringai sengit. Saat ini di dalam otaknya hanya ada seseorang itu, ia sudah sangat tidak sabar untuk membuatnya merasakan sakit sesakit sakitnya.
"Bagus, aku ingin kalian membuat dirinya kesulitan dalam segala hal. Jika kalian bisa maka buatlah dia merasa sulit mendapatkan oksigen di bumi, tapi ingat jangan sampai kalian membunuhnya karena itu adalah bagianku."
Tegas Valen sambil memperlihatkan senyuman yang nampak cantik bagi orang lain namun menakutkan untuk para musuhnya.
"Itu pekerjaan mudah Queen, jika kau ingin aku bisa membuatnya kehabisan stok oksigen sekalipun."
Kekeh Zeesya.
"Tidak, cukup kerjakan perintahku yang itu tanpa menambahi embel embel yang lain. Kalian paham?."
Semua anak buahnya mengangguk mengerti, Valen sudah menanamkan dendam sejak pertama kali pria itu berani membuatnya terpuruk. Dia bersumpah akan membuat pria itu mati karena Valen sangat membencinya, orang yang sudah membuatnya mengenal dunia hitam yang disebut sebut sebagai surga dunia. Itulah mengapa Valen bisa berubah menjadi seorang badgirl yang sexy, bahkan bisa menggoda siapapun. Pria itu yang sudah membuat masa depannya hancur, namun juga ketagihan akan hal hal semacamnya.
"Aku paham, dan soal Horan dia kembali membuat kerusuhan."
Kini Chase yang bersuara.
"Horan? Dia kenapa."
Tanya Valen datar.
"Ingin kembali kemari."
Jujur Chase, Valen menaikan satu alisnya.
"Dasar pria gila, katakan padanya jangan kembali sampai aku yang mencabut hukumannya."
Perintah Valen, Chase mengangguk paham.
"Kurasa aku harus pergi, calon kekasihku pasti sudah menunggu."
Zeesya terkekeh mendengar penuturan Valen, siapa lagi yang di anggap calon kekasihnya kalau bukan uncle kesayangannya.
"Buat dia paham bagaimana rasanya puas Len."
Ucap Zeesya sambil menahan tawanya, berbeda dengan Valen yang senang menggoda Devan, Zeesya lebih senang menggoda sahabatnya yang kaku itu.
"Oh C'mon aku tidak akan memulai duluan Zee, aku hanya mencoba membuatnya untuk memulai."
Tanggap Valen, kini tawa Zeesya sudah tidak bisa ditahan lagi. Valen ingin sekali mematik api di dalam diri Devan.
"Pulang lah Len, aku sakit perut."
Ucap Zeesya sambil tetawa, Valen mematap Zeesya kesal.
"Apa perlu ku ingatkan, Mansion ini milik siapa?."
Sargas Valen menyindir Zeesya.
"Oke baiklah baiklah maafkan aku."
"Aku pulang, ingat tugas kalian."
Mereka mengangguk, Valen langsung bergegas pergi sebelum hari mulai petang.
❄❄❄❄