Keesokan paginya, Vana terbangun dengan keadaan yang nyeri. Kepalanya terasa pusing seperti orang yang baru saja hangover. Namun, jelas-jelas dia tidak pernah minum, bahkan menyentuh barang haram itu saja tidak pernah.
Keningnya mengernyit kala merasakan beban berat di atas perutnya. Dipaksakan matanya untuk terbuka dan tepat saat itu juga dia membelalak melihat wajah Sean, sang atasan berada tepat di sampingnya. Refleks, dia menendang pria itu hingga terjatuh.
“Argh!” teriak Sean di bawah sana.
Vana tidak peduli. “Apa yang bapak lakukan di kamarku? Dan, kenapa aku bisa seperti ini?” Vana menjerit sambil berusaha menutupi tubuhnya yang polos. Dia mundur tanpa memedulikan bagian bawahnya yang terasa nyeri ketika digerakkan.
Pria itu bangun, lalu berdecih tanpa malu jika kini dia sedang tak mengenakan sehelai benang pun. Vana berpaling dengan perasaan malu dan juga takut. “Pergi! Pergi dari kamarku!” teriaknya lagi dengan bibir bergetar.
Bukannya pria itu pergi, melainkan tawa mencemoohlah yang Vana dengar. “Seharusnya aku yang bicara seperti itu, bukan kamu, Vana. Apa kamu lupa, jika semalam baru saja memperkosaku?”
“Apa kau gila?”
“Hah? Siapa? Aku gila?” Sean tertawa begitu puas. Pria itu lalu menunjuk Vana dengan mata menyorot sinis. “Kamu yang gila karena sudah berani menggodaku!” tuduhnya.
“Apa?” Vana menatap Sean dengan sorot mata tak percaya. “Saya gak segila itu untuk memperkosa seorang lelaki yang bisa dengan mudah membanting lawannya, Pak. Jadi, jangan Anda mengira saya bodoh–”
“Kamu bisa cek video ini!”
Pria itu lalu melempar tab ke atas ranjang. Vana yang penasaran, lalu melihat layar tersebut yang sedang menayangkan betapa agresifnya dirinya berada di atas tubuh seorang lelaki. “Gak mungkin!” Dia langsung melempar tab itu.
Sean menyeringai. “Kamu bisa membuang Tab itu, tapi saya punya file simpanannya, Van. Jadi, kamu gak bisa ngelak lagi. Kamu harus menikah dengan saya sebagai pertanggung jawaban kamu!”
“b*****t!” Vana mengumpat tidak terima. Sambil memeluk selimut itu, dia menatap punggung Sean yang berlalu meninggalkannya, lalu berkata dalam hati, “Gue bakalan benci lo seumur hidup gue, Sean!” janjinya.
***
Vana pulang ke rumah dengan keadaan kepala hampir pecah. Masalah itu tidak mungkin dia ceritakan kepada Angga ataupun ibunya. Dirinya harus bersikap biasa saja agar tidak ada orang lain yang curiga. Beruntung ketika dia pulang, keadaan rumah sepi. Kedua adiknya sudah berangkat sekolah, dan kuliah, sedangkan ibunya bekerja.
Dia pun memilih langsung ke kamar dan membuat surat resign dan mengirimkan emailnya ke bagian HRD. Dia tidak peduli bagaimana tanggapan Sean, ataupun rekan kerjanya yang lain. Dia sudah tidak sudi satu tempat kerja dengan b******n seperti Sean.
Vana masuk ke dalam kamar mandi, lalu melepaskan baju semuanya. Dia terduduk terdiam di bawah pancuran, membiarkan air dingin itu membasahi kulitnya yang putih. Namun, ekor matanya menatap sengit bekas kissmark di bagian lengan, d**a, hingga di tempat lainnya.
Dia lalu menggosok kulitnya itu dengan keras, mengumpat, menangis hingga suaranya serak. Setelah sekian lama bekas itu sama sekali tak bisa hilang, justru kulitnya malah lecet, bahkan ada yang mengeluarkan darah saking kerasnya Vana menggosoknya.
“Bagaimana ini sekarang? Aku gak bisa menghadap Mas Angga dalam kondisi seperti ini? Aku takut, aku takut kalau dia gak bakalan mau menikahi gadis yang sudah disetubuhi oleh pria lain.” Vana memeluk dirinya, menangis lagi dengan tergugu.
Dia jijik dan merasa kotor sekarang. Dia bukanlah Vana Mulya Jayadi lagi yang bisa membanggakan diri masih gadis karena kini, dirinya sudah kehilangan mahkota itu. Dan, yang lebih mengenaskan adalah, orang yang mengambilnya bukanlah Angga, calon suaminya, melainkan Sean.
Entah berapa lama dia berada di dalam kamar mandi, tetapi saat dirinya keluar keadaan kamarnya sudah gelap. Ternyata sudah pukul 6 sore. Dia meringis. “Pantas saja,” gumannya tak bertenaga.
Dia berjalan menuju lemari dan mengambil pakaian, memakainya dengan sedikit hati-hati. Kulitnya yang tadi dia gosok, lecet hingga terasa perih ketika terkena gesekan. Dia duduk di depan meja rias, menyisir rambutnya dengan tatapan kosong.
Perutnya sudah keroncongan, tetapi dia tak berniat untuk memasukkan sedikit pun makanan, ataupun air untuk mengganjalnya. Dia memilih untuk menyembunyikan dirinya di bawah selimut. Kepalanya terlalu berat untuk berpikir. Yang dia butuhkan sekarang hanyalah tidur.
Ketika dia sudah bersiap untuk menjemput mimpi, suara ketukan pintu membuatnya terbangun. Vana terdiam untuk beberapa saat sebelum suara ibunya terdengar. Dengan berat hati, dia melangkah menuju pintu dan membukanya.
“Ada apa, Bu?” tanya Vana berusaha bersikap biasa saja.
“Itu, ada Nak Angga di depan.”
Jantungnya terasa diremas oleh sesuatu yang tak kasat mata. Dia ingin menangis, tetapi dia tidak boleh melakukan itu. Vana berusaha untuk mencari alasan. “Bu, bilang sama Angga, aku gak bisa menemuinya. Soalnya aku malu,” ujarnya sambil menundukkan kepala.
Bahunya ditepuk oleh ibunya. “Gayamu, Van. Kemarin aja ibu larang, kamu gak nurut. Giliran sekarang aja sok-sokan malu,” cibir ibunya.
Vana mengintip belakang bahu ibunya, lalu menarik lengan si ibu, menggoyangkannya bak anak kecil. “Kan, ibu bilang jika pengantin itu harus dipingit biar pangling. Jadi, bilang sama Mas Angga, kalau ketemuannya pas hari H aja,” ujarnya tersenyum malu.
Ibu terkikik, lalu menepuk bahu Vana lahi. “Yaudah, ibu bilang ke Nak Angga, kalau calon istrinya itu lagi dipingit.”
Vana tersenyum, lalu memeluk ibunya. “Makasih, Ibu. Sayang banyak-banyak sama ibu.”
“Giliran kayak gini aja sayang-sayangan.” Ibunya mencibir, tetapi tetap mengusap wajah Vana.
Vana lalu mengikuti ibunya dari belakang, bersembunyi di balik tembok ruang tamu untuk mendengarkan ibunya dan suara calon suaminya.
“Maaf, Nak Angga. Vananya gak bisa ketemu. Katanya sih, besok aja pas hari pernikahan.”
“Tapi, Vana baik-baik aja, kan, Bu?”
“Alhamdulillah baik, kok. Cuma calon istrimu itu lagi dipingit, makanya selama satu minggu ini gak bisa ketemu sama kamu.”
“Syukurlah. Kalau begitu, tolong sampaikan salamku buat Vana yah, Bu. Assalamualaikum.”
Perut Vana terasa melilit, seperti ada yang sedang memelintirnya di dalam. Sakit, hingga tanpa sadar air matanya kembali jatuh. Namun, segera dihapus supaya ibunya tidak menyadarinya. “Maafkan aku, Mas. Aku melakukan ini karena cinta sama kamu,” katanya lirih.
Vana terlalu mencintai Angga Pratama hingga dia tidak mau kehilangan. Oleh karena itu, dia menyembunyikan rahasia besar itu dari keluarga dan juga Angga. Biar ini menjadi rahasianya sendiri. Dia akan menyimpan aib itu sendiri, bahkan jika perlu sampai mati.
Beberapa hari pun berlalu, kini adalah hari di mana Vana dan Angga akan menjadi sepasang suami-istri. Keadaan rumah sudah disulap sedemikian rupa. Dari tenda, panggung pelaminan, hingga foto prewedding mereka pun sudah terpasang cantik di depan dan bagian tengah dekor.
Di kamar pengantin sendiri, kini sudah duduk Vana yang tengah dikerubungi oleh ketiga temannya, Wenny, Fina, dan juga Hani. Mereka terkenal dengan sebutan geng cendol. Mereka begitu berisik dan antusias saat melihat temannya akan melepas masa lajang duluan.
“Vana, ini ibu. Apa boleh masuk?”
“Masuk aja, Bu.” Vana yang sudah memakai baju pengantin dengan aksen brokat di bagian d**a dan bagian bawahnya yang menjuntai, kini tersenyum menyambut ibunya. Wajahnya pun sudah dipoles dengan begitu cantik hingga membuat pangling.
“Maa syaa Allah, anakku cantik banget. Udah mau jadi istri juga sekarang,” puji ibunya. “Pasti, ayahmu di atas sana bangga melihat putri kesayangannya akan menikah.”
“Ah, Ibu. Tolong jangan buat aku menangis,” pinta Vana sambil menggenggam tangan ibunya. “Aku tuh lagi gugup banget sekarang, Bu. Lihat, tangannya saja sampai dingin begini.”
Ketiga temannya tertawa dan meledek Vana, tetapi tak ditanggapi olehnya. “Diamlah! Kalian juga bakalan ngerasain bagaimana gugupnya nanti sebelum menikah,” kesalnya.
“Udah! Sebaiknya kita ke depan. Itu calon suami kamu udah nunggu!”
Vana pun mengangguk. Dia dituntun oleh ibunya dan juga Wenny, sedangkan Hani dan Fina berada di belakang untuk membawa bagian ekor baju pengantinnya agar tidak kotor. Senyumnya langsung terulas malu, saat mendapati Angga yang begitu gagah dengan setelan jas-nya berdiri menunggunya.
“Kamu cantik banget, Vana,” puji Angga setelah membantunya menarik dan mendorong kursi untuknya duduk.
“Makasih, Mas,” balasnya tersenyum malu.
Acara pun dimulai. Penghulu mulai membacakan apa-apa saja yang perlu sebelum masuk ke bagian inti. Dan, ketika tangan Angga berjabat tangan dengan penghulu, sebagai wali nikahnya, tubuh Vana bergetar gugup. Dalam salam satu tarikan napas, Angga sanggup mengucapkan ijab tersebut.
Vana lega.
“Bagaimana saksi? Sah?”
“Sah!”
“Tidak Sah!”
Semua tamu undangan sontak langsung melihat ke arah pintu di mana seorang lelaki berpakaian formal datang, dan berseru untuk menolak pernikahan Angga dan Vana.
“Sean … untuk apa dia ke sini?” Vana menatap tak percaya. Kedatangan sang bos di hari pernikahannya sungguh hal yang tak pernah dia duga. Tentu bukan hal bagus, Vana sudah dapat menebak niat dari lelaki itu merusak akad nikahnya.