Bab 3. Kenyataan Pahit

1164 Words
"Mas!” Tangan Vana langsung berkeringat dingin. Dia meremas jas milik Angga yang kini sudah berdiri melihat kedatangan pria yang tidak diinginkannya. Tetes demi tetes air mata sudah jatuh dari pelupuk mata cantiknya hingga membuat semua orang bingung. “Ada apa ini?” Angga melihat ke arah Vana. “Siapa dia, Vana ? Dan, kenapa kamu menangis? Sebenarnya apa yang sedang kamu tutupi dari aku, Van?!” Vana kehilangan suaranya. Dia ingin bicara, tetapi dia justru hanya megap-megap saja. Lidahnya terasa Kelu hingga suaranya tak bisa keluar. Kini, Sean sudah berdiri tepat di depan meja di mana Angga dan Vana melaksanakan ijab qobul. Dia jelas bisa melihat tatapan pria itu begitu serius dan itu sungguh membuat perutnya melilit. Dia menggeleng, tetapi gelengan itu justru diabaikan oleh Sean. “Perkenalkan, saya adalah Sean. Orang yang lebih pantas menikahi Vana!” Pria itu mengulurkan tangannya tepat di depan Angga, tetapi calon suaminya tidak menanggapinya. Dia justru menepisnya. “Apa?” Suara terkesiap dari tamu undangan jelas langsung membuat keadaan menjadi ricuh, bahkan gaduh. Angga segera duduk, menarik dagu Vana lembut. Tatapan mereka bertemu dan dia jelas melihat calon suaminya itu terlihat bingung. “Vana, ada apa ini? Kenapa dia bisa bicara jika kamu lebih berhak menikah dengannya? Apa di belakangku, kamu ada hubungan sama pria ini?” tanya Angga menuntut. Vana menggeleng dengan derai air mata yang membasahi pipinya. “Aku gak mau nikah sama dia, Angga. Aku cuma cinta sama kamu,” katanya tergugu. “Lalu, bagaimana bisa dia–” “Tunggu dulu, Tuan.” Sean menyela ucapan Angga dan pria itu bahkan dengan berani menarik tangannya. “Bisakah kita bicara di dalam? Penting!” Vana melengos, dia tak berani menatap Angga, bahkan keluarganya yang lain. Dia menutup telinga dari suara tamu undangan yang kini sibuk membicarakan mereka. “Baik, kita bicarakan di dalam.” Itu suara Angga. Tubuh Vana bergetar hebat. Dia memandang pilu punggung lebar Angga yang berjalan meninggalkannya. Dia lalu menolak ketika ibunya menuntun masuk ke dalam rumah. Meninggalkan semua tamu undangan dan juga penghulu. Dia jelas tahu maksud Sean meminta mereka ke dalam. Jadi, sebelum terlambat, dia segera menyamai langkah Angga–meski begitu kesulitan melangkah karena gaun di tubuhnya. Ketika hendak mencapai pintu, dia menarik lengan Angga dan membawanya menuju kamar pengantin. “Ada apa ini, Vana? Kenapa kamu menarikku ke sini?” tanya Angga datar. Vana benci tatapan itu. Dia lalu menangkup wajah Angga agar pria itu melihat ke arahnya. Dia lalu berusaha menjelaskan akan kejadian yang sebenarnya. “Kamu harus percaya sama aku, Angga. Kalau aku gak mungkin mengkhianatimu. Aku dijebak sama dia. Aku gak cinta sama dia. Tolong, kamu percaya sama aku!” “Ak–” Belum sempat Angga menyelesaikan ucapannya, pintu kamar dibuka dari luar dan Vana langsung mengumpat. “Mau ngapain kamu ke sini?” tanya Vana galak. Sean menyeringai. Berjalan dengan santai sambil menyerahkan ponsel ke Angga, tetapi segera ditepis oleh Vana. “Jangan pernah mempengaruhi calon suamiku!” “Vana, sebenarnya ada apa ini? Dan kalian … apa yang sebenarnya kalian sembunyikan dari aku?” Angga terlihat begitu bingung. Vana menggeleng, dia langsung menarik tubuh Angga untuk berdiri di belakangnya, memegang lengan pria itu erat-erat agar tidak menjauh darinya sedikit pun. Sean lagi-lagi tertawa. Namun, setelah itu dia menatap penuh seringai. Dia mengutak-atik ponselnya, lalu mengangkat benda persegi itu ke depan mereka. Suara menjijikan itu kembali terdengar, bahkan dirinya yang agresif mendekati Sean terpampang jelas di depannya. “Kamu ingat kejadian satu minggu yang lalu, kan, Van?” Vana merasakan tangan pria di belakangnya mengerat, bahkan dengan muram menepis lengannya agar menjauh. Seolah-olah jijik padanya. “Satu Minggu yang lalu? Bukankah itu kejadian di mana kita akan bertemu di cafe?” Suara Angga terdengar dingin. “Mas, aku bisa jelaskan!” Vana menarik lagi lengan Angga. Angga menyeringai jijik. “Apa lagi yang perlu dijelaskan, Vana? Bukankah wanita di video itu kamu? Jadi, penjelasan apalagi yang mau kamu berikan?” “Gak, Angga. Aku berani bersumpah! Aku dijebak sama pria b******k itu!” Vana berlutut, memeluk kaki Angga agar tidak pergi meninggalkannya. “Menyingkir! Aku gak sudi disentuh sama wanita pembohong seperti kamu, Van. Jujur, aku sangat kecewa sama kamu!” Angga berkata dengan tatapan kecewa dan itu benar-benar membuat Vana menangis. “Tapi kan kita sudah menikah, Angga,” cegahnya sebelum pria itu sampai ke depan pintu. Vana kembali mendekat, menarik lengan Angga agar mau mendengarkan penjelasannya. “Kamu sudah mengucapkan ijab tadi, Mas.” Pria itu berdecih sinis dan itu jelas membuat Vana menelan kasar. “Tapi, kenyataannya kita belum sah jadi suami istri, Vana. Lagi juga aku tidak mungkin menikah dengan kamu, ternyata kamu itu bukan perempuan baik-baik!” “Tidak!” Vana meraung. Berusaha mengejar Angga, tetapi tubuhnya ditarik oleh Sean di ruang tamu. Sementara semua keluarga sudah berkumpul di sana. Tatapan mereka beragam, tetapi lebih banyak kecewa. “Apa yang sebenarnya terjadi di sini, Vana? Dan, apa benar jika kamu sudah mengkhianati anak saya?” tanya orang tua Angga. Vana menunduk, tak berani menatap mereka semua. Dia hanya bisa menangis dipelukan Wenny. “Aku gak salah, Wen. Aku gak mungkin mengkhianati Mas Angga.” Hanya kata-kata itu yang terucap dari bibirnya. “Iya, gue tau, Van.” “Jadi, sekarang kita harus bagaimana? Kita gak mungkin membatalkan pernikahan ini, Vana?” Keluarga dari pihak ibu mendesak, lalu disusul keluarga pihak almarhum ayahnya hingga membuat kepala gadis itu semakin dibuat pening. “Bagaimana ini? Aku harus apa?” batin Vana bertanya-tanya. Di saat Vana kebingungan, tiba-tiba seseorang menyentuh bahunya. Dia bahkan berkata dengan tegas dan keras, “Saya bersedia menikah dengan Vana!” Vana memejamkan mata, menangisi nasibnya yang seolah jungkir balik. Cita-citanya menikah dengan Angga gagal, justru kini dia harus menerima kenyataan akan menikah dengan Sean–bosnya sendiri. Orang yang sangat dia benci saat ini. Saking mumetnya, Vana tidak tahu harus melakukan apa. Dia bahkan tetap diam ketika Sean menggantikan posisi Angga untuk berjabat tangan dengan penghulu, mengucapkan ijab qobul. Dia terlalu muak tersenyum kala kata “sah” menggema di pelaminan. Pikirannya justru tertuju pada Angga. Dia terlalu mencintai pria itu hingga sulit membayangkan hidup tanpanya. Malam harinya, suasana di rumah begitu hening, seolah tak ada hajatan apa pun, padahal jelas-jelas tenda masih terpasang, lengkap dengan dekorasinya. Namun, si mempelai sudah tak ada, bahkan tamu pun tidak ada. Ternyata, Sean langsung memboyong Vana menuju rumahnya. Vana menatap jalanan dari kaca jendela di sampingnya. Dia tidak berniat mengajak pria yang tengah mengemudi itu untuk bicara. “Vana, kamu mau makan di–” “Lo gak usah ajak gue ngobrol, b******k!” Tatapannya kini diarahkan ke arah Sean, tajam. “Lo ‘kan yang udah naruh obat itu di minuman gue? Ngaku lo!” todong Vana langsung. Sean tertawa. “Obat apa, Vana? Udah jelas-jelas kamu yang godain aku malam itu,” jawab pria itu santai. Vana mendengkus sengit. Tangannya menunjuk tepat ke arah wajah Sean, lalu berkata, “Mau sampai mati pun, gue gak akan pernah lupa kalau gue itu benci sama lo!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD