Vana tetap memasang wajah datar saat pertama kali menginjakkan kakinya di lantai marmer, milik mansion keluarga Grahadi. Interior yang didesain langsung oleh arsitek terkenal jelas membuat rumah itu bak istana. Wangi dari bunga-bunga yang ada di setiap sudut ruangan, atau di atas meja yang terbuat dari emas sama sekali tak membuatnya tertarik.
Dia tidak tergiur dengan semua harta yang dimiliki oleh Sean, atau bahkan keluarganya yang kekayaannya bisa untuk tujuh turunan. Yang dia pedulikan sekarang adalah, bagaimana cara bisa bertemu dengan Angga.
“Makan dulu, Van,” tawar pria itu, tetapi suaranya tidak dipenuhi dengan kepercayaan diri seperti biasanya.
Vana melirik tanpa niat untuk duduk di kursi yang sudah ditarik oleh Sean. Dia memilih memalingkan pandang ke arah lain, asal bukan suaminya. “Cukup katakan saja di mana aku harus tidur!” katanya, ketus.
Pria itu mengeluarkan suara antara mendesah dan mendesis di belakangnya.
Namun, dia tidak peduli. Bagi Vana, ini adalah bayaran setimpal yang harus diterima oleh Sean setelah menghancurkan pernikahannya dengan Angga. Kalau perlu, dia juga akan menggugat cerai pria itu besok. Akan tetapi, itu tidak mungkin.
“Kalau begitu kita–”
“Kita?” Vana memekik jijik mendengar kata ‘kita’ terlontar dari mulut Sean. “Gak usah mimpi untuk bisa tidur satu kamar denganku, Sean. Walaupun kamu sudah menjadi suamiku, tapi bagiku kamu hanyalah lelaki b******k yang sudah mengambil keuntungan dari ketidakberdayaanku kemarin!”
Senyum Sena sirna. “Vana, harus dengan apa aku bicara padamu. Jika malam itu kamu memang yang menggodaku.” Pria itu terlihat frustasi. “Bukankah kamu sudah melihat jelas video itu?”
“Jangan sentuh aku!” Vana menepis tangan Sean yang hendak memegang lengannya. Dia mundur, kalau bisa menjauh dari pria itu. Tatapannya berubah menjadi dingin. “Kamu kira aku gak tau niat busukmu sampai bisa kamu bodohi? Gak, Sean. Kamu salah!”
Sean menggeleng, berusaha mendekat Vana. Namun, Vana selalu mundur ketika pria itu maju, dan hal tersebut terjadi berulang lagi. Sampai pada akhirnya Sean menyerah dan mengalah. Pria itu berdiri, bersandar pada meja bundar di belakangnya. “Vanai–”
“Kamu berani bersumpah di atas Alquran?” tantang Vana. Tangannya bersedekap dengan tatapan lurus ke arah Sean. Dia sebenarnya tidak ingin membawa kitab suci Al-Qur'an selama pembahasan mereka. Namun, pria itu memang harus didesak agar mau berkata jujur.
Sean terdiam, bergeming dengan mata yang tampak bergerilya ke arah lain tanpa berani menatapnya.
Vana tersenyum menyeringai. Pria itu pasti tidak menyangka jika dirinya akan menantangnya sedemikian jauh. Dia lalu mendengkus, tersenyum mencemooh akan reaksi dari Sean. “Kenapa diam? Kamu takut, kan? So, akui saja jika semua ini ulahmu. Kamu, kan, yang naruh obat ke dalam minumanku kemarin?” Dia terus mendesak.
“Iya, ok. Aku ngaku!” Sean mengangkat kedua tangannya, menyerah. Dia lalu berusaha berjalan mendekatinya.
“Berhenti di situ!” seru Vana dengan tatapan sedingin es.
Sean patuh, tidak lagi mendekati istrinya. Pria itu lalu membalikkan badan sehingga membuat Vana tidak bisa leluasa melihat bagaimana ekspresi pria tersebut. “Jujur, aku memang sengaja menaruh obat perangsang itu ke dalam minumanmu,” akunya jujur.
“Apa?” Kedua bola mata Vana membelalak, terkejut bukan kepalang. Tangannya mengepal hingga membuat buku jarinya memutih. “Jadi, benar jika kamu yang melakukan ini semua?” Suaranya tercekat.
“Aku minta maaf yang sebesar-besarnya,” kata Sean, “Aku khilaf, Van. Aku sudah dibutakan oleh cinta!”
“Dasar b******k!” Vana langsung menarik bahu pria itu, menampar pipi itu dengan segenap emosi. Tangannya yang bergetar, lalu menunjuk-nunjuk wajah Sean yang kini merah, cap tangan darinya. Namun, dia tak sedikit pun merasa bersalah.
Pria itu terkesiap sambil memegang pipinya.
“Maksud kamu apa, sih ngelakuin itu ke aku? Apa salah aku sama kamu, Sean?” Vana menutup wajahnya dan menangis tersedu di sana. “Selama ini, aku bahkan gak pernah mengusikmu, atau mencari gara-gara sama kamu. Tapi, kenapa?” Dia tergugu, “kenapa kamu melakukan hal licik seperti itu ke aku?”
Tubuh Vana luruh, bersimpuh di lantai. Dia menangis sejadi-jadinya di sana sambil memeluk kedua kakinya. “Bagaimana bisa kamu tega melakukan itu padaku dan Angga, Sean? Kenapa?” Dia terus menangis, menyalahkan Sean yang tidak pernah berpikir panjang akan dampak yang telah dilakukan. “Kasihan Angga, Sean. Kenapa kamu begitu tega membuat Angga kecewa padaku?”
Vana sudah seperti orang pesakitan. Menangisi nasib percintaannya yang berakhir gagal karena ulah orang yang terobsesi padanya. “Angga, tolong jangan biarkan aku tinggal dengan orang gila itu! Aku gak mau,” rintihnya.
“Vana, tolong dengarkan dulu penjelasanku!” Pria itu bersimpuh di dekat Vana, lalu menarik tangannya dengan wajah putus asa.
“Penjelasan apa lagi!” sentak Vana keras. Wajahnya yang basah segera dihapus. Dia menatap Sean dengan tajam. “Kenapa kamu gak menjelaskan kejadian itu di depan Angga tadi? Kenapa justru kamu mengatakan itu sekarang? Hah! Kamu emang beneran b******k Sean!” umpatnya.
Dia kecewa, lalu menumpahkan semua rasa kesalnya dengan memukul d**a pria itu. Dia terus menangis, meraung menuntut keadilan. Rasa sesak membuatnya semakin sulit bernapas, ditambah emosi yang terus merongrong di dalam dadanya.
Lelah, Vana mulai kehabisan tenaga hingga menjatuhkan tangannya ke atas kaki pria itu, sedangkan kepalanya bersandar di depan d**a bidang Sean.
“Vana.” Sean berusaha mengambil kesempatan. Pria itu mengusap kepalanya, bahkan dengan lancang menggenggam tangannya dalam rangkuman yang hangat. “Aku akan jujur semuanya. Jadi, sebenarnya aku tuh udah suka sama kamu, lama,” jedanya.
Vana menarik kepalanya, dan menatap Sean dengan tatapan kosong seolah hatinya sudah mati rasa. “Suka kau bilang? Cih!”
Sean tidak peduli dengan tanggapan mencemoohnya. Dia lalu melanjutkan kembali ceritanya, “Tepatnya ketika tahun pertama kamu bekerja di perusahaan. Kamu yang easy going dan wellcome kepada siapa pun, itu sangat mudah disukai. Ya, aku mulai jatuh cinta saat itu. Tapi, aku kecewa saat mengetahui jika kamu sudah memiliki kekasih.”
Sean meliriknya, tetapi dia sama sekali tak tersanjung dengan pujian dari pria itu.
“Setelah itu, aku berusaha mengubur perasaanku padamu.” Pria itu memainkan jari Vana. “Aku mencoba menghilangkan bayang-bayangmu yang selalu saja berputar di dalam otakku, tapi sulit. Semua usaha itu hancur karena kehadiranmu di sisiku setiap hari, dan lama-kelamaan, aku mulai memiliki perasaan dan menginginkan kamu lebih dari apa pun!”
“Gila! Kamu benar-benar mengerikan Sean!” Vana menatap jijik kepada suaminya. Dia lalu berdiri, meninggalkan Sean yang masih terduduk di lantai. “Asal kamu tau, Sean! Orang yang mencintai, tidak akan pernah menyakiti orang tersebut! Yang kau rasakan itu bukan cinta, melainkan obses!” katanya sebelum pergi.
Vana masuk ke dalam salah satu kamar yang ada di lantai satu. Entah itu milik siapa, tapi setelah berada di dalam. Dia yakin jika ruangan ini adalah kamar tamu. “Baguslah! Setidaknya aku bisa aman malam ini. Aku capek. Aku mau istirahat. Aku akan merencanakan buat segera pergi dari rumah ini besok. Sungguh, aku sangat merindukan Mas Angga.”
Matanya kembali berkaca-kaca hanya dengan mengingat calon suaminya itu. Dia terduduk di karpet beludru, lalu merebahkan tubuhnya dengan posisi miring dengan tangan memeluk kedua lututnya, layaknya trenggiling.
“Mas Angga, kamu di mana? Tolong aku! Aku sangat mencintaimu,” gumam Vana di antara kesedihannya sebelum menjemput mimpi.
***
Keesokan paginya, mansion itu digemparkan dengan teriakan dan juga gedoran di depan pintu kamar Sean di lantai 2. Seorang wanita modis dan cantik tengah seperti orang kesurupan. “Buka pintunya, Sean! Aku tau kamu di dalam. Sekarang kamu harus jelaskan maksud dari pernikahan mendadak mu itu!”