Bab 5. Keluarga Yang Hangat

1734 Words
"Sean!" Vana mendengar suara bentakan seorang wanita dari kamar sebelahnya. Dia yang baru saja dari kamar mandi berjalan dengan santai, lalu duduk dengan santai di ranjang. Dengkusan pun tak terelakan lagi dari hidungnya. “Ok, mari kita lihat drama apa yang akan mereka mainkan hari ini,” cibirnya. "Mami gak percaya kamu bisa nikah tanpa persetujuan kami! Kamu anggap kami ini apa, Sean? Kami itu orang tua kamu. Dan, bisa-bisanya kamu nikah sembarangan dengan wanita kampung! Mami yakin, kalau dia pasti w************n, jelek, dan mata duitan! Iya, kan!” teriak wanita itu, bisa dipastikan jika orang itu adalah ibu dari Sean. "Mi, Sean bisa jelasin semuanya. Mami bisa pelan sedikit nggak suaranya?" Sean berkata dengan sedikit menurunkan suaranya. Takut jika Vana akan mendengar dan tersinggung dengan omongan sang mertua. "Kenapa? Kenapa mami harus bicara pelan-pelan? Istri apa yang masih tidur jam segini?" Terdengar suara pintu yang didorong dan membentur dinding. “Mana istri kamu yang kampungan dan pemalas itu?” teriaknya lagi. Vana yang sudah bosan dicaci maki tanpa tahu lawannya segera berjalan keluar kamar. Dia membuka pintu dengan santai seolah dirinya adalah bukan tamu, melainkan pemilik rumah itu. "Anda mencari saya? Jika ingin bicara, mari bicara baik-baik. Saya akan ceritakan semuanya kepada Anda berdua." Suara Vana terdengar parau dan juga wajahnya yang sembab setelah menangis semalaman tak membuatnya terintimidasi. Vana berlalu hendak menuju ruang tengah, tetapi dia berhenti sejenak dan berbalik. "Ah, saya lupa. Saya sudah memasak jika Anda berdua bersedia untuk sarapan dengan lauk sederhana buatan saya,” beritahunya. Dia bangun ketika subuh, salat, dan berserah kepada Allah. Karena bingung harus melakukan apa, Vana pergi menuju dapur. Di sana sebenarnya sudah ada beberapa orang yang sedang masak. Namun, dia tetap saja ikut nimbrung. Entah siapa yang mengenalkannya pada mereka, orang-orang itu langsung membungkuk sopan pada Vana seolah tahu jika dirinya penghuni baru di mansion Grahadi. Sontak hal itu membuat keningnya mengernyit. Namun, dia tidak peduli. Dia memasak menu makanan yang biasa dibuat di rumah. Tak peduli dengan orang di sini, mau tidak mau itu bukan urusannya. Jadi, ketika orang tua Sean datang dan menghinanya dengan begitu bar-bar, dia membiarkan saja. Justru bagus jika pihak orang tua pria b******k itu tidak menyukainya. Jalan keluar menuju rumah ini semakin terbuka lebar dan Vana sangat menunggu saat-saat itu. Vana melanjutkan langkahnya tanpa menoleh lagi. Meninggalkan si tuan rumah yang mungkin saja kebingungan dengan sikap beraninya. Mereka tidak tahu saja jika dirinya ini sudah banyak mendapatkan tatapan intimidasi, atau bahkan cemoohan dari orang sekitar tentang keluarganya. Maka bersikap masa bodoh adalah jalan terbaik untuknya. Ketika sudah sampai di ruang makan, Vana tidak langsung duduk. Dia menunggu kedua orang tua Sean sebagai pemilik rumah itu duduk duluan. Kali ini, meja makan tidak di desain memanjang seperti kemarin, kini kursi itu hanya ada 4 dengan meja bundar. Vana sempat bertanya-tanya kapan pekerja rumah ini mengganti meja makan tersebut. Jelas-jelas tadi pagi dia masih melihat meja makan panjang dengan hampir belasan kursi di sekitarnya. "Sebelum masuk ke inti, perkenalkan saya adalah Ryan Grahadi, dan di samping saya adalah Lusiana, istri saya.” Mertuanya memperkenalkan diri. Vana sendiri hanya menunduk sopan. “Saya adalah Vana Mulya Jayadi,” ujarnya singkat. Dia tak perlu melabeli dirinya dengan sebutan istri dari Sean, itu yidak penting. “Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Dan, bagaimana bisa kamu menikah dengan anak saya, Nak Vana?" Ayah Sean membuka pembicaraan. "Apakah Anda yakin akan percaya dengan cerita saya yang hanya gadis kampung ini?" Vana melirik sekilas ke arah Lusi. Wanita paruh baya itu terlihat salah tingkah. Tatapan Vana seperti menyalurkan dendam kesumat. Namun, dia tak peduli. Pria paruh baya itu terlihat mendesah berat. “Ceritakan saja, Nak. Insya Allah, saya dan istri akan berusaha menjadi orang tua yang bijak." Kata-kata ayah Sean membuat hatinya sedikit mencair. Dia teringat akan almarhum ayahnya–Dodi– yang selalu menjadi penengah di saat dia dan kedua adiknya bertengkar, dulu. Vana menunduk, mengusap hidung agar tidak terlalu terbawa suasana hingga menghancurkan tekadnya untuk keluar dari mansion besar itu. "Sebelumnya, saya adalah salah satu karyawan di bawah naungan Perusahaan Grahadi sebagai sekretaris anak Anda,” jedanya, melirik sinis ke arah suaminya yang langsung kicep ditatap sedemikian tajam. “Satu Minggu sebelum kami menikah, anak Anda meminta saya untuk datang ke apartemennya, dan ternyata di sana Sean sudah merencanakan sesuatu hal yang b***t!” “Apa maksud kamu, Nak?” Dia tersenyum sinis pada Sean yang tidak berani menatap balik dirinya, takut. Dia mendecih muak. “Sean menaruh obat perangsang ke dalam minuman saya. Hingga malam nahas itu tak terhindarkan lagi dan saya kehilangan kesucian malam itu. Padahal, seharusnya yang akan menikahi saya kemarin adalah Angga, bukan dia." Vana berusaha menstabilkan napasnya yang memburu. Air mata bahkan sudah luluh pada pertengahan cerita. "Lalu, dengan tega anak Anda mengirimkan video malam laknat itu ke calon suami saya. Hingga…." Vana memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. "Saya terpaksa menikah dengan anak Anda, karena calon suami saya sudah merasa jijik dan kecewa kepada saya." Vana tidak lagi dapat membendung tangisnya. Dia menelungkupkan wajahnya di meja, tersedu, menangisi nasibnya yang malang. "Saya tidak mau harta benda kalian, Tuan.” Dia mendongak dengan wajah basahnya. “Saya bahkan sama sekali tidak berniat menikah dengan anak Anda. Sedikit pun … saya tidak memiliki rasa cinta padanya. Jadi tolong, tolong ijinkan kami berdua bercerai, Tuan!” Vana bersimpuh dengan kedua tangan digosokkan di depan ayah Sean. “Tolong izinkan saya pergi dari rumah ini, Tuan! Saya janji, saya tidka akan menuntut apa pun dari kalian. Saya akan pergi dan menyimpan rapat-rapat rahasia ini. Tapi, tolong! Izinkan saya pergi dari rumah ini!” “Astaga!” Vana membiarkan ibu Sean memeluknya. Karena memang yang saat ini dia butuhkan adalah sandaraan. Sementara ibunya sendiri berada jauh dan justru memintanya menikah dengan lelaki yang sudah merebut kesuciannya. “Tolong, Nyonya! Izinkan saya pergi dari rumah ini!” katanya memohon. Wanita paruh baya itu melepaskan pelukannya, menangkup wajahnya yang sudah basah, kemudian mengusapnya dengan tatapan sakit. "Maafkan Mami, Vana. Mami salah karena gak becus mendidik anak Mami. Tolong maafkan mami, Nak Vana!" Wanita itu ikut menangis bersama Vana. Sementara itu, Vana dibuat terkejut dengan tindakan mertua lelakinya yang langsung memberi bogeman mentah di wajah Sean. Dia berpaling pandang saat melihat tubuh suaminya jatuh ke lantai. “Lelaki macam apa yang mempunyai pikiran hina seperti itu, Sean? Apa kau pikir kami memvesarkanmu, banging tulang seperti ini hanya untuk melihat anaknya menjadi penjahat? Huh! Jawab, Sean!” Teriakan ayah mertuanya mampu membuatnya berjengit kaget. Dia mengintip dari balik bulu mata lentiknya. Sean tidak berdaya di depan ayahnya dan dia benci rasa iba yang hampir menelusup ke dalam hatinya. Dia enyahkan pikiran itu dan bersikap masa bodoh. Setelah itu, sebuah tangan besar membantunya untuk duduk di kursi, dia adalah ayah mertuanya. "Em, sebelumnya Papi minta maaf mewakili keluarga ini sama kamu, Nak Vana. Tapi, Papi belum bisa mengabulkan permintaanmu.” “Apa?” Vana terkesiap dengan ucapan dari ayah mertuanya. “Tapi–” Dia kehilangan kesempatan bicaranya, apalagi setelah mendengar permintaan dari ayah mertuanya. “Tolong, izinkan Sean menebus semua kesalahannya dengan membuatmu bahagia, Nak Vana!” Seperti ada guntur yang siap memporak-porandakan hidupnya. Harapan Vana untuk pergi dari mansion itu justru pupus, kandas hingga membuat perutnya mual. "Tapi, Vana nggak cinta sama Sean, Tuan. Vana benci Sean! Kenapa … kenapa kalian semua justru bersekongkol untuk menahan saya di sini, sih?! Apa salah saya, Tuan!" Vana bersimpuh di depan kaki ayah mertua. “Tolong izinkan saya pergi dari rumah ini, Tuan!” Vana bisa melihat pria paruh baya itu terkesiap dengan sikapnya hingga dirinya kembali melihat tangan pria itu memukul Sean, lagi hingga bibir suaminya sobek. Vana yang kaget melihat adegan itu segera menghentikan tangisnya. Dia benci perasaan iba itu. Perlahan dia mendekat dan menyentuh tangan ayah mertuanya. "Cukup, Tuan. Jangan pukul lagi! M-mungkin ini memang sudah menjadi takdirku. T-tapi, aku tidak akan berhenti berusaha untuk bisa kembali bersama Angga." "s**t!" Dia mendengar umpatan dari Sean, tetapi Vana tak peduli. "Vana, tolong hargai perasaanku! A-aku tahu jika apa yang sudah kulakukan padamu salah, tapi aku janji akan menebusnya dengan membuatmu bahagia seumur hidupmu!” ucap Sean. Vana menepis tangan Sean. "Jangan harap luka yang kau torehkan padaku akan sembuh secepat itu, Sean! Kau juga gak akan bisa menyembuhkan lukaku karena kamulah sumber rasa sakitku!” Dia berkata dengan gigi bergemeletuk. Kebenciannya terhadap Sean sudah mendarah daging dan tak akan pernah bisa disembuhkan dengan apa pun. Tiba-tiba, tangan lembut merangkul bahu Vana. "Sudah, sudah! Mami lapar, nih, Vana. Boleh coba masakan kamu gak? Pasti enak." Ibu mertuanya berusaha membuat keadaan menjadi kondusif. Sebelum itu, dia memberikan tatapan sinis pada suaminya kemudian menjawab pertanyaan ibu mertuanya. "Saya kira, Anda tidak akan mau memakan masakan orang kampung ini, Nyonya." Vana masih menjaga jarak, walaupun sebenarnya dia merasa nyaman dalam pelukan seorang ibu seperti Lusi. "Jangan panggil Nyonya! Kamu sudah menjadi istri Sean dan Mami juga sudah anggap Vana seperti anak sendiri." Wanita paruh baya itu berusaha sekali mengambil hatinya. Vana yang memang sudah lapar karena memang belum makan sedari kemarin, akhirnya luluh dan mau menyantap sarapan pagi yang dibuatnya. Makanan yang tersaji di tengah hanyalah sambal, tahu, tempe, dan petai. Benar-benar seadanya. Vana tersenyum smirk. Dia yakin jika para orang kaya itu akan menolak masakannya. Namun, ternyata dia salah. Lusi beranjak menuju lemari pendingin, dan membawa timun dan kemang, jangan lupakan juga kacang panjang dan juga terong bulat hijau. Vana mengumpat. Usahanya untuk membuat keluarga itu tidak menyukainya, sepertinya gagal. "Ayo, makan! Mami suka banget lalapan tahu tempe." Lusi menggosokkan kedua telapak tangannya tidak sabar. Vana meringis. "Loh, Mi, telor papi mana?" Protes Ryan. "Ups! Tunggu, ya, Sayang." Lusi bergegas menggoreng telur untuk suaminya, sedangkan dirinya memilih abai. "Vana, jangan bengong. Bantu Mami bikin telor lagi dua." Lusi memanggilnya dengan wajah cerah ceria seolah tidak pernah ada kejadian yang hampir membuat rumah ini terbakar emosi. Dengan patuh Vana melangkah menuju dapur untuk membantu sang mertua. "Udah, itu telurnya buat kamu satu, buat Sean satu. Ayo, Vana, kasih ke suamimu!" Lusi membuat permintaan yang sulit untuk dilaksanakan. Beruntung Vana adalah anak yang berbakti. Dia meletakkan kasar telur ke dalam piring suaminya. “Makan!” katanya ketus. Selama acara sarapan pagi itu, Lusi dan Ryan banyak bertanya pada Vana. Menginterogasinya dengan beraneka pertanyaan. Jujur, keluarga itu hangat, tetapi jika mengingat kelakuan Sean membuatnya menjadi hilang respect. Dalam hatinya berkata, “Aku akan pergi menyelinap besok untuk menemui Angga. Ya, aku harus bertemu dengan Angga dan menjelaskan semuanya tanpa terkecuali!” tekadnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD