Bab 6. Vana Pingsan

1280 Words
Vana merasa terbelenggu di antara perhatian orang tua Sean. Dia yang ingin bertemu Angga saja harus memikirkan beribu macam cara agar bisa lepas dari mereka. Seperti sekarang, dia sedari tadi tertahan oleh ibu mertuanya yang sibuk memilihkan baju, dress, hingga pakaian formal, dan non formal. Vana dibuat terpukau dengan cara kerja orang kaya. Jika biasanya belanja hanya di mall, atau butik, tapi sekarang yang sedang dilakukan oleh mereka adalah membawa langsung isi toko mereka ke mansion. Gila bukan? Dia menarik napas berat. “Kapan ini berakhirnya, Tuhan?” batinnya menjerit. Tiba-tiba, sebuah ide muncul. Bibirnya tersenyum menyeringai. Diam-diam, dia mengirim pesan ke grup ‘Geng Cendol’, meminta salah satu di antara mereka untuk meneleponnya. Gotcha! Wenny calling. “Mi, maaf saya angkat telepon dulu, yah!” Vana memperlihatkan layar ponselnya. “Silakan, Nak.” Vana sedikit menggeser duduknya, tetapi tetap satu sofa. Dia justru sengaja melakukan itu agar bisa mencari alasan. "Halo, Wen. Ada apa? Ketemuan? Jam berapa? Oh, okay. See you later, Guys." Vana mengakhiri sambungan teleponnya. Menatap kedua orang tua Sean, tanpa sekalipun melihat suaminya. Dia jelas bisa merasakan jika Sean sedari tadi melihatnya. Namun, dia tak sekalipun peduli. Tatapannya beralih ke arah Lusi. “Mau ada acara, Van?" tanya Lusi to the point. "Iya, Nyonya. Teman-teman ngajak bertemu siang ini." Vana terlihat kaku memanggil Lusi ‘nyonya’. Lidahnya semakin kelu jika harus memanggil ‘mami’ seperti yang dilakukan oleh Sean. Itu sama saja dia mengakui pernikahan mereka. Cih! Jangan harap! Vana menoleh saat mendengar ibu mertuanya tersenyum geli melihatnya. Dia mengernyit bingung, tetapi tak berniat untuk bertanya. “Panggil mami aja, yah! Mami geli sendiri dengar kamu panggil nyonya." Lusi berseloroh. Vana tersenyum kecut, mau melarikan diri secepatnya agar bisa terbebas dari keluarga di hadapannya. “Oh, em,” jawabnya tak yakin. "Nanti kamu mau ke mana? Biar Mami antar. Mami juga udah lama nggak ngeMall," lanjut Lusi dengan tatapan berbinar. “Bukankah kamu juga akan menemani kami, Sean?” Vana melotot tidak setuju. Dia segera menyela ucapan Sean sebelum suaminya itu angkat bicara. "Gak usah, Nyo-- eh, Mami. Vana bisa berangkat sendiri naik motor, kok.” “Naik motor?” Lusi menjerit heboh. “No! Mami gak setuju!” Vana menggertakkan giginya. Dia tidak akan menyerah. Lantas, dia segera berdiri dari duduknya dan. “Maaf, Mami. Saya harus pergi sekarang. Gak enak, soalnya teman Vana udah nunggu lama. Vana izin siap-siap dulu, ya." Dia bergegas masuk ke dalam kamar sebelum Lusi, maupun Sean mencegahnya pergi. Dia terlalu muak berada dalam satu ruangan dengan pria yang sudah mengambil keperawanannya. Vana memilih pakaian casual agar tidak dicurigai. Kaos putih dengan blazer coklat dan celana panjang jeans, walaupun simpel namun terlihat berkelas. Tidak lupa sabuk berwarna emas melingkar di pinggangnya. Sepatu sneakers kesayangan membungkus kaki Vana. Tas selempang mungil berwarna hitam dengan aksen bunga daisy di tengahnya sudah ditenteng. "Yak! Aku siap!" katanya pada pantulan diri di cermin. "Vana pergi dulu Mi, Pi." Wanita itu masih ingat salim kepada dua mertuanya. Namun tidak kepada Sean. Dia hanya melengos dan melenggang pergi. Membuat Sean tersenyum kecut, tapi Vana tidak peduli. Namun, sebelum melangkah keluar rumah, dia jelas mendengar Ryan berseloroh pada anaknya. "Ini adalah hukuman untukmu, Nak. Jika kamu ingin mendapatkan hatinya, kejar dia dengan tulus dan benar. Jangan ada dusta!" Vana berlagak tuli ketika itu. Hatinya seolah sudah tertutup rapat untuk seorang Sean. Jangankan untuk memberikan maaf, melihat pria itu saja sudah membuat emosi di dalam hati langsung melonjak. Cih. Vana bernapas lega ketika ojek onlinenya sudah tiba dan menunggunya. Dengan senyum slterulas manis, dia menerima helm yang diberikan oleh Abang ojol. “Sesuai aplikasi yah, Mbak?” “Iya, Bang.” Motor pun melesat, menjauh dari kediaman Keluarga Grahadi. Ada perasaan lega dan bebas setelah bisa keluar dari sana. Dia bahkan berpikiran untuk langsung ke rumah ibunya nanti setelah dari cafe. Cukup lama mereka berkendara menuju cafe, tempat janji temunya dengan teman-teman. Dia melihat ke arah jam, waktunya sudah terbuang cukup lama hanya untuk di jalan saja. Sementara, geng cendol hanya punya waktu 45 menit untuk makan siang di luar. Ditepuk bahu Abang ojol. “Bang, bisa lebih cepet gak?” “Baik, Mbak.” Vana mengeratkan pegangan tangannya di jaket Abang ojolnya. Tidak mungkin dia memegang bagian besi di belakang. Apa kata dunia? Dan, kalaupun dia harus pegangan di depan, hanya sebatas sisi kanan-kiri jaket saja karena takut nanti ada yang marah. Sesampainya di depan cafe, Vana melepas helm dan menyerahkannya kepada si abang. “Sudah bayar pakai aplikasi ya, Bang. Makasih!” “Sama-sama, Mbak.” Sebelum melangkah menuju cafe, Vana memeriksa sebentar make up minimalisnya yang baik-baik saja. Bukan untuk tampil sempurna di hadapan Geng Cendol, melainkan untuk menemui Angga, mantan terindah. "Gue udah cakep," pujinya pada diri sendiri. Langkah Vana begitu mantap memasuki cafe. Senyum manis terulas dengan mata meradar keberadaan Geng Cendol yang seperti biasa, selalu duduk di pojok dekat jendela besar. Dia melambaikan tangan dengan ekspresi manja. “Bestie!” sapa Wenny dan diikuti oleh kedua temannya. Mereka saling berpelukan sebelum akhirnya mempersilakan dirinya untuk duduk. "Gila lo, Van! Buruan, kasih kita penjelasan yang logis!" Wenny menarik tangan Vana yang menurutnya terlalu sinting karena sudah membatalkan rencana pernikahannya sendiri. "Lo hutang penjelasan ke kita-kita! Gimana lo bisa tiba-tiba nikah sama calon suami gue!" Fina melotot ke arah Vana. "Hah! Suami lo dari Hongkong? Kalo mau, ambil aja, gue juga kagak doyan!" Vana memasang wajah juteknya. "Serius lo kagak doyan sama modelan Tuan Sean yang tajir melintir itu? Terus, kenapa kalian bisa nikah?" Hani memajukan wajahnya tidak percaya. Vana berdeham. “Jadi gini, Guys." Mata Vana melirik ke atas sebentar, berharap Angga akan menyadari kedatangannya. "Pria yang selama ini menjadi CEO di perusahaan kita udah masukin obat perangsang ke minuman gue, dan, you know lah, terjadilah malam sial itu. Parahnya lagi, dia sengaja kasih lihat video itu ke Angga yang bikin Angga kecewa sama gue dan batalin pernikahan kita." Vana meremas tasnya, berusaha untuk menahan isak tangis. Sontak, ketiga temannya mengumpat berjamaah. Mereka tampak tak percaya juga iba saat mendengar ceritanya, terutama Fina. Temannya itu terlihat terpukul sekali karena nge-fans parah sama Sean. "Dasar b******n! Besok kita mogok kerja sama-sama aja! Biar bangkrut sekalian." Hani menggebrak meja, lalu menatapnya dengan kobaran api yang siap membakar apa pun. "Jadi, itu alasan loel keluar? Dan, kenapa lo baru cerita ke kita sekarang, Van? Sebenarnya, lo anggap kita apa?” Vana tidak kuasa menahan air matanya pun akhirnya menangis. Beban di pundaknya semakin bertambah setelah masalah dengan Sean. Belum lagi, dia masih harus mencari pekerjaan lain agar bisa tetap membiayai kedua adiknya. Grup Cendol siang itu saling berpelukan dengan berbagi tangis. "Terus rencana lo sekarang apa?" tanya Wenny penasaran. "Untuk saat ini, gue mau ngejelasin semuanya ke Angga. Gue masih berharap sama dia, Guys. Gue masih sayang sama dia." Vana mengusap air matanya perlahan. "Ayo kita samperin langsung ke kantornya!" Fina menarik tangannya menuju lantai dua. Tempat dimana Angga biasa duduk untuk bekerja. Ketukan pintu yang dilakukan oleh Wenny tidak mendapatkan jawaban. Wanita itu segera membuka pintu tanpa permisi. Namun, mereka bertiga justru terbelalak dengan adegan yang ada. Seorang wanita--Rina– tengah duduk di pangkuan Angga. Melihat hal itu membuatnya terbakar api cemburu. "Angga! Kamu..., kalian sedang apa dengan posisi itu?" Vana masuk tanpa permisi dan menarik Rina kasar. "Kamu siapa? Kita bukan siapa-siapa lagi. Jadi, kamu gak berhak buat cemburu sama aku!" Angga menaikkan satu alisnya. Terlihat sangat dingin dan kejam. Jantungnya terasa dihujam oleh sembilu pilu, sakit, tapi tak berdarah. Bibirnya kelu, suaranya tercekat hingga derai air mata menjadi isyarat jika kini dia tengah terluka. Kakinya lemas, tubuh melorot terduduk di lantai. "Bahkan, aku belum menjelaskan apa-apa. Tapi, dia sudah menolak ku mentah-mentah,” batinnya sambil meremas bagian depan blazernya hingga semuanya berakhir gelap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD