Vana samar-samar mendengar perbincangan antara Sean dan ayahnya.
“Kamu udah yakin?”
“Iya, Pi. Lagian Sean akan ngerasa bersalah banget, kalau sampai terjadi sesuatu lagi pada Vana.”
“Sayang, kamu udah bangun, Nak?” Lusi, ibu mertuanya langsung memeluk dirinya yang baru saja membuka mata. Wajah itu basah dan tampak begitu khawatir. “Syukurlah, kalau kamu udah sadar, Nak. Mami, Papi, dan juga Sean sampai kaget waktu teman kamu bilang, kamu pingsan.”
Vana hanya mengerjapkan mata, tanpa sadar tatapan mereka bertemu. Sorot mata yang biasa tajam dan dingin, kini terlihat begitu layu, seolah baru saja melihat orang yang dicintainya hampir mati. Dia melengos, tapi satu hal yang baru saja disadarinya.
“Iya, Nak. Kamu sedari tadi gak pernah ngelepasin tangan Sean. Lihat, dia bahkan sampai gak sempat cuci muka gegara gak mau kamu kenapa-napa,” jelas Lusi seolah tahu apa yang ada di dalam pikiran Vana.
“Ah, maaf.” Vana melepas tangan Sean yang begitu hangat dan nyaman. Dia merasa tak perlu berterima kasih kepada suaminya, toh, semua ini juga karena ulah pria itu sendiri.
“Gak apa-apa, Van. Syukurlah kalau kamu udah baik-baik saja,” ujar Sean sedikit kikuk.
Hening.
Lusi dan Ryan baru saja pergi keluar. Kini, tinggal Sean yang masih tetap ada di ruang kamarku. Vana yang risih segera berujar, “pergilah!”
“Vana, aku tahu jika aku ini adalah b******n dan lelaki bodoh. Tapi, tolong jangan kamu siksa dirimu sendiri seperti ini! Kamu boleh benci aku seumur hidupmu, tapi izinkan aku untuk menebus semua rasa bersalahku padamu.”
Vana tersenyum pedih. “Jika waktu bisa diulang, hal yang paling aku ingin hilangkan adalah saat kita pertama bertemu. Aku lebih baik bekerja di tempat lain daripada harus mengenalmu,” balasnya penuh penekanan.
“Benci aku, Van, tapi tolong jangan pernah mengatakan jika pertemuan kita itu salah! Tidak apa aku menjadi orang yang dibenci olehmu, setidaknya aku ada di hatimu.”
Vana menatap Sean dengan pandangan tak percaya. “Kamu … kamu emang benar-benar gila!” Dia sulit menjabarkan bagaimana suaminya itu. “Pergilah! Aku ingin sendiri!”
Setelah itu, Sean benar-benar pergi. Kini, di ruangan hanya ada dirinya. Tetes demi tetes mulai mengalir dari sudut matanya, mengaburkan pandang. Dia kembali tersedu saat mengingat sikap Angga yang langsung menendangnya dari kehidupan pria tersebut.
“Sakit, Mas! Ini terlalu menyakitkan untukku!” ujarnya sambil memukul dadanya yang sesak.
***
Setelah kejadian di cafe itu, Vana memilih untuk tak lagi keluar mansion. Selama beberapa minggu tinggal di mansion Grahadi, dia disuguhkan dengan ketaatan keluarga barunya. Di mana ada satu ruang khusus untuk semua penghuni mansion melaksanakan salat berjamaah yang terletak di samping paviliun.
Sempat dirinya merasa insecure, atau Denial dengan keberadaan dia di sini. Dia seperti Upik abu yang masuk istana tanpa membawa apa-apa. Dia meringis pilu, lalu menghela napas berat.
“Kamu lagi ngapain, Van?” Itu suara Sean, suaminya.
Dirinya yang sedang duduk di atas jembatan di mana di bawahnya ada kolam ikan yang sangat terawat sempat terkejut. “Sepertinya matamu tidak buta untuk bisa melihatku sedang apa,” jawabnya ketus.
“Oh.”
Hening hingga Vana pikir jika pria itu telah pergi. Kenyataannya, ketika dia mengintip dari ujung matanya dia bisa melihat Sean masih berada di sana, di belakangnya, bersandar di pagar jembatan dengan tatapan ke depan, dan lengan kemeja yang digulung sampai siku.
Pamer.
Vana mencibir, “apa dia pikir aku bakalan tergoda dengan otot-ototnya itu? Cih!”
“Kau tau, Van. Tadi, aku gak sengaja bertemu dengan Tuan Wirasesa. Dia ingin bertemu denganmu. Katanya ada hal yang mau dibicarakan sama kamu, penting,” cerita Sean.
Dia seketika menyesal dan merasa bersalah karena melupakan relasi bisnis suaminya itu. Tidak seharusnya dia bersikap menghindar dari orang sebaik Tuan Wirasesa. Janjinya yang saat itu memang belum ditepati, dan mungkin pria paruh baya itu ingin menagihnya.
“Kapan kalian akan bertemu?” tanya Vana setelah cukup lama terdiam. Dia kini sudah berhadapan dengan suaminya.
Sean menyunggingkan senyum kecil, kentara sekali jika pria itu senang. “Malam ini, di rumahnya. Beliau sedang mengadakan syukuran kelahiran cucu kesebelasnya, dan ki, eh, maksudnya kamu diundang untuk hadir.”
Dia mengangguk-angguk mengerti. “Ok, terima kasih infonya.” Tanpa berpamitan, dia segera menuruni jembatan kecil itu dan berjalan menuju kamarnya berada.
Kini, setelah dirinya tidak lagi bekerja di perusahaan Grahadi yang dilakukan hanyalah mengurung diri di kamar, atau memasak di dapur. Bersih-bersih sudah dilakukan oleh pembantu. Dia tidak diperbolehkan melakukan hal lain selain melayani suaminya.
Vana menyeringai sinis. “Dalam mimpi pun, aku gak bakalan ngelayanin itu orang,” dengkusnya.
Ketika dia sudah berada di kamar, dirinya langsung merebahkan tubuh di atas ranjang empuk. Namun, pikirannya tak terlalu menikmati waktu istirahatnya. Tatapan mata melihat ke arah langit-langit kamar, lalu bayangan Angga yang memangku Rina kembali berputar, layaknya kaset rusak.
Air matanya kembali menetes. “Kenapa secepat itu kau membuangku, Mas? Apa tak seberarti itu 3 tahun kebersamaan kita?”
Jika ingin menyalahkan maka salahkanlah dia. Kenapa sedari dulu dia tidak menuruti apa kata Angga untuk berhenti bekerja di perusahaan tersebut. Angga berjanji akan membantu membiayai sekolah kedua adik lelakinya. Namun, Vana yang tidak suka berhutang budi menolak, dan bersikeras untuk tetap bekerja di sana.
Kini, setelah kejadian itu terjadi, sikap Angga berubah, bahkan tatapan yang dulu penuh cinta dan sayang sudah tidak ada lagi. Hanya sorot mata kecewa dan acuh tak acuh yang ditujukan untuknya kemarin.
“Aku harus bagaimana sekarang, Mas?” Kesedihan kembali memeluk tubuhnya. Kehilangan orang terkasih benar-benar menjadi pukulan telak buat Vana. Hidupnya kini seolah terasa hampa tanpa adanya chat, atau panggilan dari Angga. Sepi, sama seperti hatinya sekarang.
Tiba-tiba, ponselnya berdering hingga menyadarkan Vana dari lamunan. Dia segera bangun, berharap jika panggilan itu dari Angga. Namun, nama Vino–adiknyalah– yang tertera jelas di sana.
“Jangan bilang itu orang butuh duit lagi,” keluh Vana sambil memijit pelipisnya.
“Hm,” sapanya malas-malasan.
“Mbak, lo ada duit gak?”
“Lo emang adek paling b*****t tau gak, sih!” umpat Vana pada adiknya. “Lo tau ‘kan gue kemarin habis ngeluarin duit banyak banget buat biaya pernikahan itu? Terus, walaupun gue ada duit sekarang, itu juga cuma buat gue bertahan hidup!”
“Yaelah, Mbak. Gue lagi butuh banget, nih!” Vino terus memaksa di seberang telepon.
“Argh! Lo, tuh, yakh!” Napasnya berembus kencang. “Berapa emangnya? Dan mau buat apa? Lo kalau mau buat mabuk-mabukan atau cuma buat nyenengin pacar lo, ogah gue!”
“Ish, bukanlah, Mbak. Lagian gue juga udah putus sama si Jeje itu. Matre dia, suka morotin mulu, anjir!”
“Lo yang bego!” Ganti dirinya yang mengumpat. “Selama ini gue udah bilangin ke elo, kalau si Jeje itu gak baik buat lo. Tapi lo nya aja yang udah ke kerbau dicucuk hidungnya, nurut aja waktu diporotin sama dia!” cibirnya.
“Iya, Mbak. Iya. Gue ngaku salah dan bodoh. Tapi, kali ini beneran emang urgent. Gue lupa belum bayar biaya semester gue dan kalau semisal hari ini gue gak bayar, bisa di DO gue, Mbak!”
“Ya Salam, Vino!” teriak Vana tertahan di depan ponselnya. Dia kesal sekali dengan adiknya yang seperti lintah itu, morotin kakaknya mulu. “Gue bakalan aduin ini ke ibu, Vin!”
“Mbak jangan, Mbak! Please! Jangan bilangin ke ibu, nanti dia malah tambah stres. Masalah lo kemarin aja bikin ibu sakit tau gak, sih. Masa lo tega bikin ibu makin sakit.”
“Apa? Ibu sakit? Kok, lo baru bilang, sih!” Vana langsung mematikan ponselnya. Berlari tunggang langgang menuju keluar kamar. Namun, ketika melewati ruang tengah dirinya dicegah oleh Lusi.
“Kamu mau ke mana, Sayang? Kok, buru-buru amat?”
“Em, saya ada perlu, Nyonya.”
“Ish, kok, nyonya lagi, sih? Mami! Coba kamu panggil mami!”
Vana berusaha untuk tidak mengumpat kala ibu mertuanya justru melakukan hal yang sangat tidak penting. “Mami, ok, udah, kan? Kalau begitu permisi!”
“Eits, tunggu dulu, Sayang! Mami belum selesai bicara.”
“Ada apa lagi sih, Nyonya, eh, maksudnya Mami?”
Wanita paruh baya itu tersenyum manis. Dia lalu merangkul bahunya yang jelas sedang buru-buru. “Kamu tau gak, kalau besok itu ulang tahun papi?”
“Mana aku tahu!” Vana ingin menjerit. “Oh, benarkah? Lalu?” tanyanya bodoh.
“Kami sebenarnya berniat buat ngasih kado yang spesial, tapi bingung–”
Ponselnya berdering dan adiknya lagi-lagi menelpon. Dia melihat tak enak ke arah ibu mertuanya, lalu izin untuk mengangkat panggilan itu. Kalau bisa, sekalian pergi dari rumah itu secara diam-diam.
“Kenapa lagi?” Suaranya terdengar lirih. Dia melihat ke arah belakang dan ternyata sang ibu mertua tengah sibuk berbicara dengan Bi Kiki. Kesempatan itu pun diambilnya untuk kabur. Tanpa memutuskan panggilan, dia segera berjalan menuju depan.
Dia mengumpat kala jarak ruangan satu dengan lainnya cukup jauh hingga membuatnya terengah. Namun, ketika dia sudah berada di halaman dan sedang mencari ojol dirinya dikejutkan dengan suara klakson di belakangnya.
“Naiklah!” Seanlah pelakunya. Pria itu duduk di kursi kemudi sambil menawarkan tumpangan.
Vana berdecih. “Tidak, terima kasih!” tolaknya cepat.
“Tapi, di sini sulit mendapatkan taksi, Vana.”
“Aku bisa jalan!”
“Bukankah kamu buru-buru mau menemui ibumu yang sakit?”
Vana berbalik dengan mata melotot. “Apa kamu baru saja menguping?”
“Masalah itu bisa kita bicarakan nanti. Yang penting sekarang adalah naik dan aku akan mengantarmu ke rumah bertemu ibumu!”
“s**t!”