Sean tersenyum-senyum sendiri saat mereka sudah berada di dalam mobil. Bukan tanpa alasan senyum pria rupawan itu tak berhenti terulas. Siapa lagi yang bisa mempengaruhi Sean sebanyak itu selain Vana Mulya Jayadi, istrinya. Pria itu bahkan dengan sengaja mencolek bahu, dan dagu istrinya. “Sekali lagi kamu ngelakuin hal itu di depan banyak orang, aku gak segan buat tendang situ punya barang, Sean!” Vana menggertak sekaligus mengancam suaminya. Dia sendiri kini tengah duduk di kursi samping kemudi dengan bibir mengerucut, wajah ditekuk, dan juga tangan disilangkan di depan d**a. Sean terkekeh, suka saat melihat Vana yang cemberut. “Ya, gimana, yah? Soalnya kamu gemesin, sih.” “Dih! Apaan, sih?” Vana memukul bahu Sean. “Gak usah ngaco, deh!” Bibirnya lalu mengerucut. Dari jarak yang cukup

