Tanpa Aba-Aba, Cium.

1121 Words
“Ah, itu gak mungkin.” Vana tertawa tak yakin. Setelah beberapa saat, akhirnya Sean dan Kareen kembali, sedangkan Kristin sudah pergi untuk menemui temannya yang lain. Entahlah, dia juga tak terlalu peduli. Sean terlihat mendekat, lalu menggapai tangannya dan dia mendadak menjadi berdebar. Genggaman tangan itu terlihat sepele, tetapi sedikit banyak mampu mempengaruhi perasaannya yang sedang terombang-ambing. “Jadi, kapan kalian akan bulan madu? Bukankah kalian sudah menikah sebulan yang lalu? Dan, jangan bilang Sean yang gak ada inisiatif buat ngajakin kamu pergi, Van?” Suara Kareen terdengar antusias sekaligus mencibir. “Bulan madu?” Vana langsung memucat. Kareen memajukan tubuhnya, lalu tangannya dipakai untuk menyangga dagu. Tatapan itu begitu antusias hingga membuatnya semakin gugup. “Gimana kalau kalian bukan madu ke Maldives? Atau ke Jeju Korea? Di sana cocok banget buat honeymoon. Ditambah sekarang lagi musim salju. Pasti cocok itu buat kalian.” Suara Kareen terdengar begitu mendamba, dan juga gak sabar. “Ok, gak? Kalau deal, aku pesenin tiket buat kalian?” Jangankan untuk bukan muda? Dia saja selalu menolak untuk tidur satu ruangan dengan Sean di rumah. “Masalah bulan madu tak perlu kau ikut campuri, Ren,” kata pria itu terdengar gugup. Sean merangkul bahunya yang menegang, kemudian dia terdengar mengalihkan pembicaraan. “Raja gimana? Bukankah kalian akan berlibur ke India?” Mendengar nama ‘Raja’, Kareen langsung berubah kesal hingga membanting punggungnya ke sandaran kursi. “Temen lo cancel di saat 3 jam kita mau keberangkatan. Kan, Anying!” Sekejap, Vana menaikkan pandangan hingga matanya tertumbuk ke arah bibir Sean. Kilas balik ketika malam penuh gairah itu sontak membayangi pikirannya. Rasa panas, keringat, dan juga desahan ketika mereka sama-sama mencapai puncak sungguh terasa nyata. Jantungnya berdebar konyol. Perut rasanya mulas, seperti dipelintir hingga membuat desiran-desiran aneh dalam tubuh. Akan tetapi, Vana segera menggeleng. Menyadarkan dirinya jika hal itu tak layak untuk diingat. Ingatan yang sepenggal-sepenggal itu harus dimusnahkan dalam otaknya jika tak ingin semakin mempengaruhi perasaannya. “Ada apa, Van? Apa ada sesuatu di wajahku?” Suara Sean begitu dekat, bahkan hanya berjarak beberapa senti saja, dan dia bisa merasakan kekhawatiran di sana. “Gak ada.” Bodoh, kenapa dia harus terlalu lama memandangi Sean. Apa mata Vana sudah mulai terkontaminasi oleh sesuatu hingga sering terpana melihat suaminya. Dia segera menggeleng. “Baguslah jika memang gak ada.” Tangan Sean menepuk-nepuk pelan puncak kepala Vana menghantarkan perasaan aneh itu lagi. Vana menunduk, memainkan jari-jarinya di bawah meja dengan perasaan campur aduk. Sesekali matanya melirik ke arah dua insan di hadapan yang dilahirkan cantik dan tampan. Apa yang melekat dalam tubuh mereka juga terlihat mahal. Jika dibandingkan dengan dirinya, sangat-sangat jauh. “Kan yakin gak lagi menutupi sesuatu, kan?” Sean sesekali melihat ke arah Vana, melakukan hal-hal yang mampu membuat siapa pun akan kelojotan. Bagaimana tidak, Sean tak sekalipun melepaskan genggaman tangan mereka, walau sedang asyik ngobrol dengan Kareen. Obrolan mereka pun terdengar sangat bersahabat dan dekat. Jadi, bisa dipastikan. Jika Kareen adalah sahabat dekat dengan suaminya. Namun, entah kenapa dia merasa janggal dengan dirinya sendiri. Perasaan tidak suka melihat Sean berbicara begitu lancar dengan Kareen membuatnya mendengkus lirih. Vana menggeleng, tersenyum palsu. “Gak ada.” Belum sempat Sean membuka mulut, suara Kareen terdengar begitu antusias. “Jadi, gimana kalau kita besok tanding go car di Matra? Sekalian, bawa si Vana. Gimana?” Posisi duduknya memang diapit oleh Kareen dan Sean sehingga dia jelas bisa mendengar dua orang itu bicara silih berganti. “Oh, em, maaf, tadi kamu nanya apa?” “Kareen minta kita buat datang ke Matra. Kamu mau ikut?” Sean menjelaskan ulang. “Kapan?” “Besok Selasa, gimana? Kamu ada waktu luangkan, Van?” Kareen menimpali dengan ekspresi memohon. Selasa? “Maaf, kalau hari itu aku gak bisa. Aku harus datang ke perusahaan tempatku melamar kemarin.” “Tunggu dulu!” Sean menggeser duduk agar semakin rapat dengannya, dan otomatis tangan pria itu semakin leluasa berada di pinggul ramping Vana. “Apa maksud kamu, Vana? Kenapa kamu gak memberitahuku jika akan bekerja di tempat lain? Bahkan, aku sengaja menunggumu untuk datang dan kembali bekerja menjadi sekretaris ku!” Suara Sean terdengar kecewa dan juga parau. Vana melepaskan tangan mereka, lalu diletakkan di atas meja sambil melihat wajah Sean yang selalu membuatnya hilang fokus. “Jika kamu lupa, aku ini anak pertama. Ibuku seorang janda, dan aku mempunyai dua adik yang masih butuh biaya besar untuk sekolah. So, kamu udah tau 'kan, alasanku tidak balik lagi menjadi sekretaris mu?” Bibirnya menyeringai. Penjelasan Vana sepertinya cukup membuat Sean terpukul. “Tapi, kenapa kamu gak bicara dulu denganku, Van?” Lirihan Sean terdengar memilukan. Namun, Vana hanya membalasnya dengan acuh tak acuh. “ “Emang kamu mau ngelamar di mana, Van?” Kareen menimpali sehingga membuat Vana menoleh pada wanita cantik itu. “Ah, itu, saya melamar di perusahaan Wirasesa. Kebetulan kemarin ada lowongan di sana. Jadi, saya coba kirim lamaran lewat email kantor mereka,” jelas Vana. Dia sedikit memalingkan wajahnya dan bertatap muka dengan Kareen. Otomatis dia menjadi memunggungi Sean. Akan tetapi, Vana tidak menyangka jika Sean begitu berani meletakkan dagu di bahunya. Tidak hanya itu saja, tangan pria itu bahkan dengan lancang memeluk perutnya dari belakang hingga tubuh mereka begitu dekat dan menempel. “K-kamu apa-apaan, sih?” Vana tersengal. “Aku gak bisa jika harus memiliki sekretaris lain, Van.” Suara Sean terdengar tercekat. “Aku maunya kamu kembali bekerja di perusahaanku!” Vana melihat dengan mata tak tentu arah. Dia mengabaikan kikikan dari Kareen yang terus menggodanya akan sikap manja Sean. Jika boleh memilih, dia ingin pergi dan menghilang selamanya dari muka bumi lantaran sikap Sean yang bagaikan anak kecil. “Kamu pakai pelet apa sih, Van? Kok, bisa meluluhkan hati Sean yang kek batu itu?” Jangankan pelet, pakan ayam aja gak pernah dia sebar ke Sean. Jadi, jika Sean memiliki perasaan padanya itu semua di luar kendali Vana. “Sayangnya aku tak pernah pergi ke dukun mana pun,” balasnya jengah. Dia ingin melepaskan pelukan Sean di belakang tubuhnya, tetapi pria itu sama sekali tidak berniat untuk menyingkir. Vana takut jika Sean mendengar debaran jantungnya yang konyol, kemudian menjadi salah paham. Debaran itu bukanlah karena Vana menyukai Sean. Namun, debaran itu karena … karena, ah, sudahlah. Intinya, Vana tidak akan pernah menyukai Sean, selamanya. “Aku mau pulang,” rengek Sean tepat di samping telinganya. “Heh, bocah tua! Situ bukan anak kecil lagi. Ngapain merengek seperti itu?” Kareen menimpali ucapan Sean dengan ekspresi mencibir. Sementara dirinya hanya merotasikan kedua bola matanya malas. “Pulang aja sendiri,” balas Vana ketus. Pelukan Sean lepas, dan dia merasa lega. Namun, semua kejadian itu begitu cepat hingga Vana tak sempat mengelak saat pria itu menarik tengkuknya, dan mencium bibirnya tepat di depan semua tamu undangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD