Bab 11. Hatinya Berdesir

1547 Words
Malam ini adalah malam perayaan ulang tahun ayah mertua–Ryan Grahadi– yang ke 60 tahun. Vana pikir, acara itu hanya akan diadakan sederhana, dan tidak melibatkan banyak orang. Kenyataannya, rumah sudah disulap dengan begitu indah, bahkan kolam renang samping rumah ditata begitu romantis dengan nuansa yang epic. Hal seperti itu tentu saja hanya pernah Vana lihat di drama, atau acara besar para orang elit. Sepertinya Vana lupa jika dia sudah menjadi menantu orang elite. Dan, hei ada apa dengan dirinya? Apa benar orang yang sedang berdiri di depan kaca itu Vana? Serius? Kenapa dia begitu cantik dan elegan? “Sayang, apa kamu sudah siap?” Lusi datang ke kamarnya dengan menggunakan gaun berpotongan off shoulder berwarna gold yang sangat pas memeluk tubuh wanita paruh baya itu. “Sudah, Mi. Tapi,” jedanya tak yakin, “apa Vana pantas mengenakan gaun ini?” Gaun duyung dengan lekukan yang pas badan berwarna emas, dengan gemerlap perak layaknya bintang di langit senja. Leher Shanghai tanpa lengan membuat bahu Vana terlihat seksi, tapi elegan. Beberapa helai rangkaian manik-manik menjuntai pada lengannya. Rambut Vana sengaja disanggul rendah hingga membuat wajah bak kebangsawanannya sangat terlihat kental. Dipadukan dengan dompet warna senada semakin melengkapi penampilan Vana malam itu. Cantik, elegan, dan mempesona. Siapa pun yang melihat pasti akan tak berkedip. “Kamu cantik, Sayang. Mami bahkan sampai pangling lihat penampilan kamu, loh,” puji Lusi sambil mencubit gemas pipi Vana. “Tapi, Vana malu, Mi.” Penampilannya yang selalu santai, sederhana, sangat bertolak belakang semenjak menjadi menantu keluarga Grahadi. “Vana ganti aja ya, Mi?” Dia merengek. “Hush! Kok, malah ganti, sih! Udah, ayo kita turun. Papi dan Sean udah nungguin di luar.” Lusi menyeretnya dengan tak sabar, bahkan sepanjang jalan menuruni anak tangga ibu mertua selalu mengajaknya ngobrol tentang fashion yang hanya dijawab iya, hm, oh, bagus. Sungguh dia miskin ilmu tentang fashion. Dengan sangat terpaksa, Vana mengikuti langkah Lusi. Dia beberapa kali hampir terjatuh jika saja mama mertua tak memegangnya erat. Gaun duyung itu sedikit menyulitkannya mengambil langkah. Kalau boleh memilih, di lebih suka menggunakan setelah celana pendek dan kaos over size, itu jauh lebih nyaman dipakai. "Lihat suamimu, Van,” bisik Lusi. Lelaki yang dibicarakan Lusi terlihat konyol dengan mimik wajah terpukau. Vana sendiri tidak percaya dapat melihat ekspresi itu pada seseorang yang dianggapnya angkuh. Sekejap Vana dapat melihat kepala Sean bergoyang, mungkin untuk mengembalikan kesadarannya. Sean menghampiri Vana dengan ekspresi kagum. Binar matanya seolah meluapkan cinta. Tiba-tiba lelaki itu sedikit berlutut dan meraih tangan Vana. Dibawanya tangan itu menuju bibir dan dikecupnya mesra. Wanita mana yang tidak akan pingsan mendapat perlakuan istimewa itu. Apalagi, perlakuan ini dari pemilik perusahaan Grahadi. Bibir Sean mendekat, lalu berbisik, "Kau cantik, Sayang. Aku suka penampilanmu hari ini." Sean sengaja menggesekkan tipis bibirnya ke kuping Vana. “Lap tuh iler kamu, Nak! Malu, diliat banyak orang.” Suara Lusi kembali terdengar, kali ini yang jadi korban kejahilan ibu mertua adalah Sean, suami Vana. “Cantik ‘kan, menantu Mami?” “Hm, cantik banget,” puji Sean tanpa melepaskan tatapannya dari Vana. Vana menunduk, menyembunyikan rona merah di pipinya. Tiba-tiba, tangan pria itu merangkul pinggangnya mesra. Seolah-olah dia ini adalah miliknya dan tidak boleh ada lelaki mana pun yang boleh mendekatinya. “Apa kamu mau menemaniku menemui bertemu tamu?” tanya Sean, meminta izin. Vana melihat ke arah Lusi yang langsung mengangguk antusias. Dia menggigit bibirnya ragu, tetapi dia tidak mungkin membuat kekacauan di ulang tahun mertuanya. “Baiklah,” balasnya kemudian. Senyum konyol Sean kembali muncul dan itu sedikit membuat Vana berpaling. Bodohnya, dia sama sekali tak keberatan ketika Sean terus membawanya berkeliling untuk menemui para tamu undangan. Walaupun ini acara Ryan Grahadi, tetapi Sean juga termasuk orang berpengaruh. Perhatian-perhatian kecil dari Sean, seperti mengambilkan minum, atau terus mendekapnya di depan banyak relasi bisnis–yang melihatnya seakan mangsa yang siap diterkam–, kemudian hal lainnya yang membuat hatinya berdesir, bahkan perasaan yang dulu sempat dirasakan ketika bersama Angga, justru kembali ia rasakan. Benarkah dia secepat itu melupakan Angga? “Kok, mendadak jadi gerah gini, yah,” batin Vana sambil mengipasi wajahnya. Dia memang benci pada Sean, tetapi dia juga seorang perempuan biasa yang akan tersipu ketika diperlakukan istimewa oleh pasangannya. “Kau ingin makan apa? Biar aku ambilkan?” Vana melihat ke arah stand minuman. Dia lalu menunjuk ke arah gelas yang sudah terisi minuman berwarna kuning bening. “Aku mau itu!” Kening Sean mengernyit tidak suka. “Tidak, Vana. Itu adalah alkohol. Kita tak minum yang seperti itu,” jawabnya cepat. “Bentar, biar aku ambilkan minuman yang lain buat kamu.” Vana mengangguk saja. Dia hampir tertipu dengan minuman tadi. Beruntung Sean mencegahnya jika tidak, bisa berdosa dia nanti. “Ini buat kamu!” Sebuah orange juice disodorkan. Vana tersenyum kecil dan menerima gelas itu. “Makasih.” Lirihnya sambil melihat ke arah lain. Selama acara berlangsung, Sean sama sekali tak melepaskan Vana. Dia akan selalu ada dimanapun Vana berada. Ketika mereka duduk di sebuah meja bundar pun, Sean selalu berusaha membuatnya nyaman. “Jika kamu merasa kurang nyaman berada di sini, aku minta maaf. Tapi, aku juga gak enak sama Papi, kalau sampai gak datang ke acaranya,” kata Sean dengan suara yang lirih. “It’s ok.” Vana tidak begitu mengikuti acara itu, fokusnya juga terletak pada tangan Sean. Perutnya terasa melilit kala pria itu tak sekalipun melepaskan rangkulan di pinggangnya. Dia ingin menolak, tetapi ada begitu banyak tamu yang sedari tadi terus menyapa, bahkan memuji Sean secara terang-terangan. “Sok penting.” Entah kenapa bibirnya begitu gatal untuk mencibir. Kekehan di sampingnya langsung terdengar. “Maafkan suamimu ini, Vana. Aku memang sangat penting. Jadi, aku harap kamu tak keberatan untuk bersabar sedikit lagi,” bisik Sean. Tiba-tiba, dua orang wanita cantik dengan gaun berpotongan rendah di bagian d**a, datang menghampirinya. Tepatnya Sean. “Hai, Sean. Apa kabar, Darling?” Pujian itu dibarengi dengan sikap agresif dari salah satu wanita yang langsung nyosor, mencium pipi Sean. What? Dia mengernyit saat mendapati betapa agresifnya mereka ketika mencium pipi Sean seolah dirinya tidak dianggap. Dan, yang membuatnya heran lagi adalah, sikap suaminya sana sekali tak terganggu dan justru menikmati. Dasar b******n! “Seperti yang kalian lihat, aku baik.” Sean menjawab setelah bercipika-cipiki dengan dua wanita itu. Dia yang merasa risih berniat pergi, tetapi tangan yang memeluk pinggang itu sama sekali tak membiarkan menjauh. “Oh, iya, Kareen, Kristin. Kenalkan, dia adalah Vana, istriku!” Belum sempat Vana menjabat tangan Kareen dan Kristin, dia sudah lebih dulu menarik tangan Sean. "Aku mau pulang sekarang!" bisik Vana. Sean terlihat bingung. Pria itu lalu menyeretnya ke tepian, menjauh dari hiruk pikuk pesta. Wajahnya kemudian ditangkup oleh Sean agar mereka saling pandang. “Tapi, acara baru saja dimulai, Van. Apa kamu sakit?" tanya pria itu panik. Vana melepas tangan besar itu dan sedikit menjauh. "Nggak! Aku cuma gak mau jadi pengganggu kalian bertiga.” Dia lalu berbalik, memunggungi Sean sambil berujar, “gak nyangka aku tuh, kamu ternyata lebih parah dari buaya buntung! Pantes aja punya ide buat ngejebak aku!” Suara kekehan dari belakang bahunya jelas terdengar dan itu adalah Sean. "Apakah kamu yakin jika aku seorang buaya?" Dia menarik bahunya hingga kini mereka saling berhadapan. "Kalau tidak, apalagi?” Vana mendengkus sengit. Sean tidak menjawab, tapi tangan pria itu dengan jahil, justru mencolek hidung bangir Vana. “Apa kamu baru saja cemburu, Vana?” “Apa? Aku cemburu?” Vana mendongak dengan perasaan muak. “Sorry, aku gak akan pernah cemburu sama kamu!” Sena mengangguk. “Ok, kalau gitu kita lihat saja!” Vana tak bisa mengelak saat Sean memintanya bergabung dengan Kareen dan Kristin. Senyum Vana canggung, tetapi masih terlihat cukup tulus. “Vana!” Namun, sebuah pelukan hangat dan tawa riang dari wanita yang memeluknya sungguh membuat Vana terkejut. “Oh, hai,” balas Vana canggung. Wanita bernama Kareen baru saja memeluknya dan menyambut hangat akan status istri yang disandangnya. Seolah-olah mereka memang sudah menunggu saat itu tiba. “Oh my God. Kamu cantik banget aslinya, Van. Sumpah, gak nyangka sih aku, kalau Sean bakalan bisa dapetin kamu.” Tepuk tangan dari Kareen sama sekali tak membuat Vana merasa tersanjung. Dia justru bingung maksud dari ucapan Kareen. “Em, terima kasih. Tapi, maksudnya apa, yah?” tanyanya langsung. Kareen melihat ke arahnya dan juga Sean. “Iya. Akhirnya kalian bersatu juga. Kyaaa! Pokoknya aku ikutan seneng. “ Kareen menatap wajah Vana penuh rasa haru dan syukur. “Kamu pasti gak akan tahu bagaimana suamimu itu bercerita tentangmu selama–” “Kareen, Please!” Sean langsung menarik pinggangnya agar menjauh dari dua temannya. Tatapan Sean tertumbuk hanya untuk dirinya. “Kamu gak usah dengerin ucapan Kareen, Van. Dia orangnya suka melebih-lebihkan,” jelas Sean dengan wajah panik. Panik? Namun, untuk apa Sean panik? Apa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Sean darinya? “Melebih-lebihkan bukankah keahlian kamu, Sean? Apalagi jika sudah menyangkut….” “Stop, Kareen!” Sean langsung melepaskan rangkulan dari pinggang Vana, kemudian berjalan sedikit menjauh darinya. Namun, sebelum pergi, Kareen membisikkan sesuatu padanya, “ "Intinya, dia itu cinta mati sama kamu!” Vana menatap Kareen dan Sean yang sedang terlibat obrolan sengit di sana. Dia sedikit terganggu akan ucapan Kareen tadi. “Apa benar jika Sean mencintainya sebanyak itu? Tapi, kenapa dia bisa Setega itu melakukan hal keji padaku?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD