bc

Kontrak Setahun, Cinta Selamanya

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
contract marriage
HE
love after marriage
arrogant
heir/heiress
drama
sweet
bxg
campus
city
sassy
affair
like
intro-logo
Blurb

Dinda, mahasiswi semester lima dengan beasiswa yang terancam dicabut, ia tidak punya pilihan ketika di tawarkan untuk menikah kontrak selama satu tahun dengan Raka, kakak tingkat yang dikenal dingin dan perfeksionis. Raka butuh status menikah agar warisan kakeknya cair. Dinda butuh biaya kuliah dan pengobatan ibunya.

Perjanjian sudah ditandatangani, aturannya jelas. tidak ada perasaan, tidak ada campur urusan pribadi, dan setelah dua belas bulan semuanya selesai.

Masalahnya, Raka mulai hafal kopi favorit Dinda. Dinda mulai khawatir kalau Raka pulang telat. Dan satu pasal dalam kontrak itu mulai terasa sangat sulit ditaati.

Kalau perasaan melanggar kontrak, siapa yang harus membayar dendanya?

chap-preview
Free preview
Tawaran yang Tidak Masuk Akal
Dinda menatap layar ponselnya sampai huruf-huruf di sana terasa berenang. Pemberitahuan, Beasiswa Prestasi Anda ditangguhkan karena IPK semester lalu di bawah ketentuan. Pembayaran UKT semester ini sebesar Rp6.200.000 harus diselesaikan paling lambat hari Jumat, pukul 15.00 WIB. Hari ini Rabu. "Din, pesanan meja lima!" Suara Sasa dari balik mesin kopi membuat Dinda tersentak. Ia buru-buru mengunci ponsel, menyelipkannya ke saku apron, lalu memasang senyum yang sudah ia latih sejak tiga bulan bekerja di Kafe Sudut Kampus. Senyum yang cukup ramah untuk pelanggan, cukup tebal untuk menutupi isi kepalanya. "Dua latte, satu es teh tarik. Siap," sahutnya. Sasa menatapnya dari ujung mata sambil menuang s**u. "Kamu pucat banget. Ibu kamu gimana?" "Baik. Kontrol Senin kemarin, hasilnya stabil." Dinda mengambil nampan. "Obatnya aja yang... ya, begitulah." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Sasa tidak memaksa. Itu alasan Dinda menyayangi sahabatnya itu. Obat ibunya, tagihan rumah sakit yang belum lunas, UKT, dan kos yang dua minggu lagi jatuh tempo. Dinda sudah menghitung ulang semuanya di kepala berkali-kali, dan hasilnya selalu sama: kurang. Selalu kurang. Ia mengantar pesanan ke meja lima, lalu berbalik ke arah pintu tepat ketika lonceng kecil di atasnya berdenting. Dan jantungnya langsung mengeras. Raka Pradipta. Tidak mungkin salah. Tinggi, bahu lurus, kemeja putih yang digulung rapi sampai siku, dan wajah yang tampak seperti tidak pernah belajar caranya tersenyum. Ketua BEM Fakultas Ekonomi sekaligus mahasiswa semester akhir yang namanya dipuji dosen dan ditakuti adik tingkat. Dan orang yang enam bulan lalu mencoret proposal kegiatan Dinda dengan satu kalimat: Tidak realistis. Revisi total. Dinda masih ingat tulisan tangannya yang tegak dan dingin itu. "Selamat datang," ucapnya setengah hati ketika Raka berdiri di depan kasir. Raka menatapnya. Lama. Terlalu lama untuk seseorang yang hanya ingin memesan kopi. "Americano. Tanpa gula." Ia berhenti sebentar. "Dan waktu kamu sepuluh menit, kalau shift kamu mengizinkan." Dinda mengerjap. "Maaf?" "Dinda Aulia, Akuntansi angkatan 2022." Nada Raka datar, seperti membaca absensi. "Saya perlu bicara. Ada tawaran." "Kalau soal proposal, saya sudah revisi dan..." "Bukan soal proposal." Dari balik mesin kopi, Dinda bisa merasakan tatapan Sasa membakar punggungnya. Sepuluh menit kemudian, mereka duduk berhadapan di pojok kafe yang sepi. Raka menyentuh gelas kopinya sekali, lalu mendorongnya menjauh seolah lupa kenapa ia memesannya. Sebagai gantinya, ia mengeluarkan map cokelat dari tas dan meletakkannya di atas meja. "Baca," katanya. "Apa ini?" "Baca dulu." Dinda membuka map itu dengan alis berkerut. Halaman pertama berjudul huruf kapital: PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK. Ia tertawa. Pendek, tidak percaya. "Kak, ini prank? Kalau iya, saya nggak lucu ketawanya." "Saya tidak bercanda." Ekspresi Raka tidak berubah sedikit pun, dan itulah yang membuat tawa Dinda mati sendiri di tenggorokan. "Kakek saya meninggalkan warisan," lanjut Raka tenang. "Perusahaan, tanah, dan rumah. Syaratnya, saya harus sudah menikah sebelum usia dua puluh empat. Ulang tahun saya tahun depan, bulan Oktober." "Terus kenapa harus saya? Kakak pasti punya siapa pun yang bisa dinikahi tanpa kontrak." "Karena yang saya butuhkan bukan pacar. Saya butuh orang yang tidak akan menuntut apa pun dari saya selain yang tertulis di perjanjian." Dinda menatapnya. "Dan Kakak pikir saya orang itu?" "Saya pikir kamu orang yang butuh uang, dan bisa menjaga rahasia." Kalimat itu jatuh seperti tamparan, pelan tapi tepat. "Dari mana Kakak tahu saya..." "Beasiswa kamu ditangguhkan. Saya lihat daftarnya kemarin, karena saya ketua lembaga yang mengurus pengajuan banding." Raka mengatakannya tanpa nada kasihan, dan entah kenapa itu justru lebih mudah diterima. "Ibu kamu sakit, kamu bekerja tiga shift, dan kamu menolak bantuan dari dana mahasiswa karena gengsi." "Itu bukan gengsi!" "Itu gengsi," kata Raka. "Dan itu bukan hal buruk. Itu alasan kenapa saya percaya kamu akan memegang janji." Dinda mengepalkan tangan di bawah meja. Ia ingin berdiri, melempar map itu, lalu keluar dari kafe. Tapi kakinya tidak bergerak. Karena di kepalanya, angka-angka itu muncul lagi. Enam juta dua ratus ribu. Jumat, pukul tiga sore. "Apa yang Kakak tawarkan?" suaranya keluar lebih kecil dari yang ia harapkan. Raka membuka halaman kedua dan menggeser map itu ke arahnya. "Satu tahun. Saya lunasi UKT kamu sampai lulus, biaya pengobatan ibu kamu saya tanggung, dan kamu mendapat kompensasi bulanan. Setelah dua belas bulan, kita bercerai. Tanpa drama, tanpa tuntutan." "Pernikahan sungguhan? Yang pakai penghulu?" "Sah secara agama dan negara. Kalau tidak, warisannya tidak bisa cair." Dinda membaca baris demi baris dengan jari yang mulai dingin. Pihak Pertama. Pihak Kedua. Kewajiban. Larangan. Jumlah nominal yang membuatnya menelan ludah. Dan di halaman ketiga, ada daftar pasal. Pasal 1. Pihak Kedua tidak diperkenankan jatuh cinta kepada Pihak Pertama. Pasal 2. Di hadapan keluarga, kedua pihak wajib bersikap sebagai suami istri yang sesungguhnya. Pasal 3. Status pernikahan dirahasiakan dari lingkungan kampus. Pasal 4. Setelah dua belas bulan, perjanjian berakhir dan kedua pihak bercerai secara baik-baik. Dinda mendongak. "Pasal satu itu serius?" "Paling serius." "Kenapa cuma saya yang dilarang? Kakak boleh?" Untuk pertama kalinya, sudut bibir Raka bergerak sedikit. Tidak cukup untuk disebut senyum, tapi cukup untuk membuatnya terlihat... manusiawi. "Karena saya tidak perlu dilarang." Dinda mendengus. Percaya diri sekali. "Tenang aja, Kak. Itu pasal paling gampang yang pernah saya baca. Orang yang jatuh cinta sama Kakak pasti butuh pengobatan juga." Kali ini Raka benar-benar menahan sesuatu. Dinda tidak yakin itu tawa atau tersinggung. "Berarti kita sepakat?" "Saya belum bilang..." Dinda berhenti. Ponselnya bergetar di saku apron. Ia mengintip layar. Satu pesan dari ibunya. Nak, jangan lupa makan ya. Ibu baik-baik saja. Jangan terlalu capek kerja. Ibu selalu bilang baik-baik saja. Bahkan ketika dokter bilang sebaliknya. Dinda menutup mata sebentar. Menarik napas panjang. Lalu mengambil pulpen di meja yang sudah disiapkan Raka, entah sejak kapan. "Satu syarat," katanya. "Sebutkan." "Ibu saya tidak boleh tahu ini kontrak." Sesuatu melintas di wajah Raka. Cepat sekali, hampir tidak terbaca. "Setuju." Dinda menandatangani halaman terakhir. Tangannya gemetar, tapi tulisannya tegas. Bertahun-tahun belajar membubuhkan tanda tangan di lembar ujian, dan kini ia menggunakannya untuk menjual setahun hidupnya. Raka menerima map itu, memeriksa tanda tangannya sekilas, lalu berdiri. "Akad hari Minggu. Pukul sembilan, di rumah keluarga saya. Besok pagi saya jemput kamu untuk bertemu ibu saya." "Minggu?" Dinda hampir tersedak. "Ini hari Rabu!" "Karena itu saya bilang, kita tidak punya banyak waktu." Raka berjalan ke pintu, lalu berhenti dan menoleh. "Dinda." "Apa lagi?" "Pasal pertama," katanya pelan, "jangan dianggap remeh." Lonceng di pintu berdenting. Raka pergi, meninggalkan kopi yang tak tersentuh dan Dinda yang masih memegang pulpen dengan tangan dingin. Sasa muncul di sampingnya dengan mata membesar. "Din. Itu tadi apa? Kenapa kamu pucat banget? Dia ngomong apa?" Dinda menatap pintu yang sudah tertutup. "Sa," bisiknya, "kayaknya aku baru aja setuju menikah sama orang yang paling aku benci." Ponselnya bergetar lagi. Nomor tak dikenal. Ini Raka. Simpan nomor saya. Dan jangan terlambat besok.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Yüzbaşının Cerrahı

read
1.6M
bc

The Silver Wolf

read
609.9K
bc

The Billionaire’s Intern

read
1.2M
bc

Chosen, just to be Rejected

read
905.7K
bc

Inferno Demon Riders MC: My Five Obsessed Bullies

read
1.2M
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.3M
bc

Unscentable

read
2.3M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook