Menara Eldareth menjulang tinggi menembus awan. Dinding-dindingnya terbuat dari kristal hitam yang hanya bisa dipahat oleh sihir tertinggi. Di puncaknya, para Archon duduk melingkar, memandang proyeksi dunia yang semakin retak.
"Dia telah kembali," ujar Archon Maelis, wanita berambut perak dengan mata seperti bulan mati. "Dan dia membawa kekuatan yang bahkan tidak kita perkirakan."
"Mustahil," sang Archon tertua menggeleng. "Segel tujuh lapis itu tidak mungkin ditembus. Tidak tanpa kunci dimensional."
Seorang lelaki muda dengan jubah merah gelap berdiri dari kursinya. Ia adalah Archon termuda, dan satu-satunya yang tidak mengenal Ayzen secara langsung.
"Aku sudah mengamati celah dimensi sejak tiga bulan lalu. Tidak ada kekuatan yang cukup untuk memecah segel, kecuali dari dalam dirinya sendiri."
Maelis menoleh padanya. "Kau ingin mengatakan bahwa Ayzen... melepaskan dirinya sendiri?"
"Aku ingin mengatakan bahwa kita menyegel tubuhnya, tapi bukan kehendaknya."
Hening memenuhi ruang pertemuan.
Sementara itu, di desa kecil bernama Velon, seorang gadis muda bernama Arna sedang mencoba membangkitkan sihir pertamanya. Ia gagal. Seperti biasa. Tapi saat ia menyentuh sebuah batu tua di dalam sumur suci, sesuatu merespons. Sebuah aliran energi halus masuk ke nadinya.
Matanya membelalak.
Kilatan bayangan dan cahaya menari dalam tatapan matanya. Ia jatuh pingsan, dan suara asing berbisik di telinganya.
"Kaulah yang akan membuka kunci berikutnya."
Di tempat lain, Ayzen berdiri di atas reruntuhan Menara Sils, tempat kuno yang dulu ia lindungi.
Suaranya lirih saat berbicara kepada angin.
"Mereka memecah dunia untuk menyelamatkan keseimbangan. Aku akan memecah keseimbangan untuk menyelamatkan dunia."
Seseorang muncul di balik kabut. Seorang gadis muda berambut pendek, membawa kitab kuno yang penuh segel sihir.
"Ayzen," katanya tanpa ragu. "Namaku Lira. Aku datang bukan untuk melawanmu, tapi untuk belajar. Aku ingin tahu... mengapa semua orang takut pada pria yang memilih mencintai satu orang di atas segalanya."
Ayzen menatapnya lama. Di matanya, ia melihat sekilas wajah Ardyn, gadis dari masa lalu yang ia korbankan. Yang menjadi alasan semua ini dimulai.
"Kau datang di waktu yang salah."
"Tidak," Lira membalas tegas. "Aku datang saat dunia butuh alasan baru untuk percaya."
Ayzen menutup matanya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa... sedikit terguncang.
Angin pagi di desa Velon membawa aroma tanah basah dan bunga liar. Tapi pagi itu berbeda. Warga desa mendapati sumur suci ditutup oleh cahaya aneh yang tidak bisa disentuh, tidak bisa dilangkahi, dan tidak bisa dijelaskan.
Arna terbangun di dalam kamarnya. Kepalanya berat, tapi tubuhnya terasa ringan, seperti baru saja dilahirkan kembali. Di telapak tangannya, muncul simbol aneh. Simbol itu berdenyut seperti jantung. Ungu. Hangat. Hidup.
Ia mencoba menyembunyikannya di balik selimut, namun simbol itu memancar ke seluruh ruangan. Saat ia menoleh ke cermin, untuk sesaat, bayangan yang muncul bukan dirinya.
Bayangan itu adalah perempuan tua. Penuh luka. Penuh kemarahan. Tapi juga... penuh cinta.
"Apa yang kau lihat... adalah kemungkinan terakhirmu," suara dari dalam bayangan itu berkata pelan. "Jangan abaikan panggilanmu. Dunia ini tak akan lama lagi utuh."
Arna ingin berteriak, tapi suara tak keluar. Ia memejamkan mata, dan saat membuka kembali, bayangan itu telah hilang. Tapi simbol itu tetap ada.
Di tempat lain, Ayzen membuka halaman terakhir dari kitab Lira. Kitab itu adalah salinan yang hilang dari Ars Venar—the Forbidden Codex. Ia tak ingin menyentuhnya, tapi jari-jarinya bergerak sendiri.
Lira berdiri di dekat pintu, menatap diam.
"Aku tahu kau tidak mempercayai siapa pun."
Ayzen menatap ke arahnya.
"Tapi aku di sini bukan untuk menebus dosa. Aku di sini karena aku tahu kau pernah mencintai seseorang... dan karena cinta itu, kau mengkhianati semua yang lain."
Ayzen menutup kitab itu perlahan.
"Cinta tidak mengkhianati. Yang mengkhianati adalah dunia yang memaksa seseorang memilih siapa yang layak hidup."
Lira menggenggam liontin kecil di dadanya. "Lalu, menurutmu siapa yang layak hidup sekarang?"
Ayzen bangkit dari tempat duduknya. Sorot matanya kembali tenang, tapi tidak lembut.
"Seseorang yang masih punya hati untuk mempertanyakan itu."
Sementara itu, Arna berjalan pelan di sepanjang sungai Velon. Ia mendengar bisikan angin. Namun bukan angin biasa. Angin itu membawa suara yang pernah dibisikkan di zaman sebelum sihir dikenal manusia.
"Kunci kedua telah dibuka. Cahaya akan mulai berubah bentuk. Perhatikan langit saat bulan purnama berikutnya. Mereka akan mencarimu."
Arna menggenggam simbol di telapak tangannya. Ia tidak tahu siapa "mereka". Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendiri.
Langit di atas Menara Archon memucat, seolah matahari enggan muncul. Di lantai ketujuh, di ruang yang hanya bisa diakses oleh mereka yang bergelar Sage, suara detakan pena bergema pelan.
Elder Myrr sedang menyalin ulang manuskrip kuno tentang garis keturunan penyihir tertua. Tangannya yang gemetar sudah terlalu sering menulis hal-hal yang seharusnya dilupakan. Namun kali ini, ia berhenti. Matanya terpaku pada satu kalimat yang muncul sendiri. Tak tertulis oleh penanya.
"Ayzen... Sang Penutup Gerbang."
Myrr mundur. Jantungnya berdetak terlalu keras untuk ukuran pria seusianya. Ia pernah mendengar nama itu, sekali, dalam bisikan ruangan kosong. Tapi setiap ia mencarinya kembali, nama itu tak pernah muncul.
Ia meraih tongkatnya, dan berjalan tertatih ke ruang rekaman kristal. Ia menekan urutan rune tertentu, membuka lemari penyimpanan mantra yang hanya digunakan saat waktu mulai runtuh.
Dan di dalam kristal bening itu, terlihat kembali gambar seorang pemuda bertudung gelap, berdiri sendirian di tengah medan perang yang terbakar. Di sekelilingnya, para penyihir dan bangsawan jatuh satu per satu, bukan oleh pedang atau sihir, melainkan oleh keputusasaan yang dipaksakan.
Ayzen berdiri tak tersentuh. Di matanya tidak ada kebencian. Hanya kelelahan.
"Kenapa... kau muncul kembali sekarang?" bisik Myrr.
Di desa Velon, Arna mendadak merasa pusing. Simbol di tangannya menyala lebih terang, dan suara dari sungai kini lebih jelas.
"Ayzen akan bangkit. Dunia akan memilih untuk mengingat... atau hancur karena lupa."
Sementara itu, di tempat yang lebih jauh dari pemahaman manusia, Ayzen sendiri sedang duduk dalam ruang tersembunyi di dalam Gunung Seridra. Di sekelilingnya adalah serpihan ingatan gambar, suara, dan rasa yang tak pernah lengkap.
Ia menatap dinding batu yang tertulis ribuan nama. Nama-nama yang telah ia lindungi, lupakan, dan... hapus.
Tapi satu nama kini muncul di tengah dinding.
Arna Veylin.
Ayzen berdiri. Angin tipis berhembus melewati jubah hitamnya.
"Akhirnya... satu di antara mereka mengingat."
Ia membuka matanya. Dan dunia pun mulai goyah.
Langit di atas Gunung Seridra tak menampakkan bintang. Hanya kabut perak mengalir perlahan, menutupi puncak seperti jubah langit yang menolak terbuka. Ayzen berdiri di tepi tebing curam, memandang ke kejauhan, ke arah hutan-hutan yang terlupakan dan kota-kota yang pernah memujanya.
Suara langkah kaki terdengar di belakangnya. Ringan, tapi tidak bersembunyi.
"Aku tahu kau datang," ucap Ayzen tanpa menoleh.
Arna berdiri di sana. Napasnya masih terengah setelah mendaki separuh gunung dengan sihir pelindungnya hampir habis.
"Aku tidak tahu kenapa aku ke sini," katanya jujur.
"Tapi aku tahu namamu. Dan setiap kali aku menuliskannya, dunia gemetar sedikit."
Ayzen menatap langit.
"Karena dunia ini dibangun di atas ingatan yang dipalsukan. Nama-nama lama dikubur agar yang baru bisa bersinar. Tapi tidak semua nama bisa dilupakan."
Ia berjalan mendekat ke arah Arna. Mata mereka bertemu.
"Kau tidak seharusnya mengingatku. Itu melanggar hukum keheningan."
"Tapi aku tetap mengingat," jawab Arna. "Dan itu berarti kau belum sepenuhnya hilang."
Di kejauhan, angin mulai berputar. Langit yang kelabu berdenyut pelan, seperti bernapas.
Ayzen menutup mata. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia terlihat lelah.
"Ada yang bangkit dari bawah tanah waktu," katanya pelan. "Sesuatu yang bukan hanya ingin menghapus nama, tapi seluruh jejak keberadaan."
Arna merasa tanah bergetar.
"Siapa?" tanyanya.
"Dia tidak punya nama," kata Ayzen. "Karena semua nama yang pernah ia miliki telah ia buang sendiri."
Mereka berdua diam. Hening itu begitu berat, seolah langit menunggu keputusan.
> "Kalau begitu," ujar Arna akhirnya, "biarkan aku menjadi saksi. Tuliskan kembali sejarahmu. Tidak untuk dunia. Tapi untukku."
Ayzen menatapnya. Lalu mengangkat tangannya, dan dari langit turun selembar kertas bercahaya. Di atasnya, tulisan-tulisan tua mulai terbentuk sendiri.
"Nama itu dulu membawa harapan. Lalu ketakutan. Lalu kehancuran."
"Tapi sekarang..." Ayzen menyerahkan kertas itu pada Arna.
"...biarlah dia menjadi pilihan."
Dari balik langit tertutup, satu cahaya tipis mulai menembus kabut. Dan untuk pertama kalinya sejak ratusan tahun, Gunung Seridra kembali terang.