Bab 5

1314 Words
Arna menyimpan lembaran bercahaya itu dalam gulungan sihir. Jari-jarinya masih gemetar, bukan karena dingin, tetapi karena kebenaran yang baru saja disentuhnya. Nama Ayzen bukan hanya sejarah yang dilupakan, melainkan awal dari luka yang belum sembuh bagi dunia sihir. Ayzen berdiri di bibir tebing, angin malam meniupkan rambut hitamnya. Matanya menatap jauh, seolah melihat masa lalu yang menolak tenang. Aku merasakan pergerakannya, kata Ayzen pelan. Arna menoleh. Siapa? Sesuatu yang dulu berada di bawah peraturanku, jawab Ayzen. Tapi ia melepaskan namanya sendiri dan menelan ingatannya agar bisa hidup tanpa batas. Sekarang ia kembali, bukan sebagai manusia, bukan juga sebagai iblis. Arna mengerutkan kening. Bagaimana mungkin ada makhluk seperti itu? Karena nama memiliki kekuatan. Mereka yang melupakan dirinya sendiri, bisa menjadi apa pun. Tapi mereka juga bisa kehilangan segalanya. Ayzen menutup mata. Dalam kegelapan, ia bisa mendengar bisikan lama. Suara-suara dari masa kejayaan, dari pengkhianatan, dari kutukan yang ia tanggung sendiri. Arna melangkah mendekat. Kau ingin aku tetap bersamamu? Ayzen membuka matanya, menatapnya lekat. Aku tidak memintanya. Tapi aku tahu kau sudah memilih. Arna mengangguk. Maka beri aku alasan untuk tetap bertahan. Jika aku harus bertarung, aku ingin tahu untuk siapa. Ayzen mengangkat tangannya. Dari telapak tangannya muncul bayangan tipis, seperti asap yang berkilau. Itu bukan sihir biasa. Itu adalah kenangan yang dikunci dengan darah dan kehilangan. Lihatlah, ucap Ayzen. Bayangan itu berubah menjadi bentuk. Sosok pria tanpa wajah berdiri di antara puing-puing. Sekitarnya gelap. Dunia seperti tercipta dari retakan dan kebencian. Ia adalah aku yang lain. Atau mungkin aku yang gagal. Dia tidak menginginkan tahta. Tidak menginginkan balas dendam. Dia hanya ingin dunia diam. Sepi. Tidak ada yang mengingat siapa pun. Arna bergidik. Dia akan datang ke Velmora dulu. Tempat terakhir yang menyimpan namaku. Ayzen mengangguk. Dan dia akan menghapus semua yang menyebutku, termasuk kau. Arna mengepalkan tangan. Maka biarkan aku menjadi yang terakhir mengingat. Langit di atas mereka tiba-tiba memekat. Angin berputar membentuk pusaran. Cahaya di ujung tebing memudar. Ayzen menatapnya dengan tenang. Pertempuran tidak selalu dimulai dengan pedang. Tapi akan berakhir dengan satu keputusan. Arna menatap balik. Lalu mari kita pastikan keputusan itu adalah milik kita, bukan milik mereka. Dari bawah gunung, suara seperti gema bisikan ribuan jiwa mulai merayap. Dunia bersiap melupakan. Dan mereka bersiap untuk mengingat. Pagi di Akademi Velmora tidak pernah benar-benar terang. Kabut tipis menyelimuti menara-menara tinggi dan lorong-lorong batu yang berkelok, seolah dunia enggan membuka dirinya sepenuhnya. Tapi pagi itu, bukan hanya cahaya yang menolak masuk, melainkan waktu itu sendiri. Jam besar di menara utama berhenti berdetak. Bukan melambat. Bukan rusak. Tapi benar-benar berhenti, seolah waktu kehilangan izin untuk bergerak. Selena menyadarinya pertama kali. Ia baru saja keluar dari ruang catatan ketika melihat bayangan matahari tidak berpindah sedetik pun. Daun yang harusnya jatuh dari pohon tetap tergantung di udara. Angin tak menyentuh wajah. Ia mencoba mengucap mantra percepatan. Tidak ada yang keluar. Mantra pelindung. Tidak ada cahaya. Bahkan namanya sendiri terasa asing saat ia menggumamkannya. Selena menunduk. Di balik lengan jubahnya, ia masih melihat goresan darah yang dituliskannya malam itu: Elara. Nihil. Selena. Tiga nama yang tidak bisa dilupakan. Ia berlari. Menuruni tangga batu, melintasi aula tenang yang membeku dalam diam. Hingga akhirnya, ia melihat mereka. Elara duduk di tepi kolam, airnya tak bergelombang. Nihil berdiri tegak, seperti patung. Mereka masih bergerak. Masih sadar. Tapi lambat. Berat. Seolah sesuatu sedang mengunci mereka dari dalam. Selena berlutut di depan Elara dan menggenggam tangannya. Kau masih di sini? Elara mengangguk pelan. Aku merasa... seperti tenggelam di dalam ingatan. Tapi bukan ingatanku sendiri. Seperti dunia memaksa kita untuk melupakan, dengan menanamkan ingatan yang bukan milik kita. Nihil melangkah mendekat. Suaranya rendah. Dia datang. Siapa? tanya Selena. Bayangan yang tidak punya nama. Langkah kaki menggema dari arah gerbang utama Velmora. Tapi suara itu tidak seperti langkah manusia. Setiap dentingnya seperti merobek waktu. Sosok itu akhirnya muncul. Jubah hitam, wajah tersembunyi, dan di belakangnya, lusinan siluet tanpa wajah mengikuti. Mereka bukan makhluk sihir. Bukan iblis. Mereka adalah ingatan yang dihapus. Nama-nama yang dilenyapkan. Mereka adalah hasil dari dunia yang tidak ingin mengingat. Pemimpin mereka berhenti di tengah lapangan utama Velmora. Ia menatap langsung ke arah tiga orang itu. Selena menggertakkan gigi. Siapa kau? Sosok itu berbicara. Suaranya tidak keras, tapi menggema ke seluruh ruang dan waktu. Aku adalah sisa dari dunia yang tak pernah diucapkan lagi. Dan Velmora... adalah lembaran terakhir. Elara berdiri. Suaranya bergetar, tapi jelas. Jika kau datang untuk menghapus nama kami, maka kau akan gagal. Bayangan itu mengangkat tangan. Langit di atas Velmora mulai retak seperti kaca. Warna-warna dunia memudar. Nama-nama di dinding akademi perlahan menghilang satu per satu. Tapi Selena, Elara, dan Nihil... berdiri saling menggenggam. Dan dari telapak tangan mereka, cahaya mulai menyala. Bukan sihir biasa. Tapi kekuatan yang lahir dari mengingat. Kita akan menuliskan kembali sejarah, bisik Elara. Bersama, ucap Nihil. Meski dunia menolak, tambah Selena. Cahaya dari tangan mereka membentuk garis, menyambung menjadi simbol. Simbol itu bukan mantra, bukan jimat. Tapi huruf pertama dari setiap nama mereka. E, N, S. Simbol itu menembus langit yang retak, menolak dilenyapkan. Dan waktu... mulai berdetak lagi. Langit belum benar-benar pulih, tapi waktu mulai bergerak perlahan. Gerakan daun kembali jatuh. Angin kembali berbisik. Tapi luka di langit, retakan yang terbuka seperti kaca patah, masih menganga. Selena berdiri menatapnya dari menara tertinggi Velmora. Di bawah, Elara dan Nihil berusaha memperbaiki ruang arsip yang hancur sebagian akibat gelombang sihir terdistorsi. Banyak catatan masih menghilang. Banyak nama tetap tidak bisa dibaca. Namun satu hal sudah jelas. Dunia sedang memudarkan ingatannya sendiri. Dan mereka bertiga adalah anomali. Yang seharusnya sudah dilupakan, tapi tetap ada. Selena menatap batu kecil yang kini tergantung di lehernya. Batu itu tidak memancarkan sihir, tidak berkilau. Tapi terasa hangat. Seolah menyimpan suara yang belum diucapkan. Elara muncul dari balik pintu. Kami menemukan lorong tersembunyi. Di bawah ruang utama. Ada lambang kuno di sana. Tiga lingkaran berpotongan. Simbol awal dari ‘nama’. Selena mengangguk. Aku melihat simbol itu dalam mimpiku semalam. Nihil masuk membawa lembaran perkamen tua. Semua tulisan di dalamnya sudah hilang, kecuali satu kalimat. Nama terakhir yang dikenang akan menjadi kunci untuk melawan kehampaan. Mereka saling berpandangan. Tidak ada yang bicara, tapi semuanya memahami hal yang sama. Mereka harus menemukan nama itu. Nama yang bahkan dunia tidak bisa hapus. Malam itu, mereka bertiga masuk ke lorong tua di bawah akademi. Cahaya sihir tidak bisa dinyalakan, jadi mereka berjalan dalam gelap, hanya mengandalkan sentuhan dan suara napas satu sama lain. Lorong itu terasa hidup. Dindingnya berdetak seperti jantung. Udara begitu tipis, seolah menolak setiap napas. Setelah berjam-jam, mereka tiba di sebuah ruangan bundar. Tidak ada pintu. Tidak ada altar. Hanya lantai batu dan satu cermin retak di tengah ruangan. Elara mendekat. Wajahnya memantul di cermin, tapi bukan wajahnya saat ini. Melainkan wajah seorang gadis kecil, duduk sendirian di bawah hujan, menulis namanya di tanah agar tidak dilupakan. Aku menulis namaku agar tetap ada. Bahkan jika tidak ada yang mengingatku. Nihil melihat cermin dan melihat dirinya sendiri… tanpa wajah, tanpa nama, hanya sepotong bayangan yang mencoba bertahan di dunia yang tidak pernah memberinya tempat. Lalu Selena mendekat dan melihat sosok wanita tua, tersenyum kepadanya. Aku menyebut namamu setiap malam. Karena dengan menyebutnya, kau hidup. Dari dalam cermin, cahaya muncul. Tapi bukan cahaya yang membutakan, melainkan cahaya lembut. Seperti ingatan yang datang kembali. Tiba-tiba, nama-nama mulai bermunculan di lantai. Bukan hanya mereka bertiga, tapi ratusan, ribuan nama. Nama orang-orang yang pernah ada, yang pernah hilang, yang pernah dihapus. Semua kembali. Dan dari tengah ruangan, sebuah suara terdengar. Lembut, namun menggetarkan ruang. Siapa di antara kalian yang masih percaya bahwa nama memiliki kekuatan? Aku percaya, jawab Elara. Aku juga, bisik Nihil. Aku… selalu percaya, kata Selena. Cermin pecah perlahan. Tapi dari pecahan itu, muncul satu nama. Terukir dengan cahaya putih keemasan. Ayzen. Nama yang tak pernah ditulis, tapi selalu hidup dalam bisikan. Ayzen, ujar mereka bertiga bersamaan. Dan ketika nama itu disebut, retakan langit di atas Velmora menyatu kembali. Waktu memulihkan diri. Dunia mengingat lagi. Tidak hanya mereka. Semua yang pernah terlupakan, kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD