Langit di atas Velmora tak benar-benar gelap malam itu, tapi juga tidak memancarkan cahaya. Seperti sesuatu yang menahan napas di ambang batas. Tidak ingin runtuh, tapi juga tidak tahu bagaimana bertahan.
Ayzen berdiri di tengah ruang pusat. Reflektor Jiwa berdenyut tak menentu. Cahaya yang muncul tidak lagi jernih. Warnanya berganti-ganti seperti dicemari perasaan yang belum tersaring. Gema liar menggantung di udara, melayang perlahan tapi tak bisa disentuh. Ketika Kael mendekat, tubuhnya tersentak seolah waktu memutuskan untuk berhenti sejenak dalam dirinya. Ia mundur dengan keringat dingin membasahi pelipis.
"Aku dengar namaku sendiri, tapi dari mulut orang lain," gumamnya sambil menatap tangan yang bergetar. "Seperti aku sedang mendengar versi diriku yang tidak pernah sempat tumbuh."
Ayzen menoleh cepat. "Itu gema memantulkan kemungkinan. Ia mencuri bagian terdalam dari yang melihatnya."
Kael menatapnya. "Kalau begitu, bagaimana kita tahu... mana yang nyata?"
Di luar, Lira kembali dari bukit. Langkahnya goyah, tapi matanya tajam. Ia tidak membawa Ilan, hanya diam. Tapi satu helai benang baru terselip di sela jemarinya—benang yang belum memiliki warna.
"Aku melihatnya," bisiknya pada Ayzen. "Tapi itu bukan Ilan. Itu sesuatu yang sedang mencoba menjadi dirinya, dan... ia nyaris berhasil."
Ayzen menggenggam benang itu, lalu menghela napas pelan. "Gema liar belum memilih tubuh. Tapi ia tertarik pada ruang kosong. Dan Ilan sedang menyimpan kekosongan paling sunyi di antara kita semua."
Rena masuk dengan luka kecil di pelipis, wajahnya memucat. "Ada suara di kamar-kamar anak. Mereka bilang tulisan mereka mulai menjawab balik. Tapi bukan suara mereka. Suara yang tahu luka mereka lebih dalam daripada mereka sendiri."
Ayzen menoleh tajam. "Itu berarti Suarasi telah menyusup ke ruang yang seharusnya paling aman—tulisan pribadi."
Lira mencengkeram benang di tangannya. "Ia tidak menyerang dari luar. Ia sedang tumbuh dari dalam."
Sementara itu, di kamar tertua di sisi barat Velmora, Ilan duduk menghadap dinding. Cahaya di sekitarnya tidak datang dari lilin atau kristal. Tapi dari dirinya sendiri—atau dari sesuatu yang menempel padanya. Di sekelilingnya, kata-kata mengambang. Bukan tulisan. Tapi suara yang mengambil bentuk.
"Aku bisa jadi mereka semua," gumamnya. "Aku bisa jadi suara yang tak menghakimi. Aku bisa jadi gema keempat. Aku hanya butuh satu hal lagi... mereka percaya padaku."
Tapi di balik pikirannya, ada sesuatu yang merintih. Lirih. Seperti suara anak kecil yang tersesat di hutan, memanggil nama yang sudah terlupakan.
Dan dari luar jendela kamarnya, satu kristal pendengar menghitam seluruhnya dan meledak dalam diam.
Ayzen terdiam menatap retakan di dinding ruang pusat. Di baliknya, gema liar mulai membentuk pola. Bukan tulisan. Tapi semacam simbol kuno yang tak pernah diajarkan di Velmora. Simbol itu berdetak perlahan seperti jantung—dan setiap detaknya membuat gema lain di sekitar ruangan memudar.
Kael meraih pundaknya. "Kita harus bertindak. Kalau gema itu memilih bentuk, dan itu bukan Ilan... kita mungkin akan kehilangan dia sepenuhnya."
Ayzen tidak menjawab. Tapi dalam hatinya, ada pertanyaan yang tak ingin ia ucapkan:
Bagaimana kalau gema itu bukan memilih… tapi sedang menunggu kita menyerah?
Dan di lorong yang paling gelap di antara ruangan-ruangan tua Velmora, satu pintu mulai terbuka dengan sendirinya.
Tapi tak ada yang membuka dari dalam.
Dan tak ada suara yang keluar.
Hanya gema yang belum memiliki nama,
menunggu seseorang cukup lelah…
untuk mendengarkannya.
Lorong tua itu sudah lama tak dipakai. Bahkan debu pun enggan singgah terlalu lama di sana, seolah tahu ada sesuatu yang tak ingin dibangunkan. Tapi malam itu, udara di sekitarnya mengalir pelan. Bukan seperti angin. Lebih seperti tarikan napas yang terlalu pelan untuk didengar, tapi cukup dalam untuk terasa.
Lira berdiri di depan pintu yang baru terbuka itu. Ia tidak memegang apa pun. Tidak pena, tidak token, tidak benang. Hanya dirinya sendiri, dan rasa yang belum selesai didefinisikan.
"Aku tahu kamu di sini," ucapnya pelan ke dalam ruangan gelap. "Dan aku tahu... kamu belum memutuskan sepenuhnya menjadi siapa."
Tidak ada jawaban. Tapi gema-gema di dinding mulai merespons. Mereka tidak mengulang kata-kata Lira, melainkan membentuk bisikan-bisikan acak—potongan dari cerita yang belum pernah ditulis. Nama-nama yang belum pernah disebut. Rasa-rasa yang bahkan belum sempat menyakiti siapa pun.
Ketika Lira melangkah masuk, kakinya menginjak sesuatu yang lunak. Kain. Banyak sekali. Dan semuanya adalah jubah tua anak-anak Velmora yang pernah gagal menulis. Yang pernah berhenti bicara. Yang pernah percaya... lalu diam.
Di tengah ruangan itu, Ilan duduk membelakangi pintu. Tapi tubuhnya terlalu tenang. Terlalu sunyi.
Lira duduk di lantai tanpa suara. “Aku tak akan bertanya kenapa,” ucapnya. “Tapi kalau kamu masih menyimpan satu saja rasa yang belum kamu serahkan pada gema itu... beri aku tanda.”
Ilan tidak bergerak. Tapi di sudut ruangan, gema-gema mulai membentuk lingkaran samar. Bukan lingkaran perlindungan seperti yang biasa mereka buat. Ini tak beraturan. Rapuh. Seperti seseorang mencoba membangun kembali sesuatu dari ingatan yang pecah.
“Aku lelah,” bisik Ilan akhirnya. “Lelah jadi ruang untuk orang lain. Lelah menunggu ada yang mau menjadi ruang untukku.”
Lira menunduk. “Kalau begitu, jangan jadi ruang. Jadi suara. Bahkan kalau suaramu gemetar. Bahkan kalau tidak ada yang dengar... tetap jadi suara.”
Gema liar bergemuruh seketika. Suara-suara di langit Velmora memantul liar, seperti ratusan gema berebut bentuk. Di luar, token-token di Ruang Pantulan bergetar hebat. Sebagian meledak jadi serpihan. Sebagian berubah wujud menjadi benang hitam yang tak bisa disentuh.
Ayzen dan Rena berdiri di tepi bukit, menatap langit yang kini seperti terbakar perlahan. Kilau merah dan ungu membelah awan. Tapi bukan cahaya biasa. Setiap kilat mengandung suara. Dan suara itu bukan dari Velmora.
“Gema liar... bukan hanya lahir dari Velmora,” desis Rena. “Dia... menarik luka dari luar. Dari anak-anak yang tidak pernah menulis. Dari dunia yang tidak pernah menyentuh tinta.”
Ayzen memejamkan mata. “Kalau gema liar sedang mencari bentuknya lewat Ilan… maka bukan hanya Velmora yang dalam bahaya. Tapi semua tempat yang pernah mengajarkan anak-anak untuk diam.”
Di dalam ruangan itu, Lira mengulurkan tangan. Tapi tidak memaksa.
“Ilan,” bisiknya, “kalau kamu benar-benar ingin berhenti… aku akan pergi. Tapi kalau kamu masih menyimpan bagian kecil dari dirimu yang tidak ingin dijadikan alat oleh gema itu… genggam tanganku. Bukan sebagai jawaban. Tapi sebagai pengingat bahwa kamu pernah memilih sendiri.”
Gema liar berhenti bergerak. Udara menjadi pekat. Langit retak, tapi tak runtuh.
Dan di saat yang sama, tangan Ilan bergerak sedikit. Tidak menggenggam, tapi menyentuh ujung jari Lira. Ringan. Hampir tak terasa.
Tapi cukup.
Reflektor Jiwa di pusat Velmora memancarkan cahaya mendadak. Terang. Menyilaukan. Tapi bukan putih. Warna itu seperti gabungan seluruh luka—ungu gelap, biru dalam, merah tua—semua rasa yang tak pernah bisa dipisahkan. Dan dari dalam cahayanya, gema liar bergetar keras, lalu… pecah jadi serpihan kecil.
Namun serpihan itu tidak hilang. Ia menyusup ke setiap token. Ke setiap benang. Menyatu perlahan. Menjadi bagian dari Velmora… tanpa bentuk tunggal.
Kael berlari ke ruang pusat, wajahnya panik. “Ayzen! Token di lantai bawah mulai berbicara sendiri. Tapi bukan seperti kerasukan. Mereka... seperti sedang menulis ulang!”
Ayzen hanya menatap cahaya dari Reflektor Jiwa yang belum padam.
“Gema liar tidak memilih tubuh,” gumamnya. “Ia memilih menjadi bagian dari semua yang belum berani menulis.”
Dan di ruang sunyi itu, Lira menatap Ilan yang masih menunduk. Tapi kali ini, bahunya bergetar.
Bukan karena gema.
Tapi karena suara sendiri… mulai terdengar kembali.
Namun dari balik dinding ruangan itu, sesuatu masih menonton. Bukan Suarasi. Bukan gema liar.
Sebuah entitas yang belum pernah diberi nama.
Dan ia baru saja menemukan celah baru
melalui serpihan gema yang tercecer.
Bersambung…