Bab 17

1544 Words
Kabut ungu yang semula menggantung di atas Velmora kini bergerak perlahan, menyebar ke arah barat dan selatan seperti jaringan luka yang mencoba menjalar ke tubuh yang lebih besar. Cahaya dari Reflektor Jiwa memang telah menyatu, tapi Velmora tidak sepenuhnya pulih. Gema liar memang tidak lagi menguasai pusat, namun serpihannya kini menyebar ke ruang-ruang kecil yang selama ini tertinggal. Ke lantai-lantai bawah. Ke ruang praktik yang tak lagi digunakan. Ke buku-buku lama yang belum sempat dibakar. Dan ke satu tempat yang tidak pernah seharusnya terbuka. Ruang Transkripsi Pertama. Ayzen berdiri di depan pintunya, tangan menggenggam kunci yang telah disegel selama bertahun-tahun. Tak ada catatan tentang isi ruangan ini. Bahkan tidak ada nama. Tapi simbol yang muncul di reflektor, simbol jantung yang tak terucap, berasal dari ruangan ini. "Jangan sendirian," ujar Rena yang muncul dari balik lorong. Matanya merah karena kurang tidur, tapi sorotnya tetap tajam. Ayzen tidak menoleh. "Aku harus tahu. Kita semua menulis ulang tanpa sadar. Tapi dari mana sumber tulisan pertama itu berasal... aku belum pernah melihatnya." Rena melangkah mendekat, menatap dinding batu di sekitar mereka. Retakan-retakan halus mulai terbentuk, seolah dinding ikut bernapas dalam diam. "Aku mencium bau tinta lama," katanya pelan. "Bukan tinta yang kita kenal. Ini seperti tinta yang dibuat dari ingatan." Ayzen memasukkan kunci ke dalam lubang tua yang hampir tak terlihat. Bunyi logam tua terdengar berat, seperti suara dari dalam bumi. Pintu terbuka perlahan. Udara dingin menerpa wajah mereka, bukan dingin biasa, tapi semacam hampa yang menyimpan gema tak terdengar. Ruangan itu kosong. Tidak ada meja. Tidak ada kursi. Hanya satu lingkaran besar di tengah lantai, digambar dengan benang hitam kering yang seolah telah membatu. Di dalam lingkaran itu, ada satu buku. Tidak tebal. Tidak besar. Tapi kertasnya tampak hidup, berdenyut seperti kulit yang baru menutup luka. Ayzen melangkah masuk, lalu berhenti di tepi lingkaran. "Buku itu... memanggil." Rena menarik napas dalam-dalam. "Apa kau yakin ini bukan bagian dari gema liar yang tersisa?" "Aku tidak tahu." Ayzen menatap buku itu lama. "Tapi sesuatu di sini menulis lebih dulu daripada kita. Mungkin gema liar hanya pantulan dari ini." Mereka melangkah bersama, perlahan, mendekati pusat lingkaran. Setiap langkah membuat udara berubah. Bisikan samar terdengar, bukan dari arah tertentu, tapi dari segala arah. Nama-nama yang tidak dikenal. Cerita-cerita pendek. Potongan kalimat yang belum selesai. Saat Ayzen menyentuh buku itu, jari-jarinya langsung kaku. Matanya membelalak. Tubuhnya membatu. Rena mencoba menarik tangannya, tapi tak bisa. Tangannya seperti menancap ke dalam buku. Dan tiba-tiba... halaman pertama terbuka sendiri. Tidak ada tulisan. Hanya refleksi wajah Ayzen, seperti cermin dari kertas. Tapi matanya di dalam kertas itu berbeda. Mereka tersenyum. Lalu halaman kedua terbuka. Di sana tertulis satu kalimat. "Kau bukan yang pertama mencoba menulis ulang luka ini." Dinding-dinding ruangan mulai bergetar. Lingkaran benang di lantai menyala pelan, warnanya berubah dari hitam menjadi merah gelap. Aroma tinta dan darah tercampur jadi satu. Rena mundur. "Ayzen. Lepaskan. Itu bukan buku biasa. Itu... tempat gema mencari tubuh." Ayzen berusaha menarik tangannya, tapi ia tidak bisa. Jari-jarinya mulai berubah. Menjadi bening. Menjadi huruf. Menjadi garis-garis patah. "Aku melihatnya," ucap Ayzen, suaranya gemetar. "Ada cerita yang belum ditulis, tapi sudah menunggu ribuan tahun. Cerita yang menolak dilupakan. Dan sekarang... ia menulis lewat aku." Rena mengeluarkan token yang ia simpan di balik jubahnya. Ia tak tahu apakah benda itu bisa melindungi, tapi ia tahu satu hal. Jika Ayzen tertelan penuh oleh cerita itu, ia tidak akan kembali. "Ayzen. Jawab aku. Siapa yang menulis pertama kali? Siapa yang membentuk gema liar?" Ayzen menatapnya. Matanya mulai berubah. Tidak lagi menunjukkan warna manusia. Tapi refleksi tinta yang berputar seperti pusaran. "Bukan manusia. Bukan makhluk. Tapi rasa itu sendiri. Rasa yang ditolak. Rasa yang tidak pernah sempat dibicarakan." Kemudian, buku itu membuka halaman terakhir. Dan di sana, hanya ada satu kalimat lagi. "Dan rasa yang tak ditulis... akan menulis dirinya sendiri." Rena menjerit dan menjatuhkan tokennya ke tengah lingkaran. Tapi suara jeritannya tidak sampai ke luar ruangan. Pintu tertutup sendiri, mengurung mereka di dalam. Dari lantai, benang merah dan hitam muncul bersama. Mereka menjulur cepat, melilit buku, Ayzen, dan token di tengah. Semua cahaya padam. Tapi dari dalam gelap, satu cahaya kecil tetap menyala. Cahaya yang berasal dari luka yang belum ditulis. Dan di luar ruangan itu, di ruang tidur anak-anak, tulisan di dinding mulai berubah sendiri. Pena-pena bergerak tanpa tangan. Buku-buku yang kosong tiba-tiba penuh. Mereka menulis ulang dunia Velmora. Tapi bukan dengan suara anak-anak. Melainkan dengan gema yang telah memilih... untuk jadi pengganti suara. Dan dari jauh, lorong baru terbuka di bawah ruang reflektor. Lorong yang tidak pernah digali. Lorong yang membawa suara tanpa asal. Lorong yang mulai memanggil satu nama. Nama yang belum pernah dituliskan siapa pun. Nama yang mulai muncul di semua mimpi. Nama yang tak bisa diucapkan tanpa kehilangan sebagian dari diri sendiri. Lalu terdengar ketukan pelan dari balik ujung lorong yang gelap. Satu... dua... tiga... Langit Velmora kini tak lagi memantulkan cahaya dari dalam. Ia menyerapnya. Kabut yang tadinya hanya menggantung pelan mulai mengeras, membentuk pola-pola halus seperti guratan tinta di atas kanvas tak kasatmata. Anak-anak yang biasa menulis di pagi hari kini hanya duduk memandangi pena mereka. Pena-pena itu bergerak sendiri. Tapi bukan untuk menulis cerita. Mereka menulis nama. Satu nama. Bukan nama anak-anak itu. Bukan nama tokoh. Bukan nama tokoh dalam cerita. Tapi nama yang perlahan muncul di setiap permukaan kosong: meja, kaca, bahkan kulit tangan. Naevin. Tak ada satu pun yang tahu dari mana asalnya. Tak ada guru yang mengenalnya. Dan yang paling mengerikan, tidak ada siapa pun yang mengaku pernah menuliskannya. Lira berdiri di balkon timur, tubuhnya kaku menatap bayangan kabut yang menggumpal membentuk sosok samar. Bukan sosok manusia. Tapi seperti seseorang yang belum selesai dibuat. Setengah garis, setengah kabur, setengah benar. "Ia bukan gema," gumamnya. "Dan bukan juga Suarasi." Rena muncul dari belakang. Suaranya pelan, nyaris patah. "Buku di ruang tengah… menulis ulang dirinya sendiri. Tapi kali ini bukan tentang Velmora. Melainkan tempat lain. Tempat yang tidak pernah kita catat. Dan setiap kalimat di dalamnya berakhir dengan nama itu." Lira menoleh cepat. "Naevin?" Rena mengangguk, lalu menyerahkan satu halaman sobekan kertas yang tampak baru. Masih basah tinta di pinggirnya. Tapi tulisannya seperti ukiran. Dalam. Terlalu dalam, seperti dipahat, bukan ditulis. "Naevin adalah ruang antara gema dan daging. Antara suara dan bentuk. Ia bukan sosok. Ia adalah niat. Niat yang ditinggalkan terlalu lama hingga menjadi makhluk." Lira menggenggam sobekan itu, dan merasakannya berdenyut. Di tempat lain, tepat di bawah tanah Velmora, Ilan berjalan seorang diri menyusuri lorong baru yang terbuka setelah reflektor meledak diam-diam. Langkahnya bergema sendiri. Tapi gema itu tidak mengikutinya. Gema itu memimpin. Suara-suara mulai muncul dari dinding. Suara dirinya sendiri, tapi dalam versi yang tidak ia kenali. Versi dirinya yang marah. Yang takut. Yang berharap tidak pernah datang ke Velmora. "Berapa banyak versi dari aku yang kau simpan?" tanya Ilan pada kegelapan. Dan suara itu menjawab. Tapi bukan gema. Melainkan Naevin. "Sama banyaknya dengan suara yang tidak kau izinkan hidup." Ilan berhenti. Udara di sekitar berubah. Dinding menjadi cermin. Dan di setiap cermin, berdiri Ilan yang berbeda. Ilan dengan mata kosong. Ilan dengan tangan terbakar. Ilan yang duduk di lantai dengan pena patah. Ilan yang tertawa saat semua di sekitarnya menangis. Lalu satu Ilan melangkah keluar dari cermin. Tidak membawa bayangan. Tidak membawa cahaya. Hanya membawa benang pendek, terikat di jari. "Kalau kau ingin tahu siapa aku," ucapnya, "kita harus tukar tempat." Ilan mundur. Tapi cermin-cermin di belakangnya kini menutup. Tak ada jalan kembali. Dan dari cermin yang telah ditinggalkan sosok itu, muncul satu kalimat, tertulis seperti bekas luka yang belum sembuh. Naevin bukan ingin berbicara. Ia ingin didengar tanpa pernah muncul. Di atas, di ruang pusat, Kael berteriak panik. Semua Reflektor Jiwa kini tak bisa dimatikan. Mereka tidak menyala... tapi membisik. Masing-masing menyuarakan satu nama, pelan, berulang-ulang. Naevin. Naevin. Naevin. Ayzen masih belum keluar dari ruang transkripsi. Tapi dari dalam pintu yang terkunci rapat itu, cahaya merah tua kini menyusup keluar seperti darah yang mengalir dari goresan batu. Lira mencoba masuk, tapi kuncinya sudah tak berlaku. Ruang itu kini milik sesuatu yang lebih tua dari kunci. Ia menempelkan telapak tangannya ke batu. “Ayzen. Jawab aku.” Tidak ada jawaban. Tapi dari dalam, terdengar suara pena. Bukan satu. Ratusan. Mungkin ribuan. Menulis dalam diam. Menulis tanpa jeda. Menulis sesuatu yang belum boleh selesai. Dan saat Lira hendak pergi, satu suara keluar dari bawah pintu. Suara Ayzen, tapi terdengar jauh. Teredam. Penuh gema yang bukan milik Velmora. “Jika kalian membaca halaman terakhir sebelum waktunya… maka dunia yang kalian tulis… akan menulis balik.” Lira membeku. Di balik punggungnya, Kael dan Rena berlari menghampiri. “Lorong-lorong baru terbentuk sendiri,” ujar Kael. “Dan beberapa anak... mereka bilang mereka pernah ke tempat itu sebelumnya. Tapi bukan di dunia ini.” Rena menambahkan cepat. “Dan satu hal lagi. Ilan… menghilang.” Mereka bertiga saling berpandangan. Langit mulai menunjukkan warna baru. Ungu tak lagi dominan. Kini, ada semburat hijau dan perak. Tapi bukan cahaya yang indah. Cahaya itu menyakitkan mata. Cahaya itu membawa rasa yang terlalu lama tidak dituliskan. Lalu, dari ujung lorong utara, seorang anak muncul. Ia tidak dikenal. Tidak tercatat. Bajunya bukan seragam Velmora. Dan di tangannya, tergenggam buku kosong. Tapi wajahnya... Wajahnya adalah wajah Ayzen. Namun lebih muda. Lebih pucat. Dan di dadanya, terukir satu nama. Naevin. Ia tidak berbicara. Tapi semua gema yang masih tersisa... menyambutnya dalam diam. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD