Bab 18

1053 Words
Lorong tempat anak itu muncul bukan lorong biasa. Ia tidak berujung. Atau mungkin terlalu banyak ujung. Dindingnya bukan batu, bukan kayu, tapi semacam kertas tua yang terus berubah bentuk, kadang kusut, kadang bersih, kadang seperti ditulis dan dihapus secara bersamaan. Setiap langkah yang diambil bocah itu meninggalkan jejak tinta yang perlahan menguap, seolah catatan itu hanya boleh terbaca dalam sekejap dan tak boleh diingat terlalu lama. Lira, Kael, dan Rena hanya bisa memandangi sosok itu dari kejauhan. Mereka tahu, secara logika, itu Ayzen. Tapi Ayzen yang lebih muda, lebih pucat, dengan nama Naevin terukir di dadanya? Mustahil. Kael ingin berlari dan menarik anak itu. Tapi tubuhnya membeku. Bukan karena ketakutan, tapi karena suaranya sendiri berbisik di dalam kepalanya, "Jangan ganggu dia. Ia tidak datang untuk bicara. Tapi untuk menulis ulang." Sementara itu, Rena merasakan sesuatu menggelitik ujung jubahnya. Saat ia menunduk, ia melihat pena, bukan miliknya, menyelinap di bawah kain seperti hewan kecil yang penasaran. Pena itu berdiri tegak, lalu bergerak sendiri ke arah bocah tersebut, seolah kembali kepada pemilik sejatinya. "Apa yang akan terjadi?" tanya Lira, separuh kepada dirinya sendiri. "Penulisan ulang bukan bencana," jawab Kael pelan. "Tapi jika yang menulis bukan manusia, maka kisah yang dihasilkan juga bukan untuk manusia." Di bawah tanah, Ilan mulai kehilangan nama. Setiap gema yang muncul di sekitarnya tidak lagi menyebutnya sebagai Ilan. Mereka menyebutnya "Yang Pernah Dituliskan." Dan dalam tiap bisikan, ada nada luka. Nada kehilangan. Nada harapan yang diubah jadi bentuk baru. Ia berlari melewati lorong yang kini menjadi lorong suara. Tapi tak satu pun gema menjawab pertanyaannya. Hanya satu suara terus terdengar, bukan dari arah mana pun. "Jika kau ingin diingat, maka izinkan aku menulis versiku tentangmu." Ilan berteriak, "Aku tidak ingin jadi versi siapa pun!" Cermin-cermin yang tadinya menampilkan ragam dirinya kini mulai retak. Tapi bukan karena kekuatan Ilan. Melainkan karena versi yang asli mulai bertarung untuk bertahan. Dan versi itu... bukan Ilan. Di atas, bocah yang membawa nama Naevin berdiri di tengah aula utama, tempat Reflektor Jiwa pertama kali dibangun. Semua reflektor kini diam. Tapi gema dari dalamnya memutar ulang satu adegan: Ayzen yang menatap buku di ruang transkripsi. Tapi dalam versi ini, Ayzen tidak menjerit. Ia tersenyum. Dan di balik senyumnya, ada ratusan wajah lain, semua dengan ekspresi yang sama. Lira dan Rena melihat adegan itu dengan napas tertahan. "Reflektor menayangkan ulang memori," bisik Rena. "Tapi ini bukan memori Ayzen," jawab Lira. "Ini memori buku itu." Kael mencoba menyentuh satu reflektor, tapi tangannya terpental seperti ditolak oleh sesuatu yang hidup. Dari dalam reflektor itu, muncul garis tinta tipis. Ia melayang, membentuk aksara di udara. "Penulisan telah dimulai. Jangan ganggu." Bocah bernama Naevin membuka buku kosong yang ia bawa. Dan saat halaman pertama terbuka, ruangan menjadi sunyi total. Tidak ada suara. Tidak ada angin. Bahkan detak jantung pun seperti ditangguhkan. Kemudian, pena-pena di seluruh Velmora mulai bergerak sendiri. Di asrama. Di perpustakaan. Di ruang praktik. Bahkan pena yang sudah rusak pun ikut menari. Menulis satu kalimat yang sama. "Buku ini tidak ditulis oleh siapa pun. Tapi akan dibaca oleh semua." Dan di bawah ruang transkripsi, dari kedalaman paling bawah, suara Ayzen kembali terdengar. Bukan teriakannya. Tapi bisikannya. "Aku sudah tidak ada. Tapi kisahku belum selesai. Dan jika kalian membacanya sebelum waktunya... maka kalian bukan lagi pembaca. Kalian adalah bagian dari narasi." Velmora tidak lagi terasa seperti akademi. Ia berubah menjadi naskah yang belum diputuskan akhirnya. Setiap langkah di lorong memunculkan suara pena samar, setiap bisikan adalah sisa narasi yang tidak ditulis dengan sadar. Bahkan udara kini mengandung rasa, rasa kalimat yang tertahan, yang tidak pernah sempat diucapkan hingga tuntas. Bocah bernama Naevin duduk di tengah aula. Buku kosong di tangannya kini terbuka pada halaman ketiga. Tapi halaman itu tidak kosong lagi. Ia menampilkan peta. Bukan peta dunia. Tapi peta memori. Setiap titik di sana adalah perasaan. Tempat kenangan terpendam, ditolak, dan akhirnya dikunci oleh penggunanya. Peta itu hidup. Ia terus berkembang. Menggeliat seperti urat yang menemukan tubuh baru. Sementara itu, Lira, Rena, dan Kael berdiri tanpa kata. Mereka tidak bisa mendekat. Ruang di sekitar Naevin menolak intervensi. Tapi Rena melihat sesuatu. Tinta yang merayap di lantai dari buku itu mulai menjalar ke arah lain. Bukan sekadar tinta. Tapi benang-benang naratif. Cerita-cerita baru yang tidak pernah diajarkan di Velmora. “Jika ini terus dibiarkan, seluruh akademi akan menjadi naskah,” gumam Rena. “Bukan tempat belajar, tapi tempat dibaca.” “Dan kalau kita dibaca,” lanjut Kael, “maka kita tidak bisa memilih lagi.” “Karena setiap yang tertulis tidak punya hak untuk bertanya kenapa,” tutup Lira dengan suara pelan. Di bawah tanah, Ilan masih terjebak di antara versi-versi dirinya sendiri. Ia duduk di lantai yang kini berubah menjadi halaman-halaman besar. Setiap permukaannya penuh dengan kalimat yang seharusnya ia ucapkan di masa lalu, tapi ditahan. Ia melihat satu versi dirinya yang sedang menangis. Bukan karena ketakutan. Tapi karena kehilangan suara. "Aku tidak tahu bagaimana harus berbicara," ucap versi itu. Dan untuk pertama kalinya, Ilan tidak menolak. Ia menghampiri versi itu, menyentuh pundaknya, dan berkata, "Kita mungkin bukan tokoh utama. Tapi kita bisa memilih untuk tidak ikut menulis kebohongan." Begitu ia mengatakan itu, satu cermin di belakangnya pecah. Tapi bukan menjadi kepingan. Pecah menjadi kata-kata. "Kebenaran bukan cerita yang indah. Tapi cerita yang tetap berdiri meski semua pembacanya pergi." Di atas, Naevin menutup buku untuk sementara. Di belakangnya muncul satu pintu yang tak pernah ada sebelumnya. Pintu itu tinggi, terbuat dari bahan yang menyerupai kulit dan tulang yang dipadatkan menjadi bingkai. Tidak ada pegangan. Tapi di tengahnya ada lubang seukuran telapak tangan. Naevin berdiri. Ia menatap Lira, Kael, dan Rena satu per satu. Masih tanpa suara. Tapi mata itu membawa banyak suara sekaligus. Lira mengangkat suaranya. “Apa yang ada di balik pintu itu? Dunia baru?” Naevin menggeleng perlahan. Kemudian menunjuk ke arah d**a sendiri. “Bukan dunia baru,” ujar Kael perlahan, menerjemahkan gerakan itu. “Tapi isi dari cerita yang tidak pernah keluar dari hati seseorang.” Rena melangkah maju. “Kalau begitu, siapa yang harus membuka pintu?” Naevin tidak menjawab. Tapi tinta di lantai membentuk nama. Bukan Ayzen. Bukan Ilan. Bukan siapa-siapa yang mereka kenal. Satu kata saja tertulis di sana. Engkau. Rena gemetar. “Jadi cerita ini adalah cerita yang kita tolak sendiri?” Kael menggenggam tangan Lira. “Atau cerita yang kita tinggalkan. Dan sekarang, ia menuntut untuk ditulis sampai selesai.” bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD