Sambil menggenggam erat setir kemudi, Biyan menyandarkan kepalanya di sana, seakan tak ingin berpaling dari sosok di sampingnya. Senyum tipisnya tak pernah luntur, matanya tak lepas dari Alya. Setiap kata yang keluar dari bibir gadis itu, entah tawa, omelan, bahkan umpatan malah terasa bagai alunan yang menenangkan bagi hatinya. "Jadi begini rasanya jatuh cinta," batin Biyan, dadanya berdegup tak karuan. “Hei! Kau itu dengar aku tidak!” hardik Alya, membuatnya tersadar. Biyan tersadar dari lamunannya. Bibirnya melengkung semakin lebar. “Aku mendengarkan, Al... Aku tidak main-main dengan ucapanku. Aku menyukaimu bahkan sangat menyukaimu. Ini pertama kalinya aku merasakan hal seperti ini pada seorang wanita. Aku serius, aku ingin menikahimu. Kau gadis yang baik... dan bagiku, kau sempurna

