Bab 6 Di PHK

1450 Words
Wajah Chiara mengernyit karena mendengar suara amarah Sila. Dia menemui pimpinan dan melaporkan mengenai motor dan paket yang hilang tersebut. “Kamu itu!” Sila berkacak pinggang, “Ngga biasanya slebor!” dia tidak habis pikir mengapa Chiara bisa kehilangan asset butik, “Kamu tabrak mobil orang, lantas karena menolong orang itu dari begal, kamu kehilangan motor container milik butik Saya?” Chiara hanya diam membisu, tidak bisa menjelaskan bahwa setelah menolong Valdin dari begal, dibawa bermesraan sama pria itu. Sementara tanpa gadis ini menyadari, di salah satu anting bagian belakang telinganya, tertempel alat penyadap. Alat itu sengaja ditempelkan Bram sebelum dia pergi, sebab sang pengasuh melihat dia berjalan agak terpincang, lalu ada bekas cupang di permukaan leher dia, lantas wajah pun murung terus. Bram adalah tangan mendiang Nathan untuk menjaga dan mengasuh Chiara, sehingga langsung tahu sang nona ada masalah serius. Dia takut nonanya diperkosa orang, meski dia tahu si nona jago kungfu, tapi kalau sedang apes bagaimana? Kita menyisir ke luar kantor butik, tampak Bram duduk di atas sadel motor tril menyimak pembicaraan Chiara dan Sila melalui headset di telinga kanan. Dia pun terlihat berpikir. ‘Nona menolong orang dari begal, lantas kehilangan motor container yang dibawanya mengantar paket?’ dia merangkai percakapan tersebut, ‘Apa saat itu, orang yang Nona tolong memperkosanya?’ dicoba mengaitkan dengan cupang di leher sang gadis, ‘Apa orang itu ilmu bela dirinya di atas kemampuan Nona? Tapi jika iya, pasti ada bekas luka memar ditangan atau wajah Nona. Hanya ada cupang itu.’ Dia menghela napas, karena Chiara saat ada masalah, jika tidak dipancingnya, akan menyembunyikan masalah tersebut. Sementara di tempat lain, Valdin berdiri di depan jendela ruang kerjanya di VEs Company. Dalam pandangan pria ini hanya ada Chiara dan peristiwa semalam. Semua penuturan Marko mengenai dia limbung adalah benar, karena selain tekanan kuat Elsa, dia baru dikhianatin Karla. Kemudian dia minum satu botol bir, sehingga menjadi setengah mabuk, lantas dikejar begal, ditabrak motor Chiara dan terpesona melihat kehebatan si nona mengatasi begal. Semakin terpikat karena sang nona punya kemampuan diluar dugaan. Nona bisa mengemudikan mobil balap dia dengan baik, bisa make over penampilan pula dengan sempurna. Semua dalam diri Chiara membuatnya kepicut, dan saat kedua mata indah sang gadis menetes setelah dia menyinggung soal orangtua si nona, hati dia menjadi cemas ingin tahu. Dalam benaknya pun terpikir dengan menggauli Chiara, maka sang gadis bisa tenang dan beban dalam dirinya berkurang. ‘Chiara Samsuar,’ Valdin menyebut nama lengkap Chiara yang diketahui dari KTP si nona, ‘Tuhanku, Engkau bikin Aku limbung apakah untuk mempertemukanku dengan Chiara, gadis berhati emas itu?’ tanya hatinya ke Tuhan, ‘Karena sampai sekarang, Aku terus teringat dia dan kemesraan Kami. Bahkan kusuruh Marko menyelidiki siapa dia dan apakah ada kesulitan yang dialami sehingga berselisih paham dengan orangtuanya yang membuat dia menangis saat kusinggung orangtuanya? Jika dia kesulitan, Aku pasti menolong dia, bukan demi membalas budi dia yang menyelamatkanku dari begal.’ Dituturkan isi pikiran saat ini, ‘Aku tidak mau wajah cantik itu terpoles air mata kesedihan.’ Dipejamkan kedua mata, terbayang kembali wajah Chiara yang basah dengan air mata. Betapa dia kaget dan hati terasa mengilu. Sesuatu yang baru kali ini dirasakan saat bersama perempuan. Dia ingin tahu mengapa Chiara menangis, ingin dibantu jika gadis itu ada kesulitan serius atau pun ringan. ‘Chiara,’ disebut lagi nama Chiara, ‘Aku pasti bertanggungjawab atas semua yang kulakukan ke Kamu semalam, karena seperti kataku, Kamu milikku. Hanya milikku selamanya.’ Dia mengucapkan janji hati untuk bertanggungjawab ke Chiara, ‘Mengenai mobilku yang Kamu tabrak, tidak kupermasalahkan, sebab berkat semua itu, Aku mengenalmu dan mendapatkanmu, meski belum kukenal siapa kamu. Aku tidak ingin gadis berhati emas seperti Kamu dimiliki pria lain.’ Kembali ke Chiara, dia mengemasi barang-barangnya dari loker, sebab dipecat Sila dan diberi waktu satu bulan untuk mengganti motor container dan isinya. Sila pun meminta dia tiap hari menghadap dia sebagai bentuk dia tidak melarikan diri dari tanggung jawab. Semua ini masih bagus karena Sila tidak memperkarakan ke polisi, karena selama dia bekerja selalu jujur dan paket sampai tepat waktu ke konsumen. Sila dan suami perempuan itu pun pernah ditolong dia, saat dicegat curanmor sepulang dari pesta pernikahan sahabat suami Sila. Wajah Chiara tampak memerah saat ini menahan tangis. Sungguh dia tertimpa kemalangan bertubi-tubi dan tidak tahu bagaimana menyelesaikan satu persatu. Bukan kah Brylee menyuplai uang dalam jumlah besar untuk biaya hidup Chiara khususnya? Iya, tapi semua dikendalikan Doel dan ternyata si kakek hanya memakai uang itu untuk biaya sekolah dan jajan Chiara. Selebihnya entah dikemanakan sama sang kakek sehingga Chiara memutuskan bekerja untuk menopang hidup mereka semua. Setelah semua barang dimasukan ke dalam ransel dan kardus, Chiara mengunci pintu loker dan kunci dikantongkan ke dalam saku depan jeansnya, baru kemudian ke ruangan Martha, HRD Manager butik untuk mengambil Surat Resign, kartu absen dan mengembalikan kunci loker. Barulah dia meninggalkan butik dengan menyandang ransel dan menenteng kardus. “Nona-!” Tahu-tahu dia dicegat Bram. Dia menghela napas, feeling Bram mengawasi dia, karena sang pengasuh bisa mencegatnya saat ini. Bram mengambil semua tentengan Chiara, lantas membawa si nona ke parkiran. Sampai di sana, dipanggul ransel ke bagian depan tubuhnya, meminta Chiara naik ke sadel bagian belakang, baru meletakan kardus dipangkuan sang gadis, terakhir dia naik ke sadel depan. Tidak lama Bram melajukan motor, membawa mereka meninggalkan parkiran. *** Marko mengamati pintu gerbang yang terbuat dari kayu jati tebal dilapisi besi baja di mana ada dua patung naga dari emas pada kedua sisi depan dan kepala singa dari emas pula di tengah pintu. Pintu tersebut tertutup rapat. Sesuai instruksi Valdin, dia mulai mencaritahu siapa Chiara diawali dari tempat tinggal gadis ini yang alamatnya diberikan si boss. Rumah Chiara ini adalah rumah milik Doel, berlokasi di daerah Pecenongan, Jakarta Barat dan letaknya sedikit tersembunyi. Orang hanya tahu kalau tempat itu perguruan kungfu yang dikelola pria blasteran Cina dan Indonesia. Lantas pemilik perguruan bernama Fu Ming, nama Cina sang kakek dari mendiang ayah pria itu yang asli dari Beijing, Cina. Lantas oleh mendiang mertua diberi nama Indonesia yaitu Abdoel Samsuar, sebab dari etnis Betawi, Indonesia. Nah nama Indonesia itu kemudian dipakai untuk identitas lain Doel yang menyatakan sebagai pengelola perguruan, bukan si Fu Ming pemilik. Murid-murid yang belajar di perguruan Doel nantinya menjadi tentara dan polisi di Badan Keamanan Dunia, sebab ayahnya Doel yang bernama Fu Yang, Jenderal yang bekerja dibagian Counter Teroris Unit di sana. Doel menggantikan sang ayah, sambil menjaga Chiara yang masih dicari-cari Elsa. ‘Di sini kah?’ Marko membatin, ‘Nona Chiara tinggal?’ hatinya bertanya-tanya, ‘Jika iya, benar feeling Tuan Muda dan Aku, kalau Nona bukan perempuan sembarangan yang pengantar paket saja.’ Dia pun berfeeling sama dengan Valdin mengenai Chiara gadis istimewa, ‘Dari pintu gerbang ini saja bisa dilihat kalau keluarga Nona dari kalangan billionaire.’ Marko menghela napas, ‘Aku harus hati-hati saat menyelidiki siapa Nona, sebab kulihat kehidupan Nona dan keluarga tertutup.’ Ujarnya menetapkan hati untuk bersikap bijak menyelidiki siapa Chiara, selain melihat gerbang megah yang tertutup rapat di depan dia. Pelan Marko menekan bel yang terdapat dibagian kanan atas pintu tersebut, wajahnya sedikit tegang. Dia bukan pertama kali diminta Valdin menyelidiki seseorang, tapi kali ini mencaritahu gadis yang ditiduri si bos, yang ternyata bukan perempuan malam dan bukan pengantar paket semata. “Selamat siang, Tuan-!” sayup terdengar suara pria dari balik pintu menyapa Marko. Sang asisten terkesiap, lantas kedua mata cepat menyisir ke sekitarnya mencari cctv, merasa kedatangan dia sudah diketahui penjaga gerbang, tapi tidak ditemukan. Tentu saja tidak, sebab cctv itu ditanam pada kedua mata patung singa emas. “Selamat siang juga!” dia terpaksa menyahut sebab tidak ada guna juga mencari cctv itu, “Saya, Marko Azhari, asisten dari Tuan Valdin Estefan.” Diperkenalkan dirinya. “Baik, Tuan!” Agung membalas sahutan tersebut. Dia hari ini bertugas menjaga gerbang depan bersama tiga rekannya. Dia adalah tentara asuhan Doel yang kini dikembalikan ke perguruan untuk membantu si kakek menjaga Chiara, cicit mendiang Jenderal Fu Yang. “Bisa Anda katakan ada tujuan apa kemari? Ini adalah perguruan kungfu milik Tuan Fu Ming.” “Apakah Nona Chiara Samsuar tinggal di sini?” Agung terdiam, diamati sosok Marko yang tampak di layar monitor computer keamanan. Dia tidak bisa memberi jawaban atas pertanyaan sang asisten, sebab Chiara adalah cucu Fu Ming si Doel, guru besar dia sekaligus Jenderal di Counter Teroris Unit di Badan Keamanan Dunia. “Baik, Tuan.” Agung paham, “Mohon ditunggu sebentar, Saya sampaikan dulu ke Pak Barry atasan Saya.” Diputuskan memberitahu Barry asisten Doel, sebab siapa pun yang ingin bertemu Chiara, semisal gadis ini tidak di rumah, maka penjaga gerbang melapor ke Barry. “Baik, terima kasih.” Marko setuju, berharap bisa ditemui Barry, jadi perlahan bisa mendapat informasi siapa Chiara yang diinginkan Valdin. ‘Semoga Pak Barry berkenan memberikan info mengenai Nona Chiara.’
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD