Chiara melepas seluruh pakaian dalam dari tubuhnya, dibiarkan tergeletak di lantai kamar mandi, kamar tidurnya. Wajahnya tampak kusut dan lesu. Dari kemarin dihampiri masalah yang membuat dia merasa dunia melempari ribuan granat dalam hidup dia.
Pelan terdengar helaan napasnya, lantas kedua kaki melangkah mendekati bath tub yang berbentuk batang-batang kayu yang dibelah dengan kampak. Satu tangan dia menekan tombol berwarna merah menghidupkan kran yang terhubung dengan water heater, lantas mengambil sebotol oil essential, dituang cairan kental tersebut ke dalam air di bath tub.
Setelah itu, dia beranjak ke bilik shower, menekan tombol kran yang juga terhubung dengan alat pemanas otomatis tersebut, lantas membiarkan sekujur tubuh polosnya dibasahi deras air dari shower.
Kedua mata dipejamkan dan entah kenapa teringat saat mandi mesra bersama Valdin di kamar mandi Suite President yang disewa pria itu untuk mereka.
Kala itu, mereka membiarkan tubuh dibasahi air shower, bibir dan tangan Valdin merambahi tubuh polos dia. Percikan air membuat gairah mereka menjadi naik, lantas sang pria mendorongnya menempel ke dinding, satu kakinya dinaikan ke sisi pinggang pria itu, lalu pusaka pun disurukan masuk ke oase dia, baru kaki lainnya diangkat ke sisi lain pinggang sang dokter.
Kedua tangan kekar Valdin mengunci dibawah b****g dia dan mulai mengayuh pusaka dalam lorong oase. Air shower dibiarkan terus menyemprot ke bawah. Sesekali pria itu memelankan kayuhan dan mengajaknya beradu bibir dengan liar.
Dia benar-benar dibikin tidak berdaya oleh Valdin saat itu. Ingin menyudahi tapi jiwa raga sudah dikukung hasrat sang pria, menumbuhkan rasa nikmat dalam dirinya. Setelah naik ke surge cinta, pria itu memandikan dia dan mengajarinya memandikan sang pria.
Dia tentu kikuk, seumur hidup baru pertama kali memandikan pria dewasa. Apalagi pria itu bukan siapa-siapa dia dalam arti suami atau kekasih. Hanya pria yang tidak sengaja mobilnya ditabrak dia.
Usai mandi, dia digendong Valdin, dibawa kembali ke dalam kamar dan mengajak dia makan malam, sebab memang sejak melarikan diri dari begal curanmor tidak mampir ke restoran untuk makan.
Valdin memperlakukan dia sangat baik dan lembut, tiada judes seperti awal mereka berkenalan. Bahkan saat itu datang Marko, asisten sang dokter, bersama dua pelayan wanita. Mereka membawa beberapa barang yang dibutuhkan pria itu dan dia, seperti pakaian.
Dokter itu lantas menyuruh Marko membawa mobilnya ke bengkel dan dia sempat minta sang asisten mengambil pakaian dan barang dia yang tertinggal di mobil tersebut. Namun, sang dokter mengatakan dia tidak butuh lagi semua itu karena diberikan yang baru olehnya sambil menunjuk jembrengan pakaian wanita yang digantung pada gantungan besi pakaian.
“Valdin-?!” Chiara melongo mendengar semua ini, “Besok Aku kerja gimana? Ke tempat kerja harus berseragam.”
“Kamu tidak usah kerja di sana lagi.” Valdin dengan santai menyahuti protes sang gadis, “Apa Kamu lupa, Kamu milikku?” dipandang nona ini yang kembali melongo, “Maka semua kebutuhanmu Aku penuhi dan Kamu hanya boleh disisiku saja. Tidak lagi kerja di sana.”
Chiara menjadi gemas, dipukul lengan pria itu, “Atas dasar apa Kamu memilikiku?” dipandang geram sang dokter, “Apa karena Aku menabrak mobilmu dan kamu meniduriku?”
Valdin tersenyum, diraih tangan Chiara tersebut, digenggam lembut sambil dicium sejenak. Chiara cepat melepas tangan itu, tapi malah tubuhnya ditarik kuat hingga duduk di atas kedua p*** sang pria, dan bibir dia diraup bibir seksi tuan arogan tersebut.
Marko cepat membawa kedua pelayan meninggalkan kamar ini.
Chiara melepas ciuman itu, tapi kembali diraup bibir Valdin, bahkan tekuk dan pinggangnya ditekan sang pria sehingga tidak bisa lagi meronta. Jantung dia saat itu berdebar kencang, antara takut dan berhasrat. Kedua mata dia mengamati wajah tampan sang dokter.
Pelan Valdin melepas ciuman, menempelkan kening mereka dan menatapnya pilu. Bibir pria itu bergerak ingin mengungkap segala rasa tertekan yang dialami setelah Matthew meninggal.
Entah mengapa pria ini merasa hanya Chiara yang memahami dan menemani dengan tulus. Apa karena Chiara berani menyelamatkan dia dari begal? Menghadapi begal bertaruh nyawa. Mereka tidak saling kenal tapi sang gadis mau mempertaruhkan nyawa demi dia. Bagi dia ini luar biasa dan memilih sang gadis menemani dia untuk selamanya. Meski dia pun masih limbung akibat terlalu banyak masalah yang harus dihadapi.
“Please, Chiara,” sayup terdengar suara Valdin, “Tetap disisiku seperti ini. Apa pun yang Kamu butuhkan, pasti kupenuhi, asalkan jangan meninggalkanku.”
“Valdin,” Chiara menjadi kebingungan, “Kita hanya kenal nama, bagaimana bisa Aku disisimu. Lantas sebagai apa? Wanita penghibur laramu? Aku tahu Kamu sedang sedih.”
“Kamu bukan wanita penghibur-!” mendadak suara Valdin terdengar sedikit tinggi, “Kamu bidadari, Chiara! Kamu pertaruhkan nyawamu demi menolongku lepas dari begal!”
“Aku ikhlas melakukan itu sebab kakekku mengajarkan sebagai orang yang bisa bela diri, wajib menolong orang yang dalam bahaya.”
“Karena itu aku inginkan kamu selalu disisiku sebagai wanitaku!”
Chiara menghela napas, kepalanya pening, merasa terperangkap pria yang stress berat saat ini. Diusap tubuh polos dia yang dibasahi air dari shower.
Dia tidak habis pikir mengapa bisa mengenal Valdin dan terperangkap dalam hasrat sang pria yang pikirannya sedang kacau tersebut. Beruntung sang dokter bukan penjahat, sebab memperlakukan dia sangat baik, bahkan memberi banyak barang untuknya.
Namun, semua itu tidak dibawa dia. Hanya mengambil kaos, pakaian dalam, celana jeans dan sepatu kets. Karena seragam dia tidak ada. Beruntung isi tasnya sudah dipindah ke dalam clutch, maka dia bisa mampir ke mesin uang menarik tunai sejumlah uang untuk bayar ojek online.
Air dalam bath tub mulai terdengar meluap keluar dari kolam kecil tersebut. Menyadarkan Chiara dan tergesa mematikan kran air. Dia menghela napas, duduk di tepi bath tub.
“Aku harus mencari pinjaman-“ dia mulai bicara sendirian, “Untuk membiayai perbaikan mobil Valdin, agar dia tidak bisa memilikiku lagi.” Dia memutuskan mencari pinjaman untuk perbaikan mobil sang dokter agar lepas dari pria itu, “Amit-amit jadi milik pria stress!” merasa bergidik mengenal pangeran tersebut.
***
Di dalam satu ruang kerja yang luas, mewah dan nyaman, tampak Valdin duduk di kursi meja kerja. Ruangan itu milik dia sebagai presiden direktur VEs Group, perusahaan yang memiliki beberapa unit bisnis, di antaranya manufaktur spare part mobil Formula One dan Moto GP.
Tampak saat ini sang dokter ganteng pisan menggenakan kemeja lengan panjang berwarna biru muda dan celana panjang hitam.
Satu tangan dia sedang menggoreskan pensil di atas kertas gambar. Tampak di meja ada sepucuk surat dari Chiara yang berisi menjanjikan segera menemui dia di hotel tersebut membawa uang untuk perbaikan mobil tersebut.
Sang nona minta dia tetap di sana menantinya, karena tidak memberikan nomor ponsel sama sekali. Namun, Valdin bukan pria sembarangan. Meski pikiran tengah kacau, sempat memotret kartu identitas dan nomor ponsel si nona. Bahkan sempat mengambil foto cantik si nona dari dalam dompet gadis tersebut.
Bukan karena dia mencurigai gadis itu, tapi harus memiliki segelintir identitas tuan putri yang kelak diselidiki olehnya. Mengenai foto, kedua mata dia melihat betapa cantik si nona berfoto, maka diambil dan disimpan dalam dompet. Foto mesra dia dan Karla dari dompet tersebut dibakar dia.
Apa yang sedang digambar tuan presdir? Sosok Chiara yang sangat melekat dalam ingatannya. Untuk pertama kali dia melukis perempuan yang ditidurinya. Karla saja yang menjadi kekasih, tidak pernah dilukis, hanya berfoto sama dia. Itu pun Karla yang membujuknya.
Dia playboy tapi tidak romantic, tidak pula tergiur dilayani kupu-kupu saat ke night club. Hanya memangsa wanita yang mendekati dia, setelah itu ditinggal pergi dengan memberi bundelan Dollar Amerika.
Chiara tidak mendekatinya, membuat dia tertarik dan mengikat gadis ini dengan meniduri. Namun, si nona malah meninggalkan dia hanya dengan sepucuk surat saja. Meski kesal, tapi dia memaklumi, sebab Chiara tidak nyaman sama dia. Dia tidak menyerah, bertekad membawa kembali sang gadis ke sisi dia.
Marko pun datang, pelan mengetuk dua kali daun pintu ruangan yang terbuka lebar.
“Masuk, Marko!” Valdin menyahut sebab sudah hapal ketukan asistennya itu.
Marko segera masuk dan mendekati si bos. Kedua mata dia melihat sang atasan tengah menggambar, bukannya mengerjakan tugas sebagai presdir. Dia sedikit memanjangkan leher, ingin tahu apa yang digambar pangeran ganteng itu.
‘Nona Chiara?’ dia sudah melihat gambar si bos, ‘Hais!’ decaknya dalam hati, ‘Si bos tumben menggambar wanita yang ditidurinya.’ Merasa heran, sebab selama menjadi asisten, sangat tahu bos tidak pernah menggambar wanita yang sudah ditiduri bosnya itu.
‘Apa si bos kali ini klik ya?’ dia menjadi penasaran, ‘Atau hanya melampiaskan karena Nona Karla menikah sama pria lain?’ diterka-terka penyebab Valdin menggambar Chiara, ‘Tapi, Nona Chiara berbeda dari yang lain.’ Dia teringat Chiara, ‘Beliau merasa kesal sudah tidur sama Tuan, tidak mau pula menjadi milik Tuan.’ Yang semalam terlihat kesal ke pangeran.
“Marko-!”
Suara Valdin mulai terdengar, “Kamu ngga usah bertanya-tanya mengapa Saya menggambar Chiara.” Ditegur asisten itu, feeling pria itu penasaran, “Gadis ini bidadari dari Tuhan menggantikan Karla sialan itu!”
“Maksud Anda?”
“Gadis ini mempertaruhkan nyawa menyelamatkan saya dari begal, Marko. Maka itu saya artikan dia dari Tuhan menggantikan Karla.”
“Tuan, Anda belum mengenal siapa Nona kan? Lantas apa mau Nona sama Anda? Semalam Nona terlihat terpaksa bersama Anda, karena Anda memaksanya.”
Valdin terhenyak, diputar pandangan ke Marko.
“Ha eh!” sang asisten menghela napas, “Berarti Anda memang limbung, Tuan.” Dia kini paham mengapa Valdin seperti semalam, “Anda banyak tekanan dari Nyonya Elsa, dikhianatin Nona Karla, mabuk di club dan dikejar begal pula.” Dijabarkan semua kejadian yang dialami si bos, “Lantas saat ditolong Nona Chiara, Anda merasa beliau dari Tuhan menggantikan Nona Karla. Itu kan Anda limbung, Tuan.”
Valdin tercenung, benarkah yang dibilang Marko?