Pelan, Chiara mengerjap-kerjapkan kedua mata, mulai terbangun dari tidurnya yang lelap. Semalaman dia dikukung hasrat liar Valdin, berkali mereka mencapai puncak dan berakhir kelelahan dimana dia tidur dalam pelukan sang pria.
Kini kedua mata gadis itu terbuka, lantas menyisir ke sekitar hingga terhenti depan wajah Valdin. Diamati pria itu yang tampak damai tidur, di mana satu tangan menjadi sandaran kepalanya dan tangan lain mendekap pinggang dia.
Dia menghela napas, merasa melakukan kesalahan, karena tidur dengan pria ini. Dia pun menyesal mengapa memberikan rasa nyaman ke sang pria, sehingga mereka berkali bermain di ranjang panas dan dalam kamar mandi.
Pelan satu tangan dia bergerak ke arah wajah tampan Valdin, hendak disentuh, tapi tidak jadi. Dia tidak ingin membuat Valdin terbangun dan mereka pasti melakukan kemesraan lagi. Dia sudah membuat pria itu kecanduan tubuhnya.
‘Siapa Kamu, Tuan?’ tanya hati dia, ‘Apa selama ini Kamu melampiaskan kesepian dan ketidaknyamananmu ke perempuan di ranjang?’ dia pun menjadi penasaran siapa Valdin.
Dia tidak tahu kalau Valdin hanya meniduri sekali perempuan, lantas mandi bersih dan pergi meninggalkan si perempuan setelah memberi satu bundel uang Dollar Amerika. Begitu juga yang dilakukan ke Karla, membuat mantan tunangan pria itu selalu kesal, sebab tidak ada sang pria mengulang kemesraan, meski sudah dirayu olehnya.
Chiara adalah perempuan pertama yang membuat Valdin nyaman dan menjadi kecanduan bersetubuh sama dia. Bahkan bikin sang pria mandi bersama dia, hal yang tidak pernah dilakukan si pria ke setiap perempuan, termasuk ke Karla.
‘Tidak boleh-!’ Chiara bicara lagi dalam hati, ‘Aku harus pergi dari pria ini. Tidak boleh menjadi miliknya yang pria stress.’ Dirasa kini Valdin adalah pria stress. Perlahan dilepas tangan sang pria dari atas pinggangnya, lantas dengan hati-hati menegakan badan.
Saat itu selimut melorot dan memamerkan bagian depan tubuhnya yang polos. Dia menghela napas teringat kemarin setelah mandi, Valdin melarang mereka menggenakan pakaian dalam, karena sang pria ingin mereka tetap bersentuhan kulit badan.
Digigit bibir bawah sambil sedikit memukul-mukul kepala. Mengapa dia bisa menuruti keinginan Valdin? Direntakan pula sedikit tubuhnya, lantas melepas perban bebat di kaki, dan segera beringsut turun dari tempat tidur sambil menaruh perban tersebut ke bufet. Kedua mata sesekali mengamati Valdin, memastikan pria itu tetap lelap tidur. Dia tidak mau menjadi milik sang dokter yang dianggap sakit jiwa.
***
Chiara sudah sampai di lokasi tempat dia menabrak Valdin. Di sini lah dia meninggalkan motor matic dan container barang milik Ladies Fashion and Jewelery tempatnya bekerja sebagai pengantar paket. Dia berhasil meninggalkan Valdin di hotel dan melesat kemari dengan ojek online. Badan dia memakai kaos polos dan celana jeans pemberian Valdin semalam.
Kini kedua mata menyisiri ke sekitar mencari motor tersebut yang seingat dia tergeletak di bahu jalan setelah dia terpelanting akibat menabrak mobil Valdin. Tapi sepeda bermesin tersebut tidak terlihat.
Seketika dia menyadari pasti motor dan container diangkut para begal tersebut. Dia menjadi nelangsa, mengapa saat itu melarikan diri membawa Valdin dengan mobil sang pria, membiarkan motor begitu saja di tempat ini.
Dipukul-pukul sedikit kepala, kesalnya bertambah karena semalam pun dia bersama Valdin dalam kemesraan panas yang dilakukan lebih dari satu kali. Sang pria pun tidak memakai pengaman sedikit pun, membuat mereka mereguk kenikmatan luar biasa yang menjadi candu bagi pria itu.
“Tuhanku-!” Chiara kini duduk di tepi bahu jalan, air mata kesal meleleh dari kedua sudut mata, “Habislah Aku! Hutang kakek belum kubayar, sekarang musti mengganti motor, container dan beberapa paket dalam container ke Bu Sila, pimpinanku.” Dia mulai terisak, sebab beban yang harus diselesaikan bertambah. “Mengapa sih aku bodoh kemarin malam?” dia menyesali diri berlaku bodoh, “Harusnya kusuruh saja Valdin melarikan diri, bukan aku yang membawa dia kabur dengan mobilnya!” ditutup wajahnya yang berlinang air mata dengan kedua tangan, isak pelan terdengar menggambarkan jelas semua penyesalan dia saat ini.
***
“Hei kamu-!”
Seorang pria bertubuh tegap dan kekar seperti Ade Rai dengan berkacak pinggang sebelah, menunjuk ke Asep, siswa berseragam kungfu berwarna hitam, “Mana Doel?” tanyanya dengan nada suara kasar. Pria itu bernama Darto.
Saat ini, perguruan kungfu milik Doel Samsuar, kakek Chiara, gaek slengean master kungfu yang punya kebiasaan buruk yaitu berjudi dan mabuk-mabukan, didatangi beberapa pria berbadan tegap, kekar dan berwajah sangar.
Mereka semua adalah orang suruhan Koh A Li, Bandar Judi merangkap rentenir. Doel meminjam sejumlah uang untuk bermain judi di tempat pria itu. Doel berjanji membayar dengan mencicil setiap bulan, tapi ternyata sudah dua bulan tiada menyetor cicilan ke Koh A Li, sudah tentu si Bandar judi mengutus orang menagih hutang tersebut.
“Tuan, Tuan Guru tadi pergi,” sahut Barry, wakil Doel di perguruan memberi jawaban. “Maaf, kalian ini siapa? Ada keperluan apa dengan guru?” lantas bertanya sebab belum mengenal orang-orang tersebut, meski kadang suka datang orang seperti mereka untuk menagih hutang ke Doel.
“Kami orangnya Koh A Li!” sahut si pria sambil berkacak pinggang, “Doel berhutang sama Koh A Li, sampai sekarang belum membayarnya, mau mencicil, atau langsung dilunasi!”
Tuing, Barry, Asep, dan beberapa murid perguruan terkesiap mendengar ini, lantas bersamaan menghela napas. Merasa Doel bikin masalah lagi. Pantasan tadi Doel yang tengah mengajar terbirit bersembunyi saat si kakek melihat orang-orangnya Koh A Li menuju ke Aula perguruan ini.
“Hoi, mana Doel?” tanya Darto ke Barry, “Lekas suruh dia menemui kami untuk membayar hutangnya! Kalau tidak, jangan salahkan kami akan mengambil barang-barang berharga yang ada di perguruan dan rumahnya Doel!”
“Tunggu!” terdengar suara lantang Chiara dari arah pintu aula, lantas tampak sosok gadis ini bergegas mendekati pria itu dengan langkah tertatih, sebab satu kaki dia masih keseleo, “Kamu bilang apa tadi, hmm?” tanyanya dengan berani ke si pria yang mengamatinya dengan terpesona.
Chiara adalah cucu semata wayang Doel, atlet kickboxing di liga judi olahraga tersebut, selain bekerja sebagai pengantar paket. Setelah dari lokasi dia menabrak mobil Valdin, memutuskan pulang ke rumah Doel yang menjadi tempat tinggalnya selama dua puluh tahun, sejak kematian orangtuanya yang dibunuh keji musuh sang ayah.
“Anda ini,” Darto belum memberi jawaban, kedua mata terus mengamati tubuh sintal Chiara yang dibungkus kaos dan celana jeans, “Apakah cucunya Doel?” tanyanya karena Koh A Li pernah menceritakan bahwa Doel punya satu cucu perempuan yang sangat cantik dan seksi. Namun sayangnya si cucu galak minta ampun, sehingga pria pada takut jatuh cinta ke sang cucu.
“Iya, saya cucunya Doel Samsuar!” Chiara menyilangkan kedua tangan ke d***, wajahnya terlihat tenang, “Kenapa, hmm?” mulai feeling kalau orang di depannya adalah penagih hutang.
“Hais, anda jangan galak-galak, nona.” Darto terkekeh dengan genitnya, “Anda ini sangat cantik, baiknya menjadi istri muda Koh A Li.” Satu tangan hendak menjawil pucuk dagu mulus Chiara.
Plak, satu keplakan keras mendarat di tangan nakal pria itu, lantas Chiara si pemukul memberi jitakan di kening sang pria.
“Heh-!” serunya dengan suara galak, “Kamu pikir Saya kucing betina, hmm? Enak saja harus jadi istri muda Koh A Li!” setelah itu memoncongkan sedikit bibir ke samping.
Barry dan semua anggota perguruan mengawasi Darto dan rekan-rekannya. Meski Chiara juga master kungfu seperti Doel, tapi sang nona adalah cucu kesayangan pria itu yang harus mereka jaga baik-baik.
“Loh, kalau kakek anda tidak juga membayar hutangnya,” Darto bukannya kesal, malah bertambah genit ke Chiara, “Anda yang membayarnya dengan menjadi istri muda Koh A Li.”
“Kalau saya menolak?” Chiara sedikit membesarkan kedua manik indahnya yang berwarna coklat muda indah.
Gadis ini pun blasteran, sebab ayahnya bernama Nathan Sampras, keturunan Italia dan Jerman, dan sang ibu adalah Laras Dania, keturunan China dan Indonesia.
“Maka kami mengambil semua barang berharga milik kakek anda.” Darto memberi jawaban.
“Berapa hutang kakek ke Koh A Li?”
“Seratus juta Rupiah!”
Tuing, Chiara dan semua yang ada di sini terkaget mendengarnya, lantas berbarengan memandang si pria dengan sorot mata tidak percaya.
“Anda bohong kan?” tanya Chiara dengan nada suara tidak percaya perkataan si pria.
Pria itu lantas mengambil satu berkas dari map yang dipegang rekannya, lantas diberikan ke Chiara.
“Anda lihat saja sendiri di berkas ini.”
Chiara menghela napas, Koh A Li memang setiap meminjamkan uang pasti meminta si peminjam mengikat perjanjian dalam satu surat perjanjian. Dia segera membaca semua yang tertulis dalam berkas di tangannya.
Selama ini Doel tidak pernah meminjam uang sampai seratus juta. Paling banyak 10 juta. Itu pun sudah kena dijeritin Chiara dan Bram.
Dia merasa menyesak sebab hutang si kakek yang terdahulu belum lunas, sekarang ada hutang lain pula. Dunia dirasa sedang melempari banyak granat dalam kehidupannya.
Ternyata semua kejadian ini dilihat Doel dari luar melalui tepi kusen jendela yang terbuka lebar. Si kakek mengawasi cucunya, pelan menghela napas, sebenarnya dia melakukan itu untuk satu misi Counter Terrorism Unit, tapi Chiara tidak diberitahu mengenai itu.
Chiara selesai membaca, menghela napasnya,
‘Tuhanku,’ desau hatinya, ‘Bagaimana aku mengatasinya?’ Satu tangan mengurut-urut kening yang menjadi pening, sebab si kakek berhutang sana sini, ‘Gajiku,’ dia melanjutkan,’Sebagai pengantar paket, sudah untuk kebutuhan sehari-hari kami semua di sini.’ Dia semakin pening, ‘Lantas, aku pun harus membiayai perbaikan mobil Valdin yang kutabrak dan mengganti motor serta container berisi paket ke Bu Sila.’
Darto yang genit seperti Koh A Li mengulurkan tangan hendak mencolek tangan Chiara yang memegang berkas perjanjian tersebut.
Hiat..detik berikut tangan itu dikibas kuat oleh Chiara dengan berkas ditangan si nona dan tangan lain mendaratkan tonjokan ke wajah pria tersebut.
“Akh!!” tak anyal Darto terpekik dengan tubuh mental ke belakang dan menubruk salah satu pilar perguruan.
Melihat ini, rekan-rekan pria itu terkaget dan berbarengan maju, hendak menghajar Chiara. Tapi..
Bak, buk, bak, buk!!
Chiara dengan gesit bergerak cepat sambil memukulkan berkas ditangan ke beberapa bagian tubuh para pria tersebut.
“Akh!!!” bergantian terdengar pekikan mereka dimana bermentalan ke sembarang tempat.
Menit berikut, Barry dan seluruh anggota perguruan memagari Chiara dengan kedua tangan mengepal tinju ke depan, melindungi cucu Doel.
Doel yang masih mengintip, tersenyum geli. Dia tahu si cucu galak tingkat dewa, siapa yang berani genit, pasti kena kungfu sang cucu cantik.
Chiara perlahan maju ke depan, menerobos di antara Barry dan Asep, lantas mendekati Darto yang menelan saliva melihatnya.
Barry dan semua anggota bergegas menyusul untuk mengawal si gadis pendekar ini.
Kedua mata Darto sedikit menyipit ketakutan, dia tidak menyangka kalau yang diceritakan Koh A Li benar, Chiara super galak. Mana jago kungfu pula seperti Doel.
“Heh, Kamu-!” si nona menunjuk Darto dengan jari tunjuknya, “Baiknya kalian pergi sekarang juga dan sampaikan pesan saya ke Koh A Li!”
Darto kembali menelan saliva, wajah si nona saat ini tenang, padahal tadi baru saja menjadi pendekar wanita seperti di film-film laga Mandarin.
Chiara lantas mengeplak kepala Darto dengan berkas, baru bicara lagi.
“Bilang sama Koh A Li,” ujarnya memandang pria itu yang mengusap-usap kepala sebab keplakannya bertenaga, “Kasih saya waktu satu bulan! Saya akan ke tempat beliau melunasi hutang kakek saya!” diutarakan pesan untuk Koh A Li, “Dan selama waktu satu bulan tersebut, Koh A Li tidak boleh cari masalah sama kakek dan seluruh anggota perguruan ini, termasuk dilarang keras huru-hara di perguruan! Paham, hmm!” kini membelakan mata melototin Darto.
“Paham-“ Darto bersuara sambil sedikit menelan saliva, “Paham, Nona pendekar.” Disebut si nona sebagai nona pendekar.