Bab 3 One Night Stand

1980 Words
“Tuan-“ Suara Chiara menegur Valdin. “Panggil Valdin saja, Chiara!” Valdin cepat memotong sebelum si nona hendak mengatakan sesuatu ke dia. Chiara menghela napas, “Iyalah,” desahnya, “Valdin-“ ditegur si arogan, “Makasih mengobati luka memar aku.” Dia mengucapkan terima kasih diobatin sang dokter. “Tidak perlu itu-“ Valdin tersenyum tipis, “Aku bikin Kamu terpelanting dan kakimu tertimpa motor.” Ujarnya menghela napas, “Jadi aku bertanggungjawab mengobatimu.” Chiara melongo, dia terpelanting sebab menabrak salah satu lampu mobil Valdin, beruntung pria itu gesit membelokan mobil ke arah lain, jika tidak dia pasti mental ke mobil itu dan jatuh ke aspal, tewas dengan luka-luka. Mengingat semua ini, mengapa Valdin mengatakan membuat dia celaka dan bertanggungjawab mengobati dia? “Sudahlah-“ Valdin menghela napas, “Kamu-“ dialihkan pembicaraan, “Sementara istirahat di sini sama aku, sampai kakimu membaik.” Dijitak sedikit kening Chiara, seolah gadis ini sudah akrab sama dia. Chiara terkesiap, “Tidak mau!” dia menolak sambil mengusap kening yang kena jitak, “Valdin, tadi Anda bilang kita bicara mengenai mobilmu yang kutabrak kan?” dia cepat mengingatkan tujuan Valdin membawa mereka kemari, yaitu bicara mengenai mobil sang dokter. Valdin terkesiap, lantas memasang wajah serius, “Betul-” dia cepat memberi jawaban, “Kamu harus menanggung biaya perbaikan mobilku,” ujarnya, “Jangan Kamu kira sudah menolongku dari begal, maka bisa kubiarkan tidak bertanggungjawab atas kerusakan mobilku itu.” Chiara menipiskan bibir sedikit ke dalam, terlihat berpikir, dari mana dia mendapatkan uang untuk membiayai kerusakan mobil Valdin? Untuk melunasi hutang Doel saja belum ada. “Ada apa, Nona-?” Valdin menegur Chiara, “Kamu tidak mampu membiayai perbaikan mobilku itu?” Chiara melepas napas sedikit kasar, “Mampu, tapi beri aku waktu.” “Boleh, tapi hanya dua hari, karena minggu depan, mobil itu kupakai untuk uji coba di Mandalika.” “Valdin, saya hanya pengantar paket, tentu harus menyisihkan gajiku untuk membiayai perbaikan mobilmu.” “Kamu bisa minta bantu orangtuamu yang kupikir orang berada.” Chiara terhenyak mendengar ini, sekelebat terbayang wajah mendiang Nathan, membuat kedua matanya sedikit berkaca-kaca. Valdin terkesiap karena terlihat olehnya manik-manik Chiara mulai dilapisi kristal-kristal bening. “Hei-!” ditegur si nona dengan cemas, “Kamu kenapa?” tanyanya sebab kini satu tangan cucu Doel tersebut segera menyeka air mata yang meleleh dari sudut-sudut mata. “Tidak mengapa-“ Chiara tidak mau mengatakan kalau teringat Nathan, “Oke-“ dipasang senyuman ke wajah, “Saya setuju permintaan Anda, akan saya usahakan mobil anda selesai diperbaiki sebelum acara uji coba tiba.” Valdin menyentuh salah satu pipi Chiara, ditatap lekat-lekat gadis ini, ingin tahu mengapa menangis. “Katakan ke Aku,” dia bicara dengan suara lembut ke Chiara, “Mengapa menangis saat kubilang kamu bisa minta bantuan orangtuamu? Apa Kamu sedang bermasalah sama mereka, sehingga keluar dari rumah dan bekerja sebagai pengantar paket?” Chiara hanya tersenyum tipis, “Anda tidak perlu tahu,” ujarnya tegas, “Tolong antar Saya ke mobil Anda agar saya mengganti pakaian dengan seragam lagi dan mengambil motor saya yang tertinggal di lokasi kejadian tabrakan itu.” Ditengadahkan telapak tangan kanan ke hadapan Valdin. Valdin meraih tangan itu, digenggamnya dengan lembut. “Chiara, plis, katakan ke aku kenapa menangis?” Chiara melepas tangan Valdin, “Saya menangis itu urusan saya, anda tidak perlu menanyakan itu.” Ujarnya judes. “Harus kutanyakan, meski Aku ingin kamu bertanggungjawab atas mobilku, Aku tidak mau Kamu kesulitan. Aku tadi mengatakan Kamu minta bantu orangtuamu untuk menghindarimu dari kesulitan.” “Anda tidak perlu perduli ke Saya!” Chiara sedikit bersuara tinggi, “Karena sedari tadi sikap Anda tidak baik ke Saya!” ditatap kesal Valdin, “Anda tidak menanyakan nama saya saat saya memperkenalkan nama! Anda seenaknya membawa Saya kemari, dan menyuruh saya berdandan ala kupu-kupu malam!” dijabarkan sikap sang dokter yang dirasa kurangajar ke dia. Valdin terkesiap, lantas berdiri sambil memukulkan satu kepalan tangan ke udara. Dia menjadi kesal karena Chiara dengan berani mengingatkan semua sikapnya itu. Chiara segera berdiri, menghadap sang dokter, satu tangan kembali ditengadahkan ke depan wajah pria itu. “Valdin, jika Anda tidak berkenan mengantar saya ke mobil Anda, boleh saya pinjam kuncinya? Anda tenang saja, setelah saya berganti pakaian, akan menitipkan kunci ke manager on duty untuk diantar ke Anda, karena saya tidak mau membuat Anda malu saya temui dengan saya memakai seragam kerja.” Mendengar ini, Valdin meraih tekuk Chiara dan meraup bibir gadis ini. Kedua mata Chiara membesar, tidak menyangka dicium mesra oleh Valdin. Gegas, dia mendorong tubuh pria itu, tapi justru dipeluk erat dan bibirnya semakin dilumat sang dokter. Tidak lama tubuhnya digendong Valdin, dibawa masuk ke dalam kamar utama dan dibaringkan di permukaan ranjang yang beralaskan sprei lembut. Tubuhnya pun ditindih pria itu dan mereka saling menatap. “Valdin-!?” Chiara menjadi gugup, pertama kali bagi dia sedekat ini dengan pria. Pelan tangan Valdin mengusap lembut wajah Chiara, “Chiara, suasana hati kita sama-sama tidak bagus.” “Lantas?” “Biarkan kita hapus itu bersama.” “Hapus gima-?” kalimatnya terhenti sebab bibir Valdin kembali meraup bibirnya, dilumat penuh perasaan oleh pria itu. Dia menjadi terbius saat ini, membiarkan sang pria kemudian menyapukan bibir ke permukaan kulit lehernya. Jantungnya berdebar karena merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakan sama sekali. Kedua matanya terus mengamati sang dokter yang mulai melecuti pakaian mereka dan dicampakan ke sembarang tempat. Tampak oleh dia betapa menawan bentuk tubuh pria itu. Apalagi dia merasakan sentuhan Valdin begitu lembut, tidak ganas, seolah sang pria tahu dia baru pertama kali dimesrain pria. Kedua tangannya perlahan meremas kuat sprei manakala pintu oase mulai diterobos pusaka maut Valdin. “Akh-!” Chiara mengerang, merasa tidak nyaman bagian sensitive dia dimasuki rudal sang presdir, kedua tangan yang meremas sprei memegang lengan atas Valdin dan berusaha mendorong tubuh kekar tersebut menjauh darinya, tapi sang pria menekan tubuhnya dimana pusaka tersebut dilesakan lebih dalam. “Akh-!” Kembali dia terpekik karena pusaka yang besar melesak ke dalam lorong sempit oasenya. Jantungnya serasa akan copot sebab baru kali ini berhubungan badan dengan seorang pria. Apalagi dia dan pria itu hanya kenal nama saja karena insiden tabrakan tersebut. Valdin kini meraih kedua tangannya, digenggam erat sambil diletakan pada kedua sisi kepalanya. Mata pria itu menatap dia dengan lirih. “Maafkan, aku-“ bisik pria itu dengan suara pelan, “Tapi jangan khawatir, setelah ini Aku tidak akan pernah membuatmu meninggalkanku.” Entah kenapa dia mengatakan semua itu yang sama sekali tidak dipahami Chiara. “Valdin-“ Chiara dengan gugup menegur sang dokter, “Maksud Anda apa?” ditatap wajah tampan pria itu yang gurat blasterannya sangat ketara. Valdin memang blasteran, karena Matthew Estefan, ayahnya keturunan Italia, Amerika dan Indonesia. Sedangkan Elsa sang ibu, keturunan Turki dan Indonesia. Pria ini bukan hanya berwajah tampan kebule-bulean, tapi juga memiliki postur tubuh yang tegap dengan d*** kotak-kotak six pack menawan. Dari segi ekonomi, dia adalah billionaire, punya perusahaan sendiri dan juga membantu mengelola Biomedika Hospital milik Brylee Estefan, kakak kandung mendiang ayahnya tersebut. Sayang, dia punya kisah pilu dalam hidup ini. Semenjak sang ayah meninggal tragis akibat membunuh Jenderal yang bekerja di Counter Teroris Unit, seluruh kekayaan ayahnya dikendalikan Brylee. Dia dan Elsa dihidupi oleh si paman. Sebenarnya sang paman dan istri pamannya sangat menyayangi dia, melimpahkan kasih saying tiada batas, tapi sang ibu terus menjejalinya agar mempersiapkan diri untuk mengambil kembali seluruh kekayaan mendiang ayahnya dan balas dendam ke si paman dan putri mendiang musuh si ayah yang dibunuh ayahnya tersebut. Dia tidak mau sebab sedari kecil dididik sangat baik oleh Brylee dan Anita, istri Brylee. Lantas juga dia merasa ditangan Brylee harta kekayaan mendiang ayah dikelola sangat baik, untuk apa mengambil kembali? Kemudian, dari Brylee, dia tahu mendiang ayah tewas karena membunuh keji dan dibunuh ayah dari istri lawannya tersebut di hari yang sama. Jadi mengapa harus membalas kematian mendiang ke putri musuh si ayah? Kehidupan di antara kebaikan dan dendam membuatnya sangat tidak nyaman, sehingga menjadi sosok dingin dan petualang ranjang panas. Mencari seseorang yang bisa menenangkan jiwanya. Tapi sayang ketika ada, sang ibu membuat hubungan tersebut rusak tanpa sepengetahuan dia. Sepertinya ibu ingin menikahkan dia sama pilihan ibu, yang pasti pion ibu untuk membuat dia balas dendam. “Jangan bertanya apa pun saat ini, Chiara,” Valdin membalas tatapan Chiara, “Plis, temani aku, dan aku tidak membiarkanmu meninggalkanku. Aku membutuhkanmu, Chiara.” “Membutuhkan untuk bermesraan seperti ini?” Chiara melirik tubuh mereka yang menyatu, di mana Valdin mengayuh pelan pusaka dalam oasenya. Membuat napasnya memburu, tapi harus menanggapi curhat sang pria. “Aku akan memberimu apa saja selama kamu disisiku.” “Valdin-!” Chiara menjadi gemas, “Kita awalnya tidak sengaja kenal karena saya menabrak mobil Anda, mengapa kini anda menganggap saya kupu-kupu malam yang harus disisimu terus?” “Aku sudah mengambil mahkotamu, paham!” Valdin memandang Chiara dengan kebingungan, karena semua perkataannya hanya berdasarkan suasana hati yang kacau. “Apa baru sekali ini Anda mengambil mahkota wanita? Kurasa tidak, karena dari cara Anda mesra ke saya, mengatakan anda punya banyak pengalaman di ranjang.” Valdin terkesiap, lantas tersenyum tipis. Dia tidak menyangka jika Chiara mengatakan semua itu. Dia sudah pernah mengambil mahkota gadis perawan, tapi tidak pernah inginkan si gadis tetap disisinya. Dia hanya memberi satu bundel uang Dollar ke perempuan itu, lantas ditinggalkan saja. Bahkan ketika si perempuan mencarinya, dia dengan tega mengusir si perempuan. “Sudah, Chiara,” Valdin tidak punya jawaban apa pun, “Kita tidak perlu membicarakan apa pun lagi ya.” Diminta pembicaraan ini dihentikan, “Aku ingin kita berdua menikmati kemesraan ini.” Setelah itu bibirnya menyapu permukaan leher dan d*** sang gadis dengan penuh hasrat. Jantungnya bergemuruh saat ini, merasakan sesuatu yang berbeda dari awal menyentuh sang nona. Sesuatu yang sulit dijabarkan dengan kalimat apa pun, bukan sekedar penasaran ingin tahu siapa Chiara. Sesuatu yang membuat dia tidak ingin ditinggalkan oleh Chiara. “Akh-!” lenguhan Chiara kembali terdengar, “Tuhanku!” dia tidak mengerti mengapa terjebak hasrat Valdin, selama ini dia mampu mempertahankan makhotanya ketika masih berpacaran dengan Randy, teman kuliahnya. “Akh-! Ya Tuhanku!” kayuhan pusaka Valdin dirasa semakin cepat dan ganas. “Akh, akh, akh!” lenguhannya semakin terdengar sebab Valdin mengocok kuat pusaka dalam oasenya, membuat tubuh dia bergetar dan kedua tangan yang sudah dilepas sang pria memegang erat lengan pria tersebut. Di antara kenikmatan, dia merasa liang oase perih kena kocokan maut, “Pelan, Tuan! Perih!” rintihnya menatap kedua mata Valdin yang terlihat penuh hasrat liar. “Nikmati sayang.” Valdin tidak mengubris rintihan itu, “Kamu hanya belum terbiasa saat ini.” Diberitahu mengapa Chiara merasa perih di liang oase, “Nanti Kamu tidak akan merasakan perih lagi, tapi nikmat.” “Anda akan mengulang hal ini nantinya?” Chiara dengan polos bertanya. “Selalu, karena seperti yang kubilang, Aku tidak akan membuatmu meninggalkanku. Kamu milikku!” Chiara terperangah, mengapa dia menjadi milik pria aneh ini? Tapi dia tidak bisa melepaskan diri dari kukungan hasrat Valdin. Apalagi kini, Valdin mengangkat setengah tubuhnya dengan satu tangan dan semakin kencang menggocok oase dia. Diamati Valdin, mencoba menelusuri pikiran dan hati pria itu. Mulai tampak dalam penglihatannya, sang pria punya kehidupan tidak nyaman. Sang pria pun tertutup mengenai kehidupan tersebut. Dia pun merasa pria ini mencari kenyamanan dengan cara meniduri perempuan atau mengebut di sirkuit balap mobil. Valdin merasa nyaman bersamanya, bisa mengatakan rasa tidak nyaman ke dia dan ingin dia tetap memberikan hal tersebut, dengan mengatakan tidak akan membiarkan dia meninggalkan sang pria. Pelan dipeluk leher pria itu, membenamkan wajah di salah satu sisi leher tersebut. Membiarkan diri menyamankan hati dan pikiran Valdin. “Chiara-“ pelan terdengar suara Valdin, “Kamu harus ingat, kamu milikku. Selamanya milikku. Aku tidak akan membiarkanmu meninggalkanku. Aku tidak perduli kita hanya kenal nama. Tidak masalah siapa kamu. Yang kuinginkan kamu hanya milikku.” Chiara tidak menanggapi sebab tidak tahu harus mengatakan apa. Seperti juga Valdin, pikiran dan hati pun kacau.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD