Mobil Valdin berhenti di depan halaman IGD Biomedika Hospital, lantas menilik ke dalam mobil, Valdin mematikan audio mobil, lantas menarik keluar kunci, membuka pintu, sambil melihat ke Chiara yang sedari tadi mengamati dia.
“Kamu tunggu di sini dulu.” Gegas, turun dari mobil dan setengah berlari masuk ke dalam IGD.
Chiara di dalam mobil menghela napas, “Mimpi apa gue semalam, sampai kena apes beruntun?” dia mulai mengeluh, “Ish-“ decaknya, “Mana sih tu orang?” dilongokan pandangan ke jendela seberang untuk melihat teras IGD, mencari Valdin.
Sementara di IGD, Valdin masuk ke dalam farmasi, lantas mengambil beberapa item perlengkapan medis dan obat, baru kemudian ke Tari, petugas kasir saat ini. Sampai di sana, diambil dua helai kertas resep dari meja, cepat menulis semua barang yang dibawanya, baru menegur si kasir.
“Tari-“ ditegur perempuan itu.
“Ya, dokter Valdin-“ Tari menyahut, mata dia melihat kedua tangan Valdin membawa perlengkapan medis dan obat, “dok-“ menegur Valdin, “Semua itu-“ jari telunjuk mengarah ke barang yang dibawa si dokter.
Valdin tidak menanggapi, hanya kasih lembaran resep yang ditulis ke Tari.
“Kamu input semua ini-“ lantas memberikan instruksi, “Tagihan masuk ke billing saya.” Imbuhnya, lalu mengambil tas kain berlogo rumah sakit, dimasukan semua barang ke sana, lantas tergesa meninggalkan farmasi sambil menenteng tas tersebut.
Tinggal lah Tari melongo, hatinya bertanya-tanya, sebab setahu dia, si dokter sudah cuti karena mau nikah hari ini. Mengapa muncul di IGD pakai seragam dokter, lalu mengambil perlengkapan medis dan obat di sini.
Valdin melangkah panjang, tidak memperdulikan orang disekitar, termasuk para dokter jaga dan perawat. Tidak lama, dia di luar IGD, langsung membuka pintu kabin kemudi tempat Chiara berada.
“Kamu-“ ditegur si nona yang menghembuskan napas melihat dia, merasa nona lega dia kembali, “Pindah ke bangku sebelah.” Ujarnya mengacungkan jari tangan ke bangku penumpang di sebelah.
Mendengar ini, Chiara menghela napas, lantas melepas sit belts dari tubuhnya, lalu satu tangannya menghela Valdin dari hadapan dia, hendak turun, tapi terdengar suara si dokter.
“Kamu tidak perlu turun-“ kalimat itu yang di dengar Chiara, “Kamu tinggal pindah ke bangku sebelah.”
Chiara menghela napas, perlahan dia pindah duduk ke bangku penumpang, baru mengamati Valdin. Sang dokter cepat duduk di kursi kemudi sambil menutup pintu, menaruh tas kain di sebelah kaki, memasang sit belts ke badan nona cantik itu, baru memakai sit belts ke tubuhnya, lantas perlahan melajukan mobil.
***
Kedua manik Chiara terus mengamati Valdin yang mematikan mesin mobil, setelah pria ini memarkir di pelataran parkir basement sebuah hotel mewah di Jakarta. Hati dia menyesal menolong Valdin, sebab sekarang dibawa pria itu ke hotel.
Valdin tahu Chiara mengamati, tidak menggubris, menarik keluar kunci mobil, melepas sit belts, lalu turun dari kereta bermesinnya, baru melangkah menuju bagasi. Tidak lama dibuka bagasi, lantas melihat ke beberapa keranjang seserahan yang tersusun rapih di sana.
Chiara yang masih duduk di kabin penumpang memutar badan ke belakang, mencaritahu apa yang Valdin kerjakan, karena dia melihat dari kaca spion kemana si pria pergi.
Tidak lama Valdin kembali masuk ke dalam mobil dengan membawa beberapa barang untuk perempuan, lalu ditaruh ke pangkuan Chiara. Si nona melongo, mengapa dikasih banyak barang?
“Kamu-!” Valdin bicara ke sang gadis sambil melepas sit belts dari tubuh si nona, “Lekas tukar pakaianmu dengan dress itu.” Setelah sabuk pengaman lepas, menunjuk dress dipangkuan gadis tersebut.
“Untuk apa, Tuan?” Chiara terheran, mengapa Valdin menyuruhnya mengganti kostum.
“Untuk mengganti seragam kamu itu!” Valdin memberi jawaban sambil menunjuk seragam si nona. “Urusanmu yang menabrak mobil saya belum selesai, Nona!” dia melanjutkan perkataan, “Saya ingin membicarakan itu di hotel ini, tidak di dalam mobil.”
Chiara ternganga, lantas memasang wajah garang, “Jangan katakan, Anda minta saya layanin ya.”
“Siapa yang mau kamu layanin, hmm?” Valdin sedikit menjitak kening Chiara, “Nona Chiara,” disebut nama sang nona, “Kita berada di hotel bintang lima, maka kamu harus menukar seragammu dengan dress yang kukasih.” Dijelaskan mengapa si nona harus berganti kostum. “Sudah, jangan menukas melulu!” cepat menahan Chiara untuk tidak menukasnya, “Aku tunggu Kamu diluar.” Lantas mengambil tas kain dari sisi kakinya, dan keluar dari mobil.
Chiara terperangah, mengapa mimpi anehnya berlanjut. Namun, saat ini posisi dia adalah penabrak, mau tidak mau mengikuti keinginan Valdin. Dia segera berganti pakaian dan mendandani diri. Setelah selesai baru turun dari mobil dengan menenteng clutch.
Valdin yang menunggu dengan bersandar di pintu belakang mencium wangi parfum. Perlahan ditegakan badan di mana kedua mata menyisir mencari asal wangi tersebut. Dia pun tertegun melihat Chiara berjalan anggun mendekatinya, meski tampak si nona sedikit mengernyit saat melangkah. Satu tangan dia mengucek sedikit kedua mata, memastikan apa yang dilihat, karena Chiara berbeda saat ini.
‘Siapa Kamu sebenarnya, Nona?’ hatinya kembali penasaran, ‘Aku merasa Kamu bukan dari kalangan rakyat kebanyakan. Aura kamu menunjukan kamu dari kalangan atas.’
Chiara sudah di dekat Valdin, “Tuan Valdin-“ ditegur sang dokter yang masih terpesona melihat dia, “Saya sudah mengikuti keinginan Anda, lantas what next?”
Valdin tidak menjawab hanya mengulurkan satu tangan ke belakang, dirangkul pinggang ramping Chiara, lantas dibawa melangkah meninggalkan mobil, menuju ke dalam hotel.
Jantung Chiara berdebar saat ini, bukan karena baru ke hotel luxury, tapi dia dibawa Valdin yang sama sekali tidak dikenalnya. Bahkan sang dokter pun belum mengenal dia. Mereka hanya kenal nama saja karena dia tidak sengaja menabrak mobil pria itu.
Valdin pun merasa hatinya bergemuruh. Dia baru kehilangan Karla, kini menggandeng Chiara gadis yang tidak sengaja menabrak mobilnya dan menolong dia dari begal. Dalam pikiran dia bergemurusung pertanyaan ingin tahu siapa Chiara, karena gadis ini diluar dugaan.
Mereka pun sampai ke depan desk pemesanan kamar dan langsung Valdin memesan satu kamar Suite President, kamar mewah yang super nyaman.
Chiara menghela napas, tidak merasa takjub melihat si dokter memesan kamar tersebut. Dia sudah terbiasa dengan kemewahan sebab jika Brylee, ayah asuhnya datang mengunjungi dia, pasti membawa dia healing makan di restoran mewah di satu hotel atau tempat lainnya.
Si ayah asuh adalah sahabat karib dari mendiang Nathan, ayah kandungnya. Kedua pria itu super billionaire. Tapi karena terjadi pembunuhan keji atas orangtuanya, Chiara terpaksa disembunyikan Brylee di perguruan Doel, ayah kandung sang ibu dan hidup sebagai gadis biasa saja. Namun, Brylee mendatangkan beberapa guru kepribadian, agar mendidik Chiara menjadi perempuan elegan kalangan billionaire.
Valdin selesai bertransaksi penyewaan kamar, membawa Chiara mengikuti petugas hotel menuju kamar tersebut yang berada di lantai delapan. Tangan dia tetap merangkul pinggang si nona dari belakang, membuat Chiara menjadi risih. Seringkali perlahan si nona melepaskan tangan tersebut, tapi cepat dihentikan Valdin.
Betapa ingin Chiara menghajar Valdin jika mereka sampai di kamar, sebab dinilai kurangajar. Bisa-bisanya pria itu membawa dia ke hotel dan bersikap seolah dia wanita penghibur.
Padahal tidak ada itu dalam pikiran sang dokter. Valdin tengah penat, ingin ditemani mengobrol sama Chiara, meski sedari tadi pria itu bersikap sombong dan judes dihadapan sang nona.
Kini mereka sampai di dalam kamar Suite President yang nyaman dan dilengkapi fasilitas super ekslusif. Petugas pun dengan sigap menyiapkan hidangan dan beberapa keperluan untuk dipakai Valdin dan Chiara, seperti perlengkapan mandi.
Setelah mereka hanya berdua saja, Chiara melepas tangan Valdin, lantas duduk di sofa, satu kaki disilang ke atas p*** dan mengamati Valdin. Pria itu menggulung kedua lengan kemeja satu persatu, melepas beberapa kancing atas kemeja dan menyiapkan dua gelas minuman segar.
Kemudian sang dokter duduk di sebelah Chiara dan menyodorkan satu gelas minuman ke gadis itu, sambil menaruh tas kain ke meja.
“Thanks.” Chiara mengucapkan terima kasih, lantas sedikit mengendus aroma minuman, mencari tahu apakah di dalamnya ada obat perangsang atau lainnya, dan ternyata tidak ada.
Valdin tersenyum geli, tahu yang dilakukan Chiara, “Ha eh!” dia menghela napas, “Untuk apa Aku mencampur minumanmu dengan obat perangsang?” dipandang si nona yang sedikit meneguk minuman, “Aku sudah bilang tidak mau dilayani Kamu.”
“Bagus kalau Kamu tidak mau,” Chiara menanggapi dengan sikap anggun, “Karena Aku bukan kupu-kupu malam, Tuan Valdin,” ujarnya mengatakan bukan kupu-kupu, “Aku juga bukan perempuan yang bisa kamu mangsa demi menyelesaikan urusan mobilmu yang kutabrak.”
Valdin menyimak semua itu kembali tersenyum geli, diteguk sejenak minuman dari gelas ditangannya. Kedua mata sesekali melirik si nona. Dia seorang playboy, sebelum memacari serius Karla. Tidak satu pun perempuan yang dibawanya ke hotel berani mengatakan yang dibilang Chiara. Bahkan Karla pun begitu.
“Oke, Tuan Valdin,” Chiara memasang senyum tipis di wajah, “Tadi Anda bilang kita bicara mengenai mobilmu di sini.” Diingatkan kembali tujuan Valdin membawa mereka kemari, “Anda ingin Saya melakukan apa?” diletakan gelas ke meja, lalu memandang tuan muda.
Valdin menaruh gelas ke meja, lantas melepas kedua highells dari kaki-kaki Chiara, diangkat ke atas dan diselonjorkan ke permukaan sofa.
“Kamu mau ngapain?” Chiara menjadi cemas.
Valdin tidak menjawab, duduk di tepi sofa, tepat menghadap kedua kaki si nona, lantas satu tangan meraba bergantian kaki-kaki itu sambil diamati dengan serius.
“Aww!” menit berikut terdengar pekik kecil Chiara, “Ish!” spontan pula tangan dia mengeplak tangan Valdin yang meraba permukaan depan pergelangan kaki kanannya, “Sakit tauk!” tanpa sadar merengek sakit.
Valdin menghela napas, mengeluarkan isi tas kain, diletakan semua ke meja. Tidak lama, dia bersihkan permukaan pergelangan dan kaki Chiara pakai kapas yang dibasahi cairan NaCl. Setelah itu dioles kulit di sana dengan cream untuk memar dan kaki terkilir.
Chiara mengamati semua yang dikerjakan Valdin dengan heran, lantas teringat ketika mereka ke Biomedika Hospital, lalu menghela napas. Ternyata sang dokter mengambil obat untuk kakinya yang tertimpa body motor. Tapi mengapa pria itu mengobatinya di hotel? Sebab tuan muda tidak mau Chiara menjadi bahan pertanyaan para dokter dan perawat di sana yang mengenal dia sebagai dirut rumah sakit.
Biomedika Hospital milik Brylee Estefan, paman kandung Valdin, dan disuruh Valdin mengelolanya.
Kini, Valdin membebat kaki Chiara itu dengan perban bebat, membuat Chiara menghela napas. Dia menilai sang dokter manusia arogan, tapi berhati baik. Pria itu tahu kaki Chiara tertimpa body motor, maka dia obatin.
“Done!” terdengar suara Valdin, sebab selesai membebat kaki Chiara dengan perban bebat. Kemudian mengoplos obat nyeri ke dalam tabung Syringe, lantas meraih tangan kanan si nona, “Kamu rileks ya, biar aku menemukan nadi venamu.” Dia memandang sang gadis yang terlihat tegang, “Please.”
Chiara menghela napas, diatur emosinya, lalu merilekskan pikiran. Tapi karena bersama Valdin yang orang asing, hatinya tetap tidak tenang. Valdin menghela napas, dilepas tangan sang nona, lantas satu jari tangannya menotok tiga titik di kening cucu Doel itu. Dibikin untuk tenang dan santai.
Tidak lama, Valdin mengambil tangan Chiara, diamati sejenak permukaan pergelangan tangan si nona, baru menyuntikan obat pereda nyeri ke nadi vena yang ditemukannya.
Setelah selesai mengobati Chiara, Valdin cepat merapihkan perlengkapan medis, disimpan kembali ke dalam tas kain, lalu membuang kapas, botol cairan obat dan syringe ke plastic kresek yang ada di tas kain ke tempat sampah. Kemudian dia berdiri, melangkah ke bar mini, diambil segelas air adem dari dispenser, baru kembali ke Chiara.
“Minumlah-“ disodorkan gelas ke nona ini, “Biar kamu tenang.” Ujarnya sambil menotok tiga titik di kening sang gadis, agar lebih santai.
“Makasih.” Chiara mengambil gelas itu, dihirup perlahan, maniknya mengamati Valdin yang sesekali menghirup minuman dingin. ‘Manusia aneh-‘ bisik hatinya, ‘Sedari tadi judes dan arogan, tapi mengobati kakiku.’ Merasa Valdin aneh. Setelah puas minum, ditaruh gelas ke meja, dipandang sang dokter, ‘Sebenarnya mau dia apa?’