Tolong baca author note ya ^_^
___
Bel istirahat di sekolah Rajena sudah berbunyi. Semua anak yang ada di kelas berbondong-bondong keluar kelas untuk segera pergi ke kantin demi mengisi perut yang sudah keroncongan sedari tadi.
"Jen, ke kantin gak?" tanya teman Rajeno yang bernama Arka.
"Duluan aja, nanti gue nyusul," dusta Rajeno.
Anak itu memang kerap kali berbicara seperti itu saat diajak ke kantin oleh teman-temannya. Ia beralasan tidak lapar atau akan pergi ke perpustakaan, padahal sebenarnya Rajena tidak ada uang untuk jajan. Uang yang diberikan oleh sang Nenek hanya cukup untuk ongkos pulang dan pergi ke sekolah saja.
"Ah bohong banget, tiap diajakin bilangnya gitu terus. Sampai nanti bel lagi juga gak datang-datang ke kantin," cibir Hadlan.
"Udah gak usah dipaksa," ucap Argi.
Rajena hanya tersenyum kemudian menatap kepergian ketiga temannya. Setelah itu ia melangkahkan kakinya ke gudang sekolah. Biasanya ia akan bercengkrama di sana bersama penjaga sekolah untuk mengurangi rasa laparnya.
___
"Eh Rajena ke sini lagi?" tanya si penjaga sekolah yang sedang memperbaiki kursi. Sebut saja Pak Reza.
Rajena mengangguk, "Iya Pak, lagian bingung mau ke mana."
"Gak ke kantin sama teman-temannya?" tanya Pak Reza lagi.
Rajena hanya tersenyum tipis kemudian menggelengkan kepalanya, "Sayang uang, Pak. Hehehe."
Pak Reza sekarang mengerti kenapa Rajena selalu ke gudang setiap jam istirahat.
"Oh... Tuh di sana ada kopi, s**u sama minuman segar. Kalau haus tinggal bikin aja," ujar Pak Reza.
"Aman Pak, paling nanti minta air putih aja."
Pak Reza mengangguk kemudian kembali fokus memperbaiki kursi yang rusak.
"Kursinya apanya yang rusak, Pak?" tanya Rajena kemudian.
"Ini bautnya lepas. Gak tahu sama anak-anak diapain sampai bisa rusak begini. Kayaknya dinaikin sambil berdiri."
"Oh, mungkin bisa aja gitu, Pak. Kadang suka dipake joget-joget juga."
"Rumah kamu di mana, Jen?"
"Di Desa Kasturi, Pak."
"Hah? Lumayan jauh dong sampai ke sini. Kamu naik apa ke sini?"
"Lumayan Pak. Saya jalan dulu dari rumah sampai jalan Raya sekitar lima belas menit, sisanya ke sini sepuluh menitan naik angkot."
"Padahal dekat Desa Kasturi tuh ada sekolah SMA juga ya tapi swasta?"
Rajena mengangguk, "Ada Pak, tapi uang pangkalnya besar. Saya di sini pake beasiswa dari pemerintah."
"Oh... Tapi iya juga sekolah dekat Desa itu bagus tapi mahal ya. Banyak anak pejabat, pengusaha pada sekolah di sana. Di sana juga ada asrama ya?"
"Dengar-dengar sih gitu, Pak. Tapi yang jadi pertanyaan, itu kan sekolah elit ya, Pak. Kok lokasinya dekat pedesaan gitu?"
"Gak tahu saya juga. Mungkin biar anak-anaknya belajar dengan benar, kalau di kota suka ada yang kabur ke Mall atau ke tempat wisata gitu."
"Oh iya juga ya, baru kepikiran."
Sedangkan di tempat lain di area sekolah itu, ada tiga anak yang sedang membicarakan perihal Rajena yang hampir tidak pernah mau diajak ke kantin.
"Menurut kalian kenapa Rajena gak mau diajak ke kantin? Eh bukan gak mau, tapi dia emang gak pernah ke kantin," ujar Hadlan memulai pembicaraan.
Argi dan Arka juga menyimak dengan serius sampai akhirnya salah satu dari mereka berbicara.
"Kayaknya faktor ekonomi deh," celetuk Arka yang langsung mendapat cubitan dari Argi.
"Gue tahu lo anak orang kaya, bapak lo pengusaha sukses. Tapi gak begini juga lo menilai orang tiba-tiba dari ekonomi," tegur Argi.
"Eh santai dulu, lo liat aja deh. Si Rajena ini jarang banget jajan ke kantin, beberapa hari yang lalu pas gue mau pinjam pensil ke dia terus dia bilang ambil aja di tas gue lihat di tasnya cuma ada duit lima ribu anjir. Coba kalian bayangin zaman sekarang anak SMA bekal duit lima ribu buat apaan coba?" jelas Arka bercerita.
"Siapa tahu di sakunya ada anjir, lo jangan berburuk sangka gitu."
"Taruhan sama gue ayo," tantang Arka.
"Gak dulu, taruhan sama lo nanti mobil. Gue gak punya mobil."
"Udah woy kenapa malah pada debat sih. Jadi intinya gimana?" tanya Hadlan kesal.
"Ya intinya dia gak ada duit buat jajan. Dia juga dari rumahnya naik angkot ke sini, dia juga anak beasiswa. Terus apa lagi?"
"Kok lo bisa tahu banyak sih, Gi?" tanya Hadlan takjub.
"Eh Dlan, gitu-gitu si Argi biang gosip tahu! Malah kalau udah gosip pasti melebihi mulut lemes lo itu," timpal Arka.
"Siapa bilang gue lemes? Gue tuh cuma menyampaikan informasi yang pernah gue dapetin aja sih."
"Lebih tepatnya sih ember bocor."
"Rajeno tuh ganteng loh."
"Gi tobat Gi, lo cowok," pekik Hadlan takut.
"Bukan gitu maksud gue, Hadlan. Si Rajena ini ganteng, banyak jadi bahan omongan anak-anak cewek sini. Banyak yang naksir, gue lihat dia banyak yang minta nomor hp tapi gak dia kasih."
"Wah sok jual mahal. Kenapa gak ada yang minta nomor gue aja ya?" sahut Hadlan.
"Soalnya mulut lo lemes!"
"Enak aja!!" protes Hadlan.
___
Bel pertanda masuk setelah istirahat sudah kembali terdengar di telinga para siswa. Rajena berjalan masuk kelas, ia langsung mendudukan bokongnya di kursi tanpa menoleh ke arah tiga temannya yang saat ini masih saling berbisik membicarakan lelaki itu.
"Udah anjir berhenti dulu, orangnya datang," bisik Argi pada Hadlan.
Tak lama kemudian seorang guru datang dan langsung menjelaskan materi yang akan dipelajari hari ini. Rajena menulis tanggal di bukunya. Seketika tangannya berhenti menulis saat ia menyadari satu hal bahwa seminggu lagi adalah ulang tahun Hayi. Rajena berpikir untuk membelikan kue ulang tahun untuk adiknya itu, tapi iya tak tahu berapa harganya.
"Kira-kira berapa harga kue ulang tahun ya? Kalau yang kecil gak terlalu mahal kayaknya," gumam Rajena dalam hati.
Hingga akhirnya mata pelajaran selesai dan bel pulang sudah berbunyi, Rajena masih memikirkan tentang rencananya. Ia tak tega melihat Hayissa yang setiap tahun tidak terlihat bahagia di hari ulang tahunnya. Hayissa selalu terlihat murung saat hari ulang tahunnya tiba. Beberapa tahun ke belakang Hayissa pernah meminta kue ulang tahun namun sampai saat ini keinginan adiknya itu belum terpenuhi.
Rajena ingat waktu itu Hayissa pulang dari acara ulang tahun temannya. Anak itu berjalan sambil menenteng bingkisan berisi berbagai macam makanan ringan, namun raut wajahnya sangat lesu.
"Kamu kenapa lesu?" tanya Rajena.
"Abang, Hayi bisa gak dirayakan ulang tahunnya? Hayi sedih.. Hayi mau kayak Alika yang ulang tahunnya dirayakan, ada Mama sama Papanya juga. Rumahnya dihias banyak balon, Alika dapat kado banyak sekali," keluh Hayissa.
Hal itu jelas saja membuat Rajena ikut merasakan sakitnya menjadi Hayissa. Adiknya itu banyak terluka karena masa kecilnya yang kurang bahagia. Hayissa harus berada di antara anak-anak yang keluarganya harmonis. Sekarang Rajena bertekad untuk mendapatkan uang agar bisa membeli kue ulang tahun untuk Hayissa. Apapun akan Rajena lakukan demi Hayissa.
"Kayaknya harus kerja ya?" gumam Rajena pada dirinya sendiri.