Hayissa berjalan di halaman rumahnya dengan langkah yang sangat pelan. Sedikit saja langkahnya dipercepat, maka luka dilututnya semakin terasa perih dan sakit. Dengan telaten Hayissa menyimpan sepatu ke atas rak dan mengambil kunci rumah cadangan di dalam tasnya. Setelah masuk rumah Hayissa tidak langsung berganti baju, ia menatap lukanya yang basah karena kembali berdarah. Air matanya kembali luruh saat perih dan pegal mendera kakinya secara bersamaan. Kali ini Hayissa benar-benar menangis karena rasa perih di kakinya, bukan karena ia merindukan neneknya. "Aduh, baru kerasa sekarang perihnya. Mana harus nyuci baju juga lagi," keluh Hayissa. Dengan gerakan yang amat pelan, Hayissa mencoba untuk bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan ke arah dapur untuk mengambil air hangat yang akan i

