Kejutan Untuk Hayissa

1654 Words
Sudah hampir seminggu Rajena bekerja paruh waktu. Besok adalah hari ulang tahun Hayissa yang ke sebelas tahun. Rajena masih bingung untuk membelikan kue ulang tahun Hayissa. Pasalnya uang yang ia dapatkan dari bekerja selalu terpakai, entah untuk kebutuhan makan atau kebutuhan tugas di sekolahnya. Hingga akhirnya hanya tersisa beberapa lembar lagi, sedangkan besok adalah hari ulang tahun Hayissa. "Bingung banget kayaknya nih, gak dikasih kabar sama pacar?" celetuk Arkan yang baru saja tiba di kelas. "Emang lagi bingung nih." "Cerita aja, biar gue dengerin," ujar Arkan. "Eh tapi gue mau tanya aja sama lo. Kira-kira harga kue ulang tahun berapa ya?" tanya Rajena. Sebelum menjawab Arkan lebih dulu berpikir, "Tergantung ukuran sih. Ada yang kecil, sedang terus besar." "Yang kecil kira-kira berapa?" "Ada sekitar enam puluh sampai tujuh puluhan kali ya." Mendengar jawaban Arkan membuat Rajena menghela napas sekaligus kemudian lelaki itu terlihat lesu. "Lo mau beli?" tanya Arkan yang langsung diangguki oleh Rajena. "Buat siapa?" "Buat adik gue." "Oh lo punya adik?" Rajena mengangguk, "Punya, umurnya sepuluh tahun. Besok ulang tahunnya yang ke sebelas tahun." "Gue dulu pas SMP pernah beli kue kecil buat nembak cewek hahaha." "Masih SMP lo udah ada nyali nembak cewek?" Arkan mengangguk sambil menunjukan wajah sombong, "Iya, tapi t***l gue soalnya cuma dimanfaatin aja." "Sabar ya..." Untuk beberapa saat keduanya tak lagi berbicara. Arkan sibuk dengan ponselnya dan Rajena sibuk dengan isi kepalanya. "Ar, kalau gue pinjam uang sama lo, apa boleh?" tanya Rajena ragu-ragu. Arkan yang tadi sedang memainkan ponselnya langsung mengalihkan tatapannya pada Rajena, "Buat beli kue?" Rajena mengangguk, "Gue pinjam buat beli yang kecil aja buat adik gue." "Boleh, nanti gue pesenin aja lewat akun gue ya. Lo di rumah tinggal nerima aja," ujar Arkan. "Terima kasih, Ar. Nanti gue bakalan bayar pokoknya. Gue banyak hutang sama lo, terutama hp." "Udah gak usah diungkit lagi, gue ikhlas bantu lo. Pokoknya gue bakalan bantu kalau lo butuh, jangan sungkan ya." ___ Sepulang sekolah, Rajena tidak bekerja lagi karena ia merasa tak enak badan. Rajena merasa badannya sakit semua mungkin efek kerja berat selama beberapa hari kemarin. Tiba di rumah Rajena disambut oleh Hayissa yang sedang mengerjakan tugas sekolah di ruang tamu rumah sang Nenek. "Lagi ngapain, Dek?" tanya Rajena begitu masuk ke rumah. Hayissa menghentikan pekerjaannya sebentar, ia menyimpan pensilnya yang sedari tadi ia pegang kemudian menatap Rajena dengan sedih. "Ada tugas matematika, tapi aku gak ngerti," keluhnya. Rajena tersenyum sambil mengacak rambut Hayissa, "Tunggu di sini, Abang ganti baju dulu ya." Setelah itu Rajena memasuki kamarnya dan segera berganti baju. Sebelum melangkah keluar kamar, mata Rajena tak sengaja menangkap sebuah benda yang sudah lama tak ia lihat. Dengan segera ia melangkahkan kakinya menuju tempat di mana benda itu berada. Anak lelaki pertama itu mengambil benda yang merupakan sebuah jepitan rambut. Jepitan rambut itu sudah sangat berdebu karena mungkin bertahun-tahun ada di kolong tempat tidur yang tidak terjangkau. "Punya Ibu ya?" tanya Rajena dalam hatinya. Namun beberapa lama Rajena sadar dan akhirnya ia lempar benda itu ke sembarang arah, tak peduli benda itu akan hilang atau rusak. "Abang ganti bajunya lama," keluh Hayissa yang sedari tadi menunggu. "Iya maaf, tadi Abang lihat dulu buku," bohongnya. Selanjutnya Rajena langsung mengajari Hayissa tentang materi tugas yang adiknya itu kerjakan. Ketika diajarkan oleh Rajena, Hayissa akan langsung mengerti. Berbeda dengan saat di kelas tadi, Hayissa tak paham apa yang gurunya terangkan. Entahlah karena di sekolah Hayissa memang sering melamun dan menyendiri. Pikirannya selalu berkelana ke mana saja. ___ Keesokan harinya, Hayissa sudah siap dengan seragam putih merahnya. Raut wajahnya terlihat tidak bersemangat dan Rajena tahu itu karena apa. "Abang gak sekolah ya?" tanya Hayissa. "Hari Sabtu kan sekolah Abang libur. Beda sama SD," jelas Rajena. Hayissa memanyunkan bibirnya, "Jadi pengen cepat-cepat SMA biar Sabtu libur sekolah." Rajena tertawa mendengar pernyataan adik kesayangannya itu, "Jangan dulu, matematika di SMA lebih sulit daripada SD." Hayissa mendelik, "Nanti minta ajarin Abang lagi ah." "Iya boleh, sekarang kamu berangkat dulu ke sekolah. Udah jam tujuh lebih, sebentar lagi bel masuk." "Hm.. Oh iya, kata Nenek tadi uang Abang yang kemarin dipake sama Nenek buat beli gas udah diganti. Uangnya ada di meja makan," ujar Hayissa. "Iya, sekarang Neneknya ke mana?' "Ada kerjaan nyuci di rumah bundanya Melly," jelas Hayissa kemudian ia langsung berjalan meninggalkan rumah untuk menimba ilmu di sekolah. Mendengar di mana sang Nenek berada, Rajena hanya bisa menghela napas. Ia tak tega jika Herliza terus-terusan bekerja, namun ia juga tak tahu harus apa, "Nek, tunggu dua tahun lagi ya. Rajen janji, Rajen akan cari kerja dan balas semua kebaikan Nenek." ___ Di tempat lain, di sebuah rumah sakit yang cukup jauh dari Desa Kasturi. Seorang perempuan sedang berjuang untuk melahirkan anak pertamanya dengan lelaki yang menikahinya sepuluh tahun yang lalu. Akhirnya penantian mereka untuk memiliki anak terkabulkan juga. "Terima kasih sayang, akhirnya sepuluh tahun penantian kita aku bisa punya anak dari rahim kamu," ucap sang suami dengan tulus. Wanita itu Namari, ibu kandung Rajena dan Hayissa. Setelah menikah dengan Andra, Namari tidak langsung dikaruniai anak. Sepasang suami istri itu harus berjuang dulu untuk mendapatkannya. Namari sempat bilang kepada Andra untuk membawa saja Rajena dan Hayissa, namun sang suami menolak dengan cara menghasut Namari. Andra berkata jika Rajena dan Hayissa ikut bersama mereka, yang ada Namari akan teringat dengan semua perbuatan Hilmi. Maka dari itu Andra akhirnya mengadopsi seorang anak lelaki seumuran Rajena bernama Naveen. Entah bagaimana pikiran Namari, wanita itu setuju dan fokus merawat Naveen sedangkan ia melupakan Rajena dan Hayissa. "Kakak Naveen sini, adik kamu udah lahir," ujar Andra. Anak lelaki yang masih memakai seragam putih abu itu langsung menghampiri kedua orang tua angkat beserta seorang bayi yang baru dilahirkan itu. "Halo adik," sapa Naveen sambil mengusap tangan mungil bayi itu. Seketika Namari merasa dejavu, sebelas tahun yang lalu Namari pernah berada di situasi ini. Dadanya tiba-tiba merasa sesak, tapi ia tak bisa kembali ke Desa Kasturi itu. Namari terlalu sakit berada di sana, ia sudah merasa sangat bahagia bersama Andra, Naveen dan juga anak yang baru ia lahirkan itu. Tiba-tiba air mata Namari turun. Sontak Andra dan Naveen panik. "Mama kenapa?" tanya Naveen khawatir. Namari menggelengkan kepalanya, "Mama terharu, Mama terharu akhirnya keluarga kita lengkap." Tentu saja, apa yang diucapkan Namari adalah sebuah kebohongan karena sebenarnya rasa bersalahnya pada Rajena dan Hayissa lebih besar dibanding rasa harunya saat ini. ___ Rajena langsung membuka pintu saat seseorang mengetuknya. Ternyata di depan rumahnya saat ini sudah ada Argi, Hardlan dan juga Arkan yang datang sambil membawa sebuah kotak besar berisi kue ulang tahun dan tiga buah benda yang dibungkus dengan kertas kado yang cantik. "Kalian ngapain ke sini?" tanya Rajena kaget. "Ngasih kejutan buat adik lo," jawab Hadlan dengan semangat. "Tahu alamat gue dari mana?" Argi berdecak, "Kan lo kasih alamat rumah lo buat ke si Arka, ya dia inisiatif nyamperin ke sini." "Hah?" "Hah heh hoh, keong lo?" "Tadinya emang mau diantar via ojek online, Jen. Cuma menurut gue kejauhan, apalagi ini kue ordernya dari ibunya si Hadlan. Jadi ya udah sekalian aja gue ajak mereka ke sini, bawa kado juga. Lo gak marah kan?" tanya Arka tak enak. Rajena akhirnya mengangguk, meskipun ia sedikit tak suka jika ada temannya yang berkunjung ke rumahnya. Tapi karena teman-temannya rela ke sini, akhirnya ia menerima sebagai bentuk menghargai usaha Arka, Argi dan juga Hadlan. "Jadi mana nih adik lo?" tanya Hadlan sudah tak sabar. "Masih di sekolah, sekitar satu jam lagi pulangnya." "Oke, kita tunggu aja," ujar Arka. Kemudian Rajena mempersilakan ketiga temannya itu untuk masuk. Arka, Argi dan Hadlan cukup takjub dengan keadaan rumah Rajeno. Rumahnya tidak besar, hanya ada dua kamar bahkan tidak ada kursi di ruang tamu tapi lantainya begitu bersih. Hanya ada karpet yang terbentang sebagai tempat duduk. "Wah, adem banget rumah lo," puji Hadlan. "Maaf ya, rumah gue gak ada kursi. Cuma bisa duduk lesehan," ujar Rajeno tak enak. "Santai aja, kita tuh lebih senang sama suasana yang gini. Dingin, sepi, sejuk. Lesehan juga enak bisa langsung rebahan nanti," timpal Arka. "Takutnya kalian gak nyaman terutama Arka." Arka mendesis kesal, "Gue gak apa-apa, udah gue bilang gue suka sama suasana ini, Rajena." "Iya, iya.. Sebentar ya gue ambilin dulu air minum buat kalian," pamit Rajena berjalan ke arah dapur. "Rumahnya kelihatan model zaman dulu, tapi masih kokoh dan bersih banget ya," bisik Argi pada Hadlan dan Arka. Tak lama kemudian Rajena sudah kembali ke ruang tamu dengan nampan yang berisi tiga buah gelas dan satu teko air putih. "Siapa tahu haus kalian minum dulu aja. Maaf ya cuma air putih aja," ujar Rajena. Dengan sigap Hadlan langsung menuangkan air ke dalam gelas dan segera meminumnya, "Enak, segar banget pasti dari air pegunungan asli." Setelah Hadlan mengucapkan itu, Argi dan Arka pun ikut meminum air putih yang disuguhkan oleh Rajena. Kemudian kepala mereka mengangguk menyetujui ucapan Hadlan. Satu jam tak terasa, ini sudah waktunya Hayissa pulang sekolah. Rajena sudah memberi tahu teman-temannya bahwa sebentar lagi Hayissa akan pulang. Hadlan mengatur strategi bagaimana agar kejutan untuk Hayissa berjalan dengan lancar. Rajena hanya bisa mengikuti arahan Hadlan karena selama ini ia tak pernah mengadakan atau menerima kejutan sama sekali. Hingga akhirnya mereka melihat Hayissa yang berjalan menuju ke rumah dengan langkah lesu dengan kepala tertunduk. Saat tiba tepat di teras, Hayissa merasa heran kenapa ada tiga pasang sepatu di teras rumahnya. Dengan rasa penasaran, Hayissa langsung masuk ke rumah dan membuka pintu utama. "Surprise!!!" teriak Hadlan, Argi dan Arka sambil bertepuk tangan. Di belakang mereka bertiga ada Rajena yang membawa kue ulang tahun berhiaskan lilin dengan angka sepuluh. Hayissa yang melihat itu langsung menangis tergugu sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Hal itu tentu saja membuat ketiga teman Rajena panik. Sedangkan Rajena hanya tersenyum sambil mendekat ke arah adik kesayangannya itu. Ia memberikan kode kepada Argi agar memegang kue dan Argi menerimanya dengan cepat. "Kenapa nangis, hm? Sekarang ada kue ulang tahunnya, kamu juga dapat kado dari teman-teman Abang," bisik Rajena sambil memeluk tubuh Hayissa yang bergetar. Perlahan Hayissa menurunkan tangan yang sejak tadi menutupi wajahnya, "Abang..."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD