“Ssst! Sayang, ini Mas,” bisik suara itu ketika Alula terus berontak. “Akan Mas lepaskan, tapi jangan teriak. Oke?” Alula mengangguk. Pelan, pria itu melepaskan bekapan. Alula memutar tubuh. Dalam keadaan gelap dan hanya diterangi sedikit cahaya rembulan, Alula bisa melihat suami yang masih berpenampilan buruk rupa tersenyum ke arahnya. “Mas, kangen!” Alula menghambur ke pelukan Lutfan. Pria itu membalas dengan mendekapnya erat. “Katanya pulang besok? Kenapa nggak ngasih tahu kalo pulang hari ini?” gumam Alula sambil mengeratkan pelukan. Lutfan tertawa kecil. “Sengaja. Udah nggak kuat pisah sama kamu terlalu lama.” Alula mengurai pelukan, lalu menatap sekeliling. Aman, tidak ada orang. “Mas juga, main nyerobot nyulik aku bawa ke sini. Gimana kalau ada yang lihat?” “Mas berani kayak

