“Masih perih?” tanya Lutfan sesaat setelah mereka selesai salat Zuhur berjamaah. Alula mengangguk. “Iya. Apalagi kalo dibuat pipis. Rasanya pengen nangis kalau nggak ingat umur. Dibuat jalan rasanya nggak nyaman, aneh.” “Maaf, ya? Tapi lama-lama pasti terbiasa. Sering digarap, nanti juga enak.” “Mas Lutfan, iih!” Alula mencubit pelan perut suaminya. Lutfan merentangkan tangan. Pria yang memakai baju koko putih itu meminta istrinya mendekat. Pelan, Alula pun masuk. Direngkuhnya tubuh ramping itu erat. “Terima kasih, Sayang. Sudah menjaga semuanya untuk Mas.” “Aku juga makasih. Mas mau menerimaku apa adanya. Mas tadi juga memperlakukan dengan hati-hati. Tapi tetep aja sakit.” “Mas sangat-sangat sayang sama kamu.” Lutfan menciumi pucuk kepala istrinya. Alula seperti dejavu dengan semu

