BAB 9 Beri Aku Kesempatan Mendung masih menggelayut di hati Naya. Sejak kedatangan Gasta, dia menjadi kurang semangat dalam bekerja. Bagaimana tidak? Saat ini, Gasta seperti bunga Edelweis di tepi jurang. Tampak indah, tapi sulit untuk digenggam. Naya masih terdiam di ruang pegawai sejak dirinya sampai di kafe. Dia duduk bersandar pada dinginnya dinding. Sedang tangannya sibuk mencoret-coret kertas di meja. Bagaimana perasaanmu ketika orang yang kamu cintai ada di dekatmu, tapi dia sama sekali tidak menghiraukan keberadaanmu? Pedih, bukan? Lantas apa yang akan kamu lakukan? Tanpa sengaja Naya menuangkan apa yang ia rasa dalam kertas itu. Seketika air matanya luruh tanpa bisa ditahan. Naya buru-buru menyekanya sebelum ada yang melihat. Tidak lama, Naya mendengar derap langkah mendekat

