BAB 8 Doa dan Harapan Lelah kucoba lalui. Letih kutetap jalani. Salahkah jika diri ini, masih saja mengharap satu hal yang tak pasti? Mata Naya tampak sendu, dihiasi dengan lingkaran hitam sejak sehari yang lalu. Masih terukir jelas dalam ingatan, akan kedatangan Gasta pada malam itu. Dengan wajah datar laki-laki itu memperkenalkan diri, membuat hati Naya terasa seperti tertusuk sembilu. Di sisi jendela yang terbuka, Naya menjambak rambutnya sendiri. Menampar pipi kanan dan kirinya secara bergantian. Nggak sakit. Pasti ini Cuma mimpi. Gasta nggak mungkin bersikap seperti itu terhadapku. Naya kembali menampar pipinya secara bergantian, hingga air matanya luruh tak terbendung lagi. “Ini nggak mungkin, ini pasti Cuma mimpi!” Perempuan itu terus menceracau, mencoba menyakiti dirinya sendi

