Akram menanti dengan sabar istrinya selesai mempersiapkan diri. Meski sudah menjelaskan mereka hanya akan main sebentar ke rumah orangtua Akram, Mia tetap berusaha tampil sempurna.
“Sebenarnya ngapain aja, Mi. Kenapa tiap aku tunggu lama sekali,” keluh Akram. Ini sudah hampir ketiga kalinya.
Mia menyunggingkan senyum. Ia sadar memang suka lambat saat sedang melakukan beberapa hal. “Maaf, Mas.”
“Nggak ada yang rusak, kan? Aku perhatikan kamu lama terus.”
“Namanya juga cewek, Mas,” jawab Mia singkat.
Akram hanya menyunggingkan senyum. Segera ia meminta Mia masuk ke mobil untuk kemudian pergi bersama di minggu ketiga mereka.
“Kenapa ke rumah lagi, Mas? Mau ambil apa?” tanya Mia di tengah perjalanan mereka.
“Ini katanya Mas Danang mau dating. Nggak enak kalau nggak ada aku.”
“Mas Dangang yang….”
“Iya. Mas Danang.”
Mia mengukir senyum samar. Mungkin, Mas Danang dating untuk menemui Kak Dania dan Malka.
“Memangnya Kak Dania dan Mas Pram benar-benar sudah resmi berpisah, Mas?”
Akram mengangguk kecil. “Setauku tinggal tunggu panggilan siding.”
Mia menghela napas. Ia ketika memutuskan menikah, sudah berjanji juga pada dirinya sendiri untuk tidak berpisah jika bukan karena maut yang memisahkan. Dalam kamus hidupnya ia menghapus kata pisah sejak lama.
“Semoga dapat yang terbaik ya, Mas.”
“Amiin. Makasih doanya, Mi.”
Sekitar setengah jam perjalanan, mereka sampai di rumah dengan undakan di depan teras. Rupanya Mas Danang juga sudah menunggu di dekat gang rumah Akram. Semenjak memutuskan untuk membuka hatinya pada Mia, Akram tak pernah lagi melewati jalan pintas. Ia lebih senang jalan memutar yang memang memakan waktu lebih lama.
“Hai, bro!” sapa Mas Danang yang menghampiri mobil Mia dan Akram.
“Hey, Mas! Sehat?” tanya Akram basa-basi.
“Good, Kram. Kalian?”
“Very good,” jawab Akram penuh penghayatan.
Mas Danang pun tersenyum simpul. “Wah ada angin apa ini kok very good?” goda Mas Danang.
“Ayo buruan masuk, Mas. Paling Kak Dania udah nunggu di dalem.” Demi memutus candaan Mas Danang, Akram merangkul pria itu agar tak lagi menggodanya. Sementara Mia hanya bisa tersenyum sambal sesekali mengingat lagi apa yang sudah mereka lakukan.
Dania menyambut kedatangan mereka. Seperti dugaan Akram sebelumnya yang menyebutkan bahwa tujuan Mas Danang untuk menemui kakak pertamanya.
“Cieee,” goda Akram begitu sampai di dalam.
“Stttttt, nanti tentangga denger,” protes Dania.
Akram hanya tertawa geli melihat betapa takutnya Dania. Hal itu mengingatkan tingkahnya saat masih bersama Nasha.
“MInum kalian di dalem, ya,” ujar Dania.
“Iya, Kak. Nanti kita ambil sendiri saja,” jawab Mia.
“Eh, Kram, kamu udah liat ibunya Rios belum?”
“Ibunya Rios, Kak? Kenapa memangnya?”
Mia yang sebenarnya tahu informasi itu lebih awal, merasa bersalah. Namun,ia tak bisa memberitahu Akram mengingat rahasia yang ia punya bersama Rios.
“Dulu kakinya memang sakit, kan. Sekarang ada sakit dalem juga. Kalau nggak salah udah cuci darah terus.”
“Innalillahi sampai begitu, Ka?”
“Iya. Kakak denger-denger dari tetangga begitu. Coba kamu tanyain ke Mas Danang, Kram.”
Akram pun mengangguk. Ia kembali ke ruang tamu untuk memastikan itu.
“Mas apa benar ibunya Rios sakit?” tanyanya sedikit panic.
“Kamu tau dari siapa?”
“Mas Danang udah tau sejak awal?”
“Makanya Rios keluar dari kafe, Kram.”
Deg!
Rios keluar dari kafe?
Akram pun tak percaya dengan kabar itu. Ia bahkan tidak tahu apa-apa.
“Didoain aja cepet sembuh, Kram.”
“Ini kenapa nggak ada yang ngasih tau aku, Mas,” keluh Akram. Rios adalah sahabat terbaiknya. Ia tidak mungkin menutup mata. Namun, ia ternyata tidak tahu apa-apa.
“Udah nggak apa-apa, Kram. Kalau mau jelas ya kamu dating ke sana pastiin sekalian,” saran Dania.
“Iya, Kram. Ditengokin aja,” imbuh Danang.
Akram terdiam. Ia setuju dengan saran dari kakak-kakaknya.
“Eh, ini ibu sama bapak nggak di rumah, Dan?” Danang memastikan ulang ucapan Dania lewat WA.
“Iya, Mas. Kemarin siang dijemput Delia. Katanya Ibu udah bisa jalan-jalan jadi dia ajak sekalian.”
Dalam hati Akram juga menyesal karena tidak tahu info itu. Panta saja Dania memintanya dating karena di rumah mereka tak ada orang. Sebagai anggota keluarga, Akram yang notabene laki-laki cukup payah.
“Ya udah diminum dulu, Mas. Aku dalem lagi.”
“Ya, Kram.”
Akram kembali ke ruang tengah dengan perasaan entah. Ia selalu ketinggalan informasi terkait orang-orang terdekatnya. Hal itu membuatnya kecewa pada dirinya sendiri.
“Kenapa, Mas?” tanya Mia khawatir karena suaminya tiba-tiba diam saja.
Akram menggeleng. Ia meraup wajahnya kasar. Ia memang payah.
“Mas….”
“Kenapa aku selalu ketinggalan informasi, ya, Mi. Kenapa aku seringnya nggak tau apa-apa?”
“Maksud, Mas?”
“Ibunya Rios ternyata sakit. Aku bahkan nggak tau.”
Deg!
Mia kembali merasa bersalah. Ia sendiri tahu akan informasi itu. Namun, ia tak memberitahukannya pada Akram.
“Apa kita tengokin aja, Mas. Bagaimana?” tawar Mia demi menentramkan hati suaminya.
“Kamu nggak keberatan?”
Mia menggeleng. Sebagai istri ia akan senang jika Akram melibatkan dirinya di setiap lini kehidupan. Ia justru menantikannya. Di minggu ketiga ini, Mia jadi mengerti bahwa peran istri tak hanya berkutat pada urusan cinta saja. Istri sepatutnya menjadi tempat suami mengadukan apa saja dan merasa nyaman melakukan itu tanpa rasa canggung.
“Nunggu Mas Danang pulang dulu tapi, ya.”
“Siap, Mas.” Mia mengukir senyum menawan.
Akram baru sadar selama ini ia di damping sosok perempuan lembut yang selalu bisa memahaminya. Mia yang hampir tidak pernah protes meski kerap ia abaikan.
“Mi…”
“Apa, Mas?”
“Berapa lagi menuju tanggal satu, Mi?” tanya Akram sebagai lompatan topik pembicaraan yang cukup jauh.
“Kenapa, Mas?”
“Apa kamu bisa mempertimbangkan lagi keputusan kamu, Mi?”
Mia mendesah. Ia belum siap membahasnya. Meski waktu terus berjalan, ia enggan memikirkan. Segala macam persiapannya sudah hampir serratus persen. Yang belum adalah izin kepada ayahnya. Sampai sekarang, Mia memang belum bilang.
“Apa ngga bisa kamu kuliah di dalam negri saja? Nanti biar aku yang biayain.”
Mia mengulas senyum. Akram menjadi semakin matang setelah apa yang mereka lakukan. Jelas tawaran ini adalah bentuk tanggung jawabnya sebagai seorang suami.
“Kram, Mas Danang mau pamit!” seru Dania dari ruang tamu.
Baik Akram maupun Mia tak mengira akan secepat itu. Keduanya kembali menemui Danang seperti di awal tadi.
“Kok buru-buru, Mas?” tanya Mia.
“Iya, Mia. Ada urusan lain,” jawab Danang santai.
“Urusannya lebih penting disbanding Kak Dania?” timpal Akram.
“Kram,” ucap Dania memperingatkan.
“Iya, iya, Kak.”
“Kapan-kapan ajak Mia ke kafe, Kram. Ajak jalan-jalan yang jauh juga,” goda Danang untuk kesekian kalinya.
“Iya, Mas. Besok-besok.”
“Kalau gitu aku pamit, Dan. Salam buat bapak, ibu.”
“Ya, Mas. Makasih banyak. Hati-hati ya.”
Dania pun melepas kepulangan Danang. Hatinya terus berkata bahwa sejak dulu, laki-laki yang tak pernah alpa memberinya perhatian adalah mantan kekasihnya ini.
“Sabar, Ka. Nunggu beres dulu, ya,” celetuk Akram.
“Apaan!” sentak Dania sambil mendaratkan pukulan di lengan Akram.
Mia tersenyum samar. Sekarang ia tahu seperti apa sejatinya sifat asli suaminya.