“Tapi kenapa, Frans?” “Begini, Pak. Hilmi hanya memberi waktu sekitar satu minggu. Artinya, Mia sudah harus berangkat.” Agit semakin tersentak. Dengan begitu, Mia harus mempersiapkan semuanya. Namun, Mia masih nyaman berada di rumah. “Kamu udah ngurus semua?” Frans mengangguk mantap. “Sudah, Pak.” “Berangkat saja tiga hari lagi. Urusan Akram dan di sini biar bapak yang kerjakan.” Frans terlonjak senang. Artinya rencananya untuk bisa lebih dekat dengan Mia bisa segera tercapai. Meski ia tahu Mia sudah menjadi istri Akram, tetap saja ia ingin mencoba yang terbaik. “Baik, Pak.” “Sekarang hubungi Humaira, Frans.” “Siapa, Pak?” “Humaira. Tidak mungkin kalian pergi hanya berdua.” Deg! Jantung Frans seakan berhenti pada detik itu. Ia tak salah mendengar bukan? Ayahnya benar-benar meny

